Carilah diriku sampai ke pelosok desa. Jika kamu belum juga menemukanku, jalan satu-satunya kau harus menggunakan cinta. Di sanalah kau pasti akan menemukanku yang terombang-ambing tak tentu arah. Lekaslah kau menegurku, agar aku menoleh dan bisa memelukmu erat.
***
Sebuah untaian kata yang tertulis di buku milik Alvian tidak sengaja aku baca. Meski tulisannya tak mampu aku baca karena tulisan tangan milik Alvian mirip sekali tulisan dokter. Tetapi, aku mampu membaca tulisan itu. Aku cukup tertegun ketika membaca kata demi kata yang ia tulis di buku kosong. Ada pesan tersurat di antara kata yang ia tulis. Sangat menyentuh hati ini. Seakan-akan kata yang ia torehkan ditujukan hanya untukku. Sehingga aku teringat akan sesuatu saat aku ke panti beberapa hari yang lalu.
"Ya ampun! Aku belum mencari alamat Rengganis!" pekikku.
Suasana di dalam kelas masih nampak sepi. Murid-murid di kelas tiga bahasa masih berada di kantin, di lapangan basket dan masih duduk-duduk di luar kelas. Sambil bermain gitar dan melantunkan sebuah lagu.
"Sial, kenapa mereka memainkan lagu sendu. Tidak tahu apa, aku sedang berduka. Ish, bicara apa aku ini!" Aku terus menggerutu sendiri. Sambil memandangi buku milik Alvian.
Lima menit kemudian, Alvian masuk ke kelas. Ia berjalan menuju tempat duduknya yang berada tepat di sampingku. Kami sama-sama duduk di meja paling belakang. Kebetulan tempat duduk Alvian berdekatan dengan jendela kaca.
Aku yang kala itu gugup karena duduk di tempat Alvian. Sontak membuat Alvian terkejut ketika melihatku sedang duduk di kursi miliknya itu sambil membaca buku miliknya.
Alvian tahu jika saat itu aku hanya berpura-pura sedang membaca bukunya dan secara tidak sadar melihat dirinya memasuki kelas. Lantas tidak membuat Alvian mengusirku. Ia malah berbelok arah menuju jendela kaca tepat di sampingku. Membuka kaca jendela itu lalu duduk di pintu jendela.
Angin bertiup dengan lembut. Menggerakkan setiap helaian rambutku yang terurai berirama. Aroma parfum yang ia gunakan masih tercium dengan jelas. Membuatku terbuai ketika aroma parfum itu terhirup di hidungku.
Kuintip sosok Alvian yang sedang duduk di pintu jendela. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Begitu khidmatnya ia sampai-sampai aku mengintip pun ia tidak sadar.
"Kalau lagi baca, ya, baca saja, sih. Jangan mengintip orang lain! Nanti matanya bintitan, loh," cibir Alvian. Tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.
Aku tertegun, dari mana ia tahu kalau aku tengah memperhatikan dirinya. Asli aku terkejut sekali mendengar penuturannya itu yang seperti orang indigo, tahu segalanya.
"Ih, ge'er banget, sih! Siapa juga yang mengintip. Kurang kerjaan banget aku intipin kamu!" kataku ketus. Sambil berpura-pura membaca padahal yang k****a hanyalah kertas kosong. Kebetulan kata-kata yang aku baca tadi tertulis di lembar pertama. Setelah itu tidak ada lagi tulisan lain. Kosong semua, haha.
"Masa?" tanyanya singkat. Lalu berbalik arah sambil menatapku penuh curiga.
"Terserah! Lagi pula, aku sedang asik membaca, kok. Ganggu aja, sih!" jawabku lagi-lagi dengan nada ketus.
Mendengar jawabanku yang seperti itu, Alvian langsung tertawa. Ia tak bisa menghentikan tawanya itu. Sampai-sampai ia pun terbatuk. Rasain kamu, Alvian!
"Di buku itu tidak ada lagi tulisan. Hanya ada di lembar pertama selanjutnya kosong. Kamu bodoh, atau mau membodohi aku, Jingga?" Sebuah kalimat yang begitu menohok untukku. Ternyata Alvian itu benar-benar anak yang cerdas. Ia tahu jika di buku itu hanya ada satu tulisan.
"Tulisan kamu enggak bisa aku baca," ujarku. Mengalihkan ucapannya tadi. Lalu menyimpan bukunya di atas meja.
Alvian turun dari tempatnya duduk, kemudian mendekatiku. Jarak pandang kami hanya terjeda dua senti. Aku dan Alvian saling berpandangan satu sama lain. Sehingga terciumlah aroma napasnya yang harum. Ish, pikiran ini jahat!
"Kamu cantik," ucapnya setengah berbisik. Membuatku terkejut dan hanya bisa diam seperti patung. Hanya bisa menggerakkan kelopak mataku dengan bulu mata yang sangat lentik ini. Sebenarnya apa yang akan dilakukan Alvian. Sebel aku sama tingkahnya yang seperti ini.
Kedua mata kami masih saling berpandangan hingga pada akhirnya Nadia masuk ke kelas dan melihat kami saling bertatap mata sedekat ini.
"Maaf ya, di sekolah ini dilarang berbuat m***m!" sindirnya sambil memutar kedua bola matanya.
Aku segera mendorong tubuh Alvian. Hingga ia terdorong beberapa senti ke belakang. Kulihat Alvian menyunggingkan senyuman manisnya padaku. Tatapan matanya terus menatapku. Aku yang saat itu sadar jika Nadia masih terus melihatku. Ia masih marah padaku dan kulihat tangan kirinya terkepal. Nadia benar-benar marah kepadaku.
***
Bel sekolah pun berbunyi. Seluruh siswa dan siswi yang bersekolah di Sekolah Bina Nusantara ini berhamburan dari kelasnya masing-masing menuju rumah mereka. Kini saatnya aku pulang ke rumah. Akan tetapi, aku tidak akan pulang ke rumah. Aku ingin mencari alamat di mana Rengganis tinggal. Dengan berbekal alamat yang diberikan oleh ibu panti kemarin. Aku nekat mencari alamat itu sendirian tanpa diantar oleh Mang Rendi. Sebelumnya aku sudah meminta ijin pada ayah karena hari ini aku pulang telat.
Aku melangkah gontai keluar dari gerbang sekolah menuju halte bis yang ada di ujung jalan itu.
Tin! Tin! Tin.
Suara klakson motor berbunyi tiga kali dari arah belakang. Rupanya itu adalah suara klakson motor Romi Ardiansyah Siregar. Ia memberhentikan motornya tepat di sampingku.
"Hai cantik, enggak dijemput ya? Kalau begitu, bolehkah aku anter kamu pulang?" sapanya sambil mensejajarkan motornya dengan langkah kakiku yang terus saja melangkah tanpa henti.
Aku masih kesal dengannya karena insiden di kantin. Tanganku masih kerasa sakit efeknya pun terlihat noda merah di kulit tanganku.
"Enggak usah! Lagi pula aku mau mencari alamat rumah sahabatku!" Balasan yang ketus aku keluarkan padanya. Biar saja aku tak peduli. Ia mau marah atau tidak, tidak akan merugikan diriku.
"Kamu masih marah sama aku ya? Sumpah, awalnya aku memang taruhan untuk mendapatkanmu. Tapi, aku sadar jika aku ini memang benar-benar menyukai kamu." Pernyataannya itu membuatku semakin yakin bahwa aku harus menjauhinya.
”Kamu kira aku percaya?" tanyaku lalu menoleh ke arahnya, "Maaf, aku bukan orang bodoh!"
Ucapanku yang tajam itu membuat nyali Romi menciut. Bukan karena takut akan ucapanku, akan tetapi, ia tidak menyangka jika aku ini wanita yang sulit untuk diraih hatinya. Ia gagal.
Aku melanjutkan langkahku yang sempat terjeda karena meladeni ucapan Romi yang konyol itu. Baru saja aku melangkah beberapa senti, tanganku dicekal oleh Romi. Berkali-kali aku berusaha menariknya, berkali-kali juga usahaku gagal.
'Maunya orang ini apa sih?' gerutuku geram.
"Apa?" tanyaku ketus.
"Naik! Aku antar kamu ke tempat tujuanmu. Aku enggak tega melihatmu sendirian mencari alamat temanmu," perintah Romi. Ia berbicara dengan tegas. Mau tidak mau aku harus mengikuti kemauannya. Mengantarkan diriku mencari alamat sahabatku, Rengganis.
***