Memutuskan untuk menyukai Juwita hanya karena aku pernah berhutang budi padanya justru membuat hidupku berantakan. Kebodohan demi kebodohan sudah kulakukan tanpa sadar sudah dimanfaatkan olehnya bahkan hampir saja aku melukai gadis yang tidak bersalah seperti Erika. Kebahagiaanku membuncah ketika Erika setuju untuk mempercepat pernikahan kita secara agama dan hukum lebih dulu. Perlahan-lahan Erika mulai mau membuka hatinya dan menerimaku. Hidup kami berdua sangat bahagia seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta. Meski Erika belum pernah mengatakan kalau dia mencintaiku tapi aku bisa merasakan saat ini dia pun mulai nyaman bersamaku. Tidak lagi seketus dulu bahkan kami selalu melewati malam-malam panas bersama dan aku tahu Erika pun menikmatinya. Tapi baru saja kebahagiaan itu diraih,

