Bab 4. Otak Kurang Se-ons

1648 Words
“Lepasin, gua bisa jalan sendiri. Lagian kenapa loe bisa tahu rumah gua ada taman belakangnya. Atau jangan-jangan loe punya niat jahat kan sama bokap gua. Ngaku loe!” Bola mata Erika membulat kesal ketika Revan membekap mulutnya dengan tangan, Erika berusaha melawan hendak menyikutnya namun gerakan Revan lebih cepat malah balik mengunci tubuh Erika. Tidak kurang akal gadis itu melawan hendak menginjak kakinya sebagai tindakan membela diri yang pernah ia pelajari tapi lagi-lagi Revan lebih dulu mundur bahkan dia malah sengaja memajukan tubuh sampai Erika reflek mundur menekuk tubuh ke belakang hingga posisi wajah mereka begitu dekat dengan Revan di atas, kedua matanya menatap sambil tersenyum seolah mengatakan dia berhasil mengunci pergerakkan gadis keras kepala itu. “Ternyata kamu bawel dan galak aslinya.” “Hmp hmp hmp!!” Balas Erika dengan bola mata berapi-api meski ucapannya tidak jelas. “Aku lepasin asal kamu janji ngak barbar kayak barusan. Kalau sampai orang tua kita kemari maka aku akan mengatakan sedang membela diri karena kamu berusaha menusukku dengan gunting taman itu.” Dagunya menunjuk gunting taman yang memang tergeletak di meja tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Meski tidak ikhlas akhirnya Erika mengangguk terpaksa mematuhi kemauan lelaki iblis itu. Saat Revan menaikkan posisi tubuhku yang setengah tidur, ia pun melepaskan bekapan tangannya di mulut. Erika memanfaatkan kesempatan itu mendorong kasar Revan dengan wajah kesal. Tapi tindakannya Erika barusan sebenarnya karena Erika sadar dirinya tidak membenci Revan sepenuh hati. Sebagian kecil dalam dirinya masih mengakui percikan-percikan cinta itu masih ada. Sampai kemudian Erika disadarkan kembali mengeraskan hati dan harus membuat Revan mundur dan membatalkan pernikahan mereka. Masih dengan nafas memburu Erika menatap sengit Revan yang terus memperlihatkan senyum sinisnya. “Kalau loe udah kebelet kawin mending sama kakak gua saja. Gua masih kuliah dan ngak niatan buat nikah dalam waktu dekat! Lagian kita ngak bakalan cocok.” “Aku ngak masalah dan ngak akan melarang, kamu bisa tetap kuliah kok. Seperti yang sudah aku bilang tadi, aku maunya nikah sama kamu. Cocok atau ngak kamu tidak bisa memutuskan sekarang.” Jawabnya enteng memperlihatkan seringainya yang menyebalkan itu. “Ck, gua udah punya pacar juga, ngerti ngak sih loe!” “Kalau gitu harus kamu putusin. Setelah kita nikah aku ngak mau ada jejak masa lalu diantara kita nantinya.” Benar-benar menyebalkan sekali jawabannya. Dia pikir perasaan orang bisa diatur seenaknya apa! Jangankan jejak masa lalu. Kelak Erika hanya terkurung di dalam rumah setelah selesai belajar di kampus. “Duduk!” Lihat kan belum juga jadi suami sudah seenaknya main perintah sambil menarik tanganku. “Kalau gua ngak mau loe mau apa!” Sengaja menantang Revan untuk memberikan kesan menyebalkan agar dia berpikir ulang menikahi gadis keras kepala sekeras batu. Nyatanya Revan malah tertawa kembali melangkah dengan tatapan intimidasinya seperti tadi membuat Erika menelan saliva ikut mundur sampai kakinya terbentur kursi di belakang dan jatuh terduduk. Revan mendekat membungkuk, kedua tangannya menarik kedua tangan Erika tetap di sisi untuk mengunci pergerakkannya. Sempat memberontak namun hentakan Revan membuat Erika terkejut, wajahnya terlihat lebih menyeramkan. Tatapan yang membuat tubuh Erika gemetar teringat sikap kejam Revan dulu. “Jadilah istri penurut kalau masih sayang dengan nyawamu. Lagipula hanya wanita sempurna yang cocok menjadi pendampingku, jadi jangan besar kepala kalau aku menginginkan kamu jadi istriku karena cinta. Statusmu sebagai anak mafia tidak akan membuatku tunduk meskipun kamu bersikap manis. Camkan itu!” Seandainya saja Erika tidak pernah lompat mundur ke masa lalu, dirinya pasti akan terkejut. Apa! Apa maksud perkataannya. Kenapa Revan malah mengancam tapi juga mengatakan kejujuran soal perasaan kalau hanya menikahi Erika bukan karena cinta? Dalam hati Erika, ia tertawa sampai bibirnya naik memperlihatkan senyum sinisnya. Apalagi tujuannya kalau kali ini Revan secara blak-blakkan mengakui sedang memanfaatkan Erika demi kekuasaan papi Erika. “Loe manusia aneh. Kemarin gua udah bilang ngak akan mau nikah sama loe, kenapa juga loe maksa. Sayang nyawa? Memangnya gua punya salah apa sama loe hah!” Langsung bertanya mana tahu Revan akan memberitahu alasannya begitu membenci Erika. Tawa kecil menyeramkan Revan terdengar kembali, dia bahkan berani memajukan wajahnya membuat Erika hampir terpekik dan akhirnya aku memalingkan wajah menutup mata takut dia akan melakukan hal yang tidak diinginkan. Beberapa detik kemudian Erika dapat merasakan hidung Revan menyentuh pucuk daun telinganya yang dan sikap kurang ajarnya itu malah membawa sengatan kecil mengalir di sekujur tubuh Erika, bahkan suara bisikannya membuat bulu halus di tubuhnya meremang. “Aku tidak perlu menjelaskan apapun. Ikuti permainan ini, jadi istriku dan menurut. Aku yakin papi kamu pasti akan lebih percaya kata-kataku setelah lelucon badut yang sudah kamu buat barusan. Mau taruhan?” Ucapannya membuatku menoleh menatap mata hitam pekatnya dengan tajam, rasa takut barusan kini berubah menjadi amarah yang terbungkam. Apa-apaan ini, kenapa rencanaku masih juga gagal padahal aku sudah merubah skenario kejadian di masa depan. Perjodohan mulus menjadi perjodohan memalukan tapi kenapa Revan masih berkeras. Tatapan dan ucapannya barusan seakan-akan Erika melakukan kesalahan fatal kepadnya. Revan memang tampan tapi dari kelakuannya membuat gadis itu berpikir hatinya hitam sehitam iblis penghuni neraka. Oh Tuhan, bagaimana mungkin papi-nya tidak bisa melihat seiblis apa lelaki ini.. Tetap saja berdekatan seperti ini membuat jantung Erika berdebar kencang entah sudah berapa kali, terlebih jemari Revan mengusap pipinya tanpa permisi bak pria kurang ajar. Saat Erika berusaha memalingkan wajah dengan kasarnya Revan mencengkram rahang gadis itu persis seperti dalam drama-drama yang sering ia tonton. “Kamu cantik dan aku suka wajah perempuan seperti kamu. Jadi, kalau kamu menurut aku janji tidak akan membuatmu pergi ke surga lebih cepat. Bahkan aku lebih dari mampu memberikan surga dunia di atas ranjang dari pacar yang akan jadi mantan kamu itu. Tadinya aku ingin bermain cantik membuatmu jatuh cinta lalu barulah aku memperlihatkan yang sebenarnya. Sayangnya ternyata kamu tidak sebodoh yang kuduga.” Erika mengepalkan kedua tangan menatapnya nyalang dengan emosi menahan air mata agar tidak mengalir. Tidak akan lagi dibiarkan Revan membuatnya takut dengan ancamannya. Apapun rencananya pasti akan dicari tahu, lihat saja akan ada waktu dimana posisinya berbalik. Erika yakin kebenaran akan selalu menang selangkah meski awalnya harus mengalah. Tuhan menghidupkannya kembali pasti karena mendengar doanya menjelang kematian. “Perset…” Apa-apaan ini, bola mata gadis itu hampir keluar, otaknya sampai membeku bahkan Erika yakin kulit di wajahnya sudah merah padam saat ini bercampur dengan gejolak aneh berpusat di perutnya namun terasa menyenangkan meski hati kecilnya meronta berteriak marah. Niat hati ingin mengumpati Revan malah ia bungkam seketika dengan kecupan cepat di bibir lalu tanpa memberi kesempatan untuk protes kali ini Revan melumat bibirnya dengan kasar. Kurang ajar sekali kan, air mata yang ditahan sedari tadi akhirnya luluh mengalir membuat Revan mengernyit bingung dengan reaksi gadis itu dan akhirnya menghentikan ciumannya. “Jangan bilang kamu belum pernah dicium sama mantan pacar kamu itu. Atau mungkin dia tidak pintar ciuman?” Pertanyaan macam apa itu! Sudah pasti itu ciuman pertama Erika dan memang si iblis ini yang mengambilnya meskipun dulu ciuman pertamanya ia rasakan dalam keadaan romantis bukan seperti sekarang. Lalu mengejek tentang hubungannya dengan Bruno seolah dia perempuan aneh karena belum pernah ciuman dengan pacarnya. “Minggir, aku mau bangun…” Ucap Erika terbata-bata serak menahan tangisnya pecah. “Kamu belum jawab pertanyaanku, jadi yang barusan itu pertama kali kan, hem?” Seringai Revan benar-benar membuat Erika gelisah sampai berkeringat. Dia yang selalu dicap pembangkang oleh papi-nya kenapa tidak mampu berkutik dihadapan seorang Revan. Padahal harusnya melawan sejak awal tapi kenapa malah gagal. “Mimpi loe! Gua bilang minggir!” Menekan ucapannya berusaha tidak berteriak, sesak rasanya bahkan bening itu terus mengalir membuatnya semakin malu. Detik berikutnya lagi-lagi Revan membuat Erika tercengang, darah berdesir merambat geli di sekujur tubuhnya. Revan mengusap lembut menghapus air mata Erika, tapi bukan itu yang membuat otak gadis itu semakin panas kebas. Sengatan itu datang lagi ketika mata Revan menatapnya begitu lembut. Tatapan yang membangkitkan rasa rindunya akan sisi Revan yang seperti ini. “Jangan nangis, aku ngak suka lihat perempuan cengeng apalagi orangnya itu kamu. Calon istri aku perempuan kuat itu sebabnya aku setuju menikah sama kamu. Ingat, kamu anak seorang Raja Satrianagara tidak boleh terlihat lemah meskipun dihadapanku. Jangan merepotkan papi kamu dengan sikap manja, aku tahu kamu berbeda dari Lala. Rasanya aku tidak akan sanggup memiliki istri yang manja dan tidak mandiri. Makanya aku memilih kamu kalau kamu penasaran.” Setelah itu Revan menegakkan tubuhnya kemudian mengulurkan tangannya menarik tangan Erika membantunya berdiri dan bodohnya Erika menurut menerima uluran tangannya. Revan mengulang lagi usapan jemarinya di pipi Erika memastikan tidak ada sisa air mata disana lalu berpindah mengusap lembut kepala gadis itu. “Maaf kalau aku lancang. Anggap saja itu ciuman pertamamu meskipun aku tidak akan mempercayai gadis nakal sepertimu. Mulai sekarang kamu tunanganku, calon istri Revan. Meski sudah menikah denganku nanti kamu masih boleh menyandang nama Satrianagara karena aku yang akan berpindah menyandang nama keluarga itu.” Lagi-lagi Erika dibuat tidak mengerti maksud perkataan Revan, apa karena status papi-nya membuat Revan berhasrat ingin menjadi pewaris kekuasaan Raja? Dulu Revan bahkan tidak pernah mau menyematkan nama keluarga Raja apalagi memerkan dirinya sebagai menantu Raja. Tapi satu hal yang Erika harus akui kalau Revan selalu berhasil mengintimidasi dirinya dengan cara lembut ataupun kasar. Lihat saja belum sampai satu jam kenal Revan dia sudah banyak mengambil keuntungan, mulai dari pernikahan ini, ciuman pertama Erika dan pastinya berhasil membungkam amarah gadis itu seketika padahal niatan semula ingin menghajarnya sekali saja setelah ia menjauhkan bibirnya, tapi belum apa-apa Erika dibuat terkesima seperti patung bahkan lututnya terasa lemas sekali setelah ciuman paksanya barusan. Bodoh kan! “Aw!” Reflek memegang keningnya meringis karena Revan menjentikkan jarinya di sana. “Aku tahu aku ganteng, ngak usah gitu juga lihatnya. Ayo balik, mereka sudah menunggu kita.” Sambil berbalik meninggalkanku yang masih menampilkan raut kekesalan. “Ish, dasar kamu saja otaknya kurang seons.” Cibir Erika sepelan mungkin tapi sialnya ditangkap telinga Revan. Pria setan ini berbalik menatap dengan seringai yang sama seperti beberapa saat sebelum bibir mereka beradu. Benar-benar cocok dibilang setan jelmaan anak iblis hutan lindung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD