4. Aya

1310 Words
"Jadi, Randy merenggang nyawa memang karena arsenik?" Aku bergumam. Kuperiksa sekali lagi hasil autopsi yang aku dapatkan dengan susah payah dari Pak Faisal, mantan atasanku dulu. "Perkiraan waktu kematian, setelah tiga puluh menit dia minum kopi beracun tersebut. Itu artinya dia meninggal sekitar jam 21 lewat 10 menit." Aku ingat. Malam itu kondisi tubuh Randy masih terasa hangat dan lemas. "Beberapa orang yang memang kebetulan ada di sana, memberi keterangan kalau tidak ada yang janggal dan berbeda dari si pelaku bunuh diri. Mereka bilang, dia memang sering duduk di taman. Entah itu sendiri atau sama orang lain," kata Pak Faisal. "Semalam, pacarnya yang ada di TKP itu sudah diinterogasi?" tanyaku. "Padahal aku sama sekali belum cerita tentang identitas anak gadis itu," gumam Pak Faisal. "Komandan kesepian 'kan semenjak aku keluar dari tim investigasi?" tanyaku. "Yah ... apalagi kemampuanku ini cukup mumpuni." Aku malah mendapat pukulan di dadaku usai mengucapkan hal itu. Memang, Pak Faisal itu sulit sekali untuk diajak bercanda. "Namanya Aya Maharani. Mereka pacaran selama satu tahun. Sebelumnya mereka memang sudah dekat karena temanan." "Oh. Sahabat yang menjadi pacar ya." Aku menginterupsi penjelasan Pak Faisal. "Terus?" Kulihat Pak Faisal memijit pelipisnya lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran jok kursi mobil. "Dia cuma cerita itu saja. Pihak rumah sakit bilang kalau dia masih dalam kondisi syok—" "Karena dia yang telepon ke nomor kantor polisi, 'kan?" interupsiku. "Dia juga orang pertama yang menyadari kondisi pacarnya. "Kamu kira sopan potong-potong pembicaraan orang tua?!" Nada suara Pak Faisal sedikit meninggi. Rahangnya tampak mengatup menatapku dengan tatapannya yang tajam. Akan tetapi aku tak acuh. Aku tidak perlu lagi takut padanya karena aku bukan lagi bawahannya. "Kalaupun kasus ini terungkap nantinya ... ingat, Abyan, kamu tidak akan dapat apa-apa," kata Pak Faisal. Aku mengedikkan bahu tak acuh. Kemudian berujar, "Ya. Komandan benar. Tapi itu sebelum orang tuanya minta bantuan aku." Kulihat raut wajah tak bersahabat darinya. "Mamanya Randy tadi pagi datang ke unit yang kutempati. Meminta bantuanku untuk mengungkap kasus kematian anaknya. Katanya, dia tidak percaya lagi sama yang namanya polisi," jelasku. Aku menyeringai menatap Pak Faisal. "Kalau sudah begini aku bisa apa, Ndan? Aku tidak bisa pilih antara klien sama Komandan yang sebenarnya juga butuh bantuanku sekarang. Karena itu aku pilih dua-duanya." Aku tertawa lebar sewaktu melihat ekspresi pria itu tampak masam. "Sekarang pacarnya Randy ada di mana, Ndan?" Pak Faisal berdecak. "Kamu tanya aku, aku tanya siapa?" Aku meringis mendengar respons Pak Faisal. Tega sekali! "Kalau memang Randy berniat bunuh diri, harusnya dia punya alasan kuat untuk melakukan itu 'kan, Ndan?" Pak Faisal mengangguk. "Aku harus kembali sekarang. Kamu turun sana." "Ga mau ngeteh dulu nih, Ndan?" Pak Faisal berdecak. Sepertinya perbuatanku saat ini benar-benar menguji kesabarannya. "Siap. Aku turun sekarang," kataku sambil membuka pintu kabin mobil. Tidak lupa pula aku mengambil berkas yang memang sengaja kupinta darinya. Dalam hitungan detik, mobil polisi itu lenyap dari pandanganku. Aku berjalan dengan langkah pelan menuju ke rusun. Sembari bersiul, aku melihat-lihat ke sekeliling. Atensiku tiba-tiba terpusatkan ke arah Twenty Market. Di sana tampak jelas keberadaan Hans dengan seragam khusus karyawan Twenty Market. Hans melambaikan tangan ke arahku. Senyuman Hans tampak kian melebar sewaktu aku membalas senyumannya. Dari gerak mulutnya, aku dapat mengetahui bahwa ia menyuruhku mampir ke sana. Dengan senang hati aku akan menuruti permintaannya. Akan tetapi atensiku berhasil dicuri oleh hal lain. Kulihat pacarnya Randy tengah duduk termenung di dekat rusun. Aku memberi isyarat pada Hans bahwa aku tidak jadi ke sana. Dan setelahnya, segera kuhampiri gadis berkacamata itu. Sementara rambut panjangnya, tampak ia biarkan tergerai begitu saja. Disaat jarakku dengannya kian menipis, matanya yang tampak membengkak terlihat jelas olehku. Dan hidungnya kelihatan memerah. Bibirnya pun memucat, sangat cocok dengan wajahnya yang tampak pucat pasi. "Hei. Kamu." Gadis itu menoleh menatapku. Tubuhnya sedikit limbung sewaktu hendak berjalan menghampiriku. Dengan sigap, aku menahan tubuhnya yang terasa seringan kapas. "Kamu belum makan, 'kan? Ayo kita isi perut dulu." Aku menarik pergelangan gadis itu tanpa menunggu persetujuan darinya. Akan tetapi ia malah menahan langkahnya. Aku berbalik menatap gadis itu. "Ada apa? Kamu keberatan aku ajak sarapan di waktu jam makan siang?" Gadis itu hanya diam saja. Sama sekali tidak memberi respons akan pertanyaan yang kuajukan. Kulihat ia yang berdiri di hadapanku dengan kepala tertunduk. "Hidup kamu tidak akan lama kalau hobi tahan lapar begitu," ucapku. Akhirnya ia mendongak. Ia menatapku dengan tatapannya yang sayu itu. "Kemarin, Randy sempat cerita soal Kakak," katanya. Aku mengernyit menatap gadis itu. "Randy bilang, cuma Kakak satu-satunya orang yang tidak membicarakan dia pas tahu kalau Randy melakukan self harm." Aku menaikkan sebelah alisku, menatapnya. "Sebentar, sebentar." Aku memperhatikan kembali gadis itu dengan saksama. Napasnya tersendat, sementara matanya tampak berair. "Randy—" "Hei." Aku menginterupsi. Obrolan sepenting ini, tidak mungkin kulakukan di dekat rusun. "Kita lanjut obrolin soal ini sambil isi perut kamu," ujarku. "Ayo." * Aku membiarkan pacarnya Randy menikmati makanan yang telah kupesankan untuknya. Sejujurnya, aku sedikit memaksa gadis itu untuk menghabisi makanan yang sengaja kupesan hanya untuknya. Setelah beberapa menit menunggu, aku menyimpan kembali ponsel pintar milikku ke dalam saku yang tadinya sempat kumainkan sewaktu gadis itu tengah memakan makanannya. "Randy omongin apa aja ke kamu?" Ia terdiam. Cukup lama, menurutku. "Randy cerita, pas mau berangkat dia ketemu sama penghuni baru di rusun. Katanya Kakak itu orang yang asyik dan cukup unik. Dan sebenarnya, Randy secara gak sengaja keluarin tangan kanannya dari dalam saku. Padahal Randy selalu berusaha buat tutupin bekas sayatannya itu. Dia benaran khawatir pas sadar kalau dia udah keluarin tangan kanannya dari saku. Jadi Randy mutusin buat langsung pergi tinggalin Kakak. Randy yang sebenarnya belum jauh dari sana, melihat jelas kalau Kakak lagi kejar dia. Randy juga lihat ekspresi khawatir dari wajah Kakak," jelasnya. "Walaupun pada akhirnya Kakak gak jadi temuin Randy karena harus bantuin ibu hamil, Randy tetap senang. Karena Kakak gak mencemooh apa yang dia lakukan." Aku menghela napas. Sungguh, nahas sekali nasib pemuda itu. Tiba-tiba saja tanganku digenggam dengan begitu erat oleh gadis tersebut. "Kak, aku yakin Randy gak bunuh diri. Randy ga mungkin ngelakuin hal itu. Ya, aku tahu ... aku tahu kalau selama ini Randy memang benar-benar mau mati. Tapi, aku yakin Randy gak mungkin bertindak secara gegabah kayak gini. Randy gak mungkin bunuh diri, Kak." Napasnya kembali tersendat. Tangannya yang menggenggamku dengan erat kini kian mengendur. Getaran di tangannya dapat kurasakan dengan jelas. "Kenapa Randy mau mati?" tanyaku. Kali ini pun ia terdiam cukup lama. "Sebenarnya, Randy anak broken home, Kak ...," lirihnya. Aku menaikkan sebelah alisku menatapnya. "Atas dasar apa kamu bicara begitu?" Kulihat gadis itu mengacak rambutnya dengan kasar. "Ayahnya Randy tukang judi. Sedangkan ibunya selalu berperilaku hedonisme. Randy ... sama sekali gak dipeduliin sama orang tuanya, Kak." Aku memperhatikan sorot mata gadis itu. Jika tadi sorot matanya tampak begitu depresi, kini sorot matanya menyiratkan rasa benci yang mendalam. "Randy cerita langsung ke kamu?" Ia mengangguk cepat. Sejujurnya, apa yang diceritakan oleh gadis itu terdengar cukup masuk akal. Mengingat memar yang ada di bagian pundak dan di sekitaran tulang selangkanya Randy, besar kemungkinan bahwa pelakunya merupakan orang terdekat Randy. Yang sangat mungkin bahwa si pelaku adalah anggota keluarganya sendiri. "Selain orang tua, Randy tinggal sama siapa lagi? Mungkin dia punya kakak atau adik." Gadis itu menggeleng. "Randy anak tunggal. Jadi Randy cuma tinggal sama orang tuanya di rusun itu." Aku mengangguk beberapa kali. "Aku dengar Kakak kerja sebagai detektif swasta. Jadi, tolong bantu cari tahu siapa dalang dibalik semua ini ya, Kak." Ia memelas menatapku. Aku tidak merespons ujarannya. "Aku akan kasih tahu Kakak apa aja yang aku ketahui. Jadi aku mohon banget, tolong ungkapkan hal yang sebenarnya dialami Randy semalam. Aku yakin banget kalau Randy gak akan bikin keputusan sekonyol itu." Aku menghela napas. Atensiku kualihkan sebentar ke seisi ruangan bernuansa monokrom ini. Lalu aku kembali menoleh menatapnya. "Aya Maharani." Kulihat ia terbelalak dan mulutnya sedikit terbuka sewaktu aku menyebut namanya. Harus kuakui, daya ingatku merupakan salah satu hal dari diriku yang sangat kubanggakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD