11. Wilda Auristela.

1669 Words
Karena pintu elevator tak kunjung terbuka, aku buru-buru berlari cepat menuruni anak tangga darurat setelah berdiri di depan elevator itu selama beberapa saat. Sewaktu tiba tepat di luar pintu gerbang, aku buru-buru menerobos kerumunan yang tengah melihat tubuh terkapar itu. Aku pun berjongkok di dekat tubuh perempuan yang saat ini bersimbah penuh darah. Aku segera memakai sarung tanganku dengan buru-buru. Lalu aku memegang pergelangan tangan sebelah kirinya. Denyut nadinya tak lagi terasa. Tubuhnya jatuh menelungkup. Sementara sisi wajah sebelah kirinya tampak menyentuh aspal. Dengan kedua tangan yang terbentang tidak begitu lebar. Aku beralih menyalakan ponsel pintar yang sudah kupegang sedari tadi. Sewaktu hendak menelepon nomor kontak Pak Faisal, aku tiba-tiba mendapat panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Tanpa mempertimbangkan lebih lama lagi, aku segera menjawab panggilan masuk tersebut. "Amankan TKP, aku akan segera tiba di sana." Sambungan telepon terputus secara sepihak oleh Pak Faisal. Aku mengalihkan atensi menoleh menatap seorang petugas keamanan yang berdiri tepat di sebelahku. Aku pun segera meminta tolong padanya untuk menjauhkan para penghuni rusun yang masih saja berkerumun di sana. Tanpa beranjak dari posisiku saat ini, aku memperhatikan ke sekeliling. Kulihat darah keluar dari celah-celah pahanya. Degup jantungku kian berpacu lebih cepat sewaktu menyadari bahwa perempuan yang aku lihat saat ini merupakan perempuan yang sempat kulihat tempo lalu. "Abyan." Aku menoleh kala mendengar suara Raffa yang memanggilku. Lelaki itu beranjak menghampiriku dengan napas yang tampak begitu tersengal. Dadanya pun tampak kembang kempis. Sembari berjalan, kulihat ia mengenakan sarung tangan medis miliknya. Raffa ikut berjongkok di dekat tubuh tak bernyawa ini. "Tim forensik akan segera datang juga 'kan, Byan?" tanya Raffa padaku. Tepat setelah memeriksa denyut nadi perempuan ini. Aku pun segera mengangguk tanpa memberi jawaban sepatah kata pun untuk Raffa. Setelah beberapa saat menunggu, tim investigasi tiba lebih dulu. Di saat beberapa anggota tim mengambil foto TKP, aku beranjak menghampiri Pak Faisal. "Berdasarkan berbagai bukti kecil yang aku temukan, aku rasa perempuan ini melompat dari jendela unitnya yang ada di lantai empat. Dan jika dilihat berdasarkan posisi jatuhnya, aku rasa dia melompat atas keinginannya sendiri. Sebab, andai kata ada orang lain yang mendorong tubuhnya, dia akan terjatuh dalam posisi telentang. Dan sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Karena ia tengah dalam kondisi mengandung, maka waktu yang dibutuhkan untuk terjatuh ke bawah menjadi lebih singkat. Dan waktu kematiannya menjadi lebih cepat," jelasku. "Dia tinggal sendiri?" tanya Pak Faisal padaku. "Sejauh ini yang aku ketahui, di unit itu tadi juga ada ibunya. Tapi karena kondisi ibunya kurang sehat, jadi posisi ibunya sewaktu kejadian ini berlangsung, ibunya sedang tidur di kamar. Otomatis ibunya sama sekali tidak tahu-menahu kalau anaknya lompat dari jendela," sahutku. "Lalu kesimpulannya?" Pak Faisal menatapku dengan sorot tatapan yang cukup serius. Aku terdiam sebentar. "Komandan, aku rasa ini bukan kasus bunuh diri biasa," jawabku. "Jadi bagaimana menurut kamu?" tanya Pak Faisal. Nada suara Pak Faisal pun masih terdengar begitu tenang. "Waktu kematiannya sama dengan waktu kematian si pelaku bunuh diri sebelumnya, Daffin. Lebih dari apapun, aku benar-benar yakin kalau ini merupakan kasus pembunuhan," tegasku. * "Abyan, ayo kita makan dulu." Aku mendongak. Menoleh menatap ke arah Hans yang berdiri tepat di hadapanku. Di tangan kanannya terdapat sepiring nasi. Sementara tangan kirinya memegang mangkuk kaca yang di atasnya diletakkan piring berisi omelet. Hans baru saja meletakkan makanan yang dibawanya ke meja. Tepat di hadapanku. "Makan dulu, Byan. Kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya si Raffa semalam? Katanya, dia ingin langsung masuk ke dalam unit kamu, tapi dia malah tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Takutnya, kedatangan dia malah akan mengganggu segala aktivitas kamu," kata Hans. Memang dari semalam, tepatnya usai kejadian itu terjadi, aku sama sekali belum mengistirahatkan tubuhku meski hanya sekadar saja. Ini benar-benar sudah kelewatan menurutku. Bagaimana bisa si pembunuh berdarah dingin yang belum aku ketahui identitasnya itu membunuh seorang perempuan yang tengah mengandung? Demi apapun, suatu saat nanti ... saat keberadaannya sudah aku temukan, aku akan menghabisinya langsung dengan menggunakan tanganku sendiri. "Makan dulu, Abyan." Secara spontan, aku mengalihkan atensi dan mendapati Raffa yang saat ini duduk tepat di sebelahku. "Lebih dari apapun, aku benar-benar tidak ingin kamu menjadi orang yang selanjutnya kehilangan nyawa," ucap Raffa. "Kalian tidak perlu merasa khawatir. Aku akan segera makan kok. Tapi tunggu, sebentar lagi. Hanya sebentar," ujarku. "Jadi perempuan yang semalam itu sebenarnya sudah tidak tinggal di sini lagi?" tanyaku. Aku menatap bergantian ke arah Hans yang saat ini memilih duduk di hadapanku dan Raffa. "Ya. Satu tahun yang lalu dia menikah dengan seorang konglomerat. Setelah menikah dia tinggal sama suaminya. Sebenarnya, rumah mereka tidak terlalu jauh dari sini juga kok," jawab Hans. Aku menoleh melirik Raffa yang mengambil piring berisi nasi di atas meja. Kulihat, ia juga menaruh omelet di pinggir sebelah kanan piring kaca. Lalu ia menuang beberapa sendok kuah ke nasi dan mengambil beberapa sendok sayur dari mangkuk yang dibawakan oleh Hans tadi. "Bukannya kamu sudah makan, Raf? Kenapa malah makan lagi?" tanyaku sewaktu melihat ia mengambil jatah sarapanku. "Aku lapar. Salah kamu sendiri. Padahal sudah dari tadi aku suruh makan, tapi kamunya tidak makan juga. Jadi daripada mubazir makanannya, bukankah lebih baik aku habisi saja?" Setelah mendengar hal itu, aku pun berdecak. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Raffa akan bersikap kekanakan seperti itu. Sementara itu, aku menoleh melirik Hans yang tampak begitu asyik menertawai nasibku. "Tahu sendiri 'kan kamu, Byan ... kalau Raffa itu doyan makan," ucap Hans. "Tapi kamu tidak perlu merasa khawatir. Di dapur masih banyak kok sisa makanan yang dimasak oleh Raffa. Dia memang sengaja masak lebih tadi," lanjutnya. Aku menoleh melirik Raffa yang masih saja asyik menikmati hasil masakannya sendiri. "Kamu masak banyak seperti ini, apa tidak takut mubazir, Raf?" tanyaku. Raffa menoleh menatapku. "Memangnya hasil masakanku pernah mubazir?" sarkas Raffa. Mendengar hal itu, tanpa sadar aku menjatuhkan rahang. Pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Raffa benar-benar ampuh untuk membungkam mulutku. Sembari beranjak dari sofa, aku pun menyahut, "Iya. Tahu kok. Masakan kamu itu tiada duanya. Enaknya itu unlimited. Jadi kamu tidak perlu berlagak seperti itu. Poin minus dari diri kamu jadi makin bertambah. Nanti jadi makin tambah jelek aja prestige kamu, Raf." * "Waktu kematian si pelaku bunuh diri semalam sama persis seperti waktu kematian Daffin. Pukul 10 malam lewat 10 menit. Sedangkan si pelaku bunuh diri yang pertama, Randy Pangestu ... waktu kematiannya pukul 9 malam lewat 10 menit." Aku terus mendengarkan penjelasan dari Pak Faisal dengan begitu saksama. Tidak satu pun dari penjelasan yang diberikan oleh Pak Faisal aku lewatkan. "Nama Wilda Auristela. Usia 22 tahun. Dan dia baru saja menikah dengan seorang pengusaha muda satu tahun yang lalu," gumamku seusai mendengar segala penjelasan yang baru saja dituturkan oleh Pak Faisal. Aku membaca kembali data pribadi milik pelaku bunuh diri semalam. "Wilda Auristela sedang mengandung, dan usia kandungannya delapan belas minggu. Penyebab kematian, lompat dari lantai empat." "Karena ibunya si pelaku bunuh diri mengidap penyakit kardiovaskular, jadi pihak polisi tidak bisa langsung meminta keterangan secara terus terang. Lebih-lebih lagi ibunya sampai dilarikan ke Rumah Sakit setelah mengetahui apa yang terjadi pada putrinya," jelas Pak Faisal. Aku menaikkan sebelah alisku menatap Beliau. "Ayahnya?" Aku membeo. Baru saja, aku melihat Pak Faisal menghela napasnya. Helaan napas Beliau entah mengapa terasa begitu berat, menurutku. "Ayahnya masih belum ada kabar," jawab Pak Faisal. Mendengar jawaban yang diberikan oleh Pak Faisal, aku pun ikut menghela napas. Aku beralih menyandarkan punggungku ke sandaran jok kursi mobil. Setelah itu, aku menyibak rambutku ke belakang. Lalu kembali menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya. "Kasus yang dialami oleh Randy dan si pelaku bunuh diri yang ketiga ini sama-sama terjadi di tempat umum, di kalangan ramai dan disaat orang masih berlalu lalang. Itu benar-benar berbeda jika kita bandingkan dengan apa yang terjadi pada si pelaku bunuh diri yang kedua, kejadian yang menimpa dia itu terjadi di dalam unit. Dan tidak ada satu orang pun yang ada di dalam unit itu," ucapku. "Omong-omong mengenai waktu kematian, tiga-tiganya punya kesamaan, Ndan," lanjutku. Usai mengatakan hal itu, Pak Faisal menoleh menatapku secara spontan. "Ketiga pelaku bunuh diri ini, terdapat angka 10 di waktu kematian mereka," ucapku. "Randy Pangestu, waktu kematian pukul 21 malam lebih 10 menit. Daffin Arjuna, waktu kematian pukul 22 malam lebih 10 menit. Dan yang terakhir, Wilda Auristela, waktu kematian juga pukul 22 malam lebih 10 menit." Lebih dari apapun, aku benar-benar yakin bahwa kejadian yang tak mengenakkan hati ini merupakan kasus pembunuhan berantai. "Dan pembunuhnya sulit dilacak karena si pembunuh sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun di TKP. Aku rasa, si pelaku ini bukan orang sembarangan. Cara berpikirnya benar-benar luar biasa, menurutku. Mulai dari cara dia membunuh Randy dengan cara mencampur arsenik ke dalam kopinya. Melatonin yang diminum Daffin Arjuna sebelum memotong urat nadinya. Dan Wilda Auristela yang lompat dari jendela unit ... cara itu, hanya akan terpikirkan oleh beberapa orang saja. Komandan tahu sendiri 'kan, rata-rata orang zaman sekarang jika memiliki niat untuk bunuh diri, cara yang akan digunakan oleh mereka yaitu dengan cara melompat dari tempat yang tinggi. Dan yang pasti, rooftop akan menjadi pilihan mereka. Tapi ini ... bagaimana bisa dia menjadikan jendela unit dengan ruangan yang luasnya tidak seberapa itu sebagai objek untuk bunuh diri. Lebih-lebih lagi, di unit itu juga ada ibunya Wilda Auristela juga," ungkapku panjang lebar. Aku menoleh memperhatikan raut wajah Pak Faisal. Dahi beliau tampak sedikit berkerut setelah mendengar semua ujaran dariku. Hingga beberapa saat kemudian, pria tua itu mengangguk beberapa kali setelah aku menghabiskan waktu selama beberapa saat demi menunggu respons dari Pak Faisal. "Tanggal kematian si pelaku bunuh diri yang pertama, Randy Pangestu, 10 Oktober. Pelaku bunuh diri yang kedua, Daffin Arjuna, 15 Oktober. Dan yang terakhir, Wilda Auristela, 17 Oktober. Selang waktu antara yang pertama dengan yang kedua itu 5 hari. Sedangkan yang kedua dengan yang ketiga hanya 2 hari," kata Pak Faisal. "Karena selang waktunya tidak sama, jadi aku rasa akan terasa sedikit sulit untuk membuat prediksi waktu kematian korban yang selanjutnya," celetukku. "Kenapa kamu merasa yakin kalau akan ada korban lagi setelah kejadian ini?" Aku mengedikkan bahu atas pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Pak Faisal. "Boleh jadi apa yang aku rasakan saat ini yang disebut dengan firasat," ucapku pada akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD