12. Hasyir dan Mark

2177 Words
Atensiku berhasil teralihkan sewaktu indra pendengaranku mendengar suara decitan kursi yang sepertinya sedang ditarik oleh seseorang. Aku pun secara spontan mengalihkan pandanganku demi menatap ke arah seorang pemuda yang baru saja menjatuhkan bokongnya ke kursi yang ditarik oleh dirinya barusan. Pemuda itu duduk tepat di hadapanku. Kulihat ia melepas topi berwarna hitam dari kepalanya hingga membuat rambut gondrongnya itu terjuntai menyentuh pundak. Lalu disibaknya rambut yang berwarna kehitaman itu ke belakang. Pemuda itu kemudian menatapku. Bola matanya berwarna hitam. Sementara alis matanya yang juga berwarna hitam itu tampak cukup tebal. Setelah memperhatikan penampilannya, atensiku beralih memperhatikan kantong matanya yang ternyata juga terlihat begitu tebal. Dengan hidungnya yang mancung dan garis rahangnya yang kelihatan begitu tegas serta warna kulitnya yang berwarna sawo matang, entah mengapa ia terlihat seperti keturunan bangsa Arab. Well, aku rasa ... bisa saja dia memang keturunan bangsa Arab. "Maaf, Bang, saya telat. Karena hari ini hari Senin, di jalan tadi benar-benar macet," katanya. Aku sempat terperanjat. Ini benar-benar diluar ekspektasiku. Awalnya aku kira, pemuda dengan penampilannya yang memiliki kesan kurang terawat ini memiliki tata krama yang sedikit minus. Mendengar hal itu, aku hanya sekadar tersenyum sebagai respons terhadap ucapan yang dilontarkan olehnya. Pemuda yang mengenakan jaket varsity berwarna merah maron itu menyingsingkan lengan jaketnya, lalu menempatkan kedua tangan di meja. Dan ia pun kembali menoleh menatapku. "Sebelumnya, perkenalkan ... nama saya Hasyir Dirgantara. Boleh panggil Hasyir saja," ujarnya sembari mengulurkan tangan kanannya padaku. "Saya satu-satunya teman yang paling dekat sama almarhum Daffin," lanjutnya kemudian. Aku pun segera menjabat tangan pemuda bernama Hasyir Dirgantara ini dengan senang hati. Aku juga dapat merasakan dengan cukup jelas permukaan tangannya yang terasa cukup kasar sewaktu aku berjabat tangan dengan pemuda yang bernama Hasyir Dirgantara ini. "Abyan Immanuel. Detektif swasta yang disewa ayahnya Daffin Arjuna untuk menyelidiki kasus yang menimpa putranya, Daffin," balasku. Baik aku maupun Hasyir, kami berdua sama-sama melepaskan jabatan tangan dengan kompak. Kening pemuda bernama Hasyir itu tampak berkerut usai mendengar ucapan dariku. Dan kulihat mulutnya tampak sedikit terbuka. "Ayahnya Daffin? Benar ayahnya Daffin yang—maksud saya, yang minta bantuan Abang untuk menyelidikinya kasus bunuh diri Daffin?" tanya Hasyir. Meski sempat terdiam sebentar, pada akhirnya aku tetap mengangguk sebagai respons atas pertanyaan yang diajukan oleh Hasyir barusan. Pagi tadi, sewaktu aku hendak kembali masuk ke dalam unit yang aku tinggali, tiba-tiba saja seorang pria dengan penampilannya yang tampak begitu lusuh menghadangku untuk masuk ke dalam unit. Rupanya, pria itu adalah ayahnya Daffin Arjuna yang sebelumnya sempat kutanyai keberadaannya pada Pak Faisal. Pria berperawakan sedang itu meminta bantuanku untuk menyelidiki hal yang menimpa anaknya padaku. Sebelumnya, sudah pernah kukatakan, bukan? Bahwa ikut campur dalam urusan orang lain itu merupakan bakatku. "Memangnya ada apa? Ada yang salah dengan hal itu?" tanyaku pada Hasyir. Pemuda itu menundukkan pandangannya. Kuperhatikan tangannya yang tengah mengetuk meja berulang kali. Sesaat setelahnya, ia pun kembali menoleh menatapku. "Sama sekali tidak ada yang salah. Tapi entah mengapa, aku rasa ... fakta bahwa ayahnya Daffin ikut terlibat dalam hal ini terdengar sedikit canggung. Ya ... mungkin saja ini hanya sekadar perasaanku saja," sahut Hasyir. "Karena selama saya menjalin hubungan pertemanan dengan Daffin, Daffin memang sempat cerita tentang ayah dan ibunya beberapa kali. Hanya beberapa kali saja. Jika saya ingat-ingat lagi, Daffin hanya menceritakan tentang ayah dan ibunya hanya tiga kali saja. Yang pertama, sewaktu saya dan Daffin lulus SMA. Kedua, sewaktu semester empat kita kuliah. Dan yang terakhir, Daffin cerita tentang ayah dan ibunya dua hari sebelum kejadian malam itu terjadi," jelas Hasyir. "Jadi begitu ya ...," lirihku. Aku terdiam beberapa saat. "Kalau boleh tahu, Daffin Arjuna cerita apa saja ke kamu ... tentang ayah dan ibunya?" "Daffin cerita hal yang biasa-biasa saja sih. Semisal, ibunya yang memasak makanan untuk dia, ibunya yang sering mengomel atas kesalahan-kesalahan kecil yang telah dilakukan oleh Daffin sendiri. Juga tentang ayahnya yang suka bercanda begitu," terang Hasyir. "Tapi saya benar-benar merasa cukup aneh, Bang. Karena, semua hal—apa yang diceritakan oleh Daffin itu hal yang tidak benar. Maksud saya, Daffin berbohong soal itu. Jujur, selama bertahun-tahun menjalin hubungan pertemanan dengan Daffin, saya hampir tidak pernah melihat Daffin teleponan dengan ayah atau ibunya. Bahkan sewaktu ada acara di sekolah dulu atau di kampus, ayah dan ibuya Daffin ... seingat dan setahu saya tidak pernah datang sekali pun." "Jadi, kamu satu-satunya orang yang sering menginap di unit yang ditinggali oleh Daffin saat ini, 'kan?" tanyaku. Hasyir tampak mengangguk beberapa kali. "Sejujurnya, saya selalu berusaha untuk selalu ada di dekatnya Daffin. Karena saya benar-benar merasa khawatir tiap kali melihat Daffin mengalami insomnia. Yang paling parah, dia pernah tidak tidur selama berhari-hari. Waktu itu pernah tembus sampai lima hari. Dan itu karena Daffin nekat untuk tidak mengonsumsi obat melatonin lagi," ungkap Hasyir. Aku meringis seusai mendengar jawaban yang diberikan oleh Hasyir. "Menurut kamu, apa Daffin Arjuna benar-benar melakukan tindakan bunuh diri?" tanyaku. Kali ini ia terdiam cukup lama. Kuperhatikan bola matanya yang tampak bergerak ke kanan atas. Lalu ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembusnya secara perlahan. "Bisa jadi." Hasyir kembali menoleh menatapku. "Saya dengar Abang sudah menggeledah unit yang ditinggali Daffin, em ... Abang ada lihat lukisan bunga marigold? Kalau tidak salah ingatan saya, lukisan itu disimpan oleh Daffin tepat di bawah tempat tidur," kata Hasyir. "Ya. Aku ada lihat lukisan bunga marigold itu, memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan lukisan itu?" tanyaku. "Bunga marigold ... jika di beberapa negara diartikan sebagai lambang kematian. Bunga marigold juga digunakan untuk berziarah ke kuburan-kuburan," jawab Hasyir. "Ditambah lagi malam itu Daffin sengaja overdosis obat-obatan. Dan yang terakhir, Daffin mengiris urat nadinya sendiri," lanjutnya. "Bisa kamu ceritakan bagaimana kronologi kejadian malam itu? Maksudku, mungkin saja Daffin berperilaku sedikit berbeda dari yang biasanya. Atau bisa saja ... ada tingkah lakunya yang berubah cukup drastis," kataku. "Jika dipikir-pikir lagi, malam itu biasa saja sih. Sama sekali tidak ada hal yang benar-benar spesial yang terjadi. Daffin juga sama. Tidak ada yang beda satu pun hal dari diri Daffin malam itu," jelasnya. "Malam itu saya dan Daffin juga baru saja pulang dari toserba. Untuk membeli cat lukis kanvas, tapi sewaktu sudah tiba di unit, tiba-tiba dia bilang kalau dia merasa cukup kelaparan. Saya pun segera menawarkan diri untuk pergi. Maksud saya—biar saya saja yang membeli makanan di luar. Karena saya juga sekalian ingin membeli beberapa camilan," ujarnya. "Namun sewaktu saya kembali ke unit itu, Daffin malah sudah kehilangan nyawanya." * "Jadi bagaimana, Byan? Sudah ada titik terangnya belum?" Aku mengalihkan atensi menoleh menatap Hans yang saat ini sedang berjalan ke arahku dengan membawa dua cangkir yang berbahan plastik di kedua tangannya. Lelaki dengan seragam kerja Twenty Market itu lalu duduk di kursi sebelahku. Ia menaruh kedua cangkir plastik berisi kopi itu ke meja. Yang mana meja tersebut menjadi pemisah antara aku dan juga Hans. Aku pun beralih mengambil kopi yang baru saja disodorkan oleh Hans kepadaku lalu meneguknya secara perlahan. Kopi yang dibawakan oleh Hans masih terasa sedikit panas. Rasa kopi yang dibuatkan oleh Hans juga memiliki rasa yang tidak terlalu manis, juga tidak terlalu pahit. Entah mengapa itu membuat diriku merasa benar-benar bahwa Hans pasti memiliki keahlian dalam menakar kadar gula yang hendak digunakan. "Sedikit pun tidak ada hal yang mencurigakan dari temannya Daffin itu, Hasyir Dirgantara," sahutku. "Tapi aku rasa ada sesuatu yang janggal, Hans." Aku menoleh melirik Hans. Rupanya, lelaki itu juga baru saja meneguk kopi buatan dirinya sendiri. Setelah itu, Hans langsung menoleh menatapku. Kulihat ia menaikkan sebelah alisnya. "Aku rasa, hubungan antara Daffin dengan ayah dan ibunya tidak senormal yang orang lain lihat—maksudku, mungkin saja ada sedikit perselisihan antara Daffin dan kedua orang tuanya," ungkapku. "Iya sih—" Belum sempat menyelesaikan ucapan yang hendak dilontarkan olehnya, Hans buru-buru berdiri dari duduknya kala melihat rombongan orang datang dan masuk ke dalam Twenty Market. Hans menoleh menatapku. "Byan, aku ke dalam dulu ya. Kita lanjut sebentar lagi. Maaf ya," kata Hans. Aku ikut beranjak dari kursi yang kududuki. Lalu aku memamerkan senyumku pada Hans. "Sama sekali tidak masalah, Hans. Kita lanjut bicara di unit saja nanti. Aku juga mau pergi nih," ucapku. Aku berjalan menghampiri Hans. Dan kuserahkan selembar uang kertas berwarna biru untuk Hans. "Ini. Uang kembaliannya nanti saja aku ambil ya, Hans." Tanpa menunggu respons juga jawaban dari Hans, aku segera beranjak meninggalkan Twenty Market. Aku melangkahkan kakiku di jalanan setapak ini dan berjalan dengan langkah yang cukup pelan. Pikiranku masih saja berkecamuk. Seolah-olah segala hal yang menghinggapi pikiranku saat ini merasa begitu enggan untuk minggat dari pikiran diriku. Aku mengeluarkan ponsel pintar dan juga earphone yang kusimpan di dalam saku jaket bomber sebelah kanan. Akan tetapi pergerakanku tiba-tiba saja terhenti sewaktu aku hendak menyambungkan earphone ke ponsel pintar. Aku melihat seorang lelaki tengah berjalan ke arahku dengan langkah yang terlihat begitu tergesa-gesa. Pada akhirnya, aku pun memasukkan kembali ponsel dan earphone milikku ini ke dalam saku jaket bomber sebelah kanan. "Anda detektif swasta yang tinggal di rusun ini, 'kan?" Nada suaranya terdengar begitu lirih. Tubuh atletisnya tampak sedikit bungkuk bagaikan tanaman yang layu. Aku beralih memperhatikan matanya yang terlihat sedikit bengkak. Lingkaran hitam di sekitaran matanya juga tampak begitu jelas. Di ujung hidungnya tampak berwarna agak kemerahan. Well, aku rasa itu kian tampak jelas karena lelaki yang bergaya rambut klimis ini memiliki kulit yang berwarna putih. "Ya. Saya Abyan Immanuel, yang bekerja sebagai detektif swasta," balasku. Pantas saja aku merasa tidak asing sewaktu melihat lelaki ini. Aku ingat sekarang. Lelaki ini adalah seseorang yang kulihat beberapa tempo yang lalu, bersama pasangannya. Ya, dan pasangannya merupakan pelaku bunuh diri yang terjadi pada tanggal 17 Oktober kemarin. Aku melihatnya menghembuskan napas lega seusai mendengar jawaban dariku. "Tolong selidiki kasus istri saya," pintanya. Tangan kekar lelaki itu bergerak menyentuh kedua pundakku. Seolah-olah, tubuhnya yang atletis itu akan langsung roboh jika tidak menyentuh kedua pundakku. Sementara tatapannya kian tampak memelas. "Saya akan membayar Anda berapapun. Berapapun itu ... akan saya bayar, asalkan kasus yang menimpa istri saya terungkap. Saya yakin, istri saya tidak akan bunuh diri. Istri saya tidak mungkin akan melakukan hal yang konyol seperti itu. Istri saya ... bukan orang yang seperti itu. Saya yakin ...," lirihnya. Aku memperhatikan jas berwarna hitam yang dikenakan olehnya tampak sedikit kusut. Bahkan dasi berwarna abu-abu dengan garis diagonal berwarna putih itu terlihat agak awut-awutan. Membuat penampilan yang harusnya memiliki kesan elegan malah terlihat seperti kurang terawat. Aku tersenyum tipis padanya. Kurangkul pundaknya yang benar-benar terasa begitu lemas lalu berujar, "Aku rasa kita harus membicarakan hal ini di tempat yang lebih baik." Lelaki ini tak memberi sahutan apa-apa atas apa yang aku lontarkan barusan. Kendati demikian, ia tetap mengikuti langkahku sewaktu aku kembali melangkah berjalan. Aku mengajak lelaki tersebut ke unitku. Karena jarak antara Twenty Market dengan rusun memang cukup dekat. Setibanya di unit, kupersilakan ia masuk terlebih dahulu. Aku bahkan menawarkan segelas kopi untuknya, akan tetapi langkahku tiba-tiba saja terhenti kala mendengarkan ucapan darinya. "Tidak perlu repot-repot, Pak. Karena mengidap penyakit diabetes, Dokter melarang saya untuk meminum kopi berkafein dan dengan gula." Aku mengangguk beberapa kali. Pada akhirnya, aku hanya menyodorkan segelas air putih yang segera diminum olehnya. "Omong-omong, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Mark Hardinata, suaminya Wilda Auristela," ujarnya. Aku kembali mengangguk. "Istri saya, Wilda sudah lama tidak datang ke sini. Dan walaupun hendak datang ke rusun ini, biasanya istri saya selalu memberitahukan pada saya terlebih dahulu. Akan tetapi semalam, sewaktu saya pulang dari Kantor untuk mengurus beberapa permasalahan yang ada di Perusahaan, saya sama sekali tidak melihat keberadaan istri saya di rumah. Rasa khawatir saya berkurang sewaktu salah satu asisten rumah saya mengatakan bahwa istri saya pergi ke rusun ini bersama supir pribadi kami. Saya merasa sedikit lega, karena tahu kalau istri saya setidaknya tidak sendirian. Saya tidak menyusul istri saya ke rusun ini karena saya pikir, mungkin saja Wilda ingin menghabiskan waktu bersama ibunya, Mertua saya," jelas lelaki bernama Mark itu. "Kamu—maksud saya, Anda yakin bahwa Anda tidak sedang berselisih paham dengan istri Anda?" tanyaku kemudian. Sebab seingat ingatanku, aku yakin bahwa sempat terjadi perselisihan antara lelaki yang saat ini duduk di hadapanku dengan istrinya, Wilda Auristela. Lelaki bernama Mark Hardinata itu menunjukkan responsnya dengan anggukan cepat. "Beberapa hari yang lalu, saya memang sempat berselisih paham dengan istri saya. Tapi, itu hanya masalah biasa saja. Dan untuk saat ini, saya sama sekali tidak sedang bertikai dengan istri saya. Lebih-lebih lagi, istri saya dalam keadaan tengah mengandung, bagaimana mungkin saya tega menambah beban pikirannya?" Sorot matanya terlihat benar-benar sendu. Bahkan dalam sorot mata lelaki itu pun menyiratkan rasa rindu yang amat mendalam. Tentu kepada istrinya. "Kalau begitu, apa ada hal yang tidak biasa yang istri Anda lakukan?" tanyaku. Aku memperhatikan matanya yang bergerak ke kanan atas. Kemudian, ia menggeleng. "Tidak. Istri saya hanya melakukan hal yang biasa dilakukan olehnya," jawab Mark. Aku mengangguk paham usai mendengar jawaban darinya. "Kata Anda tadi, istri Anda tidak mungkin bunuh diri. Benar begitu, 'kan?" tanyaku. "Iya," sahut Mark seraya mengangguk. "Istri saya tidak mungkin bunuh diri," lanjutnya. "Kalau begitu, Anda pasti telah memikirkan dengan cukup matang akan kemungkinan dalang dibalik kasus yang menimpa istri Anda, bukan?" tanyaku lagi Dan Mark mengangguk secara spontan. Melihat hal itu, aku pun menautkan alis menatapnya lalu bertanya, "Siapa?" "Mertua saya. Ayahnya Wilda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD