“Halo, siapa nih?”
“Harusnya kamu sudah mulai mengenali suara calon suami kamu.”
Degh
Tanpa menyebutkan nama, Erika langsung tahu siapa yang sedang bicara. Mana mungkin ia bisa melupakan suara yang pernah membuatnya rela memberikan seluruh hidup namun semua itu tidak ada artinya bahkan di balas dengan kekejaman.
“Loe!”
“Kamu tidak salah dengar, aku Revan calon suami kamu. Aku pikir sebelum bertemu besok ada baiknya kita ngobrol sebentar.”
“Cih, ngak usah basa-basi. Siapa juga yang mau jadi istri loe. Besok, gua pastiin acara itu ngak bakalan ada.”
Suara decihan tawa meledek di sana membuat Erika makin senewen. Tapi Erika juga tahu memang seperti ini salah satu sifat Revan, konyol menyebalkan.
“Yakin bisa lawan papi kamu? Setahuku, dia yang justru meminta papaku untuk menikahkan kita.”
Dengusan kasar Erika terdengar menyenangkan di telinga Revan. Dalam hati gadis itu sebenarnya sedang membenarkan ucapan Revan. Siapa yang berani melawan titah sang Raja, sedang istrinya saja tidak pernah membantah.
“Jangan kepedean, bokap-bokapnya gua. Ngapain juga loe yang kepedean.”
“Oke, aku sudah tidak sabar melihat sampai mana keberanian kamu. Aku yakin Om Raja akan memihak padaku. Dia sendiri yang memintaku untuk bersedia menikahi putrinya. Punya nyali sebesar apa kamu.”
Meski kesal dengan ledekan Revan tapi Erika juga sadar dia tidak akan bisa menggoyahkan pendirian seorang Raja.
“Benarkan dugaanku. Yah sudah menurut saja. See you tomorrow calon istriku.”
“Gu…” Belum juga mengumpat, Revan sudah menutup telepon lebih dulu.
Erika menggaruk-garuk rambutnya merasa pusing.
“Kenapa yang ini beda sih? Revan yang dulu ngak pernah rese dan harusnya dia ngak nelpon aku malam ini. Kejadian ini ngak terjadi di masa lalu. Kenapa dia jadi lain? Apa karena gua merubah alur masa lalu dengan menerima Bruno jadi pacarku?”
Saking mumetnya, Erika sampai mengambil bantal kepala di belakangnya dan berteriak meluapkan emosi.
Padahal Erika pikir Lala yang akan dijodohkan dengan Revan tapi kenapa dia yang tetap jadi istri Revan?
***
Istri Raja Satrianagara yang bernama Naomi sedang bergegas menuju kamar putri bungsu mereka setelah menerima titah dari sang suami yang meminta agar putri mereka sudah siap pada saat tamu kehormatan mereka datang nanti.
Baru sampai di depan kamar sang putri, bahu Naomi naik turun menghela nafas kasar bahkan belum apa-apa kepalanya sudah pening lebih dulu setiap kali dirinya harus membangunkan putri tidur pemalas kesayangan suaminya itu.
Erika Ranjani Satrianagara, putri Raja dan Naomi sudah berusia 20 tahun, namun tetap saja kelakuannya seperti anak berusia 15 tahun.
"Erika, ayo bangun, Sayang. Semalam kamu nonton drakor sampai jam berapa? Anak perawan bangun siang-siang gini, malu-maluin banget kalau sampai mertua kamu tahu kebiasaan kamu." Ucap Naomi menggoyang lengan putrinya.
Tidak melihat tanda-tanda Erika bangun, Naomi menggoyangkan tubuh Erika lebih kencang lagi sekuat tenaga, tidak habis akal ia pun menjepit ujung hidungnya karena tahu kalau putrinya itu sangat pawai berpura-pura.
"Ih! Mami! Aku masih ngantuk." Gerutu kesal Erika kalah dibuat kehabisan nafas meskipun masih memejamkan mata dengan bantal karena cahaya sinar matahari dari jendela kamar juga lampu yang sudah dinyalakan sang mami mengganggu mimpi indahnya bertemu dengan pangeran berkuda.
"Ck, bangun buruan! Astaga kamu ini yah, kapan kuliah bisa selesai kalau kamu malas begini."
"Tinggal kerja di kantor Papi aja kayak Kak Raihan sama Kak Lala beres, Mi. Hari ini Eri libur, semalam nonton sampai jam 3 pagi, masih berat nih mata. Mami jangan ganggu dong…"
"Sebentar lagi calon suami kamu bakalan ke sini sama calon mertua kamu. Ngak malu apa ketemu sama mereka kayak gini! Dua kakak kamu saja sudah di bawah nemani Papi. Papi kamu yang nyuruh Mami bangunin kamu, dia bilang kalau kamu susah dibangunin siram pakai air es batu sekalian, uang jajan kamu dipotong satu bulan, kartu kredit kamu disita. Mau kamu!"
Hanya menyebut nama sang papi dan ancamannya barulah Erika mau membuka kembali bantal yang menutupi wajahnya, ditatapnya sang mami dengan sengit kesal setengah mati karena sang papi tahu kelemahannya. Hanya Raja Satrianagara yang mampu membuat Erika luluh meski berat hati. Memiliki seorang ayah mafia tentu saja tidak mudah bagi seorang Erika, meski Raja begitu keras, disiplin dan diktaktor mendidik anak-anaknya namun Erika juga selalu dimanjakan dengan semua fasilitas pemberian sang ayah bahkan Raja berlebihan menyayangi Erika dibandingan kedua kakaknya membuat Erika sulit menolak perintah sang papi.
Raja Satrianagara adalah seorang pebisnis sukses dalam dunia industri otomotif. Siapa yang tidak kenal namanya di Indonesia bahkan namanya sering muncul dalam majalah bisnis luar negri. Namun yang tidak diketahui banyak orang, dibalik kesuksessannya, seorang Raja juga memiliki sisi kelam demi menjaga reputasi dan keselamatan dirinya sendiri, keluarga juga perusahaan dari para pesaing ataupun musuh yang ingin menjatuhkannya.
"Biarin mereka lihat aku kayak gini. Bagus kan, jadi ngak usah ngambil mantu kayak aku. Lagian yang cocok dinikahin itu Kak Lala, masa malahan aku yang belum lulus kuliah gini."
Geram dengan kelakuan putrinya, Naomi mulai membangunkan Erika sedikit keras dengan menjambak rambut halus di depan telinga putrinya sampai membuat Erika berteriak meringis kesakitan. Persis sekali seperti ibu-ibu dalam drakor yang ditontonnya ketika sedang menghukum anak-anak mereka.
"Aw! Mami! Sakit dong!" Umpat kesal Erika.
"Sengaja! Buruan bangun, jangan sampai papi kamu pulang jogging dan dia lihat kamu kayak gini. Jangan salahin Mami kalau sampai papi kamu darah tinggi. Masih bagus bukan Papi kamu yang bangunin, atau Mami telepon Papi kamu saja sekarang kasih tahu kalau kamu susah dibangunin."
"Iyah! Iyah! Lagian kenapa juga sih si Papi pake jodohin aku, kok ngak hargain banget gitu loh. Memangnya aku ini jelek? Memangnya aku ini cacat? Sampai ngak bisa nyari pasangan sendiri? Umur aku juga baru 20 tahun, Mam. Ngeselin banget sih kalian ini. Lagian yah, Mi. Kak Lala kayaknya kelihatan rela dijodohin tuh sama anaknya Tante Sabrina, kenapa malah aku sih yang dipilih." Gerutu Erika turun dari kasurnya sambil mengomel menuju kamar mandi.
Tentu saja ia sedih sekaligus kesal setengah mati. Susah payah sampai bertengkar dengan sang papi seminggu ini supaya tidak dijodohkan dengan Revan. Bahkan awalnya dia merasa senang saat tahu ternyata Lala, kakaknya sendiri menyukai Revan. Dia pikir jodohnya dengan Revan akan terputus di kehidupan sekarang dan akan menikahi kakaknya.
Dua tahun ini Erika bahkan menerima penyataan cinta pemuda di kampus. Namanya Bruno dan berstatus pacar Erika. Katakanlah dirinya jahat karena menerima cinta Bruno tapi dia sendiri tidak memiliki perasaan sayang. Tapi minggu lalu dia malah diberitahu Raja kalau ia akan dijodohkan dengan Revan, pastilah ia kesal bukan main. Bukankah seharusnya Tuhan membalikkan dirinya ke masa lalu supaya bisa memperbaiki penyesalannya sebelum meninggal karena kekejaman Revan. Tapi kenapa sekarang dia tetap saja harus menjadi istri Revan? Apa maksudnya sih!
Mana mungkin dia akan bahagia dengan Revan sedangkan Erika sudah tahu nasibnya kelak di masa depan. Dan anehnya semalam Erika mendapatkan telepon menyebalkan dari Revan, padahal dikehidupan sebelumnya dia dan Revan baru bertemu saat keluarga Revan datang ke rumahnya.
Naomi sendiri tidak terlalu menggubris protes putrinya, ia memilih untuk menyelesaikan misinya hari ini daripada harus mendengar suara menggelegar Raja jika emosinya naik. Bisa-bisa satu rumah kena dampaknya.
"Udah, buruan mandi sana. Trus dandan dikit biar Revan terpana melihat kecantikan kamu."
"Iyah. Aku mandi. Mami keluar aja sana. Nanti aku turun, ngak usah Mami temani!" Sahutnya ketus seraya menutup pintu kamar mandinya dengan kencang.
Tiba-tiba sebuah ide terbesit dalam benak Erika untuk mengacaukan rencana orang tuanya hari ini.
Mendengar ucapan Erika, hati Naomi berkecamuk antara senang seakan-akan putrinya sudah menerima perjodohan ini atau justru putri berwatak keras seperti suaminya itu malah sengaja membangkang mengunci diri di kamar mandi. Merasa was-was, Naomi mendekat ke pintu kamar mandi dan mengetuknya.
“Jangan lama-lama kamu, awas yah kalau kamu tidur di kamar mandi!”
Pintu kamar mandi dibuka cepat membuat Naomi terkejut mundur ke belakang.
“Lihat nih aku mau mandi. Ngak percayaan amat sih sama anak sendiri!” Protes Erika yang sudah membuka piyamanya menyisakan bagian dalaman saja tanpa malu sedikitpun. Pikirnya di dalam kamar ini hanya dia dan maminya saja berdua.
"Oke, Mami ke bawah buat siapin makan siang nanti. Kamu bisa dipercaya kan, Eri?" Meskipun sudah melihat sendiri putrinya sedang bersiap mandi tetap saja Naomi merasa ada yang kurang sreg dihatinya. Mana mungkin putrinya selurus itu mematuhi sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya.
"Iyah... Udah deh, Mami turun saja, nanti Eri juga ke ruang tamu 1 jam lagi. Aku mau berendam biar wangi, Mamiku sayang." Sambil mendorong Naomi menjauh kemudian menutup pintu kamar mandinya membuat Naomi mendengus terpaksa berbalik meninggalkan putrinya.
Benar saja, 30 menit kemudian Revan bersama kedua orang tuanya Alex Mahendra dan Sabrina sudah tiba di kediaman Satyanagara.
Revan Savero Mahendra, pemuda tampan berusia 28 tahun. Sosoknya merupakan kriteria calon mantu kebanggaan siapapun dan Raja terlihat paling antusias ingin menjadikan Revan sebagai menantunya.
Selain tampan, Revan merupakan lulusan master 2 gelar yaitu, Business Law dan Master Tehnik. Kesukaannya dengan buku membuatnya terus mengenyam pendidikan terus menerus juga menajamkan bekal ilmu tersebut sebagai persiapannya untuk terjun di dunia bisnis. Bukan hanya karena dirinya anak dari sahabat Raja tapi Revan sendiri memang sudah mengenal Raja bahkan sangat dekat seperti hubungannya dengan sang papa.
Revan sendiri segera menyetujui perjodohan dirinya dengan Erika 2 tahun lalu sebelum dirinya berangkat ke Amerika. Bukan karena cinta, namun Revan sengaja memakai perjodohan ini agar dirinya terbebas dari para wanita yang berusaha mendekati dirinya. Dengan statusnya sebagai tunangan Erika, maka para wanita itu mundur tanpa permisi untuk mendapatkan perhatian seorang Revan meskipun dalam hatinya ia memiliki pujaan hati yang lain.
Pertemuan pertama mereka di kampus memang disengaja Revan ingin melihat wajah Erika langsung setelah ia menyetujui permintaan Raja untuk menikahi putrinya.
Raja menerima kedatangan calon menantu dan calon besannya. Awalnya Raja sengaja meliburkan diri hari ini dari rutinitas kantor untuk bertemu lagi dengan sahabatnya yang adalah papi Revan, Alex Mahendra. Namun asistennya menelepon pagi-pagi karena ada dokumen yang perlu persetujuan darinya. Untung saja dirinya sudah sampai lebih dulu sepuluh menit dari tamu spesial mereka hari ini.
"Sebentar lagi Erika turun, lagi siap-siap dia buat ketemu sama Revan. Kamu grogi banget, Van? Tenang sja pilihan kami buat kamu selalu yang terbaik." Goda Raja mencoba mendapatkan perhatian calon menantunya.
Raja sendiri sudah sering bertemu dengan Revan sejak anak itu kecil, kuliah di Amerika bahkan beberapa kali bertemu di kantor miliknya. Melihat sifat Revan membuat Raja semakin menyukai pemuda berwajah dingin yang mirip dengan dirinya. Terlebih lagi pengalaman Revan dalam dunia bisnis sangat bagus sekali meskipun usianya masih tergolong muda. Berwajah tampan, dingin, tidak banyak bicara dan berani bersikap kejam demi mencapai tujuannya dalam berbisnis, benar-benar mirip sekali dengan Raja dulu. Dirinya memang berharap kalau satu hari nanti Revan mau meneruskan usahanya.
Sedangkan Revan hanya memberikan senyuman tipis menanggapi ejekan sahabat papi-nya itu. Grogi dari hongkong, mana mungkin dia tertarik apalagi soal cinta? Entahlah, lihat saja nanti. Toh bagi Revan, Erika hanyalah batu pijakan untuk menaikkan karir bisnisnya saja. Bagi seorang Revan seperti itulah dunia bisnis yang dia tahu dari papinya, saling sikut bahkan ia sering kali melihat manusia-manusia palsu yang memakai topeng untuk menutupi sifat asli mereka.
“Erika Ranjani Satrianagara, kamu tidak akan bisa menggantikan tempatnya di hatiku.”