UNAS seminggu lagi!
Hal itu yang membuat semua siswa kelas 12 di SMA 40 semakin sibuk belajar. Tak ada hari tanpa belajar. Semua murid sibuk dengan segudang soal dan les yang makin hari makin menggunung.
Farhan sendiri semakin sibuk dengan ritual belajarnya yang membosankan. Setiap hari Rissa pasti akan memaksanya belajar ini dan itu. Sampai-sampai Farhan muak sendiri. Rasanya sudah benar-benar malas. Dia malah ingin UNAS segera datang dan cepat berakhir. Lalu dia akan bebas dan bisa nge-date setiap malam minggu seperti dulu.
Tapi nyatanya UNAS seperti datang semakin lambat. Dan itu membuatnya kesal dengan segudang les dan pelajaran yang malah semakin menggila hari-hari ini.
“Ayo Far, kamu pasti bisa! Itu soalnya gampang, kok.” Rissa seperti biasanya, dengan penuh kesabaran mengajari Farhan.
Farhan menghembuskan nafas pasrah. Dia menyerah. Pensil di tangannya jatuh ke lantai dan kepalanya langsung terkulai ke atas meja. “Terusin besok, ya, aku ngantuk.”
“Kamu ngantuk?”
“Iya, soal matematika bikin aku pusing. Aku capek mau istirahat.” Farhan memasang wajah memelas ke arah Rissa. “Aku pulang ya, say?”
“Ya udah. Tapi nanti belajar, ya?”
Farhan tersenyum manis. “Oke. Kamu tenang aja, aku pasti belajar, kok.”
“Nah, gitu dong.” Rissa tersenyum lebar. Kemudian dia keluar mengantar Farhan sampai di pintu depan.
“Hati-hati, ya!”
“Iya, say.” Farhan tertawa sembari melambaikan tangan.
Rissa memandangi mobil pacarnya sambil tersenyum tanpa henti. Kemudian dia berteriak “Pokoknya jangan pernah lupa belajar!”
Meskipun tidak membalas ucapan Rissa, Farhan mengangkat jempolnya tinggi-tinggi dari balik jendela. Rissa tersenyum semakin lebar. Barulah dia sadar, dia tidak pernah bisa membayangkan hidup tanpa cowok itu.
***
UNAS berakhir!
Farhan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat ini. Akhirnya saat-saat yang dia tunggu datang juga. Sudah seharian ini dia bersantai di dekat kolam renang sambil memegang i-pad dan handphone. Benar-benar surga rasanya.
Tambahan, dia bisa liburan sepuasnya di rumah. Atau malah menghabiskan liburan di luar negeri. Bisa juga menghabiskan harinya bersama Rissa. Bahkan dia bisa sering-sering bolos dari ritual sekolah sehabis UNAS yang sangat membosankan.
Farhan beranjak dari tepi kolam dan berjalan masuk ke dalam rumah. Dari arah yang berlawanan muncul Rissa yang datang bersama Deny. Tumben sekali sahabat dan pacarnya bisa datang bersamaan begini.
“Sayang, miss you,” seru Rissa sambil menghambur ke pelukan Farhan.
“Miss you, too.” Farhan mengalihkan pandangannya pada Deny. “Kamu bareng Deny?”
“Iya, kebetulan tadi kita ketemu di jalan. Jadi, sekalian bareng aja.” Deny menjawab sambil memainkan kunci mobilnya.
Farhan mengangguk-angguk. “Oh iya, Den, kok lo mau bikin pesta ultah nggak bilang-bilang, sih?”
“Sorry deh, habisnya kan itu kejutan. Tapi tenang aja, satu angkatan diundang, kok.”
“Wah, seru tuh kayaknya.” Rissa menyahut penuh antusias. “Apalagi tempatnya di bar hotel gitu. Berasa kayak udah dewasa.”
“Lho, kita kan emang udah gede. Udah lulus SMA gitu,” Farhan menambahi.
Rissa langsung mncubitnya gemas. “Kita belum dapet ijazah, sayang. Itu pun kalau kamu lulus.”
“Kok kamu bilang gitu?” Farhan setengah merajuk. “Aku pasti lulus. Aku udah belajar mati-matian.” Keduanya kemudian tertawa.
Lagi-lagi Deny merasa tersisih. Selalu seperti ini.
***
Deny memandangi teman-temannya yang kini mulai berdatangan ke pesta. Tapi sayangnya seseorang yang dia tunggu belum datang. Beberapa saat kemudian, barulah sebuah mobil yang sangat dikenalnya muncul dari balik area parkir hotel. Dia keluar dari mobil. Selalu, selalu, dan selalu. Bersama orang itu. Seseorang yang diam-diam mulai dibencinya karena telah merebut cinta pertamanya.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam hotel. Deny masih diam mematung di lobby utama. Menyapa teman-temannya yang kini berdatangan semakin banyak.
“Selamat ulang tahun, Den.” Rissa memasang senyum manis. Tangannya melingkari lengan Farhan erat.
“Happy Birthday, Bro,” Farhan menambahi.
“Thanks.” Denny menjawab dengan memaksakan seulas senyum di wajahnya. Sementara matanya tak bisa lepas dari tangan Rissa yang terus melekat pada Farhan. Sedikit rasa cemburunya muncul. Tapi, dia coba untuk tersenyum.
***
Rissa dan Farhan sudah mengelilingi teman-teman seangkatan mereka yang lain. Ternyata benar yang dikatakan Deny. Sahabatnya itu mengundang hampir seluruh teman seangkatan mereka. Rissa dan Farhan sampai kewalahan ngobrol kesana-kemari. Sebentar-sebentar ke arah teman Farhan, lalu sebentar lagi ke arah teman Rissa. Akhirnya Rissa memilih bergabung dengan temannya yang berada di sisi berlawanan dari gerombolan teman Farhan.
“Aku ke tempat teman-temanku bentar, ya.” Rissa menepuk pundak Farhan.
“Oke.” Farhan mengiyakan. Rissa berjalan menuju kumpulan teman-temannya. Farhan ikut beranjak ke tempat teman-temannya sendiri berada.
Dari kejauhan dia melihat Kiky dan Bima tengah duduk sambil meminum soda dan menertawakan sesuatu. Farhan bergerak mendekati mereka. Sontak membuat Kiky menoleh dan terkaget melihat Farhan berdiri di belakangnya. Lalu siul-siulan menggodanya terdengar bersamaan dengan Bima.
“Cie... yang udah diterima jadi maba.” Kiky nyengir lebar.
Bima mengangguk-angguk. “Wah, temen kita ini ternyata lucky bener, ya. Masih nggak nyangka gue.”
Farhan tersenyum bangga sambil menarik kerah kemejanya. “Iya, dong,” kekehnya sambil beringsut duduk di antara Bima dan Kiky.
Kiky menatap mereka heran. Tiba-tiba nyalinya menciut. Di antara mereka bertiga, hanya dia saja yang nasibnya belum jelas. “Menurut kalian, gue bakal diterima juga nggak?”
“Enggak!” Farhan dan Bima langsung menjawab kompak. Sementara Kiky langsung pasang wajah tak terima.
“Dasar temen jahat!”
Farhan tertawa melihat Kiky yang semakin kesal. “Lo emang asyik dijahatin, Ky! Belum nyadar?”
Bima dan Farhan kembali tertawa melihat Kiky. Dari dulu keduanya memang hobi mengerjai Kiky. Tentu saja karena Kiky paling muda dan paling cengeng di antara mereka. Sudah menjadi hal yang menyenangkan bagi Fourty D untuk mengusili anak kecil itu.
“Seru banget kayaknya,” Deny muncul tiba-tiba dan langsung duduk di samping Bima. Melihat mereka tertawa puas sambil minum soda membuat Deny penasaran. “Kalian ngomongin apa, sih? Kok gue nggak diajak?”
“Nggak penting, sih, biasa lagi bullying si Kiky.” Bima menjawab sambil menghabiskan sodanya. “Den, gue minta lagi dong,” katanya sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
Bukannya menjawab, Deny malah mengalihkan perhatian pada Farhan. “Lo mau minum juga, Far?”
“Gue juga mau, deh.” Farhan ikut-ikutan.
“Oke.” Deny mengacungkan tangan ke arah bartender untuk memberi kode. Tak lama kemudian si bartender itu datang sambil membawa tiga gelas cola dingin.
Bima dan Farhan serempak meneguk habis segelas kecil cola itu. Sementara Deny beranjak lagi, ingin menyapa teman-teman yang lain. Sepintas dia tersenyum miring menatap teman-temannya. Barulah dia beranjak setelah itu.
“Gue nggak sabar ketemu Sonia.” Bima kembali bersemangat memulai obrolan seputar kelulusan yang lagi panas digandrungi belakangan ini.
“Sonia kek, Rissa kek, bodo amat ya!” Kiky mencemooh kesal.
“Coba lo punya cewek, Ky. Rasanya pasti rela berkorban demi ketem setiap saat. Sama kayak yang gue perjuangin bareng Farhan,” kata Bima diiringi gaya cowok sejati. “Ya nggak, Far?” Bima menatap Farhan. Tapi langsung heran melihat sikapnya yang tiba-tiba aneh.
Kiky ikut-ikutan menoleh ke arah Farhan yang ada di sampingnya. Sama seperti Bima, Kiky juga langsung bingung melihat sikap Farhan yang mendadak gugup. “Lo kenapa, Far? Gebelet pipis, yak?”
Farhan langsung menatap mereka dengan pandangan seperti orang linglung. Dia sendiri merasa aneh dengan dirinya. Tiba-tiba dia merasa pusing, cemas, gelisah, dan rasanya ingin melakukan sesuatu.
“Iya, kali!” Farhan menjawab sekenanya. Lalu segera bangkit dan berlari. Tapi tiba-tiba dia kembali lagi ke meja Bima dan Kiky. “Tapi, toiletnya dimana?”
Kiky menjawab asal. “Di dalem hotel kali. Atau dimana gitu.”
“Dimana?!” Farhan semakin mendesak. “Gue nggak tahan.”
“Nggak tahan gebelet pipis maksudnya?” Kiky malah membalikkan pertanyaan. Farhan benar-benar ingin mencekiknya. Dia sedang serius dan bukan mau bercanda.
“Nggak tau, sih. Mau gue anterin cari?” tawar Bima kemudian.
Farhan menggeleng dan langsung berlari pergi. Bima dan Kiky hanya bisa melongo melihatnya. Entahlah ada apa dengan Farhan tiba-tiba bersikap aneh begitu.
***