CONFUSED

1079 Words
PLAK … sebuah tamparan yang begitu keras mendarat di pipi mungil milik Gita. “Mbak aku mohon tunggu dulu Mbak. Aku yakin Yuda bakal datang,” isak Gita sambil ia memohon-mohon kepada Sela agar mau lebih bersabar dalam menunggu kedatangan Yuda. “Git! Ini udah malam, tapi Yuda dan keluarganya gak datang-datang. Pakai otak kamu Git! Pakai itu akal sehatmu. Apa mungkin seseorang akan bertamu tengah malam? Gak mungkin kan Git!” “Mbak, Yuda pasti datang Mbak. Aku yakin Mbak. Ini anak Yuda jadi gak mungkin Yuda ninggalin aku dan anaknya.” “Bodoh kamu Git! Bodoh! Aku berani bertaruh kalau Yuda gak akan datang menemui kamu. Dia pengecut Git!” maki Sela yang emosinya sudah memuncak. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk memperbaiki kesalahan yang telah di lakukan oleh adiknya. Pikirannya terasa begitu gelap, ia merasa tidak ada harapan dan cahaya lagi dalam hidup Gita yang sudah hancur sehancur-hancurnya. Menurut Sela wanita yang telah hamil di luar nikah tidak akan ada harganya di mata masyarakat. Akan ada banyak perguncingan yang akan mereka hadapi ketika warga di sekitar rumahnya mengetahui tentang kebenaran ini. “Ibu … Ibu percaya kan kalau Yuda bakal datang dan menikahi aku? Ibu aku mohon percayalah dengan kami. Kami tidak mungkin lari dari tangung jawab kami,” isak Gita sambil ia berlutut di kaki Ani yang terasa begitu dingin. Mendengar itu semua membuat Ani hanya bisa duduk dengan tatapan yang kosong. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menolong kehidupan putrinya tersebut. Wanita yang tengah hamil di luar nikah akan menjadi sebuah aib untuk masyarakat dan hal itu membuat Ani merasa begitu ketakutan. Ia takut kalau Gita akan di kucilkan oleh masyarakat, ia juga takut kalau cucunya akan dipandang sebagai anak haram yang tidak memiliki seorang ayah. “Git! Kamu itu apa gak sadar sih dengan kesalahan yang kamu perbuat? Apa gak cukup buktinya? Git, kalau Yuda memang ingin bertangung jawab dengan janin yang sedang kamu kandung maka Yuda sudah datang dari tadi dengan keluarganya Git! Tapi coba kamu lihat ini sudah tengah malam dan sampai sekarang Yuda juga belum datang juga,” jelas Sela kepada Gita yang masih bersikeras kalau Yuda akan datang dan bertangung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepda Gita. “Apa yang kakak kamu ucapkan itu ada benarnya Git. Kalau Yuda memang serius denganmu, dia akan datang sejak tadi pagi. Tapi sampai tengah malam Yuda tidak kunjung datang.” “Bu … tapi Gita mengandung anaknya Yuda, gak mungkin kan Bu kalau Yuda pergi begitu saja meninggalkan Gita dengan kandungan yang akan membesar.” “Dimata masyarakat Yuda bukanlah ayah dari anak yang kamu kandung Git.” “Bu …” “Git, sudah ya. ibu capek. Ibu ingin istirahat dulu. Ibu gak tahu harus berbuat apa lagi untuk membantumu. Kepala ibu sakit rasanya,” ucap Ani sambil ia berlalu meninggalkan Gita dan Sela. “Puas kamu! Sudah puas membuat ibu seperti itu? Lihat ibu kita Git! Lihat kondisi Ibu kita yang semakin hari semakin renta dan lemah. Terus kamu dengan sadarnya menghancurkan harapan Ibu kepada kamu!” “Mbak … ini semua bukanlah keinginan Gita Mbak. Kalau Gita bisa memutar waktu maka Gita tidak akan melakukan hal seperti itu Mbak.” “Apa kamu bilang? Bukan keinginanmu? Bukan keinginanmu gimana? kalian melakukan hubungan yang didasari rasa suka sama suka. Jadi aku rasa itu hal yang kamu lakukan dengan sadar! Kalau kamu dilecehkan aku bisa memakluminya tapi ini kalian melakukan hubungan dengan dasar suka sama suka, kok bilang bukan keinginanmu!” hardik Sela yang mematahkan argument Gita yang mengatakan kalau ini semua bukan keinginannya. “Mbak …” “Udah Git jangan nangis lagi! deraian air matamu tidak akan bisa menyelesaikan permasalahanmu! Simpan saja air matamu!” bentak Sela “Mbak … aku minta maaf mbak. Aku khilaf, aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi mbak.” “Iya kamu tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. karena kamu sudah di cap buruk oleh masyarakat jadi tidak aka nada pria yang mau denganmu!” “Mbak … aku masih ada Yuda. Aku yakin kita akan menikah Mbak,” ucap Gita yang masih kekeh dengan pendiriannya. “Udahlah! Berdebat kaya gini tidak akan pernah ada habisnya. Sekarang aku tanya sama kamu. Kamu udah pernah di ajak pergi ke rumahnya Yuda belum?” “Udah Mbak, aku udah pernah main ke rumahnya dan aku juga udah pernah ngobrol sama orang tuanya Mbak.” “Oke, jadi kamu udah tau kan dimana rumahnya?” “Udah Mbak. Aku udah tahu di mana rumahnya.” “Ya udah kalau gitu, besok pagi kita sekeluarga pergi ke rumahnya Yuda dan minta pertangung jawabannya.” “Mbak serius akan pergi kerumah Yuda?” tanya Gita dengan ragu-ragu “Tentu saja aku serius. Kalau Yuda gak datang ke rumah kita untuk mempertangung jawabkan apa yang telah ia lakukan kepada kita, maka kitalah yang harus menuntut pertangung jawabannya,” ucap Sela dengan mantap. “Mbak … terima kasih untuk bantuannya Mbak. Terima kasih Mbak,” ucap Gita yang merasa sedikit tenang karena keluarganya yang akan menemui keluarga Yuda untuk meminta pertangung jawaban. “Aku melakukan ini semua bukan untukmu, tetapi untuk ibu!” . . Malam itu hujan turun dengan begitu deras, di sertai dengan suara gemuruh halilintar yang menyambar-nyambar. Suasana malam itu sama dengan batin yang di rasakan oleh Ani yang begitu kelam. “Git … apa salah ibu sama kamu? Kenapa kamu begitu tega melukai hati Ibu dengan hal seperti ini? apa kamu tidak memikirkan masa depan kamu yang akan hancur jika Yuda tidak bertangung jawab dengan kehamilanmu? Kalau Yuda sampai lari dari tangung jawabnya terus gimana dengan nasib kamu Git? Gimana dengan kuliahmu? Gimana dengan masa depan kamu? Siapa yang mau menerima masa lalumu yang kelam? Ibu tidak ingin melihat kamu menderita Git! Ibu tidak sangup melihat putri yang ibu lahirkan harus mengalami masalah yang begitu pelik seperti ini. Apa yang merasukimu Git? Apa yang sebenarnya kamu mau Git? Kenapa kamu melakukan hal ini kepada Ibumu? Sakit Git rasanya. Sakit sekali melihat kamu melakukan kesalahan yang begitu fatal dalam hidupmu!” keluh Ani sambil ia terus memegangi dadanya yang terasa begitu sesak. Ia merasa begitu kebingungan harus menyelesaikan permasalahan ini dengan seperti apa. Ia harus menyiapkan rencana jika rencana awal tidak berhasil ia harus menjalan rencana berikutnya agar kehidupan putrinya tidak hancur. Bagaimanapun juga Gita adalah putri bungsunya yang sangat ia sayangi, jadi tidak sepantasnya ia terus membenci dan menyalahkan Gita untu hal yang tidak hanya dia yang melakukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD