Sambil melangkah berjalan masuk kembali ke ruang tamu, isi kepalaku masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang pernikahanku dengan Revan. Dikehidupan dulu aku memang menikah dengan Revan pada usia yang sama tapi kenapa harus terulang lagi. Lalu kenapa Tuhan memberikan hidup yang baru kepadaku dua tahun lebih cepat tapi tetap saja menyatukan aku dengan Revan lagi. Padahal aku sengaja menerima pernyataan cinta Bruno dua tahun lalu. Bagaimana aku harus menjelaskan pada Bruno kalau aku bukanlah masa depan yang ia cita-citakan waktu awal kami berpacaran. Pasti Bruno bakalan sakit hati, apalagi kalau dia tahu Revanlah yang berhasil mengambil ciuman pertamaku bukan juga dia.
Meski hubungan pacaranku dengan Bruno terbilang tidak selazim pasangan yang berpacaran namun semua orang disekitarku tahu kalau pacarku adalah Bruno. Lalu bagaimana aku harus mengatakan pada teman-temanku Desi dan Lika juga, apa yang akan mereka pikirkan tentangku kalau tahu aku malah akan menikahi lelaki lain dan bukan Bruno. Hais! Kenapa juga papi tidak bertanya apa aku setuju atau tidak untuk dijodohkan. Kenapa juga dulu aku mau saja dijodohkan dengan Revan bahkan di kehidupan sekarang pun aku tidak bisa menolaknya. Revan pasti berkeras mau menikah karena ia memiliki tujuan jahat untuk membuat hidupku dalam kubangan neraka. Bagaimana aku harus menjelaskannya pada papi dan mami.
Saking kalut dengan begitu banyak pikiran karena keputusan papi, aku sampai tidak sadar tanganku digandeng Revan berjalan dari taman belakang sampai ke ruang tamu. Bahkan aku sampai lupa sudah mempermalukan diri dengan ide konyol muka badut yang berakhir gagal total dan sekarang berbalik mau dinikahi Revan. Hais! Mau taruh dimana mukaku ini.
“Aw, ish sakit…” Lamunanku terpecah karena jentikkan jari Revan di keningku terasa perih.
“Makanya jangan bengong terus, ayam tetangga bengong subuh jadi ayam kuluyuk sejam kemudian.”
Suara tawa para orang tua karena celetukkan Revan menyadarkanku kalau mereka masih berada disini menunggu kabar dari kami. Cemberut di bibirku sambil mengusap kening dan menatap kesal pada Revan malah semakin membuat wajah keempat orang itu terlihat senang sekali terlebih papiku yang terlihat sumringah dengan senyum tipisnya melihat gerak-gerik kami berdua benar-benar seperti pasangan yang sedang berdebat manja. Cih! Ngak sudi aku nikah sama setann berotak kurang seons ini. Lah di depan mereka kelihatan lucu tapi kelakuan aslinya nanti sefrekuensi sama iblis.
“Jadi kalian sudah sepakat kan?” Tanya mami dengan wajah tidak kalah sumringahnya dengan papa.
Aku menoleh mendelik kesal ketika Revan mengangguk dengan senyum manis palsunya itu. Belum juga aku menjawab bahkan mulut ini baru saja menganga hendak melancarkan protesku, Tante Sabrina berdiri menghampiri dan memelukku erat membuatku tertegun kaku menelan semua ucapan yang belum sempat keluar.
“Sejak awal ketemu kamu, Tante kepingin banget kamu jadi istrinya Revan. Mulai sekarang panggil aku Mama, yah. Kamu anak Mama mulai sekarang.” Ucap Tante Sabrina dengan tatapan beningnya lalu memeluk membuatku tidak habis pikir, kenapa juga dia sampai jadi melankolis. Bukankah seharusnya dia berpikir lagi setelah melihat kelakuan konyolku tadi.
“Tapi, Tan…”
Tidak memberi kesempatan aku protes, Papi sengaja berdeham kencang untuk memojokkan posisi ku. Kalau sudah begini aku tidak bisa kabur lagi, melihat tatapan tajam Papi saja membuat bulu ditanganku berdiri. Mau tidak mau aku diam menuruti kemauannya menikahi Revan. Tapi masalahnya aku masih berstatus pacar Bruno, bagaimana harus menjelaskan ke Bruno sedangkan perasaanku sendiri pada Revan adalah kebencian yang akan terus aku bawa. Konyol rasanya minta putus sama Bruno demi pria yang aku benci.
“Kalau begitu seperti yang sudah kita bahas tadi soal tanggal pernikahan mereka. Kalau boleh aku ingin mereka menikah secepatnya. Ah… Dua bulan lagi kita benar-benar jadi besan, Lex.” Tiba-tiba seenaknya saja Papi main menentukan tanggal pernikahanku. Kenapa tidak sekalian dia saja yang nikah, argh… Benci aku…
“Apa ngak terburu-buru, Pi?” Protes Raihan terlihat tidak terima dengan keputusan Raja.
Mendengar ucapan Bang Raihan aku menoleh menatap wajahnya penuh harap dalam tatapan sedihku. Di keluarga ini setidaknya masih ada satu abang yang masih memikirkan perasaanku. Atau jangan-jangan Bang Raihan juga sama datang dari masa depan seperti aku makanya dia terlihat tidak menyukai Revan. Setahu aku dulu Bang Raihan biasa saja waktu pertemuan perjodohanku.
“Kata Bang Rai benar, Pi. Terlalu cepat buat mengurus semuanya.” Aku ikut mendukung ucapan Bang Rai.
“Kamu lupa papi kalian ini siapa? Pokoknya kamu tenang saja, Eri. Mami sama mertua kamu yang atur EO dan gedungnya. Kamu tinggal urus gaun pengantinnya saja.” Celetuk mamiku semakin memojokkan hingga aku tidak mampu membela diri.
Pandangan mataku beradu dengan Kak Raihan berharap dia terus berusaha membelaku lalu menatap Kak Lala berbanding terbalik sengit membalas tatapanku. Dia yang seharusnya dijodohkan dengan Revan karena memang Kak Lala sudah mengidolakan pria ini sejak dulu bahkan aku sendiri yang menyemangatinya untuk terus mendekati pria itu selama setahun belakangan ini. Dulu Kak Lala tidak pernah mengatakan padaku kalau ia menyukai Revan. Makanya waktu aku tidak sengaja mendengar Kak Lala bercerita di telepon dengan teman kampusnya aku langsung mendekati dan menyuruhnya lebih gencar lagi mengejar Revan. Lagipula kalau memang dia ingin memperjuangkan pria idamannya harusnya Kak Lala melancarkan protesnya sekarang juga sebelum terlambat sekaligus menyelamatkan posisi terancamku. Malahan dia melempem di depan papi tapi pandangannya malah menyalahkan keadaan ini padaku.
“Apa ngak sebaiknya mereka saling kenal dulu, Pi. Kita juga perlu mengenal Revan bukan?” Lagi-lagi Kak Raihan membela membuatku tersenyum menjulurkan ibu jariku dari samping tanda senang dengan usahanya.
“Cih, sudah pasti aku sangat mengenal Revan. Kalau tidak mana mungkin aku setuju Erika dinikahi dia. Kamu mulai berani meragukan penilaian Papi, hem! Dalam hal ini kamu tidak berhak untuk ikut campur atau sengaja mau mempermalukan Papi!”
“Tapi, Pi.”
“Sudah, cukup! Tidak ada yang butuh pendapatmu!” Suara bentakkan papi membuat semua orang di rumah ini tersentak. Sedangkan wajah Kak Rai menunduk menahan rasa malu dibentak di depan para tamu. Hilang lagi harapanku.
Nyatanya malah emosi papi semakin terpantik membuat sikap diktaktornya semakin menguar dengan wajah menahan emosi. Sedangkan Kak Lala terus menatapku berang, tidak rela dengan perjodohanku tapi tidak punya nyali untuk menentang papi padahal aku berharap dia yang paling lantang protes.
Meskipun aku diam bukan berarti aku akan menyetujui pernikahan ini, hanya saja aku sedang memikirkan jalan keluar untuk bisa membatalkan pernikahan neraka ini. Mana mungkin aku jatuh ke dalam lubang yang sama sampai dua kali.
“Kalau begitu aku dan Papa Mama pamit pulang dulu. Besok saya datang kemari lagi, Om buat jemput Erika.”
Apa-apaan lagi si setan satu ini main bikin jadwal sendiri saja membuatku kembali kesal.
“Siapa yang bilang gua mau pergi sama loe!”
“Erika! Jaga sikap kamu!” Kali ini mami menegurku.
“Dia nya saja main bikin rencana sendiri. Aku juga punya rencana lain, Mi.”
“Ngakpapa, Tan. Erika masih syok dengan perjodohan ini.” Sambil tersenyum pria berotak kurang setengah ons berwatak iblis itu menunduk menatapku. “Besok pagi setelah sarapan aku jemput kamu untuk lihat tempat kita tinggal setelah kita nikah nanti.”
“Hah! Mau ngapain?” Celetuk spontan dengan mata melotot karena ucapan Revan barusan.
“Temani aku ke kantor sebentar setelah itu kita ke butik untuk memilih gaun dan jas. Trus kita ke apartemenku.”
“Kenapa harus di apartemen sih, Van. Mama kepingin Eri tinggal di rumah. Kamar kamu bisa di renovasi jadi satu dengan kamar sebelah. Mau yah…”
Hei, apa ini. Urusan menemani ke kantor, ke butik saja aku belum menyetujuinya dan sekarang Tante Sabrina malah ingin aku tinggal serumah dengan mereka. Argh!! Mau meledak rasanya kepalaku sekarang.
Tapi…
Ada bagusnya juga kalau aku tinggal dengan orang tua Revan daripada harus terkurung berdua saja dengan si otak separuh itu. Dan Revan pasti akan berpikir ulang kalau dia mau macam-macam denganku, pasti Tante Sabrina akan membelaku. Hem, tidak jelek juga ide calon mertuaku itu. Hais… Kenapa juga seolah aku setuju jadi menantunya mereka.
“Aku setuju. Lebih baik tinggal dengan orang tua kamu.” Sengaja menjawab keinginan Tante Sabrina dan membuat wanita itu sumringah senang dengan keputusanku.
Sedangkan Revan menghela nafas panjang lalu menoleh menatapku dengan tatapan lembut tapi aku tahu ada ancaman dibalik tatapan itu.
“Aku ingin saling mengenal secara pribadi dengan Erika setelah menikah nanti, lagipula apartemen dekat dengan kantor juga kampus Erika. Begini saja, kamarku tetap direnovasi dan setiap akhir pekan kami pulang ke rumah.”
“Deal…” Jawab Tante Sabrina membuat mulutku kembali menganga, secepat itu dia setuju tanpa perlawanan.
“Ngak mau. Tinggal sama Tante Sab aja nanti. Apartemen sempit, aku ngak suka.” Protesku lebih dulu.
Apartemen Revan aku tahu sekali. Bahkan memang kami tinggal di sana sampai akhir nafasku, itu sebabnya aku tidak mau lagi pindah ke neraka mewah itu.
“Nanti kita bicarakan lagi.” Sahut Revan seolah sengaja mengalihkan pembahasan soal tempat tinggal.
Setelah membicarakan pernikahan kami, Tante Sabrina dan Om Alex pulang lebih dulu. Kak Raihan dan Kak Lala masuk ke dalam kamar mereka begitu juga dengan kedua orang tuaku memutuskan untuk keluar rumah secara sengaja menyisakan aku dan Revan di ruang tamu.
Malas berdua saja dengan si makhluk kurang berotak itu aku pun beranjak hendak pergi meninggalkannya namun tanganku di tarik sampai hampir saja menabrak tubuh Revan kalau aku tidak menahannya dengan kedua tangan. Meronta melepaskan diri tapi Revan malah menarik pinggangku hingga membuatku terjepit dalam pelukannya. Wajahku terasa panas harus berdekatan lagi seperti ini, belum juga jadi suami dia sudah berani bersikap kurang ajar.
Ternyata selain otaknya kurang separuh, dia juga messum! Padahal dulu Revan memang semessum ini setelah kami menikah sampai aku hamil. Waktu masa penjajakan dia sopan sekali dan bersikap seperti pria sejati yang romantis.
“Mau apa lagi sih! Lepasin ngak!”
“Antar aku sampai depan, aku calon suami kamu jadi mulai sekarang biasakan menemaniku.”
“Dalam mimpi loe! Nikah sama loe terpaksa masih berani ngatur hidup gua.”