Kalang Kabut

1200 Words

Rendra mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia ulangi berulang kali, guna meredam emosi yang enggan menepi. Rendra memandangi daun pintu yang baru saja menutup, lantas beralih menatap kursi yang ada di hadapannya. Beberapa detik yang lalu, ibunya duduk di sana sembari melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. "Mama, kenapa seburuk itu menilai Ara?" gumam Rendra dalam kesendirian. Ia memegangi kepala sambil bertumpu di meja. Layar komputer ia biarkan menyala begitu saja, pun lembaran berkas yang masih menumpuk di depannya. Rendra butuh istirahat sejenak sebelum kembali memeras otak. Tak lama kemudian, pintu diketuk dari luar. Rendra menjawab dan menyuruhnya masuk, ternyata Beny yang datang. Lelaki itu baru saja menemui klien yang akan membeli hunian di Luxury. Tinggal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD