68

1032 Words

"Mas, a-ada keluarga mila," bisikuu. "Hah."Mas Fadli yang memang belum banyak mengenal mereka, tertegun dan menghentikan langkah juga. "Sebaiknya kita lewat lorong lain saja." "Tidak, kalau kau tidak lewat sini, maka mereka akan mengira kalau kau takut." "Aku hanya menghindari konflik." "Tapi kita harus berjalan dengan harga diri, abaikan saja mereka semua," ujar Mas Fadli yang langsung meraih tangan ini dan menggandengku. Memang posisinya sangat canggung untuk berbalik arah dan menjauh, karena itu akan membuat seolah-olah kami takut pada mereka. Langkah kakiku semakin mendekat dan dari balik kaca, aku bisa melihat keadaan Mila sesuai yang digambarkan oleh sahabatku tempo hari. Memprihatinkan, lemah, merintih kesakitan dan ditancapi oleh banyak selang. Terlihat dua orang perawat sed

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD