7. Keterangan Aya

1934 Words
Aku memperhatikan dengan saksama ruang obrolan antara Randy dengan pacarnya, Aya. Setelah selesai membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Aya untuk Randy, aku kembali menggeser layar ruang obrolan di antara kedua remaja itu untuk yang kedua kalinya. Mungkin saja aku telah melewatkan suatu hal penting. "Aku kira, sewaktu Randy mengajak untuk bertemu di jam segitu dia cuma sekadar bercanda. Karena itu aku tidak segera bersiap-siap untuk pergi—datang ke taman itu. Tapi sewaktu aku tanya dia serius mengajak bertemu atau tidak, sayangnya tidak ada balasan apa-apa dari Randy atas pesan yang aku kirim itu. Jadi, aku memutuskan untuk langsung datang ke taman itu, demi bertemu Randy," kata Aya. "Sewaktu aku tiba di sana, Randy ... Randy sudah kehilangan nyawa. Lebih dari apapun, aku benar-benar tidak menyangka akan hal itu. Awalnya aku kira, mungkin saja Randy sedang mengerjaiku, tapi aku sadar ... kalau Randy bukan tipe orang yang suka menggunakan candaan yang kelewatan seperti itu," lanjutnya. Mendengar penjelasan dari Aya barusan, aku terdiam beberapa saat lalu mengangguk beberapa kali. "Bisa kamu ceritakan, Randy itu tipe orang yang seperti apa? Maksud Kakak, kamu bisa menceritakan pada Kakak tentang aktivitasnya sehari-hari ... mengenai apa saja yang biasanya Randy lakukan atau apa saja yang sering Randy ceritakan ke kamu?" tanyaku. "Randy benar-benar orang yang hebat, bagiku. Hebatnya Randy, walaupun ayah dan ibunya tidak pernah memedulikan Randy, dia tetap tidak pernah membicarakan hal yang tidak-tidak tentang orang tuanya," sahut Aya. Lagi, aku mengangguk. "Jika memang seperti itu, bagaimana caranya kamu bisa tahu kalau ayahnya Randy sering melakukan kekerasan fisik pada anaknya sendiri?" tanyaku. "Aku paksa." Aya menjawab dengan tegas atas pertanyaan yang baru saja kuajukan. "Karena pada dasarnya, aku memang sudah tahu kalau Randy sering melakukan self harm, Randy cukup sering melakukan hal itu. Jadi semenjak aku menyadari hal yang sering dilakukan oleh Randy, aku terus-menerus berusaha untuk mencari tahu alasan mengapa Randy bisa-bisanya melakukan hal yang seperti itu. Tentu, awalnya Randy tidak mau cerita apa-apa ke aku. Sedikit pun tentang Randy atau tentang keluarganya, sama sekali tidak dikasih tahu ke aku. Dan hari itu, aku secara tidak sengaja melihat bahunya yang terlihat memar. Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, aku pun langsung menanyakan alasan mengapa bahunya bisa sampai memar seperti itu pada Randy langsung, aku paksa dan aku ancam Randy supaya cerita ke aku," jawab Aya. "Dan semenjak hari itu, kalimat yang sering Randy katakan padaku cuma mau mati saja, atau aku benar-benar mau lenyap saja rasanya, Ay. Cuma itu." Spontan, aku meringis mendengar jawaban dari Aya. Lalu aku memperhatikan kembali layar ponsel yang menampilkan ruang obrolan Aya dengan Randy. Cara Randy mengetik, penempatan titik dan koma tampak tidak ada yang berbeda dari pesan-pesan yang sebelumnya dikirim oleh Randy kepada Aya. Akan tetapi aku mencoba mengingat kembali hal yang diberitahukan oleh Hans kepadaku semalam. Fakta bahwa Randy hanya membeli satu gelas kopi saja. Harusnya, jika Randy benar-benar ingin bertemu dengan Aya ... bukankah setidaknya pemuda itu mesti membeli satu minuman lagi? Aku beralih melirik jam tangan yang melingkar di tangan sebelah kiriku lalu kembali menoleh menatap pada Aya yang duduk tepat di hadapanku. "Sudah pukul segini. Kamu pulang saja, Dik. Urusan ini—mengenai hal yang terjadi pada Randy, tidak perlu kamu jadikan beban pikiran. Biar Kakak saja yang memikirkan masalah ini," ujarku. "Kak, tolong tetap selidiki kasus ini ya. Aku janji akan melakukan semua hal yang Kakak minta asalkan kasusnya Randy bisa terungkap," mohon Aya padaku. Aku langsung tertawa pelan usai mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Aya. "Kalimat yang seperti itu, jangan pernah kamu ucapkan lagi ya, Dik. Baik ke Kakak ataupun ke orang lain," kataku. "Kamu bisa pulang sendiri, 'kan?" tanyaku kemudian. Aya mengangguk. Kulihat gadis berkacamata itu menyampirkan kembali tas selempangnya ke pundak sebelah kanan. "Aku bisa pulang sendiri kok, Kak," jawab Aya. "Terima kasih ... Aku benar-benar berterima kasih karena Kakak mau menyelidiki kejadian yang menimpa Randy." Aku memperhatikan netra Aya yang tampak kembali berair. Aku menghela napas. Tanganku bergerak demi merogoh saku jaket bomber yang kukenakan lalu aku menyodorkan sapu tangan berwarna biru milikku kepada Aya. "Ambil untuk kamu saja. Kakak rasa, saputangan itu akan sering kamu pakai dan lebih berguna untuk kamu, jika dibandingkan dengan Kakak. Kalau saputangan ini tetap ada di Kakak, kemungkinan besar akan segera robek," kataku lalu tersenyum tipis pada Aya. * "Sayang banget, Byan. Tampang kamu yang tidak seberapa itu jadi makin ...," Hans tiba-tiba saja terdiam sewaktu aku menatapnya dengan sorot mata yang terlihat benar-benartajam. "Ya, aku tidak terlalu peduli sih, Hans. Karena saat ini, satu-satunya tujuanku hanyalah uang," balasku. "Ya ... sekaligus mengungkap identitas pelaku pembunuhan Randy juga," lanjutku. Aku memperhatikan Hans hanya memperlihatkan tawanya usai mendengar pengakuan dariku. "Padahal kamu bekerja sebagai detektif swasta. Tapi kenapa yang aku lihat sehari-harinya kamu hanya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan saja?" sindir Hans. Aku memberi respons atas sindiran dari Hans hanya dengan tawa pelan. Well, biar saja Hans menilai diriku seperti apa. Selama Hans tidak menghambat jalanku untuk memecahkan semua hal yang ada sejauh ini, aku sedikit pun tidak perlu merasa sebal atau tersinggung atas segala hal yang dilontarkan oleh Hans kepadaku. "Omong-omong, sudah berhari-hari aku tinggal di rusun ini, tapi aku belum pernah ke unit kamu," ujarku. "Kapan-kapan kalau aku berkunjung boleh, 'kan?" Hans mengangguk cepat. Lelaki dengan bola mata berwarna biru itu tampak begitu sumringah usai mendengar ujaran dariku. "Sekalian ajak si Raffa juga ya nanti. Biar ada yang masak makanan untuk kita. Ya ... supaya hidupnya si Raffa lebih ada gunanya juga," gurau Hans. Lelaki berdarah Eropa itu kemudian tertawa cukup keras. Yang entah mengapa aku pun ikut tertawa setelah mendengar tawa Hans. Lalu aku mengangguk. Keberadaan Raffa benar-benar penting bagiku dan Hans. "Byan, kamu kenapa bisa berani seperti itu untuk langsung bertemu dengan ayahnya Randy secara face to face sekaligus one by one?" tanya Hans. Alis Hans tampak tertaut sewaktu mengajukan pertanyaan itu kepadaku. Dan aku pun memberi jawaban atas pertanyaan itu dengan senang hati. "Tentu saja karena aku—" "Ya jelas karena si Abyan belum tahu kalau ayahnya Randy itu mantan preman." Akan tetapi belum selesai aku menjawab, seseorang baru saja menginterupsi jawaban yang hendak kulontarkan. Aku pun secara spontan mengalihkan atensi. Aku menoleh melihat Raffa yang sedang berjalan ke arahku dan juga Hans. Sepiring roti tawar selai yang ditumpuk diletak oleh Raffa ke meja. Lalu Raffa duduk tepat di sebelah kiriku. Tangannya bergerak mengambil beberapa roti tawar. Selagi memakan satu potong roti tawar selai, sisanya dipegang oleh Raffa dengan tangan kiri. Aku kembali menoleh menatap Raffa dengan tatapan mencemooh. "Kamu benar-benar jorok, Raf. Kenapa harus memegang makanan menggunakan tangan kiri seperti itu?" Aku bertanya dengan nada yang cukup mencemooh pada Raffa. Dan kulihat Raffa membalas tatapanku dengan tatapan yang benar-benar tak acuh. "Suka-suka aku dong, Byan. Yang makan aku, yang pegang juga aku. Bahkan yang olesin selainya ke roti juga aku. Jadi kenapa malah kamu yang sewot? Kamu punya hak apa untuk memberi komentar atas apa yang aku lakukan? Memangnya aku ada membuat repot—menjadikan kamu sebagai babu pribadiku? Sudah jelas tidak, 'kan? Lagi pula, kamu cuma tinggal makan doang. Masukkan roti ini ke dalam mulut, kunyah, terus telan. Kalau tidak suka ya tidak perlu kamu makan. Ribet banget," protes Raffa dengan begitu panjang lebar. "Lagi pun nih ya, tanganku itu higienis. Bebas kuman," lanjutnya. Aku berdecak usai mendengar hal itu. Kemudian, aku menoleh melihat ke arah Hans yang saat ini sedang menikmati roti tawar selai yang disodorkan oleh Raffa barusan. Tanpa sadar, aku menghela napas. Dan juga, apa malam ini pun aku harus kalah lagi dari Raffa? "Makan, Byan. Raffa pas olesin selai ke roti tawarnya pakai sarung tangan kok. Tadi aku lihat sendiri soalnya," ujar Hans. Aku kembali menghela napas. Lalu, tanganku bergerak mengambil sepotong roti yang telah diolesi selai oleh Raffa. Aku menggigit bagian pinggirnya. Ya ... rasanya tidak jauh berbeda dengan roti tawar selai yang biasa aku beli di toserba. "Tumben banget, Raf, kamu tidak memasak makanan yang seperti biasanya," celetukku. Raffa menoleh menatapku. "Kamu kira aku hidup hanya untuk memasak makanan untuk kalian berdua?" Mendengar hal itu, secara kompak aku dan Hans tertawa keras. "Jadi bagaimana, Byan? Sejauh ini, apa kamu betah tinggal di rusun ini?" tanya Hans padaku. Aku pun menoleh melihat ke arah Hans. "Biasa saja sih sejujurnya. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, tinggal di rusun ini cukup menyenangkan juga dan tidak seburuk yang aku dengar dari orang-orang. Well, setidaknya kalau aku tidak tahu mesti melakukan apa, aku bisa ikut mendengar ibu-ibu yang sedang asyik menggosip," candaku. Dan hanya Hans yang memberi respons atas candaanku yang barusan. Ah, seandainya saja aku mengenal Hans lebih awal, pasti akan sangat menyenangkan. Hidupku pun pasti akan terasa lebih berwarna. Aku menoleh melirik ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 09 lewat 50 menit. "Aku balik duluan ya," ujarku sembari beranjak dari sofa. Sebelum membuka pintu unit, aku lebih dulu menghampiri rak pakaian milik Raffa. Aku mengambil jaket bomber biru yang memang sengaja kugantung di sana lalu kusampirkan jaket bomber itu ke pundak sebelah kananku. Sewaktu tiba di unit, aku merebahkan tubuh ke tempat tidur. Lalu aku menatap langit-langit atap yang tidak terlalu tinggi itu. Beberapa menit setelahnya, aku beranjak dari tempat tidur. Dan beralih duduk di kursi yang memang sengaja aku tempatkan di pojok kamar sebelah kanan. Lalu aku mengambil beberapa berkas yang telah kususun dengan begitu rapi di meja. Well, sebenarnya tidak serapi yang kalian bayangkan. Demi apapun, aku tidak akan melepaskan kasus bunuh diri yang terjadi pada Randy dengan begitu saja. Sebelum aku menemukan dalang di balik pembunuhan Randy, aku sedikit pun tidak akan menyerah. Meski jalan yang akan kutempuh bisa saja memiliki begitu banyak tanjakan. Aku kembali membaca—menguraikan motif-motif si pelaku pembunuhan ... meski kemungkinan akan deduksiku saat ini hanya berkisar dua puluh persen saja. Arsenik, jenis racun itu tidak mudah untuk didapatkan oleh orang lain. Arsenik juga tidak dijual di sembarang tempat dan ke sembarang orang. Jadi sudah pasti, bahwa Randy tidak mungkin bisa atau bahkan mampu untuk membeli arsenik. Sketsa tentang kasus bunuh diri Randy telah kubuat dari jauh-jauh hari. Dan tepat di nama ayahnya Randy, aku mencoret nama itu dengan spidol berwarna merah. Kemudian penglihatanku beralih melihat bergantian seraya membaca dua nama yang tersisa di sketsa itu. Yang pertama Ibunya Randy. Dan yang kedua adalah Aya Maharani, pacarnya Randy sendiri. Sewaktu hendak mencoret nama Aya, pergerakan tanganku tiba-tiba saja berhenti secara otomatis. Aku menaruh kembali spidol berwarna merah itu ke meja. Lalu aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi putar. Aku beralih memijit pelipisku yang terasa benar-benar nyeri. Dan lagi-lagi, pandanganku aku manfaatkan untuk memandang langit-langit atap. Sesaat kemudian aku kembali terduduk tegap. Kupandang sketsa yang telah kubuat itu dengan saksama. Sejujurnya, segala bukti kejanggalan akan kasus bunuh diri Randy sudah sangat jelas. Mulai dari pesan yang dikirimkan olehnya untuk Aya, satu kopi yang dibelinya, hingga racun arsenik itu. Jika memang Randy bunuh diri, dari siapa kira-kira Randy mendapatkan arsenik tersebut? Dikarenakan Randy menjalani kehidupan dengan benar-benar baik, dan karena Randy tidak memiliki musuh seorang pun, sangat tidaklah mudah bagi diriku untuk mengungkap siapa pelaku yang sebenarnya. Sejujurnya, selama beberapa hari belakangan ini aku telah menanyai ke beberapa penghuni rusun, juga ke orang sekitar rusun ini. Respons dari orang-orang terhadap Randy benar-benar baik. Bahkan mereka juga menceritakan beberapa kebaikan yang telah dilakukan oleh Randy selama ini. Atensiku kemudian teralihkan sewaktu ponsel pintar milikku berdering. Segera aku merogoh sakuku lalu kulihat ke layar ponsel yang menampilkan panggilan masuk dari Hans. Dan dengan segera pula aku menjawab panggilan masuk dari Hans tersebut. "Halo, Hans? Ada masalah apa?" tanyaku. Jujur, setelah saling bertukar kontak nomor ponsel, baru kali ini Hans menghubungiku. "Abyan, cepat ke lantai empat unit 303 sekarang. Ada yang bunuh diri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD