Hatiku cerah berseri hari ini. Mengingat hari ini aku akan mengunjungi panti asuhan. Di sana aku bertemu lagi dengan Bu Kirani dan juga teman-teman, pun dengan Rengganis. Iya, Rengganis temanku satu-satunya di panti yang paling aku rindukan. Aku membayangkan wujudnya saat ini seperti apa ya? Mungkin ia sudah beranjak dewasa sama seperti aku.
"Apakah ia tampan?" gumamku sambil tersenyum. Tak sabar aku ingin segera sampai ke panti asuhan itu.
Langit hari ini begitu cerah. Berwarna biru muda ditambah dengan warna putih dari awan. Sangat begitu menggoda sekali. Rasanya ingin aku sentuh dan kubawa pulang.
"Non, kita sudah sampai," ujar Mang Rendi. Ia segera keluar dan berlari kecil membukakan pintu mobil agar aku segera keluar dari dalam mobil.
"Hatur nuhun, Mang. Padahal mah enggak usah repot-repot, loh. Aku bisa buka pintu mobil sendiri, Mang," kataku dengan sopan.
"Enggak apa, Non. Ini, kan, sudah tugas Mang Rendi sebagai supir pribadi," jawabnya.
"Sekali lagi Jingga ucapkan terima kasih ya Mang, hatur nuhun." Aku menutup pintu mobil. Kemudian beranjak pergi menuju panti asuhan.
***
"Ya ampun, Jingga!" suara Bu Kirani begitu kencang terdengar di ruangan. Beliau langsung memeluk tubuhku dengan erat. Rasa haru menyeruak seketika. Begitu dalam Bu Kirani memendam kerinduan padaku.
"Bu, apa kabar?" tanyaku sambil melepaskan pelukan Bu Kirani.
"Ibu baik, Jingga. Kamu gimana kabarnya? Sudah dewasa juga ya kamu," tuturnya dengan lembut. Memegang pundakku lalu menatap mataku lekat. Lalu mengajakku duduk di sofa yang berada di ruangan kepala panti.
"Kamu berubah, Sayang. Berubah jadi cantik," pujinya kemudian.
"Ish, ibu ini terlalu berlebihan," kataku menepis pujian ibu panti. Lalu, "Bu, Rengganis apa kabarnya?" tanyaku.
"Rengganis sudah tidak ada di sini lagi, Nak. Ia dibawa oleh keluarga barunya setelah ia mengalami kecelakaan tertabrak mobil saat kamu pergi," Jawab Bu Kirani. Wajahnya berubah sendu.
Aku terkejut setengah mati ketika mendengar cerita bu panti. Aku tidak tahu jika Rengganis waktu itu menyusul mobil yang aku tumpangi di hari itu. Di mana aku resmi diadopsi oleh keluarga Dias.
"Ibu enggak lagi becanda, bukan?" tanyaku cemas.
"Tidak, Nak. Waktu itu, Rengganis marah sama ibu. Lalu ia berlari mengejar mobil yang membawa kamu pergi. Di tengah jalan, ia ditabrak lalu kepalanya terbentur batu besar. Akhirnya ia dibawa ke rumah sakit besar." Bu Kirani menceritakan peristiwa silam saat itu. Aku syok dan tak kuasa menahan bendungan air mata ini.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya, Bu? Ia masih hidup, kan, Bu?" tanyaku dalam isak tangis.
"Rengganis hilang ingatan. Ia pun langsung dibawa ke rumah sakit besar yang ada di Kota Jakarta. Satu bulan setelah itu, orang yang menabrak Rengganis ingin mengadopsinya sebagai penebus dosa akibat telah menabraknya," lanjutnya lagi.
"Boleh aku minta alamat orang tua asuh Rengganis, Bu? Aku mau ketemu sama Rengganis. Aku kangen ia, Ibu."
Kugenggam erat jemari tangan milik Bu Kirani. Bu Kirani paham dengan keadaan emosiku saat ini. Antara aku dan Rengganis memang ada suatu ikatan khusus.
"Sebentar ya, ibu cari dulu alamatnya. Oh iya, silahkan diminum airnya. Maaf seadanya saja ya?"
Aku mengangguk mencoba mengerti apa yang dijelaskan oleh Bu Kirani. Niat hati datang berkunjung bertemu orang yang aku rindukan. Ujungnya yang aku dapatkan adalah berita duka. Tak apalah aku ikhlas asalkan Rengganis selamat saat kecelakaan delapan tahun yang lalu.
Setelah mendapatkan alamat lengkap dari Bu Kirani, aku pun berpamitan padanya. Kemudian segera mencari keberadaan Rengganis melalui alamat rumah yang diberikan ibu Kirani tadi.
***