10. Antara Setya dan Aditya

1344 Words
Adit melangkah meninggalkan Aisyah yang menatapnya penuh tanya. "Sebentar, kau siapa, mengapa ini ada padamu?" tanya Aisyah bingung. Dengan posisi tetap memunggungi Aisyah, Aditya bersuara. "Bumi perkemahan tak jauh dari pondok pesantremu, setahun lalu, mahasiswa yang terkena pecahan kaca, malam api unggun," Aditnya berlalu tanpa menoleh lagi. Aisyah masih bingung, siapa Aditya, ia berusaha mengingat semua peristiwa setahun lalu tapi semuanya buntu. Dua kali ia bertemu Aditya, saat akad nikah dan hari ini, selalu saja laki-laki itu menghindarinya, Aisyah kadang bingung, mengapa seolah Aditya enggan melihatnya, seolah membencinya. **** "Kok lama sih sayang?" tanya Setya saat ia masuk kamar suaminya, Aisyah melihat kamar suaminya yang dominan warna hitam dan putih. "Kamar mas bagus?" ujar Aisyah masih saja menatap sekeliling kamar Setya. Setya menarik Aisyah yang tak juga duduk di kasurnya. "Mas di sini jangan macam-macam, malu, nanti kerudung basah mas, kena rambut sehabis keramas," "Biarin, biar ibu tahu, jika aku sudah..," Setya menarik Aisyah hingga rebah di sisinya. "Aaaah mas Setyaaa," kerudung yang ia pegang jatuh dari tangannya. "Sssstttt dik jangan keras-keras nanti semuanya dengar," bisik Setya sambil menahan tawa. **** Langkah Aditya sempat terhenti di depan kamar kakaknya saat mendengar jerit tertahan Aisyah. Ia menghembuskan napas dengan berat. Kau benar-benar melupakanku, sementara aku mencarimu, bahkan bertanya pada sesama peserta pelatihan bagi pembina pramuka..tak kutemukan, kau ternyata dekat bahkan sangat dekat, masih kerabat jauh bapak yang tak pernah bertemu karena sejak bapak meninggal kami jadi jarang saling mengunjungi dan terlebih lagi kau habiskan hampir seluruh waktumu di pondok pesantren **** Setya melepaskan diri dari Aisyah, berguling di samping istrinya yang napasnya masih memburu, gerakan d**a Aisyah naik turun membuat Setya kembali mendekati istrinya, menangkup kedua d**a Aisyah dengan kedua tangannya dan kembali memainkan lidahnya di sana, mengigit ujungnya lalu melahapnya dengan rakus, tangan Setya yang kembali menjamah milik istrinya membuat badan Ais kembali mengejang, sesekali bergerak gelisah mengikuti gerakan tangan suaminya. Setya tersenyum, menatap wajah istrinya yang memerah berkeringat. Aisyah memandang sayu pada Setya yang masih memanjakan d**a dan miliknya, berkali-kali Aisyah mendesis dan mendesah hingga kembali menekan kepala Setya ke dadanya saat ia sampai untuk kesekian kalinya, namun tak lama Aisyah merasakan miliknya penuh saat Setya kembali memeluknya sambil menyatukan mereka berdua bergerak cepat dan hentakan terakhir Setya menahan geramannnya hingga otot lengannya menonjol sambil mendekap erat istrinya. Aisyah melenguh dan mendesis lirih. "Kenapa?" "Lelah mas, kita tidur dulu ya?" Setya menghentikan gerakannya, melepas pelukannya merebahkan badannya di sisi istrinya, mengusap badan basah Aisyah. Aisyah memejamkan matanya, tak lama Setya pun tertidur nyenyak mereka tidur saling memeluk. **** Setya bangun, bergerak perlahan melepaskan pelukannya pada pinggang Aisyah, lalu menurunkan kakinya ke lantai, ia menatap di lantai ada kerudung warna coksu, tersenyum dan meraih kerudung itu, menciuminya dan tertegun. Ini bukan harum parfum Aisyah, lebih keee ah tak mungkin, masa parfum Adit? **** Setelah mandi dan sholat ashar, Aisyah mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba Setya menyodorkan kerudung warna coksu ke hadapan Aisyah. "Sayang ini kerudung kamu, aku temukan di bawah tadi, kok harumnya bukan kayak punya kamu, aku mencium parfum Adit, aneh ya? " Aisyah bingung ia harus menjawab bagaimana, jika menjawab jujur ia takut ada sesuatu antara kakak beradik itu, jika tak jujur ah Setya sudah jujur pada dirinya tentang masa lalunya. Akhirnya Aisyah memutuskan mengatakan hal yang memuatnya bingung. "Eeeemm aku juga bingung mas, tadiii tadi dik Adit mengembalikan padaku, punyaku katanya, kok bisa, kapaaan aku merasa tidak pernah meminjamkan kerudung pada laki-laki, untuk apa, kan lucu laki-laki pakai kerudung, aku sangat mengenal laki-laki ya hanya mas Setya saja, mas Munif hanya karena ia berjanji menikahiku, selebihnya nggak tahu, aku benar-benar nggak tahu cerita dibalik kerudung coksu itu," ujar Aisyah panjang lebar. Setya menghembuskan napas, ia mengingat kembali sekitar setahun lalu, Adit selalu mengatakan pada ibunya bahwa ia sudah menemukan orang ia sukai, hanya merasa kehilangan karena tidak tahu keberadaannya, apa yang dimaksud adalah Aisyah? ah Setya merasa mendapat teka-teki yang sulit, karena setelah beberapa bulan dengan wajah putus asa Adit mengatakan kehilangan jejak wanita yang ia cari. "Lah kok malah mas yang melamun?"Aisyah mengusap rahang Setya. "Tunggu dulu, Adit mengatakan di mana kalian bertemu?" tanya Setya. "Dia bilang bumi perkemahan dekat pondok pesantrenku, tahun lalu, lah aku bolak balik kemah di sana, dan karena aku salah satu pengurus dari saka bhakti husada ya kalau ada yang luka, sakit ya aku sama teman-teman se saka yang bantu-bantu petugas kesehatan, aku benar-benar lupa mas, bener, namanya petugas kesehatan kan terlalu banyak yang dikerjakan, lupa pada pasiennya heheh," ujar Aisyah dengan lugu. Setya memandang wajah cantik Aisyah, diusapnya pipi istrinya yang sejak tadi mata indahnya mengerjab-ngerjab, Setya hanya membayangkan Adit yang dirawat Aisyah, lalu terpesona pada wajah cantiknya. "Ada apa di wajahku?" tanya Aisyah pada suaminya. "Kamu cantik,"...cup! Setya mengecup bibir istrinya sekilas. "Ih bikin kaget mas ini," "Coba ingat, kapan kamu pernah menolong pasienmu, dan terpaksa harus memakai kerudungmu untuk membebat lukanya?" Setya membantu Aisyah mengingat kejadian yang melibatkan kerudung penuh misteri itu. Aisyah diam lama, lalu sejenak ia membuka mulutnya dan mengangguk-angguk. "Iyaaa iyaaa kayaknya itu malem ooooalaaah iya sih Adit tadi bilang malam api unggun, duh kok aku telmi, aku sama dik Mai baru dari posko setelah masak untuk teman-teman saka, lah kok ada orang mengaduh dan mendesis ya aku datangi ternyata ada dua mahasiswa laki-laki, tapi karena kayaknya butuh pertolongan ya kami datangi, kami senter eh kayak ada pecahan kaca, untungnya posko dekat, setelah kami bersihkan ya untuk sementara nunggu bantuan perban yang kebetulan habis, ya pakai kerudungku yang kebetulan tas ku juga ada di posko, aku bebat lukanya karena darah terus mengalir, sudah gitu saja, nah selanjutnya ya Kak Arman yang mengobati karena bantuan perlengkapan medis datang," ujar Aisyah merasa lega karena ia akhirnya ingat. "Hanya itu, tidak ada pertemuan lagi diantara kalian?" tanya Setya penasaran. "Nggak maaas, nggak ada, aku malah lupa kalau itu Adit," ujar Aisyah lagi. **** Sore itu Aisyah bercengkrama dengan ibu mertuanya dan Rania. Mereka tampak akrab dan tertawa, entah apa yang menjadi bahan pembicaraan. Setya melihat Adit yang menatap lekat wajah Aisyah dari ruang makan, berkali-kali menghembuskan napas dan kaget saat Setya menepuk bahunya. "Eh mas, dari mana?" tanya Adit gugup. "Lihat kolam ikan mas, makasih kamu masih merawatnya dengan baik," ujar Setya dan duduk di samping adiknya. Adit hanya mengangguk dan hendak bangkit, namun tangan Setya menahannya. "Mas ingin tanya, jawab dengan jujur, Aisyahkah yang kamu ceritakan pada kami, bahwa akhirnya kamu menemukan wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta namun akhirnya kamu menyerah karena kamu tak menemukan keberadaannya?" Adit kaget, ia tak menyangka kakaknya akan bertanya seperti itu. "Apakah perlu dijawab mas, toh dia sudah menjadi milik mas, dan aku sudah berhenti berharap sejak lama, aku ke luar dulu mas, makasih sudah membuatku menjadi seperti sekarang, menyekolahkanku dan menyayangiku sebagai adik dan menghidupiku layaknya seorang bapak, aku mencintai dan menghormati mas, tidak akan berharap apapun padanya lagi, percayalah, aku hanya perlu menyesuaikan diri saja," Adit menatap Setya sekilas dan melangkahkan kakinya ke luar, pamit pada ibunya dan menunduk sambil berusaha tersenyum pada Aisyah. Setya menatap punggung adiknya yang menjauh, ikut merasakan pedihnya cinta adiknya yang layu sebelum berkembang. **** Malam setelah sholat isyak Setya dan Aisyah pamit pulang untuk kembali ke apartemen Setya. "Kok nggak nginep di sini?" "Ck, Rani gangguin kami terus bu, enak di apartemen, aku bisa seharian peluk dik Ais," sahut Setya dan adiknya memukul-mukul bahu Setya. **** Setya melangkah beriringan dengan Aisyah, menempelkan accest card dan masuk ke dalam flatnya. "Capek mas, mau langsung tidur toh sudah sholat isyak," "Diiiik jangan tidur dulu to," Setya memeluk pinggang istrinya. "Capek, sana jangan lihat, Ais mau ganti baju," ujar Aisyah. "Alah tadi cuman dua kali capek," Setya melihat Aisyah yang membuka kerudungnya. "Dua kali kok dibilang cuman" ujar Aisyah pelan dengan wajah memerah. **** Aisyah memejamkan matanya saat lelah sudah tak bisa ia tahan. Lalu merasakan lengan suaminya melingkar dipinggangnya. Merasakan hembusan napas suaminya di telinga dan lehernya. "Kau tahu, ternyata benar, kau adalah wanita yang dicari Adit sejak lama," bisik Setya. Mata Aisyah terbuka lebar, kantuknya seketika hilang, ia menoleh dan menemukan wajah serius suaminya. "Kata siapa?" "Ia mengaku secara tidak langsung," Dan Aisyah benar-benar tak tahu harus berkata apa..... ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD