2. Randy P.

1029 Words
Aku berjalan dengan langkah terburu-buru. Kulihat kawasan taman bermain yang termasuk dalam fasilitas rusun itu kini telah dibatasi dengan adanya police line. Kerumunan orang-orang membuatku kesusahan untuk melangkah mendekati TKP. Kualihkan atensiku ke seluruh penjuru. "Kamu di sini juga, Byan." Aku berbalik sewaktu merasakan tepukan di pundak sebelah kiri. Aku menghela napas lega mengetahui bahwa orang yang barusan menyapaku merupakan mantan atasanku dulu. "Apa cuma memang suatu kebetulan saja atau kamu memang selalu hadir di setiap kasus?" tanya beliau. Pria dengan perawakan tubuh yang pendek juga penampilan yang sedikit tak terurus membuat beliau kian tampak lebih tua dari usia yang seharusnya. Aku paham betul, dalam pertanyaan beliau barusan mengandung sindiran yang jelas tertuju untukku. Akan tetapi aku sama sekali tidak terganggu dengan sindiran itu. Bagiku, omongan pedas beliau sudah menjadi makanan sehari-hariku dulu. Sewaktu masih bekerja menjadi bawahan beliau sebagai penyidik kriminal di anggota tim beliau. "Aku kenal dia. Pelaku bunuh diri itu ... aku kenal dia," ujarku. Kulihat pria yang jelas lebih tua dariku itu menatapku dengan tatapan remeh. Seolah tahu maksud dari ujaranku barusan. Aku menghela napas. Mengatupkan rahang menatap beliau. Kemudian aku berujar, "Randy Pangestu. Pernah melakukan self harm. Kelas sepuluh, itu berarti usianya sekitaran lima belas atau enam belas tahun. Diduga—" "Cepat kemari. Sebelum aku berubah pikiran," interupsi beliau sembari berjalan melewati pembatas police line. Aku berjalan mengikuti langkah pria itu. Sesekali aku mengalihkan atensi ke arah lain. Hingga atensiku berakhir pada seorang gadis yang tengah menangis tersedu sedan. Well, dilihat dari gaya berpakaiannya, aku yakin bahwa gadis itu ada janji temu dengan Randy. Seperti kencan ... mungkin? Aku tak lagi memperhatikan gadis tersebut sewaktu seorang petugas polisi membawanya pergi menjauh dari lokasi TKP. "Aku dengar sekarang kamu beralih profesi menjadi detektif swasta," ujar mantan atasanku, Faisal. Ah, rasanya begitu canggung disaat aku menyebut nama beliau tanpa embel-embel pangkat yang dulunya selalu kupakai. "Lihat baik-baik. Menurut kamu, apa saja yang telah terjadi?" tanya beliau sembari menyodorkan sepasang sarung tangan untukku. Aku mengambil benda itu lalu memakainya dengan segera. Langkahku secara berangsur mendekati tubuh Randy, remaja yang kutemui pagi tadi. Tubuhnya terduduk lemas di kursi bianglala, salah satu wahana permainan yang termasuk paling sering ditemukan. Perlahan, aku menyibak pergelangan tangan kanannya yang sempat membuatku penasaran pagi tadi. Beberapa bekas sayatan di sana tampak saling menindih. Dilihat dari caranya menyayat, aku yakin ia membatasi wilayah yang dilukainya. Itulah mengapa beberapa sayatannya tertindih dengan sayatan-sayatan yang sebelumnya. Aku menoleh memperhatikan wajah Randy. Rahangnya tampak sedikit terbuka. Di sudut bibirnya, terdapat cairan berwarna kehitaman. Kualihkan lagi atensiku ke sekeliling. Aku mendapati sisa kopi hitam di dalam cangkir kertas sekali pakai. Aku rasa, itu kopi yang sengaja dibelinya di dekat sini. Kuambil cangkir kertas yang menyisakan sedikit kopi itu. Aku mendekatkan mulut cangkir tersebut ke hidungku. Aku bergeming sewaktu menyadari tidak ada aroma lain selain aroma minuman berkafein itu. Atasanku, Pak Faisal menghampiriku yang masih asyik memperhatikan mayat ini. "Jadi, coba sebutin apa saja yang mungkin kami lewatkan, Abyan," kata beliau. Aku menoleh melirik Pak Faisal. "Pihak forensik kenapa belum datang juga?" Betapa gilanya aku. Bukannya memberi penjelasan pada beliau, aku malah menanyakan hal lain. Kulihat Pak Faisal menarik napasnya dalam-dalam. "Tim forensik bakalan agak telat sampainya ... mungkin. Karena ada kecelakaan lalu lintas di daerah sini," jawabnya. "Dia ... Randy ini kidal, Komandan," ucapku sembari melihat ekspresinya yang tampak terkejut selama sepersekian detik. "Tadi pagi pas aku ketemu dia, aku liat dia jinjing tasnya pake tangan kiri. Dan beberapa aktivitas kecil lainnya dia pakai tangan kiri. Seperti semisal pas dia bukakan pintu masuk rusun pagi tadi," jelasku. Aku beralih menunjukkan bekas sayatan yang ada di pergelangan tangan kanannya. "Dan dengan letak bekas sayatan ini cukup memperkuat argumenku kalau dia ini seorang kidal," lanjutku. "Selain itu?" Aku terdiam sebentar. Memperhatikan kembali dengan saksama tubuh Randy. Sungguh, aku sangat penasaran dengan remaja yang baru kukenal itu. Aku beralih melepas beberapa bagian atas kancing kemeja yang dikenakannya. Aku dan Pak Faisal tercengang melihat hal yang sangat tidak menyenangkan di bagian atas tubuh Randy. Banyak memar yang membekas di bahu juga di sekitaran tulang selangkanya. Aku kian mempertipis jarakku dengan tubuh tak bernyawa itu, tak sengaja, aku menginjak sesuatu yang menjadi kunci utama dalam deduksiku. Well, kita bahas itu nanti. Untuk saat ini aku harus memanggil seseorang yang tengah berdiri di luar area police line sembari melihat memperhatikanku. Kulambaikan tanganku ke arahnya. "Dia temanku, Raffa. Lulusan pendidikan farmasi dan sekarang bekerja sebagai apoteker," jelasku pada Pak Faisal sewaktu Raffa datang menghampirinya. "Tim forensik terlalu lama. Sementara kita harus melakukan autopsi segera. Jadi, meminta bantuan seseorang yang paham di bidang ini bukan ide yang buruk 'kan, Ndan?" Pak Faisal tak menyahut. Ia hanya bergeser sewaktu Raffa menghampiri tubuh lemas itu. Kulihat ia segera mengenakan sarung tangan medis miliknya lalu menyalakan penlight. Raffa membuka mata Randy yang tertutup dan menyenterinya. Memperhatikannya dengan saksama. Setelah itu, kulihat Raffa memegangi sendi Randy, lalu Raffa menoleh menatap ke arahku dan Pak Faisal secara bergantian. "Aku rasa, ada kemungkinan kalau Randy keracunan," katanya. Ia kembali menyenteri mata Randy. "Lihat, pupilnya kelihatan membesar. Warna matanya juga memerah. Ada kemungkinan bahwa waktu kematiannya berkisar satu jam. Mungkin kurang, mungkin juga lebih dari waktu yang kuprediksi." "Ya. Dia memang keracunan," sahutku. "Pinjamkan aku penlight itu sebentar," kataku pada Raffa. Kemudian aku menyenteri bagian yang kuinjak tadi. Yang mungkin akan menjadi petunjuk besar dalam kasus bunuh diri Randy. "Jelas sekali kalau ini cairan— muntahan seseorang. Besar kemungkinan, racun itu dilarutkan ke dalam kopi ini," jelasku sembari menunjukkan cangkir kertas sekali pakai itu kepada Raffa dan Pak Faisal. "Karena Randy memuntahkan kopi yang sudah terlanjur diminumya, itu berarti ada dua kemungkinan. Pertama, Randy tahu kalau kopi yang dibelinya ini mengandung racun. Atau yang kedua, Randy sama sekali ga tahu adanya racun di kopi ini, tapi karena bagian dalam tubuh yang menolak masuknya racun itu ke dalam tubuhnya membuat Randy merasakan mual. Dan pada akhirnya dia muntah. Walaupun sudah muntah, nyawa Randy tidak terselamatkan karena dosis racunnya yang cukup tinggi." Aku menjelaskan deduksi yang sejauh ini telah kudapatkan dengan panjang lebar. "Aku udah periksa cangkir kertas ini. Sama sekali ga ada aroma apapun selain aroma kopi. Dan karena itu, aku rasa racun yang dipakai itu—" "Arsenik."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD