11. Mencoba Terbiasa

1568 Words
Sekali lagi Aisyah memandang lekat wajah suaminya. "Kok bisa, nggak mungkinlah mas, masa cuman sekali ketemu langsung suka, lagian aku loh hampir lupa seandainya mas nggak tanya detil, nggak masuk akal kayaknya, iya kan mas?" tanya Aisyah dengan polos. "Hmmmm cinta memang tidak bisa kita ukur dengan akal, kamu yang asik membebat, membersihkan luka Adit, sementara Adit memandangi wajah kamu tanpa kamu sadari, itu sudah lebih dari cukup," ujar Setya. "Alaaah mas ngarang," "Loh bisa saja kan kejadiannya seperti itu?" "Lah ya gimana kalau diingat lagi memang iya kayaknya, dik Mai lak takut darah, waktu itu memang darah banyak keluar dari kaki mahasiswa itu yang ternyata dik Adit, harus segera dibersihkan agar tak infeksi, di posko hanya ada aku dan dik Mai serta temannya dik Adit, kak Arman masih ambil perban dan perlengkapan kesehatan ke posko utama, ya sudah aku tangani sendiri mas, masak hanya kejadian sebentar trus bisa tertarik?" ujar Aisyah lagi. "Bisa, aku sejak pertama melihatmu juga langsung tertarik dan yakin jika kamu jodoh yang dikirim Allah untukku," sahut Setya cepat dan wajah Aisyah memerah seketika. "Ah mas Setya...," "Betul, melihat mata bersinar kamu yang mengerjab saat sekilas menatapku lalu menunduk, wajahmu yang cantik ah aku langsung mengangguk saat ibu bertanya, cocok?" "Sudah jangan bahas itu, aku malu, digodain sama sepupu-sepupu," ujar Aisyah pelan. "Oh yaaa digodain gimana?" "Alah nggak usah, mas jadi ge-er nanti," ujar Aisyah. "Udah tidur lagi, aku ngantuk capek," Aisyah memunggungi suaminya dan menarik selimut sampai ke dadanya. "Aku akan tetap menganggumu kalau kamu tidak bercerita detil bagaimana sepupumu menggodamu, dan apa yang kamu rasakan saat pertama melihatku," Setya mulai menggelitiki pinggang Aisyah dan Aisyah menjerit-jerit. "Ya Allah iyaaa iyaaa brenti tangannya mas," Aisyah tertawa sambil terengah. "Lagian aku loh pernah cerita sama mas, masa mas tanya lagi, males ah jawabnya," ujar Aisyah namun ia segera menjawab saat tangan Setya mulai menangkap pinggangnya lagi. "Iyaaa iyaaa tak cerita lagi, sepupuku semuanya bilang kalau mas ganteng, guanteng katanya, kayak artis yang di tv katanya, pas aku lihat ternyata..," Aisyah memotong pembicaraannya dan meraih gelas di samping tempat tidurnya, meneguknya perlahan, lalu mengusap bibirnya. "Ck dik kok dipotong sih," "Iyaaa bentar mas, ternyata mas ya ganteng, sudah selesai, trus kalau apa yang aku rasakan ya biasa saja, belum ada rasa apa-apa hanya bikin deg-degan, kan Ais nggak biasa sama laki-laki, jadi pas berdua sama mas waktu ada ulat di kerudungku ya aku agak canggung saja, sudah gitu saja," Aisyah merasakan tangan besar Setya merengkuhnya lalu menciuminya hingga ia hampir kehabisan napas. "Tidur, besok kita jalan-jalan ke mall, kita nikmati berdua besok karena malemnya kamu akan ke pondok pesantren lagi," Setya memeluk Aisyah dan berdua mereka segera tidur dengan nyenyak. **** "Nggak usah ke mall lah mas aku males, kita jalan-jalan sekitar sini saja, dari pada jalan-jalan nggak jelas, mending duduk-duduk di cafe, cerita-cerita gitu aja yah?" pinta Aisyah. "Hmmmm baiklah, sesukamu saja," jawab Setya. Akhirnya pagi mereka berdua sarapan roti bakar buatan Setya. Berdua menikmati roti bakar dan coklat panas, Setya melihat istrinya yang menikmati roti bakar buatannya. "Enak?" tanya Setya dan Aisyah mengangguk. Setyta tersenyum saat pasta coklat berlepotan di bibir istrinya, mungkin Setya terlalu banyak memberi pasta coklat dalam roti yang ia panggang, hingga meleleh saat roti bakar digigit. Setya meraih dagu istrinya dan menjilat bibir bawah Aisyah yang berlepotan pasta coklat. "Iiiihh mas Setya nggak jijik ya?" tanya Aisyah. "Kok cuman bibir, semuanya yang ada di kamu sudah mas jilati," senyum Setya terlihat menakutkan bagi Aisyah. "Iiih mas m***m," wajah Aisyah memerah menahan malu. "m***m gimana, kan kamu sampai berteriak-teriak gitu," Setya berbisik ke telinga istrinya. "Maaaas nggak usah diceritain di siniii, maluuu," Aisyah mencubiti lengan Setya. **** Keeseokan harinya jam sepuluh pagi keduanya tampak meninggalkan apartemen Setya menuju jalan raya yang sudah mulai ramai. "Kita ke mana ini mas?" tanya Aisyah. "Jalan-jalan dululah," jawab Setya. Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah butik mewah. Aisyah kaget dan menoleh pada suaminya. "Ngapain kita ke sini?" "Turunlah, aku mau membelikanmu, kimono tidur dan pakaian dalam yang bagus," bisik Setya. "Iiiih..nggak ah, nanti modelnya aneh-aneh lagi, males aku mas ngajarin aku yang nggak-nggak," rengek Aisyah. Setya tertawa dan menarik istrinya turun. "Nggak nggaaak, mas nggak akan belikan yang aneh-aneh lagi, mas janji," Setya memeluk pinggang istrinya dan masuk ke butik, senyumnya masih tersisa di bibirnya, ia sudah punya rencana lain. **** Ke luar dari butik terlihat wajah Aisyah yang menahan jengkel, Setya memeluknya sambil sesekali tertawa geli. "Tuh kaaaan mas masukin apa tadi ke goody bag, kok aku mau lihat nggak boleh?" tanya Aisyah menahan marah. Setya memeluk bahu Aisyah dan menciumi pelipisnya meski yang kena cium hanya kerudung Aisyah. "Sayang, bisa kan kamu mencoba membiasakan diri dengan yang aku sukai?" tanya Setya setelah mereka berada di dalam mobil. Aisyah menunduk dengan wajah memerah. "Aku malu pakai yang kayak gitu di depan mas, kayak gimana gitu, model baju tidurnya nakutin mana dalemannya ah kayak gitu, kayak nggak pake apa-apa," ujar Aisyah lirih. "Kan makena di depan mas, suami kamu," Setya mengusap lembut pipi istrinya. "Tetap saja malu, apa tadi ling.linge.," "Lingerie, kenapa?" "Ya itu, ih ngeri," Aisyah bergidik. Setya kembali tertawa.... "Badan kamu bagus, mau pakai apa saja bagus," sahut Setya. "iiiih..," Mobil kembali meluncur membiarkan Aisyah mengembara bersama pikirannya yang masih ketakutan. **** "Kok ke hotel mas?" tanya Aisyah. "Makan di sini, kita ke restorannya," ajak Setya kembali melingkarkan lengannya di pinggang istrinya, beberapa orang sempat menoleh memandang keduanya yang sama-sama tinggi dan serasi, Setya yang menggunakan tshirt lengan panjang berwarna navy dan celana jins, sedangkan Aisyah menggunakan overall bahan jins dan dalaman kaos lengan panjang warna putih lalu kerudung dengan warna navy. Kedua duduk di tempat yang telah disiapkan karena Setya sudah resevasi tempat terlebih dahulu. Saat keduanya sedang menikmati hidangan Setya tersentak saat melihat Tenti masuk dengan salah satu manajer anak perusahaan Pak Fariq, suami Aca atasannya, karena setahu Setya laki-laki itu sudah menikah, mereka masuk menuju kursi sambil saling memeluk. Ia segera menyentuh tangan istrinya, menatapnya dengan lembut. "Sayang, kau tenang ya, ada wanita itu bersama seorang laki-laki, dan setahuku laki-laki itu sudah menikah, aku hanya kawatir dia mendatangi kita dan kau merasa terintimidasi, tenang ada aku, dan ingat kau istriku, kau lebih dari dia, paham, tak usah menoleh, cukup tatap aku, aku akan melihat ekspresi kaget mereka," ujar Setya yang bisa merasakan kegugupan istrinya namun bisa tenang kembali. "Maksud mas wanita yang mengejar-ngejar mas, mantan pacar mas?" tanya Aisyah dan Setya mengangguk. Lalu Setya melihat keduanya tampak saling pandang dan terlihat Tenti yang memajukan wajahnya dan mengecup laki-laki di depannya. Namun sesaat kemudian laki-laki itu tampak kaget saat matanya bersirobok tatap dengan Setya dan segera menjauh dari Tenti, Tenti terlihat bingung dan saat menoleh ia menjadi tegang seketika. Setya tetap berusahan wajar, menyuapi istrinya dengan desert yang manis. "Wah maaf Pak Setya, saya baru melihat bapak," ujar laki-laki itu dengan wajah gugup dan pucat melangkah mendekati meja Setya yang diikuti Tenti dibelakangnya dengan langkah enggan. "Ah nggak papa Pak Fredy silakan ini kan weekend santai saja, ah ya ini istri saya, sayang ini Pak Fredy dan ini pacar Pak Fredy, Tenti namanya, silakan lanjutkan," "Kami sedang membahas dokumen yang baru kami diskusikan Pak," ujar Pak Fredy lagi dengan gugup meski ia tahu kata-katanya akan semakin membuatnya terlihat t***l. "Oh yaaaa di hari minggu?" tanya Setya sambil tertawa dan Aisyah diam saja, ia sadar jika sedari tadi Tenti menatapnya tanpa berkedip. "Ada apa Bu Tenti memandangi istri saya, ah selalu begitu, siapa saja yang melihat istri saya selalu seperti itu, saya tidak suka dia dipandangi orang lain, hanya saya yang boleh memandanginya." Setya tersenyum lebar. Tenti menahan marah dan menatap Setya lalu menatap laki-laki yang berada di dekatnya. "Apa gunanya cantik, jika tidak bisa memuaskan suaminya?" ujar Tenti dengan kata-kata pedas. Aisyah menoleh menatap Tenti dengan lembut. "Anda akan bisa merasakan kepuasan tak terhingga jika anda melakukan dengan cara yang sah, dengan suami anda, bukan dengan laki-laki tanpa ikatan, apalagi pria beristri, karena kepuasan bukan dilihat dari penampilan tapi kepuasan itu ada di sini dan di sini nyonya," Aisyah menunjuk d**a dan kepalanya. "Artinya apa, mencari kepuasanpun harus memadukan antara logika dan perasaan, bukan hanya nafsu," Aisyah masih tersenyum lembut. Sedang Tenti dan laki-laki di dekatnya memerah wajahnya mendengar perkataan Aisyah, Tenti merasa marah dan si laki-laki merasa malu. "Kau...," tangan Tenti di halangi oleh Setya. "Kau sentuh kulitnya sedikit saja, kupastikan, kau akan meringkuk di penjara, bawa wanita ini Pak Fredy, lanjutkan diskusinya, jangan sungkan-sungkan, kami sudah selesai, desert kami baru saja habis, ayo sayang kita pulang, mari Pak Fredy," Setya bangkit, meraih tangan istrinya, lalu berjalan beriringan sambil memeluk pinggang Aisyah. **** Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, Aisyah diam saja. Sesekali Setya menoleh pada istrinya yang menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. **** "Diiiik, dik Aisyah," Setya mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada sahutan, Setya mulai gelisah karena setelah sholat duhur tadi Aisyah masuk ke kamar mandi dan hampir satu jam ia belum juga ke luar. Setya mendorong pintu kamar mandi yang ternyata tak di kunci. Ia melihat istrinya yamg memejamkan mata, kepalanya bersandar pada pinggiran bathtup, sejenak ia menahan napas melihat badan Aisyah yang tak menggunakan apapun. Setya berjongkok mengusap lengan Aisyah, Aisyah membuka matanya lalu menghambur memeluk Setya dan menangis sejadinya, Setya membiarkan kaosnya basah, mengusap punggung telanjang istrinya. "Kau harus mulai membiasakan diri dengan kejutan seperti ini sayang, terima kasih kau tak emosi, terima kasih kau bisa menahan diri," Setya memeluk tubuh Aisyah lebih erat, menahan guncangan tubuhnya karena tangis menahan marah dan kesal. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD