3. Tentang Randy

883 Words
Seusai tim forensik tiba dan membawa jenazah Randy ke rumah sakit untuk melakukan autopsi, aku kembali ke rusun yang kutinggali. Akan tetapi bukannya kembali ke unit, aku malah memasuki unit Raffa. Aku duduk di kursi meja makan. Kulihat Raffa tengah sibuk menyiapkan makanan. Indra pendengaranku mendengar jelas suara angka-angka yang ditekan di luar unit Raffa. "Kamu tinggal sama siapa di sini, Raf?" tanyaku. Sembari menata makanan di meja, Raffa melirik ke arahku sebentar. "Itu Hans." Bersamaan dengan itu, kulihat seorang lelaki dengan jaket varsity yang dikenakannya berjalan menghampiri kami. Kuperhatikan bola matanya yang tampak berwarna biru. Terlihat sedikit kumis tipis yang tumbuh di antara bibir dan hidungnya. Dibandingkan denganku, dia jelas jauh lebih tinggi. Tubuhnya yang kelihatan bugar membuatku berpikir bahwa bekerja di kepolisian akan sangat cocok dengannya. Lelaki berkulit putih itu kini beralih duduk tepat di hadapanku. "Raf, si Randy terakhir kali ketemu sama aku. Aku ga bakalan dibawa ke kantor polisi buat diinterogasi juga, 'kan?" tanyanya. "Tanya sama dia," kata Raffa sambil menunjuk ke arahku. "Dia mantan penyidik kriminal. Jadi kurasa dia orang yang tepat buat kamu tanyain." Kulihat tubuh lelaki dengan rambut hitam yang sedikit gondrong itu menegang. Ia menatapku dengan tatapan bergetar. Apakah wajahku sekriminal itu sampai-sampai membuatnya sangat ketakutan seperti sekarang ini? "Aku balik ke unit dulu deh, Raf," ujar lelaki itu. "Udah makan apa aja sampai-sampai kamu punya niat buat langsung balik?" Pertanyaan yang diajukan Raffa berhasil membuatnya kembali duduk. Dan kulihat Raffa mulai menikmati nasi goreng buatannya. "Malam begini makan nasi goreng, ga ada makanan sehat yang bisa dikonsumsi, Raf?" tanyaku pada Raffa. Raffa yang hendak memakan sesuap nasi, menoleh menatapku. "Kalau gitu ga usah makan. Ribet banget." Aku meringis. Dan setelah kupikirkan, daripada tidur dalam keadaan perut yang keroncongan, lebih baik aku memakan nasi goreng buatannya. Dan lelaki yang tak kukenal itu juga mulai menikmati nasi goreng buatan Raffa. "Kamu bilang, Randy terakhir kali ketemu sama kamu, 'kan?" tanyaku sewaktu semuanya tengah menikmati makanannya masing-masing. "Kalian ngapain? Maksudku, kenapa Randy ketemu sama kamu?" Lelaki itu meletak sendoknya ke piring hingga menimbulkan suara dentingan. "Aku kasir di Twenty Market. Dan sebelum Randy ke taman, dia lebih dulu ke Twenty Market. Buat beli kopi," jawabnya. "Cuma kopi?" Aku menaikkan sebelah alisku menatapnya. Lelaki itu mengangguk. "Iya. Randy cuma beli kopi." Aku memberi respons dengan anggukan lalu kembali menikmati nasi goreng buatan Raffa. "Raffa, lebih baik kamu jujur sekarang," kataku mendadak. Berhasil membuat kedua lelaki itu menoleh menatapku. "Kamu pake micin jenis apa? Kenapa rasanya beda banget sama nasi goreng yang biasanya kujadikan sarapan?" Aku tidak bohong. Nasi goreng buatan Raffa benar-benar enak. Tekstur nasinya terasa begitu pas. Tidak terlalu lunak juga tidak terlalu keras. Rasanya juga sangat pas. Ditambah lagi telur mata sapi yang menjadi lauknya, benar-benar sempurna. Ah, satu lagi. Kerupuk udang yang juga menjadi makanan pendamping nasi goreng ini terasa begitu renyah dan gurih. "Makanan yang dibuat Raffa anti micin. Ini tuh udah sehat banget, cuma ya ... agak berminyak aja sih," ujar lelaki itu. Aku kembali menoleh menatap lelaki itu. Kuperhatikan lagi dirinya dengan saksama. "Karena penuturan bahasa Indonesia kamu bagus, berarti kamu udah lama tinggal di Indonesia. Atau bahkan kamu udah tinggal di negara ini semenjak lahir," ucapku. "Jadi, kamu berasal dari negara Eropa bagian mana?" Sendok yang dipegangnya terlepas dari pegangan. Ia menjatuhkan rahangnya seusai mendengar terkaanku. "Bagian Barat. Tepatnya di Belgia," jawabnya. "Sepertinya kamu detektif yang berbakat." Aku bersorak dalam hati. Tangan kiriku aku gunakan untuk menyibak rambut hitamku. "Ya, itu biasa aja sih sebenarnya. Tapi terima kasih," ucapku. "Omong-omong, namaku Abyan Immanuel. Mantan penyidik kriminal dan sekarang bekerja sebagai detektif swasta." Lelaki itu tersenyum. "Namaku Hans Albert. Yah ... aku cuma kerja sebagai kasir di Twenty Market untuk bertahan hidup," guraunya. Aku tertawa pelan. Lalu kusingkirkan piring kosong di hadapanku ke samping. Sementara itu kulihat Raffa baru saja menambah porsi makannya. "Nambah lagi, Raf?" "Aku butuh makanan buat bertahan hidup." Well, kita biarkan saja Raffa menikmati hasil masakannya sendiri. Aku kembali menatap lelaki bernama Hans itu yang juga sudah selesai memakan makanannya. "Selain beli kopi, Randy ada ngomongin hal lain ga, Hans?" Hans menautkan alisnya menatapku. Ia tertawa hambar seolah paham dengan apa yang kuperbuat. "Wah. Aku ga nyangka kamu selicik ini," katanya. "Tapi berhubung aku orang yang berbudi pekerti, akan aku maafkan niat terselubung kamu dengan mengajakku berkenalan." Aku tersenyum puas mendengar perkataannya. "Aku sempat tanya ke dia tadi. Katanya, dia mau ke taman. Sebenarnya, Randy kalau malam begini memang sering menghabiskan waktu di sana sih," jelasnya. Hans menyikut Raffa. "Iya 'kan, Raf?" Raffa mengangguk. "Randy itu ... orangnya gimana menurut kalian?" "Jelas banget kalau Randy itu orang yang baik. Dia juga selalu kelihatan ceria. Suka bantuin orang lain juga. Karena dia udah lama tinggal di sini, jadi rata-rata penghuni rusun kenal sama dia," kata Hans. Aku mengangguk beberapa kali. "Randy udah berapa lama tinggal di sini?" "Enam tahun. Bahkan sebelum rusun ini direnovasi," jawab Hans. "Bukan enam. Tapi tujuh. Randy udah tinggal di rusun ini sama keluarganya selama tujuh tahun." Aku menoleh menatap Raffa yang mengkoreksi jawaban Hans sembari memindahkan piring-piring kotor dari meja makan. Aku berinisiatif membantu Raffa mencuci piring kotor itu di wastafel. Jika Randy berencana bertemu dengan gadis yang sempat kulihat tadi, harusnya Randy tidak hanya membeli satu minuman saja. Spontan aku meringis. Kasus bunuh diri Randy tidak sesederhana seperti yang terlihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD