Antara Alvian dan Romi.

784 Words
Bel sekolah berbunyi tiga kali. Seluruh siswa-siswi yang bersekolah di sini memasuki kelas mereka masing-masing. Termasuk juga diriku, tepat di jam tujuh pas aku sudah berada di dalam kelas. Menantikan Pak Aldi guru pelajaran bahasa Indonesia hadir untuk diajarkan di kelas tiga bahasa. Seperti biasa aku duduk di bangku belakang bersama Nadia. Namun, Nadia masih merajuk padaku. Rupanya ucapan Nadia yang kemarin itu benar. Ia benar-benar marah denganku. Tak apalah memang ini salahku. Aku harus menerimanya bukan. "Hai, Nad. Hari ini pelajaran apa, ya?" sapaku dan berpura-pura menanyakan pelajaran. Nadia tetap tidak menjawab pertanyaanku. Ia masih saja cuek dan tidak menganggap aku ini ada di sampingnya. Kupegang lengannya. Ia cukup tersentak, tetapi, ia pandai menguasai emosinya. Masih tetap cuek padaku. Aku tahu ia marah karena Alvian merespon diriku. Sedangkan ia dari dulu secara terang-terangan menyukai Alvian, malah ditolak. "Kamu masih marah sama aku, Nad? Maaf, ya?" lirihku. Kucoba menatap wajahnya yang masih menunjukkan benci padaku. "Kamu tahu, kan, kalau aku suka sama Alvian?" katanya tajam. "Aku tahu itu, tapi, aku enggak ada hubungan apapun sama Alvian, Nad. Sumpah aku tidak bohong." Kali ini aku meyakinkan Nadia. Agar ia mau memaafkan aku lagi. Bukannya memaafkan, Nadia malah cuek. Saat Pak Aldi datang pun, ia menarik tangannya yang masih kupegang dengan kasar. 'Ya ampun, Nadia. Kamu beneran marah.' gumamku dalam hati. Akhirnya aku mengalah. Aku hanya bisa pasrah dan menerima keadaan untuk saat ini, kubiarkan Nadia mengeluarkan emosinya. Nanti jika sudah mereda akan kubuat ia tidak lagi membenciku. Tetapi, aku bingung. Dengan cara apa aku bisa membuat Nadia tidak lagi membenci diriku. *** Pelajaran pertama selama dua setengah jam berlalu sudah. Bel istirahat berbunyi dua kali. Seluruh siswa-siswi di sekolah berhamburan dari kelas masing-masing menuju kantin sekolah. Ada yang langsung jajan dan membeli makanan untuk mengganjal perut yang lapar, ada juga yang duduk di dalam kelas sambil membaca buku cerita. Istirahat kali ini, aku memilih pergi ke kantin sekolah. Aku memilih makanan dan segera membayarnya. Tak sengaja aku melihat Nadia tengah duduk di bangku kantin bersama tiga wanita serangkai yang suka julit. Siapa lagi kalau bukan Alinea, Milia dan Nabila. Ingin kudekati Nadia, lalu duduk di sampingnya. Namun, niat itu aku urungkan. Memilih duduk di bangku yang masih kosong tak jauh dari keberadaan Nadia dan kawan-kawan. Terdengar mereka berbisik. Sambil menatap ke arahku. Dengan bibir yang sedikit manyun karena membicarakan aku dengan nada bisik-bisik tetangga. "Kamu yakin mau musuhin dia?" tanya Alinea berbisik. Nadia menatapku lalu ia alihkan pandangannya ke arah minuman yang ada dihadapannya. Ia mengangguk. "Kenapa?" tanya Milia. Penasaran. Sungguh mati aku jadi penasaran. Eh, jadi nyanyi. Belum lagi Nadia menjawab, Alinea malah memotongnya, "Pasti gara-gara Alvian. Hayo, ngaku." "Sudahlah jangan dibahas!" Gerutu Nadia. "Ya, maaf," jawab Alinea. Di kejauhan, tampaklah Romi yang sedang berjalan mendekatiku. Dengan gayanya yang sok keren itu, ia duduk dihadapanku. Tatapan tengilnya itu yang aku tidak suka, asli banget aku jijik. "Boleh aku duduk, Manis?" serunya. Ia bertanya tetapi, sudah duduk duluan di kursi kosong di depanku pula. " Tanpa ijinku pun, kamu langsung duduk, 'kan?" sungutku menyeruput soft drink yang kubeli tadi. "Yaelah, masih ketus aja. Kenalan boleh?" Ia merayu. Songong amat ya? Bukannya dari kemarin ia tahu namaku? Kenapa malah mau kenalan? Sungguh terlalu. "Terserah!" sahutku ketus. Tak kuhiraukan kicauannya itu. Aku terus menatap Nadia, sahabatku yang masih berbisik tentang diriku. "Kenalin, namaku Romi Ardiansyah Siregar. Anak Ipa dua. Yang paling pinter, paling tampan dan paling dikangenin tiap hari sama cewek-cewek." Dengan pedenya ia mempromosikan dirinya. Aku hanya tersenyum kecut. Asli eneg banget deh. "Nama kamu Jingga, ya?" Belum sempat aku jawab, Alvian sudah berada disampingku. Berdiri tegap sambil membawa semangkuk bakso. Aku menoleh ke arahnya. Eh, busyet! Sejak kapan ia ada di sampingku? Kacau, bakalan kacau. Nadia pasti makin benci padaku, nih. "Ngapain kamu di sini, Rom?" tanya Alvian ketus. "Loh, aku dari tadi di sini. Nemenin Jingga. Bener, kan, Jingga?" Romi meminta kepastian padaku. Alvian menatapku tajam. Aku hanya bisa diam melihat tingkah laku dua laki-laki absurd ini. Sedangkan Nadia, ia masih terus melihat ke arahku. Sesekali tangannya terkepal karena melihat diriku yang diapit dua lelaki tampan dan populer. "Minggir, kamu! Pindah dari tempat duduk Jingga!" Usir Alvian. Ia menarik lengan Romi secara kasar. Tak sadar kuah bakso yang ia pegang tumpah mengenai lenganku. Rasa panas seketika menjalar di kulit. Aku pun mengaduh kesakitan menahan panas dari kuah bakso yang dibawa Alvian. "Aduh...!" pekikku. Sambil meniup udara dari bibirku. "Jingga! Kamu enggak apa-apa, kan?" teriak keduanya. Dengan spontan aku terkejut. Mereka begitu panik saat aku mengaduh kesakitan. Aku hanya bisa termangu melihat tingkah laku mereka. Sedangkan Nadia, ia marah dan dengan cepat pergi meninggalkan kantin. Disusul pula oleh tiga serangkai yang sok kecantikan itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD