6. Abyan Tersakiti.

2437 Words
Aku memperhatikan seorang pria tua dengan perawakan tubuh yang sedikit gemuk. Tubuhnya pendek, kulitnya tampak sedikit gelap. Sementara rambutnya terlihat begitu acak-acakan. Pakaian yang dikenakan pria tua itu terlihat sederhana. Kulihat ia menyampirkan kain sarung berwarna cokelat di bahunya. Ia menyalamiku. Menyambut kedatanganku dengan ramah. Bahkan pria tua itu mempersilakan aku untuk segera duduk di sofa. Setelah duduk di sofa, aku mengalihkan atensi ke seisi unit tersebut. Ada beberapa foto keluarga yang seolah sengaja di gantung di dinding. Beberapa foto keluarga itu juga kulihat diletakkan di meja. Aku menyadari suatu hal, bahwa semenjak Randy menginjak usia remaja, keluarga itu tampaknya tidak pernah mengabadikan potret diri bersama-sama lagi. "Pihak polisi bilang, kasus anak saya sudah ditutup dengan kasus bunuh diri, 'kan?" Aku menoleh menatap pria tua itu, yang tidak lain merupakan ayahnya Randy. Aku mengangguk lalu memberi sahutan, "Ya. Kasusnya memang sudah ditutup." Kulihat pria tua itu baru saja menghela napas. Raut wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Hingga beberapa detik kemudian, ia berdecak. "Anak itu mati pun masih saja membuat susah orang tuanya," keluh Ayah Randy. Setelah mendengar kalimat itu, secara spontan aku terperanjat. Kuperhatikan sekali lagi raut wajahnya yang saat ini tampak begitu menegang. Rahangnya terkatup dengan kedua tangannya yang terkepal erat. Dan tiba-tiba saja, ayahnya Randy menghantam meja dengan kepalan tangannya. Suara yang dihasilkan akibat hantaman itu terdengar cukup keras. Sebagai satu-satunya orang yang melihat tindakan impulsif tersebut, aku hanya bisa meringis. Dan atensiku kemudian teralihkan sewaktu melihat adanya sedikit retakan di meja kayu itu. "Pak, begini ... kedatangan saya ke sini sekarang sebab ingin menanyakan beberapa hal," ucapku. Melihatnya yang tidak memberikan respons apa-apa terhadap ucapan yang baru saja kuucapkan, aku pun memutuskan untuk kembali melanjutkan ucapanku. "Menurut Bapak, Randy benar-benar bunuh diri?" "Apapun yang dilakukan anak itu, bukan urusan saya!! Dia lahir ke dunia ini saja sudah membuat orang tuanya susah." Ia menghardik. Sorot mata pria itu kian menajam dan wajahnya pun tambah memerah. Lebih dari apapun, aku benar-benar ingin memukul pria tua itu sekarang juga. Bisa-bisanya ia setega itu pada darah dagingnya sendiri. Kendati demikian, aku sama sekali tak acuh atas tingkah lakunya saat ini. "Berdasarkan hasil autopsi, Randy sering mendapatkan kekerasan. Terutama di bagian bahu dan di sekitaran tulang selangkanya, di sana terdapat banyak bekas pukulan," ujarku. "Menurut Bapak, siapa kira-kira pelakunya?" tanyaku. Dan aku menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Well, meski aku sendiri pun merasa tidak yakin akankah cara yang aku gunakan sekarang ini mampu melumpuhkan tingkah lakunya yang cukup membuat orang lain merasa jengkel. Akan tetapi sewaktu ayahnya Randy tiba-tiba saja beranjak dari posisinya untuk melayangkan tinjunya ke arahku, aku meringis. Aku mengumpat pelan usai mendapat tinjuan dari ayahnya Randy. Pukulan pria tua itu rupanya cukup menyakitkan juga. Dan tiba-tiba, aku teringat kembali akan suatu hal. Yang bahwa, emosi seorang tukang judi memang sangat tidak stabil. Lalu, aku tersenyum menyeringai menatap ke arahnya. "Berarti benar 'kan Bapak merupakan dalang dibalik kematian Randy, anak semata wayang Bapak?" pancingku. Sengaja. Usai mendengar tudingan yang baru saja kulontarkan, aku melihat dengan jelas rahangnya yang kembali terkatup. Raut wajahnya tampak kian memerah seolah akan meledak saat ini juga. Sewaktu tangannya hendak menghantamku kembali, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti. Awalnya aku menduga, ia akan membiarkanku. Namun rupanya dugaanku benar-benar salah. Pria tua itu tiba-tiba saja mendorong tubuhku dengan begitu kasarnya. "Keluar kamu! Dasar anak sialan!!" Tolong ingatkan aku bahwa tujuanku ke sini hanyalah untuk mencari informasi, bukan mencari keributan. Lagi, aku tersenyum menyeringai padanya. "Bapak tenang saja. Dalam kurun waktu beberapa hari, Bapak akan segera mendapat panggilan dari pihak Kantor Polisi. Sebagai tambahan, Bapak bisa saja mendapatkan pasal berlapis. Mulai dari kasus perjudian, kekerasan terhadap istri, juga kekerasan terhadap anak," ucapku. "Dan satu lagi, sangat memungkinkan kalau Bapak yang bunuh anak Bapak sendiri. Selagi menunggu dikeluarkannya surat itu, silahkan bersantai-santai dulu, Pak. Tentu saja, melarikan diri disaat yang seperti sekarang ini bukanlah hal yang baik untuk Bapak lakukan," lanjutku. Setelah mengutarakan isi hatiku pada ayahnya Randy, aku buru-buru beranjak ke luar dari unit itu. Rasa-rasanya, kepalaku akan segera meledak jika aku tidak langsung keluar dari unit itu. Usai berada di luar unit, aku mulai berjalan dengan langkah yang cukup pelan. Akan tetapi langkahku mendadak terhenti sewaktu ibunya Randy tiba-tiba saja muncul tepat di hadapanku. Aku memperhatikan dengan saksama tubuh wanita itu yang tampak bergetar dengan begitu hebatnya. Sementara sorot matanya, terlihat menatapku dengan tatapan segan. Menyadari hal itu, aku beranjak mendekat menghampiri ibunya Randy. Lalu tanganku bergerak memegangi kedua sisi lengan ibunya Randy. Aku pun tersenyum menenangkan padanya. "Maafkan Ibu. Gara-gara Ibu, kamu malah terluka seperti sekarang ini. Kamu malah jadi tempat pelampiasan suami Ibu. Maafkan Ibu, Nak ...," lirihnya. Kemudian, ia menunduk. Dan kedua pundak ibunya Randy tampak bergetar. Melihat hal itu, tanpa sadar aku menggerakkan kedua tanganku lalu menggenggam kedua tangan ibunya Randy. Bahkan getaran dari kedua tangannya pun dapat kurasakan dengan cukup jelas. Tidak hanya itu, kedua tangan ibunya Randy terasa benar-benar dingin saat ini. "Ibu tidak perlu mengkhawatirkan kondisi saya. Lagi pula, luka ini hanyalah luka biasa saja. Dan juga kalau bisa, Ibu tidak perlu terlalu memikirkan masalah ini. Apa yang terjadi pada Randy, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menguak fakta dibalik kejadian yang sangat tidak menyenangkan itu," kataku. "Dan lagi, ikut campur dalam urusan orang lain itu merupakan bakat saya. Jadi Ibu tidak perlu merasa tidak enak seperti sekarang ini. Bagi saya, luka kecil ini bukan apa-apa," lanjutku sembari tersenyum menenangkan padanya. Setelah mengucapkan hal itu, aku pun segera pamit undur diri dari hadapan ibunya Randy. Aku melangkahkan kembali kakiku demi menjauh dari unit keluarga Randy. Dan bukannya langsung kembali ke lantai tiga, di mana unitku berada, aku malah keluar dari rusun. Sembari berjalan, aku menyentuh sudut bibirku yang sedari tadi terasa benar-benar perih. Darah. Darah?! Wah. Rasanya sudah sangat lama aku tidak melihat darah. Well, disaat seperti ini, yang aku butuhkan hanyalah kasih sayang seorang Raffa Alfariel seorang. Berhubung apotek milik Raffa memiliki jarak tidak begitu jauh dari rusun, aku pun memilih untuk berjalan kaki menuju apotek Raffa. Tanganku bergerak mengeluarkan ponsel dari saku jaket bomber berwarna biru yang kukenakan. Setelah itu, aku mengeluarkan ear phone dari saku yang sebelahnya lalu memasang ear phone yang saat ini kupegang ke telingaku yang sebelah kiri. Kira-kira lagu apa yang cocok untuk kudengar disaat matahari mulai bersembunyi di balik awan-awan pekat? Juga disaat aku baru saja mendapat pukulan sehingga membuat sudut bibirku terluka. Pada akhirnya, aku memutar acak koleksi daftar putar laguku. Aku mengulum senyuman sewaktu mengetahui bahwa lagu yang baru saja terputar merupakan lagu favoritku semenjak lama. Tatkala tiba di hadapan bangunan apotek, dengan segera melangkah memasuki apotek milik Raffa itu. Dan kulihat, Raffa tampak sedang sibuk melayani pasien apotek. Tanpa disengaja, tatapanku dan tatapan Raffa saling bertemu. Segera setelah itu, aku langsung memamerkan senyuman cerahku pada Raffa. Meski sempat terperanjat, aku benar-benar merasa amat terharu sewaktu lelaki bersnelli dengan kacamatanya yang seolah sudah menjadi bagian dari dirinya itu membalas senyumanku. Well, meski itu hanya berlangsung selama sepersekian detik saja. Sesaat kemudian aku tersadar, Raffa itu sosok yang baik. Hanya saja semua sifat baik yang ada dalam Raffa itu telah tertutupi oleh sifat pelit yang seolah sudah mendarah daging dalam diri Raffa. Segera aku duduk di kursi tunggu paling ujung. Karena tidak tahu harus melakukan apa, aku pun beralih mengetuk aplikasi kamera di ponsel yang memang kupegang sejak tadi. Aku melihat, memperhatikan refleksi wajahku yang terlihat jelas di benda canggih ini. Sayang sekali, wajah yang selalu kujaga agar tidak lecet, sekarang ini malah dihiasi dengan luka. Sudut bibirku yang sebelah kiri tampak sedikit robek. Bahkan, terdapat sedikit cairan berwarna merah di sana. Sementara pipiku yang sebelah kiri terdapat memar yang berwarna agak kemerahan. Aku mengumpat dalam hati kala rasa sakit akibat tinjuan ayahnya Randy baru kurasakan sekarang. "Kenapa bisa luka?" Aku menoleh melihat ke arah Raffa yang baru saja mengajukan pertanyaan tersebut. Yang mana saat ini, Raffa sedang berjalan ke arahku. Lalu, aku beralih memperhatikan benda yang saat ini ada di pegangan Raffa. Di tangan kanan Raffa, ada sekotak tisu kering yang ia tindih dengan tisu basah. Sementara di tangan kiri Raffa, ia memegang kotak obat. Aku kembali mengalihkan atensiku ke pintu masuk apotek. Dan aku baru sadar, bahwa tidak ada lagi yang berdiri di sekitaran pintu masuk apotek. Bahkan di kursi tunggu pun, sudah tidak diduduki oleh siapapun lagi. Terkecuali diriku sendiri, juga Raffa yang baru saja mendudukkan dirinya ke kursi tunggu. Tepat di sebelah kananku. "Kena tinju ayahnya Randy, Raf." Aku setengah menjawab, juga setengah mengadu pada Raffa. Meski pada kenyataannya Raffa sedikit pun tidak menaruh rasa prihatin terhadap hal yang menimpa diriku. "Aku benar-benar tidak menyangka, Raf. Padahal ayahnya Randy sudah tua seperti itu ... tapi pukulannya bukan main. Sakitnya tembus ke ulu hati." Aku mengeluh seraya memegangi d**a sebelah kiriku. "Bodoh." Raffa mendorong pelan kepalaku. "Ulu hati bukan di situ letaknya, Byan," ujar Raffa dengan nada suara yang menyiratkan cemoohan. "Makanya, dulu waktu sekolah jangan cuma hadir di kantin doang," lanjutnya. Dan entah mengapa, setelah mendengar ujaran Raffa barusan, aku merasa cukup tersinggung. Hatiku seolah ditusuk berulang kali dengan pisau. "Aku ambil jurusan IPS ya, kalau kamu lupa," balasku. Lebih dari apapun, kali ini, aku tidak akan membiarkannya menang. "Pelajaran tentang anatomi tubuh bukannya sudah diajarkan dari SD ya? Well, kalau kamu lupa," imbuh Raffa. "Dan lagi, seorang mantan penyidik kriminal seperti kamu, bagaimana bisa tidak mengetahui letak ulu hati?" Aku meringis usai mendengar hal itu. Dan kurasa, keberuntungan benar-benar tidak ingin melihatku menang. Meski hanya sekali saja. "Kamu bisa membersihkan luka itu sendiri 'kan, Byan?" tanya Raffa. Ia menatapku dengan tatapan merendahkan. Jika aku tidak merasa tersinggung akan tatapan Raffa saat ini, itu berarti ada yang salah dengan akal sehatku. "Ya jelas bisalah!" seruku kemudian. Tangan kananku bergerak mengambil kotak obat yang dipegang oleh Raffa sedari tadi. Untuk sesaat, aku menoleh melihat ke arah Raffa yang kelihatan benar-benar tak acuh padaku. Aku juga melihat Raffa mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu asyik memainkan benda elektronik itu. Sementara itu aku beralih mengambil cermin mini yang memang sengaja disediakan di sana. Akan tetapi, bukannya langsung mengobati, aku malah terus-menerus menjerit. Demi apapun, rasa sakit yang aku rasakan saat ini tidak mampu untuk kudefinisikan dengan kata-kata. "Percuma punya tubuh yang kekar dan tinggi. Kerjaannya pun selalu berurusan sama penjahat, tapi untuk mengobati luka kecil yang seperti itu malah langsung menjerit kesakitan. Lebay banget." Lagi, Raffa kembali mencemooh diriku. Lebih dari apapun, aku benar-benar ingin memprotes cemoohan Raffa barusan. Akan tetapi sewaktu Raffa memiliki inisiatif untuk membersihkan lukaku, aku pun segera mengurungkan niat terselubungku itu. "Sakit tidak, Byan?" tanya Raffa. Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Raffa barusan, secara spontan aku menjatuhkan rahang dan langsung menoleh menatap Raffa. "Kalau tidak sakit, sudah pasti aku tidak akan menjerit-jerit seperti tadi!" ceplosku. "Raffa!" Aku berteriak kesakitan lalu meneriakkan nama Raffa seusai Raffa menekan memar yang ada di wajahku ini dengan begitu kuat. Sungguh, aku benar-benar tidak habis pikir akan tingkah laku Raffa saat ini. Kenapa lama-kelamaan sifat buruknya Raffa terus bertambah ya? Dan entah sejak kapan, timbul keinginan dalam lubuk hatiku yang paling dalam untuk melontarkan u*****n pada Raffa. Seusai membersihkan luka yang ada di sudut bibirku, Raffa dengan cekatan menempelkan plester di sana. Lalu, aku pun segera mengucapkan terima kasih pada Raffa. Yang mana pada kenyataannya, Raffa hanya membalas ucapan terima kasih dariku dengan sekali anggukan. "Jangan lupa sebelum pergi bayar dulu ya, Byan," celetuk Raffa. Tentu saja aku langsung terkesiap setelah mendengar celetukan Raffa. Sungguh, Raffa itu benar-benar sahabatku, bukan? Atau selama ini cuma aku saja yang menganggap Raffa sebagai sahabat? "Raffa," geramku Tiba-tiba saja lelaki itu tertawa lebar. Dan aku melihat, memperhatikan Raffa yang sedang melepas kacamatanya. "Aku bercanda, Byan. Jangan diambil hati omonganku yang barusan itu," ungkap Raffa. "Sayangnya aku sudah terlanjur berburuk sangka dan merasa benar-benar sakit hati atas ucapan kamu itu," balasku. Aku cukup menyadari, bahwa Raffa lagi-lagi tidak terlalu acuh atas ucapan yang baru saja kulontarkan. "Omong-omong, ayahnya Randy itu mantan preman. Jadi sangat tidak mengherankan kalau pukulan ayahnya Randy bisa membuat kamu langsung terluka seperti itu," ujar Raffa. Mendengar hal itu, aku langsung menautkan alis menatap Raffa. "Dari mana kamu tahu kalau ayahnya Randy itu mantan preman?" tanyaku. Raffa terdiam sebentar, lalu Raffa menunjukkan seringaiannya kepadaku. "Soal itu sudah menjadi rahasia umum di rusun. Ayahnya Randy bukan cuma tukang judi, tapi mantan preman juga. Yah ... walaupun cuma mantan, bukan berarti ilmu bela dirinya berkurang 'kan, Byan?" Harus kuakui, aku terlalu kalut sewaktu mendengar tiap kalimat yang keluar dari pria tua itu sampai-sampai lupa mencari tahu tentang dirinya lebih dalam lagi. "Kasus ini 'kan udah ditutup oleh pihak kepolisian. Kenapa kamu masih saja menyelidikinya? Lagi pula, Randy meninggal memang karena bunuh diri. Randy sengaja mencampur arsenik itu ke kopinya," ujar Raffa. Dan kulihat, lelaki itu tiba-tiba saja menautkan alisnya sewaktu menatapku. "Eh, benar seperti itu 'kan, Byan? Apa jangan-jangan kamu sudah menemukan pelakunya—dalang dibalik kejadian yang menimpa Randy?" tanya Raffa padaku. Aku menghela napas. "Tapi anehnya, aku merasa cukup yakin bahwa Randy tidak mungkin bunuh diri. Dari bekas sayatan di pergelangan tangannya saja sudah terlihat bahwa dia, walaupun melakukan self harm, dia memberi batasan terhadap dirinya sendiri," ungkapku. "Jujur, awalnya aku sempat menduga kalau dalang dibalik semua ini merupakan ulah ayahnya," kataku lagi. "Jadi sekarang sudah tidak lagi?" tanya Raffa. Aku terdiam sebentar lalu menggeleng pelan. "Emosi ayahnya Randy benar-benar tidak stabil. Ayahnya Randy cenderung bersikap kasar sewaktu amarahnya mulai terpancing keluar. Kalau memang pria itu yang membunuh anaknya sendiri, sudah pasti tidak akan seperti itu cara yang akan digunakan. Pria itu pasti akan langsung melayangkan tinjunya, menyiksa Randy seperti yang pernah dilakukan oleh pria itu sebelumnya. Tapi kasus yang ini jelas-jelas berbeda. Randy diracun. Dan itu benar-benar tidak sesuai dengan karakter ayahnya Randy," sahutku. Aku menoleh memperhatikan Raffa yang terlihat sedang memijit pelipisnya. "Hanya dengan mendengar penjelasan dari kamu saja, berhasil membuat aku merasa cukup kelaparan. Dan lagi, aku benar-benar pusing setelah mendengarkan penjelasan dari kamu barusan," keluh Raffa. Lelaki bersnelli itu kemudian beranjak dari kursi. Kuperhatikan ia baru saja menyalakan radio. Selagi Raffa sibuk mencari siaran radio, aku menjeda lagu yang sudah aku dengarkan sedari tadi lalu memasukkan kembali ponsel dan ear phone milikku ke dalam saku. "Raf, itu saja," ujarku spontan sewaktu mendengar alunan musik yang terdengar familier di telingaku. "Kamu suka musik yang seperti ini, Byan?" tanya Raffa. Aku terdiam sebentar lalu menjawab, "Sebenarnya biasa saja sih, Raf. Tapi entah kenapa belakangan ini aku lebih suka mendengarkan alunan musik yang seperti itu, alih-alih mendengarkan lagu yang disertai dengan lirik." "Karya Claude Zavier William dengan judul das ende der stille," celetuk Raffa. Aku mengernyit lalu menoleh menatap Raffa. "Kenapa kamu bisa tahu, Raf?" tanyaku. Dan Raffa melempar senyumnya ke arahku. "Soalnya, aku cukup sering mendengarkan musik klasik yang seperti ini tiap kali ke unitnya Hans," sahut Raffa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD