Sandya Resto dan Wanita Menawan

1508 Words
Ciara mengernyitkan kening. Pasalnya, Rendra menggantungkan kalimat begitu saja. Rendra baru bicara, setelah Ciara menanyakan maksudnya. "Aku ingin ... mengajakmu keluar," kata Rendra dengan ragu. Ciara menunduk. Rasanya enggan mengiakan ajakan Rendra, tetapi tak enak hati juga untuk menolak. "Apa kamu keberatan?" tanya Rendra. Ciara terkesiap dan langsung menggeleng, "enggak, bukan begitu. Mmm, aku mau, tapi ... siap-siap dulu." "Iya, tidak apa-apa. Aku tunggu sambil bicara sama Tante Ratna, tentang semalam." Rendra tersenyum lebar. "Aku udah ngomong sama Mama," sahut Ciara. "Aku pun harus bicara, Ara." Belum sempat Ciara menjawab ucapan Rendra, tiba-tiba Ratna datang mendekati mereka. Sembari meletakkan secangkir kopi, Ratna duduk di sebelah Ciara. "Silakan diminum, Nak," kata Ratna kepada Rendra. "Terima kasih, Tante, harusnya tidak usah repot-repot." "Nggak repot, Rendra. Hanya kopi, tidak perlu sungkan," sahut Ratna. Usai berbasa-basi, Rendra mengutarakan maksud kedatangannya, yakni mengajak Ciara pergi. Selain itu, ia juga menyampaikan keputusan Ciara. Ratna menanggapinya dengan senang, ia lega melihat niat tulus Rendra. Ia berharap pernikahan yang Rendra rencanakan menjadi awal kebahagiaan untuk anaknya. Memupus mimpi buruk yang sempat mendera. Saat mereka berbincang perihal pernikahan, Ciara beranjak dan pergi ke kamar. "Besok malam Mama dan Papa akan ke sini, Tante. Melamar Ara secara resmi, serta membicarakan hari pernikahan kami," kata Rendra setelah Ciara menghilang di balik dinding. "Iya, Nak. Semoga semuanya berjalan lancar, ya." "Amin, saya juga berharap demikian, Tante," jawab Rendra. Ratna tersenyum, "semoga kamu bisa membuat Ciara jatuh cinta, Rendra. Tante berharap dia bahagia bersama kamu," batinnya. Rendra menunduk, menyembunyikan senyuman yang amat lebar. Tinggal seatap dengan Ciara, menjalin hubungan dalam ikatan halal, ahh betapa sempurna hidupnya kelak. Kendati perasaan Ciara masih untuk orang lain, tetapi ia yakin, tiba saatnya hati itu akan luluh dan berlabuh padanya. Cinta bisa datang dari kebiasaan, seperti itulah prinsip yang terselip dalam benak Rendra. Meskipun selama ini tak pernah berani mengungkapkan rasa, tetapi sekarang ia dan Ciara akan menikah. Dibandingkan Rifky, ia selangkah lebih dekat dengan kemenangan. Dengan hidup bersama, ia akan menepis rasa gugupnya dan memperjuangkan cintanya. Pasti bisa. Tak lama kemudian, Ciara kembali ke ruang tamu. Meskipun sederhana, tetapi Rendra terpesona olehnya. Tubuh sintal dibalut gaun selutut warna biru muda, dengan hiasan renda di bagian pinggang. Kaki jenjangnya dihiasi sepatu hak tinggi. Rambutnya dibiarkan tergerai, meriap menutupi bahu. Wajahnya dipoles mekap tipis, tampak ayu dan natural. "Aku ... sudah." Ciara bicara sambil meremas tali tas yang menggantung di pundak. "Rendra, jangan pulang terlalu malam," kata Ratna sebelum Rendra berpamitan. "Iya, Tante. Saya usahakan pulang lebih awal. Terima kasih sudah memberikan izin." Rendra mengangguk. "Iya, Tante percaya sama kamu." Lantas Rendra beranjak dan berpamitan kepada Ratna, Ciara pun melakukan hal yang sama. Kemudian mereka berjalan keluar, dan Ratna mengantarnya hingga ke ambang pintu. "Hati-hati ya, Nak." Ratna mengusap pundak Ciara. "Ndra, jaga Ciara, ya," sambungnya sebelum mereka masuk ke mobil. "Iya, Tante." "Iya, Ma." Ratna tak beranjak hingga mobil menghilang di balik pintu gerbang. Cara Rendra memperlakukan Ciara dengan lembut, tak luput dari pandangannya. Membuat Ratna makin yakin bahwa Rendra adalah lelaki yang tepat untuk Ciara. "Selain keluarga kita dekat, sikapmu pun amat baik. Tante merestuimu, Rendra," ucap Ratna. _________ Mobil yang dikendarai Rendra berhenti di depan pusat perbelanjaan. Ciara merasa heran, lantas menoleh dengan kening yang mengerut. "Kenapa berhenti di sini?" Kali ini Ciara yang berinisiatif bertanya. Setelah berulang kali sekadar menyahut pertanyaan Rendra sepatah-dua patah. "Sebenarnya ... aku ingin mengajakmu membeli cincin," jawab Rendra dengan senyum manisnya. "Secepat ini?" "Ara, banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah. Jika kita mempersiapkannya dalam waktu dekat, aku khawatir kamu lelah. Sekarang ataupun nanti, tidak ada bedanya, 'kan?" Rendra bicara sambil menggenggam tangan Ciara. "Apakah ... kamu menginginkan pesta besar, Kak?" Ciara kembali bertanya. "Menurutmu?" "Kenapa?" bisik Ciara. "Apanya yang kenapa?" Rendra tak paham dengan maksud Ciara. "Pernikahan ini 'kan___" "Ara, aku tulus mencintaimu. Aku berharap ini pernikahan pertama dan terakhirku," pungkas Rendra. "Aku, aku___" "Aku tahu kamu belum mencintaiku. Namun ... banyak hal yang harus kamu pertimbangkan, Ara. Orang tua kita pembisnis, banyak yang mengenal mereka. Jika kita menikah dengan cara sederhana, bukankah itu mengundang kecurigaan? Maaf, aku tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi ... coba pikirkanlah," terang Rendra. Kali ini diiringi tatapan lekat. Ciara memejam sejenak dan mencerna penjelasan Rendra. Tidak salah sebenarnya, hanya saja dirinya yang keberatan bila mengadakan pesta besar. Pernikahan itu bukan murni keinginannya, jadi mengapa diistimewakan? "Mungkin ... ini memang terlalu cepat, tapi ... bukankah lebih cepat lebih baik?" Rendra kembali bicara, dan hal itu membuat Ciara membuka mata. "Baiklah," jawab Ciara. "Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik, Ara." "Iya." Ciara mengangguk dan berusaha tersenyum. Detik berikutnya, mereka keluar dari mobil dan melangkah menuju Diamond—toko perhiasan langgangan keluarga Mahardika. Di sana, mereka melihat-lihat bermacam cincin yang ditata dalam kotak kaca. Suatu saat nanti, aku akan pulang dan membawa cincin berhiaskan permata biru safir. Kendati kamu masih kuliah dan mengejar cita-cita, tapi aku ingin dunia tahu bahwa kamu adalah milikku. Hanya aku yang boleh membawamu ke pelaminan. Suara Rifky terngiang jelas dalam ingatan Ciara. Kala itu, mereka sedang berada di bandara. Rifky hendak terbang ke negeri orang, dan sebelum pergi kekasihnya itu mengucap janji manis untuknya. Memang benar usia Rifky masih remaja, tetapi pola pikirnya amat bijaksana. Tak sekali pun ia menyakiti Ciara, senantiasa menjaga dan memberi harapan besar. "Ara, bagaimana dengan ini? Permatanya biru safir, sepertinya cocok dengan jarimu." Ciara terkesiap, tak menduga kalau pilihan Rendra akan sama dengan cincin yang dijanjikan Rifky. Mengapa bisa? Cukup lama Ciara menatap cincin yang disodorkan padanya. Bibirnya mengatup rapat, sekadar pikiran yang terus berkelana. Ia berandai-andai lelaki di hadapannya bukanlah Rendra, melainkan Rifky Antoni. "Ara." "Mmm, maaf. Itu ... bagus," kata Ciara. "Kamu suka?" tanya Rendra yang kemudian ditanggapi dengan anggukan. "Pilihan yang bagus. Cincin ini adalah hasil karya Emilea Zeen, desainer besar di Kota Paris. Ini adalah barang termahal di toko kami," terang karyawan. "Paling mahal?" Ciara menatap karyawan itu. "Kalau begitu___" "Tidak apa-apa. Selama kamu suka, itu bukan masalah, Ara," pungkas Rendra. "Tapi, Kak___" "Percayalah padaku, itu bukan masalah." Ciara menghela napas panjang. Ia merasa tak pantas mendapatkan semua itu. Pasalnya, tak ada rasa untuk Rendra. Jika Renda terus mengistimewakannya, apakah itu adil? Usai melakukan pembayaran, Rendra mengajak Ciara ke butik. Menawarkan baju, gaun, dan juga perlangkapan lain. Namun, Ciara selalu menolak, tak ada sehelai benang pun yang ia beli. ___________ Sang surya makin condong ke arah barat. Sinar jingganya menyemburat indah di batas cakrawala. Rendra dan Ciara masih duduk bersama di depan kemudi. Mereka baru saja keluar dari pusat perbelanjaan dan kini meluncur di antara lampu-lampu kota. Ciara bergeming, begitu halnya dengan Rendra. Lelaki itu berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Ada niat yang sedari tadi menyelip dalam benak, tetapi berat baginya untuk mengutarakan. Pasalnya, berulang kali Ciara menolak ajakan yang serupa. "Ngomong lagi nggak, ya?" Rendra membatin sambil melirik Ciara. "Ada apa?" tanya Ciara yang menyadari kegelisahan Rendra. "Sebenarnya ... aku___" "Katakan saja, Kak." Rendra mengambil napas dalam-dalam, "sebenarnya aku ingin mengajakmu melihat senja. Tempatnya nggak jauh, sekalian nanti kita makan di sana. Sejak tadi belum ada apa pun yang masuk dalam perutmu, Ara." "Baiklah," jawab Ciara tanpa berpikir panjang. "Aku senang akhirnya kamu mau, Ara. Jujur ... tadi aku sangat khawatir." Rendra tersenyum lebar. "Aku tidak apa-apa, Kak. Tadi memang belum lapar," sahut Ciara. "Syukurlah kalau begitu. Aku takut kamu sakit, Ara," jawab Rendra. "Tidak, Kak." Menit berikutnya, Rendra membelokkan mobil dan menuju Sandya Resto—restoran besar yang didesain khusus untuk menikmati senja. Dengan posisi yang tinggi dan menghadap ke barat, pengunjung leluasa menatap surya yang kembali ke singgasana. Karena keunikannya, banyak insan yang ketagihan bertandang ke tempat itu. Tak jarang mereka terlebih dahulu memesan via online agar tidak kehabisan tempat. Namun, tidak demikian bagi Rendra. Pemilik Sandya Resto adalah sahabatnya sendiri, kapan pun ia datang pasti disediakan tempat terbaik. Tak lama kemudian, Rendra menghentikan mobilnya di halaman restoran. Lantas menggenggam tangan Ciara dan mengajaknya keluar menyusuri taman bunga yang bernuansa jingga. "Aku belum pernah ke tempat ini. Indah." Ciara berucap sambil menatap ke sekeliling. "Menatap kota dari ketinggian memang indah. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke tempat yang lebih tinggi dari ini," ujar Rendra. "Iya." Ciara mengangguk. Selama ini, hanya pantai yang menjadi tempat kesukaannya. Tak pernah mengira bila ada tempat lain yang tak kalah indahnya. "Ayo masuk," ajak Rendra. Lalu mereka berjalan dan menaiki anak tangga. Sang pemilik sengaja menggunakan cara manual untuk menambah kesan natural. Baru saja tiba di ruangan, Rendra dan Ciara langsung disambut oleh beberapa karyawan. Rendra berbasa-basi dan menanyakan keberadaan Arsen, ternyata sahabatnya itu sedang keluar. Rendra mengajak Ciara duduk di sudut ruangan. Tempat kesukaan yang selama ini ia nikmati seorang diri. Kini, disaksikan bola jingga yang hampir tenggelam di balik kota, ia membawa sang pemilik hati yang semula sekadar bayangan. "Sangat indah," gumam Ciara tanpa mengalihkan pandangan. Ia sangat betah menikmati keanggunan senja. Menenangkan. "Kalau kamu suka, nanti kita datang lagi. Sering pun tak apa, aku senang bisa menemanimu," kata Rendra. Belum sempat Ciara menjawab, tiba-tiba ada wanita yang mengusik ketenangannya. Penampilannya glamour, sangat serasi dengan aroma tubuh yang wangi. Parasnya menawan, menebar pesona yang tiada cela. "Rendra, apa kabar?" sapa wanita itu. Seolah tak melihat keberadaan Ciara, ia menatap Rendra dengan binar kebahagiaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD