Faren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Matanya terasa berat ketika melihat pantulan cahaya dari salah satu sudut meja di sana. Faren memaksakan matanya berakomodasi agar dapat menangkap bayangan itu dengan jelas. Dalam kegelapan itu dia melihat suaminya sibuk berkutat di hadapan laptop. Faren tersenyum licik ketika mendapat sebuah ide cemerlang. Dia berjalan mengendap-endap menuju sofa tempat Farhan duduk. Meskipun gelap, dia cukup hafal di mana saja barang pecah belah berada. Jadi dia dapat dengan mudah berjalan mulus ke tempat Farhan. Faren langsung saja mengalungkan kedua tangannya pada leher Farhan. “Sssstttt...” bisiknya pada telinga Farhan. “Si—siapa ini?” Farhan menjawab dengan nada gemetaran sambil meraba tangan yang terkalung di lehernya. “Kuunnthiiii...” jawab Faren

