LAYU
“Siapa bapak dari anak yang kamu kandung Git? Bilang sama Ibu!” teriak Ani wanita paruh baya dengan suaranya yang bergetar. Ia tidak menyangka anak bungsunya akan mencoreng nama baik keluarga dengan hamil di luar nikah. Selama ini ia selalu menyimpan harapan yang begitu besar kepada anak bungsunya tersebut agar Gita bisa menjadi seorang guru mengikuti jejak kakak perempuannya yang sudah menjadi seorang guru.
“Yuda bu,” jawab Gita dengan terbata-bata.
“Dimana rumahnya? Ayo kita kesana sekarang!” ajak Ani pada Gita.
“Gak usah Bu, Yuda dan keluarganya akan datang sore ini untuk melamar aku,” isak Gita dengan kepala menunduk kebawah.
“Oke, kita tunggu sampai Yuda datang dan kita cari jalan keluarnya secara bersama-sama,” ucap Ani sambil ia berlalu meninggalkan Gita sendirian di kamarnya.
Tubuhnya terasa begitu lemas, ia masih tidak percaya dengan apa yang telah di lakukan oleh putri bungsunya. Selama ini ia selalu mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan kesopanan, harga diri seorang wanita. lalu kenapa sekarang semuanya menjadi seperti ini? kenapa putri yang selama ini ia bangga-bangga kan akan melakukan hal serendah ini.
“Ibu …” teriak Sela kepada Ani yang hampir saja terjatuh.
“Ibu, tidak apa-apa?” tanya Sela kepada ibunya yang terlihat begitu pucat pasi, tatapannya penuh dengan kekecewaan.
“La … apa salah Ibu? Kenapa adik kamu melakukan hal serendah itu? Kenapa Gita merendahkan dirinya sendiri? Ibu tidak pernah mengajari kalian untuk menjadi w************n. Ibu selalu mengajari kalian tentang etika dan sopan santun sebagai seorang wanita,”
“Ibu … ibu tenang ya Bu. Ibu tenang dulu. Ibu tidak salah sama sekali, tetapi kami lah yang salah, karena kami sebagai seorang perempuan tidak bisa menjaga kehormatan kami. Aku sebagai seorang kakak juuga merasa sangat bersalah dengan apa yang telah dialami oleh Gita, karena aku tidak bisa membimbing Gita menjadi anak baik,” isak Sela yang merasa begitu sedih dan kecewa dengan apa yang telah di lakukan oleh Gita kepada keluarganya.
“La, mau ditaruh di mana muka Ibu? Ibu malu La, mempunyai anak perempuan yang hamil di luar nikah. Kenapa ini harus terjadi kepada kita La? Kenapa harus kita La? Apa salahnya keluarga kita?” keluh Ani yang merasa dunia terlalu kejam kepadanya.
“Ibu … pasti akan ada jalan keluarnya. Pacarnya Gita pasti bertangung jawab dengan apa yang terjadi kepada Gita. Ibu duduk dulu ya Bu, aku buatin teh anget dulu biar ibu lebih tenang,” ucap Sela
“Gak La … ibu gak mau minum teh, ibu hanya ingin mendapatkan kabar dari pacarnya Gita kalau dia mau bertangung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepada Gita La. Sebelum pacarnya Gita datang ke rumah kita, Ibu tidak akan bisa tenang La. Ibu hanya ingin kepastian dari pacarnya Gita,” tangis Ani pada bahu Sela.
Ia merasa begitu ketakutan kalau pacarnya Gita tidak ingin bertangung jawab, lalu kalau semua ketakutannya itu menjadi kenyataan, ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya kehidupan Gita yang jalan hidupnya masih panjang.
“Ibu … “ ucap Sela yang tidak bisa membentuk air matanya. Ia juga merasa takut dengan apa yang di ucapkan oleh Ibunya, karena di jaman sekarang, banyak pria yang hanya ingin menikmati saja tetapi tidak ingin bertangung jawab.
“Yuda … kamu dimana sih Yud? Kenapa kamu tidak menjawab panggilan suaraku? Yud … kamu dimana? Keluargaku udah nungguin kamu dari tadi pagi,” keluh Gita yang sampai sore hari belum mendapatkan kabar dari Yuda pria yang telah menghamilinya.
“Sela … ini udah sore kok pacarnya Gita belum datang ya Nduk? Ibu takut La, ibu takut kalau pria itu kabur.”
“Ibu tenang saja ya Bu, ibu tenang saja. aku yakin kok kalau Yuda pasti datang dan menikahi Gita.”
“Tapi ini udah sore La. La coba kamu tanya sama adik kamu. Tanya sama dia kapan Yuda datang.”
“Ya Bu,” ucap Sela sambil ia berlalu meninggalkan Ibunya dengan kekhawatiran yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata.
“Gita, Yuda udah sampai mana?” tanya Sela dengan nada suara yang sedikit ketus. Ia merasa begitu sakit hati dengan apa yang telah di lakukan oleh adiknya. Ia tidak menyangka adik yang selama ini ia kira akan terus menjaga martabatnya telah menghancurkannya dengan dalih suka sama suka.
“Mbak …” panggil Gita dengan suara yang bergetar. Mendengar hal itu membuat Sela menjadi sedikit overthinking.
“Kamu kenapa? jangan bilang Yuda gak jadi datang untuk menikahimu.”
“Mbak … dari tadi aku mencoba untuk menghubungi Yuda tapi gak ada balasan dari Yuda. Tapi aku yakin mbak, kalau Yuda tipe pria yang bertangung jawab. Jadi dia pasti bertangung jawab dengan apa yang telah ia lakukan kepadaku.”
“Bodoh! Kalau kaya gitu artinya dia bukan pria yang bertangung jawab Git! Dia pria b******k! Arghh …” sangah Sela yang merasa begitu kesal dengan Gita yang masih membela Yuda yang tidak kunjung datang untuk menikahinya.
“Mbak … aku pacarnya Yuda jadi aku tahu sifat aslinya Yuda itu seperti apa. Aku yakin kalau Yuda bakal bertangung jawab Mbak. Yuda sudah berjanji denganku Mbak. Aku mohon Mbak tunggu sebentar lagi, Yuda pasti datang,” jelas Gita dengan sesengukan.
“Git! Kalau dia benar-benar pria yang baik dan bertangung jawab, dia tidak akan melakukan hal sekeji ini kepadamu. Terus sekarang kalau dia tidak mau bertangung jawab dengan kehamilanmu bagaimana?” ucap Sela yang kemudian duduk di bibir kasur dengan pandangan yang kosong.
“Yuda pasti datang Mbak, Yuda pasti datang! Dia mencintaiku mbak,”
“Terserah lah Git. Aku pusing ngurusi permasalahanmu yang gak kunjung selesai. Kalau apa yang kita takutkan terjadi dan hal itu membuat Ibu dan Bapak jatuh sakit maka jangan harap kamu bisa tinggal disini dan memanggil kami adalah keluargamu,” hardik Sela sembari ia langsung pergi meninggalkan Gita yang terus menangis seja tadi pagi.
Saat berjalan menuju ke ruang tamu, Sela merasa bingung harus berkata apa kepada Ibunya. Ia merasa tidak tega melihat ibunya yang sudah menua harus merasakan rasa sedih yang begitu mendalam seperti ini.
Kulitnya yang sudah keriput, rambut yang sudah memutih membuat hati Sela terasa seperti teriris-iris. Seharusnya di umur yang sudah menginjak setengah abad lebih membuat kehidupan Ani menjadi lebih baik dan tenang, tetapi karena kesalahan yang di buat oleh adiknya membuat Ani harus merasakan rasa kesedihan yang begitu mendalam. Kesedihan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan datang padanya.
“Git … awas aja ya, kalau Ibu sampai jatuh sakit. Orang yang bakal aku benci adalah kamu!” kejam Sela dalam hati.