Ciara berjalan gontai dengan air mata yang kian berderai. Jarak ruangan Rendra dan lift rasanya lebih panjang dari sebelumnya. Dalam kesedihan ia merutuk, mengapa ayunan kaki tak segera membawanya ke tempat tujuan. Menyebalkan. Kehadiran Ciara mencuri perhatian para karyawan yang ada di lantai 4. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan. Selain menunduk, Ciara hanya sekali saja datang ke kantor. Datang mendampingi Rendra dalam suatu acara, juga tak pernah. Tidak heran kalau karyawan tidak mengenali sosoknya. Ciara masuk lift dan menuju lantai satu, beruntung kala itu tak ada yang karyawan yang masuk bersamanya. Di dalam lift Ciara menggigit bibir, sembari menyeka air mata yang berjatuhan tanpa tahu malu. "Aku memang gila, tidak pantas mendapatkan Kak Rendra. Tapi ... kenapa dia bersikeras m

