Menatap diri pada cermin, senyum licik yang sejak tadi melekat di bibir Erika berangsur memudar. Terkenang pada waktu Revan menghubungi malam sebelum mereka bertemu di kehidupan lalu. Erika menanggapi telepon Revan dengan sopan, sikap Revan juga sopan dan manis saat memperkenalkan dirinya. Bahkan mereka langsung akrab mengobrol hampir dua jam hanya untuk saling mengenal satu sama lain sebelum bertemu esok hari.
“Tidak. Erika yang lama sudah mati. Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Lihat saja, Revan. Kali ini aku akan membuatmu merasa jijik sejak pertama kali melihatku dan membatalkan pernikahan ini.” Memantapkan diri, Erika keluar dari kamar tidurnya untuk memberi kejutan tamu-tamu kehormatan sang papi.
Berbeda dengan orang tua mereka, Raihan terlihat memperlihatkan sikap tidak sukanya pada Revan. Keduanya sama-sama memiliki wajah dingin, sepanjang menunggu Raihan, kakak Erika tidak bersuara hanya menatap tajam pada Revan. Lala sebaliknya malah terus memperlihatkan senyum manisnya pada Revan. Dia dan Revan hanya terpaut lima tahun lebih muda, dalam hati Lala merasa sang papi tidak adil karena malah menjodohkan adik bau ingusannya itu daripada dengannya. Setelah 20 menit menunggu, akhirnya terdengar suara sapaan gadis yang sudah mereka tunggu-tunggu.
"Halo, semuanya."
Revan yang sedang menegak minuman, spontan menyemburkan cairan dari dalam mulutnya. Untung saja tidak mengenai siapapun. Sedangkan Raja dan Naomi melotot menatap kesal pada kelakuan putri mereka. Kedua tangan Naomi terkepal sampai gemetar melihat Erika, betul kan firasatnya tadi. Sedangkan Raihan yang sedang minum teh spontan ikut menyemburkan minuman di mulutnya lalu tertawa kencang melihat kelakuan adik bungsunya ini begitu juga dengan Lala.
Revan terkekeh melihat wajah Erika untuk pertama kalinya, berusaha menahan tawa agar tidak semakin memperkeruh suasana. 'Benar-benar usaha keras dia. Segitunya dia ngak mau gua kawinin. Cukup salut gua.'
"Maaf, Om, Tante. Eri lama, soalnya disuruh Mami make up dulu biar cantik gitu. Tapi maaf aku masih belum pintar make up sendiri. Padahal Tante sudah sering lihat muka aku kan di rumah ngapain juga mesti dandan, si Mami nih suka lebay." Ucapnya dengan polos malah menyalahkan Naomi. Namun tidak bagi Raja yang ingin sekali menguliti putrinya ini sekarang juga dengan pisau jagal. Tangannya mengepal membuat Naomi menelan ludahnya memikirkan akan seperti apa murka suaminya setelah ini.
Bagaimana tidak marah, Erika muncul dengan riasan wajah hampir menyerupai seorang badut, bibir merahnya keluar dari garis bibir. Lalu perona pipinya disapu hanya pada bagian tengan tulang pipinya. Belum lagi alis matanya digambar hitam pekat tanpa mengikuti bingkai alisnya. Tepatnya wajah Erika mirip dakocan mainan.
Meskipun memilih nekat mempermalukan dirinya tetap saja nyali Erika ciut dihadapan Raja. Gadis itu tidak berani menatap wajah sang papi yang terlihat ingin menelannya bulat-bulat. Tersenyum manis dihadapan tiga orang yang masih terpana dengan bibir menganga menatap dirinya, kepalang tanggung Erika tetap menjalankan rencana konyolnya itu.
"Ini Kak Revan kan? Halo aku Erika." Erika berpura-pura polos mengenalkan dirinya sendiri sengaja terlihat seperti perempuan tidak tahu malu.
Naomi segera bangun menyadari kode dari Raja yang mengendikkan dagunya agar cepat menyingkirkan putrinya segera dan membenarkan riasan, benar-benar malu sekali sampai bingung harus bagaimana menyembunyikan wajah masam mereka.
"Permisi semua, Erika ini memang suka bercanda. Saya hapus makeup Erika dulu yah. Permisi"
Kemudian Naomi menarik lengan putrinya, menyeretnya menjauhi ruang tamu dan tanpa dosa Erika juga melambaikan tangannya seperti anak kecil dengan senyum liciknya pada Revan.
"Bye semua, Eri pamit lagi yah."
Setelah Eri dan ibunya menghilang, suasana di ruang tamu kediaman Raja Satrinagara menjadi sunyi. Mungkin Alex dan Sabrina bingung harus mengatakan apa, takutnya malah akan menyinggung perasaan sahabat mereka. Raja mencoba mencairkan suasana canggung yang dibuat karena ulah Erika. Entah bagaimana tanggapan Alex dan Sabrina setelah melihat kelakuan putrinya itu, yang bisa ia lakukan hanya menebalkan muka. Pebisnis sekelas mafia harus rela menanggung malu karena ulah sang anak.
"Maafin Erika. Dia memang suka sama art dan face painting. Cuma suka lupa sama situasi kapan pantas dan ngak pantasnya. Kamu, Van, harap maklum yah. Sifat Erika memang manja dan masih kekanak-kanakkan. Tapi sebenarnya dia anak penurut dan manis. Hatinya baik." Ucap Raja benar-benar menahan malu setengah mati.
Mau tidak mau, Revan berusaha terlihat biasa saja padahal sudah sedari tadi dia ingin tertawa kencang tapi ia tahan untuk menghormati tuan rumah.
"Iyah, Om. Revan mengerti." Tuturnya bersandiwara, namun tidak dalam hatinya.
'Cuma orang gila yang bakal mau nerima tuh anak dakocan jadi istri. Tugasku hanya akan menyengsarakan hidupnya kelak mau pakai cara halus ataupun kasar sekalipun aku tidak peduli.'
Sabrina yang duduk di sebelah putranya berbisik pada putranya mencoba untuk menenangkan Revan agar tidak goyah pendiriannya.
“Sabar yah, Van. Memang kadang kelakuan Erika bisa bikin kepala pening tapi sebenarnya dia anak yang baik dan tulus dibandingkan kakaknya itu.”
Revan menoleh menatap sang mami kemudian menggeleng tanpa tersenyum.
“Ngak masalah, buat aku dia justru terlihat lucu.” Jawabnya sengaja supaya didengar Raja.
Mendengar ucapan Revan tentu saja hati Raja bersorak riang karena putrinya yang aneh itu mau dinikahi oleh pemuda pilihannya.
“Jadi kamu tidak menolak Erika dan mau menerima dia apa adanya kan?”
Revan tersenyum mengangguk. “Sebenarnya dia cantik kok. Tentu saja saya akan menerima Erika sebagai istri saya.” Membuat para orang tua tersenyum lega dengan keputusan Revan.
Sayangnya tidak semua sependapat dan senang, mendengar perkataan Revan barusan. Selain Lala yang hanya bisa terus mendengus, Erika juga mendengar ucapan Revan. Merasa geram ia tidak lagi menyembunyikan wajah aslinya. “Siapa bilang aku mau jadi istri kamu!”
***
Aku benar-benar marah, satu jam usahaku sia-sia karena sikap keras kepala Revan. Huf, memang tidak kaget juga mengingat tujuannya menikahiku hanya untuk mengambil warisan Papi. Dulu aku bersikap malu-malu saat kami bertemu, tapi tidak di kehidupan sekarang. Sejak semalam dia sudah memperlihatkan taringnya padaku. Kalau dia beli maka aku beli. Erika yang sekarang tidak akan pernah takut dengan ancaman Revan. Kalau dia laki-laki normal harusnya waktu dia menatap wajahku dengan make up tebal bak dakocan, dia pasti sudah lari terbirit-b***t merasa jijik dengan wajah dan kelakuanku. Tapi dia malah bilang setuju untuk menerimaku sebagai istrinya membuat emosiku naik seketika. Jaman apa ini, dasar edan si Revan itu. Ternyata di balik topeng baik dan tulusnya dulu didalamnya berisi sifat munafik.
Dasarnya memang sudah memiliki tujuan jahat dari perjodohan ini sampai ucapan Revan terdengar jijik ditelingaku. Bukan hanya soal kekuasaan papi tapi niatan Revan yang akan menghancurkan tubuh dan mentalku kelak.
Kalau dulu aku terpedaya dengan seorang Revan, tidak dengan di kehidupan ini. Bagiku Revan sebenarnya adalah sosok sempurna secara jasmani. Revan juga merawat kebugaran tubuhnya dengan nge-gym dan makan sehat. Kulitnya tidak terlalu putih sepertinya sering berjemur dan sepertinya dia mahir bela diri terlihat dari urat-urat di punggung tangannya. Wajah Revan lumayan tampan ehm memang tampan sih sampai kulihat bibir Kak Lala seperti mau jatuh saking mengagumi calon suamiku itu. Matanya panjang dengan tatapan setajam elang, hidungnya mancung tinggi pasti ganteng banget kalau pakai kaca mata hitam. Bentuk wajahnya tegas khas pria macho dengan rambut-rambut halus di rahang juga jambangnya. Benar-benar mirip seperti seorang pangeran.
Satu hal lagi yang membuat kepalaku semakin pusing. Mana mungkin aku bisa menikahi Revan kalau aku sendiri sudah memiliki pacar. Apa kata Bruno nanti kalau dia tahu aku bakalan menikah tapi bukan dengannya. Bisa-bisa aku dibilang ghosting nanti. Meski kalau aku boleh jujur tatapan Revan kepadaku saat ini membuat jantungku berkhianat karena berdebar cepat bahkan dengan Bruno saja aku tidak pernah merasakannya. Aku yakin karena sedang merasa marah dengan ucapan Revan, yah… Dia benar-benar membuatku kesal sekali
“Erika! Jaga bicara kamu!” Teriak Papi menggelegar membuatku terkejut sampai kedua bahuku melompat membuyarkan pertarungan dalam otakku. Meski Papi begitu ditakuti namun kali ini aku terpaksa membangkang lagipula Papi juga tahu kerasnya pendirianku yang menurun dari didikannya, mana mungkin aku akan diam kalau aku tidak salah. Toh memang sejak dulu itu yang diterapkan Papi pada kami bertiga.
“Loh salah aku dimana, Pi? Kalau memang kalian menginginkan perjodohan kenapa juga bukan Kak Lala saja yang dinikahin sama dia. Satu, usia Kak Lala lebih cocok menikah dan aku ini masih kuliah loh, Pi!”
“Karena yang aku mau itu kamu.” Celetuk Revan spontan menjawab argumenku dengan Papi. Bahkan tatapannya sekarang membuat Erika merasakan kembali sakitnya dulu dikhianati oleh kemunafikan permainan dramanya.
“Diam loe!”
“Erika!”
Lihat kan belum sampai lima menit Papi sudah membentakku di depan semua orang. Dasar laki-laki tidak tahu diri memang si Revan ini. Selain itu dia juga tukang menjilat, seenaknya saja nyahut tanpa ditanya. Kalau bukan aku menghormati keberadaan Tante Sabrina dan Om Alex sudah aku pukul kepala dia pakai patung pajangan di rumah ini.
Sambil tersenyum sengaja memperlihatkan ketampanannya, Revan berjalan mendekat ke arahku. Aku ingin memukul otakku sendiri saat ini, kenapa juga jantungku terus berdetak tidak karuan meskipun aku mendelik memberikan tatapan tidak suka, semakin dia melangkah semakin kebas rasanya kepalaku ini. Ketika jarak kami semakin dekat saling berhadapan aku bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin yang ia pakai bahkan membuatku tertegun bak patung hanya mampu menggerakkan kedua bola mataku yang masih terus menatapnya tajam. Tidak, aku tidak akan masuk lagi dalam permainan Revan. Dia tidak akan bisa menyakitiku lagi.
“Ayo kita bicara berdua di halaman belakang.”
Tanpa menunggu persetujuanku, Revan berjalan ke arah belakang rumah sambil menyeret paksa satu lenganku agar mengikutinya.
“Hei!” Kak Raihan hendak protes namun dihalangi Papi yang menaikkan tangannya ke atas bagian dari kebiasaannya tanda untuk tidak ikut campur atau menyuruh kami untuk diam.
Aku terkejut, bagaimana dia bisa tahu ada taman di halaman belakang rumah kami. Apa dia sudah pernah kemari tanpa sepengetahuanku mengingat ini pertama kalinya dia datang berkunjung kemari.