Tragedi di Perpustakaan sekolah.

706 Words
Aku melihat Nadia pergi dalam keadaan marah besar karena melihat diriku bersama dua orang populer di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Romi dan Alvian. Terlebih lagi tangan kiriku terkena siraman kuah bakso yang super panas akibat Alvian yang lupa menyimpan mangkuk berisi bakso ke atas meja, terjadilah insiden penyiraman tidak sengaja itu. "Bisa tidak kalau kalian enggak mengganggu aku lagi? Kalau mau taruhan untuk mendapatkan diriku, maka kalian berdua salah besar!" gertakku menahan marah. Seketika raut wajah Romi berubah. Ia terkejut karena ucapanku tadi yang menyebut kata taruhan. Sedangkan Alvian, ia hanya diam saat melihatku marah. "Terkejut, kan, kamu? Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan?" Romi tidak menyangka aku akan semarah ini padanya. Awalnya ia memang ingin taruhan tetapi, ia sadar jika dirinya telah jatuh cinta padaku. "Kamu juga Alvian, jauhi aku! Aku tidak ingin kamu menjadi anjing herderku, paham!" Aku menggertak. Menatapnya dengan malas. Karena ia, hubungan persahabatanku dengan Nadia retak. Aku harus menjauhinya sejauh mungkin. Alvian bertindak profesional. Ia tidak mungkin menunjukkan marah padaku. Sikapnya yang masih tenang bak air mengalir itu membuatku jengkel. "Uuuuh ...!" Aku geram. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua di kantin. Semua mata memandang ke arahku. Tidak sedikit yang mencibirku dengan kata-kata nyeleneh dan agak nyeletit di hati. "Sok kecantikan banget Jingga. Baru aja masuk ke sekolah ini, eh, bisa-bisanya menggaet dua pria populer di sekolah." Bisik-bisik itu terdengar olehku. Ingin rasanya aku tinju bibir mereka, tetapi aku sadar ini tidak akan aku lakukan lagi. Aku tidak ingin diskors lagi di sekolah baruku ini. Aku memilih pergi ke perpustakaan. Mengambil langkah seribu agar dua pria tak waras itu tidak membuntutiku diam-diam. Aku menghempaskan bokongku ke kursi yang tersedia di Perpustakaan sekolah. Setelah mengambil buku yang akan aku baca. Namun, pikiranku tak luput dari kejadian di kantin tadi. Aku tersulut emosi. Ketika sedang membaca buku bacaan yang kuambil dari rak buku di Perpustakaan, aku tidak menyadari jika ada seseorang yang sudah duduk tepat di depanku. Seseorang itu memperhatikanku yang sedang membaca buku. "Sudah hilang marahnya?" tegur seseorang itu dengan nada berbisik karena ini di ruangan perpustakaan yang melarang siapa pun bersuara. Aku tertegun sejenak. Antara percaya dan tidak percaya mendengar suara penuh kelembutan itu. Suaranya yang kukenal membuat diriku melipat buku yang k****a tadi. Begitu terkejutnya diriku saat melihat sosok itu merupakan pria yang saat di kantin membuat emosiku meninggi. Dengan malas aku mengalihkan pandanganku. Tidak kuhiraukan sosok yang ada di depanku. Aku tak habis pikir, bagaimana ia bisa tahu jika aku ada di perpustakaan. Apa mungkin ia indigo? Atau ia mempunyai mata-mata? Aah, tidak mungkin banget. "Kenapa bacaannya seperti anak kecil?" cibirnya. Sambil menunjukkan buku bacaan yang dibawanya, ia berkata lagi, "Bacaan yang bagus itu ya seperti ini, Jingga." Aku melirik ke arah buku yang dipegangnya. Sebuah buku novel cerita cinta berjudul Matahari Menyapa Senja. Sedangkan aku, aku malah membaca komik Sinchan, haha. "Enggak usah kepo, deh!" sungutku sinis. "Jelas aku kepo, lah, kamu malah baca komik Sinchan." cibirnya lagi. Aku kesal mendengarnya. Kali ini apalagi yang ingin ia lakukan? Kenapa ia selalu mengganggu aku? Aku ini bukan wanita yang sempurna seperti Alinea, Milia, Nabila dan juga Nadia. Tak pantas jika disukai oleh Alvian. "Ini buku kesukaanku. Suka tidak suka, kamu tidak usah mencibirku habis-habisan ya? Lagi pula enggak membuat kamu rugi bukan?" Akhirnya emosiku meluap juga. Meskipun aku emosi, tetapi aku masih bisa menekan nada bicara saat berada di Perpustakaan. "Bukannya kamu itu sukanya membaca buku majalah ya? Itu, tuh, yang isinya gosip artis-artis Korea. Kan, kamu bigos, biang gosip," celetuknya. Kali ini Alvian sudah tidak bisa ditolerir lagi. Brak! Aku menggebrak meja. Menatap tajam mata Alvian. Napasku pun turun naik akibat emosi yang meluap-luap. Parah memang Alvian. Dengan mudahnya ia membuatku emosi. "Ngapain kamu menggebrak meja?Kamu kira ini di kelasmu, hah!" Bentak penjaga perpustakaan yang terkenal garang. Matanya melotot saat melihat diriku. Sedangkan Alvian, ia nampak terkekeh-kekeh menahan tawa. "Maafkan saya Pak, karena telah membuat gaduh," ujarku sambil membungkukkan tubuhku. "Lain kali jangan berisik lagi! Ini perpustakaan." "Iya, Pak." sahutku mengangguk. Tak lama kemudian aku pun pergi dari sini. Tak ingin berlama-lama lagi di sini. Apalagi harus bersama-sama dengan Alvian. Bisa-bisa aku makin tersulut emosi. "Sebal!" gerutuku sambil melangkahkan kedua kakiku menuju kelas. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD