Semester terakhir memang neraka bagi anak-anak kelas 12 seperti Farhan dan teman-temannya. Setiap harinya mereka selalu disibukkan dengan segudang les tembahan, try out, bimbingan konseling, renungan, dan masih banyak aktivitas menyebalkan lainnya. Semuanya datang silih berganti setiap hari.
Awalnya Farhan sedikit malas dengan itu semua. Dia bukan tipikal murid yang hobi belajar. Setiap hari yang dilakukannya cuma duduk mendengarkan penjelasan dari guru tanpa paham apa yang diajarkan guru-guru itu. Tentu saja dia agak kewalahan menghadapi semester ini. Apalagi UNAS, ujian akhir, ditambah ujian praktek yang mematikannya. Semua semakin membuatnya malas.
Tapi, sejak melihat keseriusan dan kesibukan Rissa—pacarnya— dalam menghadapi tahun terakhir di masa putih-abu ini membuat Farhan merasa malu. Rissa adalah murid yang berbeda dengannya. Dia begitu rajin, pintar, berprestasi, dan menjadi idaman bagi guru-guru di sekolah. Sangat berbeda dengannya. Hal itu membuat Farhan sedikit demi sedikit mulai berubah. Diam-diam dia sering belajar tengah malam untuk persiapan UNAS dan ujian PTN nanti. Sejak itu dia mulai paham arah masa depannya nanti. Dan dia tidak sabar untuk meraihnya bersama Rissa.
“Sayang, kamu udah daftar SNMPTN, kan?” Rissa muncul dari dalam kelasnya dengan seulas senyum lebar.
Farhan mengangkat kepala dan tersenyum mantap. “Udah, dong. Kamu juga udah, kan?”
“Udahlah. Pokoknya kamu harus belajar yang giat, ya? Aku nggak mau kalo kamu sampai nggak diterima di PTN nanti. Kamu tahu sendiri, kan? Aku pengen banget bisa kuliah bareng kamu. Jadi, kamu harus serius ya, Far. Aku takut kalau—”
“Kok kamu gitu, sih?” Farhan mengelak. “Pasti aku diterima, kok. Kamu tenang aja. Lagipula aku udah persiapin banyak hal buat kuliah nanti,” jawabnya sambil tersenyum.
“Bener?”
Farhan mengangguk dan menggandeng tangan Rissa menuju parkiran.
Rissa tersenyum mengiyakan. Dia yakin kalau Farhan pasti bisa. Meskipun Rissa sendiri tidak tahu apa yang dijanjikan pacarnya itu akan terwujud atau tidak. Tapi dia percaya. Setidaknya dia selalu percaya dengan Farhan. Kepercayaannya terhadap Farhan begitu besar.
“Sekarang kita jadi makan?” Farhan bangkit dari duduk sambil mengeluarkan kunci mobil. Rissa mengangguk sambil melangkah mengikuti Farhan.
Mereka berdua berjalan dengan mesra menuju area parkir yang luas dan penuh sesak. Beberapa murid lain menerobos kerumunan hingga menubruk Farhan dan Rissa. Farhan mengeluh dalam hati dan berharap bisa memaksa ketua yayasan untuk segera membangun area parkir yang lebih luas lagi.
Tapi setelah Farhan pikir-pikir lagi, toh itu percuma saja. Satu bulan lagi dia akan meninggalkan sekolah ini. Dia akan berjumpa dengan area parkir yang lima kali lebih luas dari ini. Jadi, dia tidak perlu repot-repot memikirkan nasib sekolah ini ke depan. Karena itu sudah tidak penting lagi.
Senyum di bibir Farhan surut ketika melihat mobil marcedes hitamnya terhalang oleh mobil xenia berwarna pink yang sangat menyakitkan matanya. Dia menatap mobil itu dengan kesal. Lalu dengan sembarangan menendang bannya berulang kali berharap si pemilik mobil sialan itu keluar. Tapi hasilnya nihil!
“Mobil siapa, nih?!” desisnya sambil terus menendang mobil itu tanpa henti. “Mana, sih, yang punya?! Mobil gue mau keluar nggak bisa!”
Rissa mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk pundak Farhan. “Ya, sabar, Far. Nanti juga yang punya mobil muncul.”
Tapi Farhan sama sekali tidak peduli dan malah mengeraskan tendangannya. Hingga akhirnya seorang cewek muncul dari arah belakang. Matanya langsung melotot mendapati tingkah Farhan yang keterlaluan itu.
Farhan langsung balas melotot begitu sadar kalau cewek di hadapannya itu cewek yang dia temui di kantin tadi. Farhan tidak salah lagi. Cewek ini yang tadi seenaknya duduk di spot meja kantin favoritnya dan Fourty D.
“Maksudnya apa nendang-nendang mobil gue kayak gitu?” sindir cewek itu dengan kesal, tidak terima mobilnya diperlakukan seperti itu.
“Ya ampun, lo lagi! Dimana-mana ketemunya lo! Ah, bosen.” Farhan menggeram. Dia mengetuk kap mobil cewek itu menggunakan kunci mobilnya. “Lo nggak bisa parkir, ya? Atau lo emang buta? Mobil lo ini nutupin jalan mobil gue. Nggak cuma mobil gue, sih. Coba lo lihat belakangnya.”
Rissa tersenyum tipis. “Iya, Ren. Banyak yang mau lewat juga, tuh.”
Faren—nama cewek itu— menoleh dan terkaget melihat jajaran mobil yang berusaha lewat. Tapi mendadak berhenti karena satu jalurnya ditutup rapat oleh mobil milik Faren. Sehingga tidak ada satu pun yang lewat dan menimbulkan sedikit kemacetan.
Faren mendengus jengkel. “Tadi buru-buru. Jadinya nggak lihat.”
Farhan menyedekapkan tangan. “Kayaknya mata lo sehat-sehat aja, deh. Masak mobil segede itu nggak lihat? Gimana, sih?!”
“Kalo iya kenapa? Masalah?!”
Farhan menatapnya tak senang. “Lo nggak tahu siapa gue?!”
“Penting buat gue tau?!” tandas Faren keki.
“Lo bener-bener, ya!” Farhan mulai naik emosinya.
Rissa menatap jajaran mobil dengan panik. Beberapa mulai membunyikan klakson jengkel. Tapi, yang dilakukan Farhan malah terus memancing emosi Faren. Kalau begini terus, sampai nanti mobil pink itu juga tidak pindah-pindah.
Rissa menarik lengan Farhan dan menggoyang-goyangkannya. “Udahlah Far, lagian cuma tinggal dipindah aja kan mobilnya? Please, jangan bikin masalah,” ucapnya tenang. Rissa berbalik ke arah Faren dan tersenyum. “Ren, mobilnya bisa dipindah, kan?”
“Oh.. Oke...” jawab Faren mengalah dan buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
“Beres, kan?” Rissa tersenyum puas. Menarik Farhan mundur dan membiarkan mobil-mobil lain melintas dengan mulus.
Farhan memandang Rissa dengan kesal. “Tadi itu siapa, sih? Kok kayaknya gue nggak pernah kenal, ya? Sumpah, nyebelin abis.”
“Faren emang anak baru. Pindahan dari Surabaya tahun lalu. Kelasnya di IPA 2, sebelahan sama kelas aku. Ya wajar kalau kamu nggak kenal dia. Lagian, dia kan emang anak baru, kalau dia nggak tahu cara parkir di sini ya maklum, Far.”
Farhan berdecak sebal. “Kok jadi bela dia sih, Ris? Aku ngomong gini karena emang bener mobilnya parkir nggak becus.”
“Udahlah, maklumin aja.”
Farhan melengos ke dalam mobil. Tak mau peduli lagi.
***
Bulan ini akan menjadi bulan yang sangat berat bagi Farhan dan murid kelas 12 lainnya. Sekitar dua minggu lagi mereka akan menghadapi UNAS dan itu berarti tidak akan ada kebahagiaan yang tersisa di penghabisan bulan April ini. Benar-benar hal yang mengerikan bagi siswa-siswi berseragam putih-abu itu.
“Ya ampun, UNAS tinggal hitungan hari! Gue mesti gimana?” teriak Kiky frustasi.
Bima di sampingnya menghembuskan nafas panjang. Tanpa sadar melempar pensilnya ke sembarang arah dan mulai berbaring di atas sofa. Dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Kiky. Seperti sebuah jurang yang siap melahapnya ketika dia berjalan tanpa batas. Bima bergidik membayangkan apa saja yang mungkin terjadi di bulan ini.
Farhan menatap mereka heran. “Santai dong. UNAS mah kecil. Jangan loyo gini. Give up, men! We are the winner!” sahutnya sambil kembali membuka-buka lembar demi lembar buku LKS-nya. Lalu sesekali melingkari jawaban di sana.
Kiky menatap Farhan sambil melongo. “Lo kenapa bisa santai gini, sih, Far? Lagipula, sejak kapan lo jadi rajin banget gini? Hih, gue jadi takut lihat lo yang kayak gini. Kayak bukan lo aja.”
Farhan mengalihkan pandangan ke depan. “Ya, gimana lagi, Ky? Gue nggak mau bikin Rissa kecewa. Cewek gue aja bisa. Masak gue enggak?”
Kiky langsung nyengir sambil melempar buku di tangannya hingga mengenai tepat di wajah Farhan. Farrhan melotot ke arahnya. Kiky hanya tersenyum-senyum menggoda. “Cie, makin dewasa aja sekarang. Semua berkat Rissa, ya?” Kiky mengalihkan wajah ke arah Bima. “Ampuh banget Rissa bikin Farhan kita berubah gini. Hebat. Punya magic apa, sih, dia?”
Bima menatap mereka dengan kesal. Farhan dan Kiky telah merusak konsentrasinya belajar. Mereka berdua memang memang murid paling berisik di Fourty D. Selalu bertengkar dimana pun dan kapan pun.
“Lo berdua berisik banget sih!” hanya itulah kalimat yang diucapkan Bima.
“Bukan gue. Kiky yang mulai.” Farhan menuduh Kiky.
Kiky malah berdecak. Matanya menelisik Bima tak percaya. Mau Bima atau Farhan sama saja. Dua sahabatnya itu kini berubah jadi sedikit kutu buku. Serius Kiky jadi takut dengan mereka.
“Lo sama aja, Bim. Kok jadi pada rajin gini, sih? Ya ampun, gue juga mau rajin. Tapi, kok tetep aja males, ya? Lagian ini soal Ekonomi susah bener, yah,” Kiky menatap soal-soalnya dengan hampa. Pandangannya teralih pada Bima. “lo niat banget kuliah di Amrik?”
Bima mengembangkan senyumnya. “Iya, dong. Gue udah janji nyusul Sonia di sana.”
“Ya elah, nggak penting!” sahut Kiky sambil menyeruput jus di depannya.
“Kalian sendiri katanya mau masuk nerusin ke PTN sini, kan? Makanya yang semangat dong. Kita sebagai sesama sahabat harus saling memberi dukungan.”
“Nah, bener yang dibilang Bima.” Farhan menjawab sekenanya.
Raut wajah Kiky berubah malas. “Ya, gue tahu sekarang. Pasti pada berubah gini demi sang pacar, ya? Emang apes nasib gue jojoba sendiri. Jadi nggak ada yang bikin semangat.”
Lalu terdengar seruan tawa menyebalkan dari Farhan dan Bima. Keduanya langsung asyik menggodai Kiky. Sementara Kiky hanya bisa pasrah dan mencebikkan bibir.
Farhan masih tertawa ketika menyadari suatu hal. Rasanya memang ada yang kosong sejak tadi. Seketika tawanya terhenti. “By the way, Deny jarang banget kumpul sama kita belakangan ini.”
Bima mengangguk-angguk. “Iya, tuh anak emang nggak jelas. Sok misterius. Gue tanyain nggak pernah jawab.”
Mendadak Kiky khawatir. “Please, jangan bilang diem-diem Deny punya kecengan baru? Hih, gue nggak mau jomblo sendiri di sini!”
Detik selanjutnya Farhan dan Bima kembali tertawa.
***
Sepulang sekolah Kiky akhirnya bertemu dengan Deny. Cowok itu sedang sibuk mengurus beberapa kepentingan yang membuat Kiky penasaran. Kiky pun memberanikan diri untuk membuntuti teman satu geng-nya itu.
“Lo lagi ngapain sih, Den?” Kiky tiba-tiba muncul dari balik gedung IPS yang mulai sepi. Kebanyakan murid kelas 12 setelah les langsung pulang ke rumah. Mungkin mereka masih punya les tambahan lain di luar sekolah. Atau malah mereka ingin cepat-cepat istirahat di rumah.
Deny agak terkejut melihat kedatangan Kiky. Tapi dia langsung bergaya stay cool. “Gue lagi sibuk mempersiapkan sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Iya. Besok sehabis UNAS lo pasti akan tahu. Lo semua tenang aja. Ini kejutan.”
Kiky berpikir sejenak. Sepertinya dia mulai menyadari sesuatu. Bulan April adalah ulang tahun Deny. Oh, sepertinya ini pertanda baik. Akan ada sebuah pesta besar-besaran nanti. Lumayan juga, habis UNAS ada pesta-pesta.
Kiky menjawab sambil nyengir. “Wih, kayaknya bagus! Gue tunggu kejutannya. By the way, gue duluan ya, Den. Emak suruh nganter belanja” Kiky langsung menghambur pegi menuju area parkir. Bersiap pulang ke rumah.
Deny hanya tersenyum miring menatap punggung Kiky yang bergerak menjauh.
***