5. Ibunya Randy

1318 Words
Suara bel pintu unit yang dapat kudengar dengan jelas membuatku terpaksa menjeda lagu yang tengah kudengarkan. Aku beranjak dari kursi, berniat membukakan pintu. Kulihat seorang wanita berdiri di depan pintu unit. Kantung matanya terlihat jelas. Kulitnya tampak sedikit keriput, tampak lebih jelas sewaktu aku memperhatikan punggung tangannya. Selendang yang seharusnya dikenakan di kepala malah tersampir di pundak wanita itu. Dan helaan napas terus terdengar darinya. Sesekali wanita itu tampak tengah merapalkan sesuatu. Meski tidak dapat mendengar apa yang tengah dirapalkannya, aku sangat yakin bahwa itu berkaitan dengan putranya yang baru meninggal kemarin. "Masuk dulu, Bu," ujarku. Aku bergeser ke samping pintu. Membiarkan tubuh tak bertenaga itu berjalan memasuki unit yang kutinggali. Kupersilakan wanita tua itu duduk di sofa. Aku bahkan membuatkannya segelas teh hangat, lalu kusodorkan untuknya. Aku menarik kursi yang ada di dekat sofa kemudian duduk tepat di hadapan wanita tua itu. "Nak, apa sudah ada petunjuk pelaku pembunuhan Randy, anak saya?" tanyanya. "Ibu yakin Randy gak mungkin bunuh diri. Randy gak akan ngelakuin hal sebodoh itu." "Kenapa Ibu yakin kalau Randy gak bunuh diri?" Pertanyaan yang kuajukan membuatnya terdiam untuk beberapa detik. Kuperhatikan tangan keriputnya yang tampak sedikit bergetar. Tatapannya pun sempat teralihkan untuk beberapa saat. "Randy ... dia anak yang kuat dan hebat. Jadi apapun yang terjadi, Ibu yakin dia gak akan ambil keputusan begitu. Saya Ibunya. Jadi Ibu tahu segala sesuatu tentang Randy," jawabnya. Aku hanya mengangguk. "Kalau boleh tahu, apa Randy punya musuh? Maksud saya, mungkin saja ada yang gak suka sama Randy selama ini," ucapku. Ibunya Randy kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, kulihat ia memukul dadanya berulang kali dengan kuat. "Ibu macam apa aku ini? Aku bahkan tidak tahu apapun tentang anakku sendiri." Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangis dari wanita berpakaian lusuh itu dapat kudengar dengan jelas. Jujur, aku paling bodoh dalam hal menghibur orang lain. Jadi aku memutuskan untuk menunggu tangisnya mereda. Aku tidak menyangka, kematian dapat membuat seseorang yang berperilaku hedonisme berubah. "Selama ini Ibu selalu sibuk dengan urusan Ibu sendiri. Sedangkan ayahnya terlalu asyik menghamburkan uang. Ayahnya Randy selalu menghabiskan waktu di tempat perjudian. Padahal ekonomi keluarga kami cukup pas-pasan," ungkapnya. Aku memperhatikan wanita itu yang sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan selendang berwarna biru. Sangat tidak cocok dengan pakaian yang saat ini dikenakannya. "Bahkan di hari Randy mendapat penghargaan di sekolahnya pun, kami, selaku orang tuanya gak pernah benar-benar peduli. Randy ... Randy anak yang malang." Refleks aku mengangguk. "Ya, Randy memang anak yang malang," gumamku. "Setahu Ibu, Randy gak punya musuh. Ibu sering melihat dia mengobrol dengan orang-orang yang tinggal di sini. Ibu lihat respons orang-orang ke dia itu benar-benar baik." "Sebelum itu, Ibu udah tahu 'kan kalau Randy sering melakukan self harm? Randy sering melukai diri sendiri dengan cara menyayat pergelangan tangan kanannya." "Ya, Ibu baru tahu kemarin. Sewaktu polisi memberitahukan hasil autopsi Randy." Aku mengangguk beberapa kali. "Menurut Ibu, kenapa Randy melakukan self harm?" Kulihat ia menggeleng pelan. "Mungkin karena Ibu, karena orang tuanya yang selalu sibuk dengan kesenangan diri sendiri," jawabnya. "Tapi Ibu yakin, Randy gak akan bunuh diri. Lebih-lebih lagi dengan minum racun, Ibu yakin Randy gak akan melakukan hal bodoh itu." lanjutnya. "Nak, tolong bantuin Ibu ... tolong cari tau siapa pelaku pembunuhan itu." "Ibu tenang saja. Biar saya yang urus masalah ini," ujarku. Mengurus urusan orang lain itu bakatku. * "Nama pelaku bunuh diri Randy Pangestu, lima belas tahun. Ayahnya seorang tukang judi, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa, tapi berperilaku hedonisme. Penyebab kematian adalah keracunan arsenik yang dilarutkan ke dalam kopi." Aku menoleh melirik Pak Faisal usai mengucapkan hal itu. "Omong-omong, selain itu ibunya Randy gak kasih tahu apa-apa lagi, Ndan?" Pak Faisal menggeleng. Aku mengangguk beberapa kali. Aku rasa, ibunya Randy benar-benar tidak mempercayai dengan yang namanya polisi. "Pelaku bunuh diri ini jelas-jelas minum kopi yang dibelinya sendiri. Dan di saat itu dia memang lagi sendirian. Menurut pengakuan pacarnya, si pelaku bunuh diri mengajak bertemu jam sembilan malam. Dan dia tiba di sana lima belas menit kemudian. Karena si pelaku memang sering duduk di sana, jadi orang-orang gak terlalu acuhin keberadaan dia. Jadi otomatis dia jadi orang pertama yang sadar kalau si pelaku bunuh diri kehabisan nyawa," jelasnya. "Sejujurnya ada beberapa hal yang janggal dari kasus bunuh diri ini." Aku menaikkan sebelah alisku menatap beliau. "Pacarnya mengaku bahwa si pelaku hampir gak pernah ajak dia ketemuan lewat jam delapan malam. Sementara hari itu, secara kebetulan si pelaku ngajak ketemu jam sembilan malam." "Gimana kalau seandainya itu bukan cuma suatu kebetulan? Bisa aja 'kan, ada yang ambil hpnya," interupsiku. Pak Faisal menghela napasnya. "Selain sidik jari si pelaku, ga ada sidik jari orang lain," katanya. "Mungkin, ya ... dia memang berencana bunuh diri. Akan kututup kasus ini dengan kasus bunuh diri." Aku terperangah mendengar ucapan Pak Faisal. Sangat jelas bahwa kasusnya tidak sesederhana itu. Tapi mengapa tiba-tiba— "Pihak kepolisian sudah membuat keputusan. Dan kasus ini akan ditutup dengan kasus bunuh diri." Aku meringis. Kusandarkan punggungku ke sandaran jok kursi mobil. Sayang sekali. Andaikan saja Randy tidak melakukan self harm, besar kemungkinan kasus ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Aku mendadak teringat dengan ibunya Randy. Bagaimana aku bisa menghadapinya nanti? "'Kan kamu detektif swasta. Jadi kamu masih bisa selidiki kasus ini." Ah, benar. Kenapa aku bisa melupakan pekerjaanku sendiri? "Komandan memang yang terbaik deh," ucapku. Aku menunjukkan senyum cerahku pada beliau. "Omong-omong, berdasarkan pengakuan ibunya Randy, memar yang ada di tubuh Randy itu disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh ayahnya. Randy sering jadi korban kekerasan sewaktu dia berusaha melindungi ibunya dari pukulan ayahnya." Kulihat ekspresi Pak Faisal yang tidak berubah sedikit pun meski aku telah memberitahu hal yang baru saja kuketahui melalui ibunya Randy. "Ya ... besar kemungkinan kalau Randy benar-benar bunuh diri karena latar belakang keluarganya yang begitu. Karena itu, ada kemungkinan juga kalau Randy dibunuh." * "Ini, obatnya cukup dimakan tiga kali sehari ya, Pak. Kalau yang vitamin ini cukup satu kali sehari saja. Semoga cepat sembuh, Pak." Aku mengulum senyumku. Menyaksikan keramahtamahan Raffa Alfariel. Sewaktu pria tua dengan tongkat itu pergi, aku menghampirinya. Raffa tampak tak acuh dengan keberadaanku. Kulihat ia yang tampak sibuk menyusun ulang obat-obatan yang sedikit berantakan itu. "Nanti kamu masak apa, Raf buat makan malam kita?" tanyaku. Sewaktu aku mengalihkan atensi, aku mendapati botol minum stainless steel di meja yang letaknya tepat di sebelah rak obat-obatan. Aku beranjak berjalan ke arah meja itu. Sudah jelas niatku untuk menghilangkan dahaga. Akan tetapi tanganku ditepis dengan kasar oleh Raffa. "Beli sendiri sana. Jangan kayak orang susah." Wah. Kok aku merasa terzalimi ya? "Pelit banget, Raf. Sama teman sendiri juga," Aku mencibir. Sejujurnya, aku sama sekali tidak heran dengan kelakuan sahabatku ini. Dari dulu dia memang sudah terkenal pelit. Tapi, sungguh ... aku tidak menduga bahwa dia juga akan pelit kepada sahabatnya sendiri. "Airnya boleh kamu minum, tapi jangan lupa bayar." Aku menjatuhkan rahang, lalu berdecak. "Dasar pelit!" cemoohku. Aku kembali duduk di kursi tunggu yang sempat kududuki tadi. "Jadi nanti kamu bakalan masak apa?" tanyaku lagi. "Jangan bilang kalau kamu nyuruh aku dan Hans buat cari makanan sendiri. Karena endingnya udah ketebak, jadi kuharap kamu pake plot twist." "Plot twist ... plot twist, kamu kira ini novel cinta-cintaan yang ada pebinornya?" Aku tertawa pelan mendengar responsnya. "Kamu mau kumasakin apa memangnya?" tanya Raffa padaku. Aku tersenyum. Rupanya benar apa yang dikatakan Hans padanya malam itu, meski Raffa pelitnya sudah diluar batas kemanusiaan, Raffa tidak akan pelit jika itu berkaitan dengan makan malam. Hanya makan malam. "Aku lagi pengen tumis buncis wortel. Kayaknya enak kalau kamu yang buatin." Anehnya, meski belum mencoba, aku dapat membayangkan bagaimana hasil masakan Raffa nanti. Aih, membayangkannya saja berhasil membuat seleraku tergugah. Kulihat Raffa baru saja mengangguk usai mendengar jawaban dariku. "Oke. Berarti nanti aku masakin sup ayam sama ayam goreng. Hans pasti suka." Refleks, aku melempari jaket bomber yang tadinya kusampirkan di pundak ke arahnya. Ternyata selain pelit, Raffa juga berbakat dalam hal mengundang amarah orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD