Hanya terduduk sedih di balik pintu kamar anak-anak dan sepanjang malam menangisi perkataan suamiku. Aku tidak tergerak sedikitpun untuk merebahkan diri di tempat tidur dan melenakan mataku dalam mimpi yang indah, hatiku sakit, perasaanku tak tenang. Pemikiran akan kehidupan kami ke depannya yang membuatku tidak bisa memejamkan diri. Kelihatan dari percakapan tadi bahwa suamiku tidak peduli andai aku pergi atau tidak ada lagi dalam hidupnya. Jika aku menyerah dia akan segera menikah dengan Mila. Namun jika aku bertahan sedikit saja, mungkin aku bisa mengamankan kehidupan rumah tangga dan anak-anak kami. Tapi, kekuatan dari manakah yang akan kugunakan untuk bertahan dalam keadaan seperti ini. Sinar matahari yang masuk dari celah ventilasi jatuh tepat di wajahku dan menyadarkan diri ini

