13. Abyan yang Ditemani Raffa

1793 Words
"Abyan." Langkahku tiba-tiba saja terhenti. Aku berbalik mengedarkan atensi ke sekitar koridor rusun. Aku menyunggingkan senyuman sewaktu melihat Raffa yang berada di ujung koridor tengah berjalan ke arahku. "Mau ke mana malam-malam seperti ini, Byan?" tanya Raffa padaku kala ia berdiri tepat di sebelah kiriku. "Rencananya sih aku mau ke unit yang ditinggali oleh orang tuanya Wilda Auristela. Aku harus ke sana sekarang juga selagi ayahnya ada di sana," sahutku. "Atau aku akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan ayahnya Wilda Auristela malam ini juga," lanjutku. Aku menoleh melihat raut wajah Raffa. Matanya tampak berbinar usai mendengar sahutan dariku. "Aku boleh ikut 'kan, Byan?" tanya Raffa. "Boleh, 'kan? Boleh dong ya?" "Iya, boleh kok. Apa sih yang tidak untuk kamu?" Tidak. Sungguh, itu bukan aku yang menjawab. Demi apapun aku tidak akan menggunakan kalimat pasaran yang benar-benar menggelikan itu. Aku dan Raffa secara kompak mengalihkan atensi, menoleh menatap Hans yang tiba-tiba saja muncul di antara aku dan Raffa. "Kalian mau ke mana malam-malam seperti ini? Aku boleh ikut juga, 'kan?" tanya Hans. Entah kepada aku atau Raffa. Akan tetapi tiba-tiba saja Hans meringis. "Tidak jadi deh. Aku tidak jadi ikut," ujar Hans lalu memperlihatkan padaku dan Raffa kantong plastik berwarna hitam yang isinya entah apa. "Grey sedang ada jadwal bulanan. Baru hari pertama. Jadi aku mesti menjaga Grey dengan penuh perhatian," lanjutnya. "Aku duluan ya, Kawan-kawan. Kalau ada hal yang menarik jangan lupa cerita ke aku nanti." Hans pun beranjak meninggalkan aku dan Raffa. Dan tubuhku hampir saja limbung karena Raffa tiba-tiba saja merangkul pundakku dengan cukup kuat. "Ayo, Byan. Kita ke unit orang tuanya Wilda sekarang juga. Kamu tahu, 'kan ... kalau aku sudah lama tinggal di sini? Dan aku punya hubungan baik dengan ibunya Wilda," celetuk Raffa. Aku berdecih mendengar perkataan Raffa barusan. "Kamu juga tahu 'kan kalau ibunya Wilda sekarang masih di rumah sakit?" balasku. Raffa meringis. Akan tetapi, alih-alih melepas rangkulan itu ... Raffa malah kian mempererat rangkulannya di pundakku. Benar-benar beban sekali Raffa ini. "Asalkan kamu jangan terlalu ikut campur saja nanti ... oke, kamu boleh ikut. Tapi ingat ya, Raf, cukup diam saja. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Paham, bukan?" Raffa tampak mengangguk beberapa kali. "Paham kok, Byan. Paham banget malah," sahut Raffa kemudian. Pada akhirnya, aku kembali melanjutkan langkahku. Diikuti dengan Raffa yang berjalan tepat di sebelah kiriku. Berhubung unit yang ditinggali oleh orang tuanya Wilda berada di lantai empat, kami pun menaiki elevator. Setibanya di depan unit itu, aku membunyikan bel pintu unit. Akan tetapi tetap tidak ada respon dari dalam sana meski sudah kubunyikan hingga beberapa kali. "Abyan, mungkin di dalam unit ini memang tidak ada orang. Balik sajalah yuk!" ajak Raffa. Aku menoleh melirik Raffa sebentar. "Tidak mungkin. Aku yakin ada orang di dalam," ujarku penuh dengan penekanan. Lalu aku membunyikan kembali bel pintu unit ini. "Kalian siapa?" Aku menghembus napas lega. Akhirnya, usahaku tidak sia-sia juga. Kulihat seorang pria berperawakan besar dengan warna kulitnya yang tampak gelap berdiri tepat di ambang pintu unit. Rambutnya terlihat begitu acak-acakan, seolah-olah dibiarkan begitu saja seusai mencuci rambutnya. Mata putihnya pun tampak sedikit berwarna kekuningan. Sementara penampilannya kelihatan cukup tak terurus. Aku pun segera melangkah masuk ke dalam unit ini tanpa meminta persetujuan sang pemilik unit terlebih dahulu. Ah, hampir saja aku melupakan keberadaan sahabat terbaikku, Raffa Alfariel. Segera setelahnya, aku memberi isyarat pada Raffa untuk ikut masuk ke dalam unit meski kulihat raut wajah pria yang tampak tua itu sangat tak bersahabat. Seolah-olah, dalam kurun waktu yang begitu singkat ... aku dan juga Raffa akan dilempar olehnya ke mulut harimau. "Apa kalian tidak diajarkan tata krama oleh orang tua kalian? Dasar anak tidak tahu sopan santun!!" Pria berkulit gelap itu menghardik kami dengan nada suara yang benar-benar tinggi. Kendati demikian, aku sedikit pun tak acuh. Alih-alih memberi respons padanya terlebih dahulu, aku malah menoleh melirik ke arah Raffa dan memperhatikan Raffa dengan begitu saksama. Lelaki itu tampak menundukkan pandangannya. Sementara tubuhnya tampak sedikit bergetar. "Sebelumnya, maaf kalau Bapak tersinggung," ujarku seraya berjalan menghampiri Raffa. Aku memberikan ponsel pintarku padanya. Dan kugenggamkan benda elektronik kesayanganku ini pada Raffa. Kulihat Raffa tampak menautkan alis kala menatapku sebelum akhirnya ia tersenyum samar. Tidak perlu merasa takut. Kamu tidak akan mati di unit ini, Raf. Ya. Itu adalah kalimat yang telah aku ketik dengan sepenuh hati sewaktu aku masih berada di dalam elevator tadi. Segala sesuatu itu memang sudah seharusnya dipersiapkan lebih awal. Setidaknya, begitu menurutku. "Saya Abyan Immanuel. Detektif swasta yang saat ini bertugas untuk mengungkap kasus—kejadian yang menimpa pada putri Bapak, Wilda Auristela," ucapku sembari menunjukkan kartu namaku padanya. "Kamu sedikit pun tidak punya hak untuk menginjakkan kaki ke unit ini. Karena kamu bukan bagian dari kepolisian!" tegasnya. Mendengar ujaran ayahnya Wilda barusan, aku tersenyum menyeringai. "Ya, memang benar. Saya bukan bagian dari kepolisian. Karena itulah saya datang ke unit ini sekarang," ujarku. Seolah tertampar oleh realita, kulihat raut wajahnya tiba-tiba saja tampak menegang. "Jika Bapak terkejut seperti itu, berarti Bapak sudah dapat menduga kenapa saya bisa datang ke sini, 'kan?" tanyaku. Aku memasukkan kembali kartu nama milikku ke dalam saku jaket bomber yang kukenakan. "Pak Mark Hardinata meminta bantuan saya untuk menyelidiki kasus yang menimpa istrinya, Wilda Auristela," ucapku. "Biar saya beritahu satu hal tentang saya, Pak ... ikut campur dalam urusan orang lain itu merupakan bakat saya." Aku pun langsung beranjak mendekat ke arah pria itu. "Saya dengar, Bapak menjadikan putri Bapak, Wilda Auristela sebagai jaminan atas hutang perjudian Bapak," kataku. Aku memperhatikan rahangnya yang tampak terkatup usai mengatakan hal itu. Kedua tangannya yang tampak terkepal dengan begitu kuat ia tempatkan di kedua sisi tubuhnya. Pria itu menatapku dengan tatapan berang. "Bapak juga sering melakukan kekerasan terhadap Wilda Auristela, baik secara fisik maupun secara verbal," ujarku. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Atensiku kualihkan sebentar ke arah lain, kemudian aku kembali menatap pria itu. "Namun yang benar-benar sulit untuk ditoleransi juga yang amat tidak manusiawi menurut saya ... Bapak bahkan tega menjual keperawanan anak Bapak sendiri. Putri Bapak satu-satunya—" Sebenarnya, masih banyak lagi yang hendak aku lontarkan kepada pria b***t itu. Akan tetapi entah mengapa perasaanku malah jadi berkecamuk usai melontarkan semua kalimat itu. Aku kembali menghela napas. Lalu beringsut mundur secara perlahan dikala rasa muak dalam diriku ini kian menggebu-gebu. Sejujurnya, tidak ada satu hal pun yang dilakukan oleh pria b***t itu yang dapat untuk ditoleransi. Fakta bahwa aku sedang berdiri di tempat yang sama juga menghirup udara yang sama dengannya saja sudah cukup membuat emosi negatifku tambah memuncak. "Memangnya apa urusan kamu?!! Dia anakku! Wilda itu putriku! Jadi, apapun yang aku lakukan terhadap putriku itu, sama sekali bukan urusan kamu!" Lagi, pria itu menghardik padaku. Dan aku merasa benar-benar tercengang usai mendengar pernyataan darinya. "Aku yang membesarkannya! Dan aku juga yang membiayai biaya hidupnya selama ini. Dia bisa bertahan sampai sekarang karena ada aku yang merawatnya dengan begitu baiknya. Jadi memang sudah seharusnya dia membalas jasa-jasa ayahnya ini. Setelah apa yang aku lakukan selama ini, anak tidak tahu diuntung itu malah bunuh diri. Harusnya aku lebih sering menyuruhnya untuk melayani klienku agar pemasukanku—" Tubuh pria b***t itu tiba-tiba saja terpelanting hingga menubruk meja setelah mendapat tinjuan yang cukup kuat. Vas bunga hiasan yang ada di meja itu ambruk ke lantai hingga yang terlihat hanyalah serpihan-serpihan kaca yang tampak berserakan dimana-mana. Sementara salah satu kaki meja itu patah. Dan tubuhku tiba-tiba saja tersentak. Atensiku beralih melihat ke arah Raffa. Harusnya, tadi aku langsung menolak permintaan Raffa dengan tegas. Aku memperhatikan Raffa yang mengatupkan rahangnya. Bola mata Raffa sewaktu menatap ayahnya Wilda seolah hendak keluar dari posisinya. Dadanya kelihatan kembang kempis. Sementara tangan kanannya sudah terkepal kuat hingga urat-urat di tangan putihnya itu tampak kian jelas. "Seseorang seperti Anda benar-benar tidak pantas untuk menjadi seorang ayah." Raffa mencemooh. Bahkan, dari tempatku berdiri saat ini aku dapat melihat sorot mata Raffa yang menyiratkan hinaan. Melihat hal itu, aku benar-benar terkesiap. Aku memulai hubungan pertemanan dengan Raffa sudah lumayan lama. Akan tetapi, jujur, baru kali ini aku melihat sisi Raffa yang seperti itu. Nada suaranya terdengar begitu dingin. Seolah-olah sebilah pedang baru saja berhasil menembus jantung. Kulihat ayahnya Wilda yang ambruk di lantai kini perlahan berdiri. Ia tiba-tiba tertawa merendahkan pada Raffa. "Kamu merasa terganggu? Merasa kasihan juga dengan anak tidak—" Raffa kembali melayangkan tinjunya. Aku meringis sewaktu melihat sudut bibir pria itu yang tampak robek. Nahas, kali ini Raffa mendapat balasan akibat perkelahian yang dimulai oleh dirinya sendiri. Well, jika perkelahian ini tidak segera dihentikan, bisa-bisa aku kehilangan lisensi yang sudah aku dapatkan dengan begitu susah payahnya. Aku pun buru-buru menghampiri Raffa yang tatapannya kian menajam sewaktu menatap pria itu. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menarik Raffa, memaksanya pergi menjauh dari unit. Sebelum benar-benar keluar dari unit ini, aku berbalik menatap pria itu. "Ingat, Pak. Urusan kita masih belum selesai. Dan jeruji besi sedang menanti kedatangan Bapak," tegasku. Aku pun segera berjalan meninggalkan unit itu dan menuju lantai tiga. Omong-omong, jangan lupa dengan Raffa Alfariel. Sahabatku yang satu ini sedari tadi terus mengeluarkan segala sumpah serapah hanya untuk pria b***t yang berkedok sebagai seorang ayah itu. Lebih dari apapun, aku benar-benar tidak menyangka bahwa sosok Raffa yang luar biasa pelit namun penuh perhatian itu sangat ahli dengan melontarkan u*****n dalam berbagai bahasa. "Kamu kenapa main asal pukul aja sih tadi, Raf?" tanyaku pada Raffa. Sejujurnya, aku setengah mengajukan pertanyaan juga setengah memberi omelan pada Raffa. Raffa pun langsung menoleh menatapku. Ia berujar, "Kamu—bagaimana bisa kamu menahan rasa kesalmu itu sewaktu dia mengatakan hal yang seperti itu?" Aku menggelengkan kepala beberapa kali usai mendengar pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Raffa kepadaku. Aku terdiam sebentar. Lalu aku menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya secara perlahan. Bagaimanapun juga, jangan sampai emosi negatifnya Raffa menular ke dalam jiwaku. "Jujur, Raf. Aku juga merasa benar-benar kesulitan untuk menahan rasa kesalku itu. Malahan, satu-satunya keinginanku saat ini hanyalah untuk melempar pria b***t itu ke habitat tempat tinggal buaya. Biar tau rasa dia," ujarku. "Tapi coba deh kamu pikir-pikir lagi ... tujuan aku ke sana hanya untuk mecari tahu akan fakta yang terselubung, bukan baku hantam seperti apa yang kamu lakukan tadi." Sewaktu memasuki elevator, aku menyadarkan tubuhku ke dinding elevator. Sedangkan Raffa, dengan raut wajah yang tampak begitu tak bersahabat, berdiri di dekatku. "Dan soal kejadian yang tadi ... pria tersebut memang sengaja berbicara seperti itu supaya aku terpancing emosi. Lalu memukul dia. Dan nantinya, aku akan dilaporkan olehnya ke pihak yang berwajib. Akhirnya malah kamu kamu yang tersangkut di kail pancingan ayahnya—pria b***t itu," jelasku. "Kamu mesti tahu, kalau aku ditangkap, bisa-bisa lisensi yang aku dapatkan sambil mengeluarkan peluh juga air mata darah malah akan langsung ditarik. Kalau kejadiannya berakhir dengan buruk seperti itu, aku mesti kerja apa lagi? Tahu sendiri 'kan kamu kalau aku cuma punya bakat dalam mengikut campuri urusan kehidupan orang lain," lanjutku. "Dasar Raffa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD