89

1074 Words

"Mas..." aku mengguncang suamiku yang sudah di pembaringan. Dia menggeliat dan menetap diri ini dengan seulas senyum tipis di bibirnya, yang kini jadi suamiku tak pernah sedikitpun menunjukkan wajah tak senang meski ia dalam keadaan lelah beda sekali dengan mas Kevin yang mudah berubah suasana hatinya dan marah-marah. "Kevin mau numpang tidur, Mas. Dia izin untuk numpang tidur di gudang." "Lho, kenapa?" Suamiku terheran heran. "Entahlah, kupikir dia mengalami konflik di rumah mertuanya." "Apa kau sudah mengizinkannya?" "Ya, kupikir dia telah berada di sana." "Astagfirullah kurasa Mas harus bicara pada tante Jihan agar dia mau membantu Kevin dan menerima kembali putranya." "Aku juga yakin kalau Ibu Jihan sudah membuka hati untuk anaknya." "Bukannya apa Fathia... Aib bagi kita, jika

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD