Setya merasakan bibirnya ada yang mengusap, mulai membuka mata yang terasa berat.
"Sholat subuh maaaas," bisik Aisyah lirih.
"Hhmmmmm,"
"Sholat dulu yuuuik,"
Setya membuka mata melihat wajah istrinya yang telah segar, habis mandi.
"Dik Ais sudah sholat?"
"Sampun, sholat tahajut, sholat subuh," sahut Ais.
"Ah mengapa mas tak kau bangunkan?"
"Mas kayak kecapean, nyenyaaak banget tidurnya, lah aku ciumi nggak bangun, pake ngorok segala," Ais tersenyum.
Setya membulatkan matanya....
"Oh yaaaa,"
Akhirnya Setya duduk dan selimutnya tertarik hingga badan Setya yang tak menggunakan apapun terlihat jelas, Aisyah terlihat gugup dan melihat ke sisi yang lain.
Setya mengerti jika istrinya malu, ia semakin menggoda Ais, bergerak ke dekat istrinya dan duduk di samping Aisyah di kasur.
"Ah mas mandi dulu gih trus sholat,"
"Mandikaaan,"
"Ck mas ini, ayooo mandi, maaaas Ais ngeri lihat mas nggak pake baju," Aisyah kembali melihat ke sisi yang lain.
Lalu kaget saat tangannya tiba-tiba diraih Setya dan diposisikan diam di antara pangkal paha Setya. Ais segera menarik tangannya.
"Ih mas nakal, geli, ayo mandi, mandiiiiii, lemes aja segitu, nakutin, apalagi pas....,"
"Apa hayo mulai berani ngeledek mas?"
"Hihihi mboten,"
Setya bangkit dari duduknya dan melangkah dengan santai ke kamar mandi.
"Iiiih mbok ya pakai selimut ta apa, guaya mentang-mentang badannya bagus,"
Setya diam di tempatnya...
"Mau mas noleh hmmmm....?"
"Eh nggak nggaaak sana mas cepet masuk," jerit Aisyah dan terlihat lega saat Setya menghilang di balik pintu kamar mandi.
****
Selesai sholat Setya kembali menarik Aisyah ke kasur, memeluknya, dan menciumi rambut Aisyah.
"Kamu nggak marah sama mas kan, bener kan?" tanya Setya dengan wajah cemas.
Aisyah mendongak memandang wajah tampan Setya yang semakin gagah dengan bulu-bulu halus dirahangnya, ia usap rahang suaminya.
"Makanya wanita itu tergila-gila sama mas, ganteng, baik, sabar, juga pinter kalau di kasur," Aisyah menahan tawa dan Setya mengerti jika istrinya menggodanya.
"Dik mas serius, mas nggak mau, suatu saat dik Ais mengungkit aib mas,"
"Nggak mas, nggak, kalau Ais khilaf, ingatkan Ais, hanya boleh Ais tanya, eeemmm maaf, maaf ya mas, badan dia bagus ya mas, kok mas sampai tertarik sama dia?"
"Ck dik Aiiiis, mas nggak pernah menilai wanita dari bagus badannya, kebetulan saja dia memang menarik, tapi ah sudahlah, mas nggak mau mengingatnya, mas jadi terlihat t***l jika mengingat itu, haaah dia sudah digilir oleh beberapa laki-laki, ya Allaaah bodohnya mas, untung mas baik-baik saja, ngeri jika mengingat itu," Setya memejamkan matanya menutupkan sebelah lengannya ke matanya.
"Alaaah mas ini, tapi sampai dua kali,"
"Dik Aiiiis mas mohon jangan bicara itu lagiii,"
"Eh iya iya maaf lupa, eeemmm sama badan Ais bagus mana? " tanya Aisyah tiba-tiba.
Setya membuka matanya, bergerak cepat, berada di atas badan istrinya.
"Ya lebih bagus kamu,"
"Halah gombal,"
"Bener, lebih tinggi dan langsing kamu, pinggang kamu ramping dik, mas suka, dan ini, ininya lebih besar punya dik Ais," Setya membuka dengan cepat kancing baju tidur Aisyah dan melahap d**a Aisyah yang membusung.
"Maaaasss ah masih pagi-pagi banget loh, lagian semalam bolak-balik," Aisyah menangkup pipi suaminya dengan napas tersenggal.
"Lalu siapa yang salah, kan kamu yang nanya, mas hanya menjawab dan mempraktikkan, benar kan?"
"Nggak benar, mas salah, lah d**a Ais yang jadi sasaran,"
Setya bangkit dan tertawa...
"Cari sarapan yuk dik?"
"Nggak, males, Ais masak saja, bentar kok wong cuman sarapan, tadi Ais sudah nanak nasi, trus di kulkas ada bahan makanan, di freezer sampek jadi batu mas, hihihi jadi Ais biarkan dulu sejak tadi, bentar ya nggak lama kok."
****
"Yuk mas dahar dulu, makan yuk, sudah siap," ajak Aisyah.
Setya tersenyum membulatkan matanya lalu menatap wajah Aisyah yang juga tersenyum melihat wajahnya yang menyinpan kaget.
"Kenapa mas?"
"Aku harus benar-benar bersyukur, lalu nikmat Allah mana yang mas dustakan, dapat istri cantik, sholeha, pinter masak lagi," Setya duduk sambil memegang jemari istrinya dan menciuminya.
"Ah ini hanya masakan sederhana, Ais kerjakan pas mas masih tidur tadi, hanya ayam gorengnya yang Ais ungkep dulu tadi agak lama, tinggal goreng, maaf benar-benar sederhana, sayur sop isinya wortel, pentol sama jamur salju, trus ayam goreng plus sambel, sayang nggak krupuknya, monggo loh mas, dahar, ayooo makaaan masa liatian Ais terus," ujar Aisyah.
"Aku suka dengar suaramu, aku pikir kita akan sulit berkomunikasi pas pertama bertemu, ternyata...,"
"Cerewet ya mas?" tanya Ais sambil menyendokkan nasi, mengambilkan sepotong ayam.
"Ah nggak," sahut Setya sambil mengambil sambel dan menyendokkan sayur ke piringnya.
"Cuman rada bawel," dan Setya mengelak saat tangan Ais hendak mencubitnya.
"Sayang ke rumahku yuk, adikku yang cewek bolak-balik telpon, kangen sama kamu, yah maklum, dia baru ngerasa enaknya punya saudara ipar, kan kakak-kakaknya cowok semua," ajak Setya.
"He'eh ayok mas, dik Rania memang sering chating sama aku, curhat segalanya lah pokoknya, kan usia kami nggak jauh, jadinya nyambung,"
"Kalau adik mas yang laki-laki siapa namanya?"tanya Aisyah.
"Aditya, kenapa?" Setya balik bertanya.
"Aku kok kayak nggak asing sama wajah itu, siapa yaaaa?" Aisyah seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Mantanmu?" goda Setya.
"Iiiih ngaco, Ais nggak pernah pacaran, sama mas Munif juga nggak pernah pandang-pandangan pas bilang mau nikahin aku dulu, kami sama-sama nunduk, tahu banget laki-laki ya mas Setya yang ngajarin aku aneh-aneh," ujar Ais mangkel.
"Eeeeh kok bisaaa ngajarin aneh-aneh apanya yang aneh?" tanya Setya sambil tertawa.
"Itu kalau di kasur," jawab Aisyah dengan polos dan Setya tertawa.
****
Setelah makan keduanya segera bersiap menuju rumah Setya.
Tak lama keduanya menuju basement tempat mobil Setya terparkir.
****
Lima belas menit kemudian Setya dan Aisyah sampai di rumah sederhana namun teduh.
"Waduuuh kok nggak ngasi kabar kalian, ibu nggak nyiapkan apa-apa," ujar ibu Setya sambil memeluk Aisyah.
Melihat Setya yang berbinar, ibu Setya yakin, anaknya baik-baik saja bersama Aisyah, ia benar-benar tepat memilih menantu.
"Ayo Aisyah duduk, Raniiii, Raniii ini loh mbakmu," Bu Partinah, ibunda Setya memanggil anak bungsunya.
"Eh mbaaak ya Allah, kangen, kita cuman chatingaaaan saja ya mbak?" dan Rania memeluk Aisyah.
"Ke kamar yuk mbak, aku mau curhat" ajak Rania.
"Eeeeh enak aja, masmu ini belum tuwuk, belum puas meluk lah kok enak kamu bawa, mbakmu ini baru semalam aku peluk, nggak boleh, nggak boleh dibawa" Setya duduk di dekat Aisyah dan memeluk bahunya.
Bu Partinah hanya geleng-geleng kepala melihat Setya dan Rani.
"Ngalah kenapa sih mas, masak nggak kasihan sama Rani?"
"Yaaa kamu masak nggak kasihan sama mas, yang ketemu sama istri hanya tiap jumat malam sampai minggu malam," sahut Setya tak mau kalah.
"Wees weees sudah sudaaah ah kalian ini, ayo masuk ke ruang makan yuk, ibu buat kolak," ajak Bu Partinah.
****
Saat sedang asik makan kolak, Aisyah dan yang lain, dikejutkan oleh suara pintu yang terbuka tiba-tiba dan muncul wajah mirip Setya. Sejenak ia tertegun dan menunduk.
"Sini Dit, duduk bareng sini, masa sama mbak ipar kaku gitu, ini Aditya usianya sama dengan kamu Aisyah, sudah lulus kuliah dan kerja di perusahaan pengolahan ikan, mirip perusahaannya Setya hanya yang Adit khusus produk dan olahan udang serta cumi,"
Aditya mencium punggung tangan kakaknya dan Aisyah mengatupkan kedua tangan di dadanya saat Aditya hendak bersalaman, akhirnya Aditya menarik kembali tangannya.
Setelah semuanya selesai makan kolak, Aisyah membawa mangkuk kosong ke tempat cuci piring, ibu mertuanya terlihat sibuk memotong buah di ruang makan dan Rania yang membersihkan meja makan.
"Sayaaang aku tunggu di kamar yaaa," teriak Setya pada Aisyah.
"Inggih maass," sahut Aisyah.
Saat Aisyah selesai mencuci mangkuk, ia berjalan menuju ruang makan. Namun langkahnya terhenti saat Aditya muncul dihadapannya, memberikan sesuatu.
"Ini aku kembalikan kerudungmu,"
Aditya berlalu dan Aisyah masih tertegun, kapaaaan ia pernah bertemu Adit, di mana? Mengingat hampir seluruh hidupnya ia habiskan di pondok pesantren, kalaupun ke luar pondok pasti berkenaan dengan urusan kuliah dan kegiatan yang ia ikuti atas nama pondok pesantrennya.
Apa mungkin kamu salah orang? Pikir Aisyah.
****