"Evalina," gumam Rendra.
Matanya menatap risih ke arah wanita yang sekarang duduk di sampingnya. Evalina Alexandra, model papan atas yang dulu sempat menjadi teman SMA-nya. Sedari dulu Rendra tahu bahwa wanita itu amat menyukainya. Namun, tak sedikit pun hatinya terketuk. Kendati cantik, Evalina memiliki kepribadian yang jauh dari kriterianya. Wanita itu menyukai kehidupan bebas, mengutamakan penampilan dan mengenyampingkan moral.
"Nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, Ren. Kebetulan aku lagi sendiri, jadi ... bisa barengan sama kamu." Evalina berkata sembari mengerling genit.
Tangannya terulur begitu saja dan menggenggam lengan Rendra. Namun, lelaki itu menepisnya dengan cepat.
"Jaga sikapmu, Ev!" kata Rendra. "Aku tidak sendiri, ada calon istri yang datang bersamaku." Rendra menunjuk ke arah Ciara.
Evalina menoleh seketika. Lantas memicing kala mendapati sosok Ciara. Ia menatap cukup lama, seolah merekam wujud yang menjelma di hadapannya.
"Dia, calon istrimu?" tanya Evalina tanpa mengalihkan pandangan.
"Iya. Sebentar lagi aku akan menikah dengannya," sahut Rendra dengan tegas.
Bukannya menjawab, Evalina justru tertawa renyah. Sembari memainkan rambutnya yang bergelombang, ia menatap Rendra dan Ciara secara bergantian.
"Kamu tampan dan mapan, Ndra. Yakin, menikah dengan gadis kecil seperti dia? Cantik sih, tapi___"
"Ev, kamu tidak berhak menilai calon istriku. Aku___"
"Aku tidak bermaksud menilai. Hanya saja ... aku merasa heran. Kamu sudah kepala tiga, Ndra, bisa-bisanya memilih remaja seperti dia. Apa wanita dewasa di negeri ini sudah habis?" Evalina makin tertawa. "Asal kamu tahu ya, Ndra, kebanyakan ... rubah licik itu bersembunyi dalam wajah kecil dan lugu. Dengan selisih umur yang begitu banyak, yakin dia memilihmu karena cinta? Kamu tidak curiga dia hanya menginginkan harta, atau ... sekedar mencari status. Kali aja sudah hamil dan tidak ada yang bertanggung jawab," sambungnya dengan nada merendahkan.
Sebelum Rendra angkat bicara, Ciara terlebih dahulu beranjak dan memukul meja. Mendengar kata hamil, emosinya tak dapat dibendung lagi. Ia menatap Evalina dengan tajam, tangannya pula mengepal dan siap mendarat di wajah lawan.
"Jaga bicaramu!" bentak Ciara.
"Aku hanya berpendapat dan tidak benar-benar menuduhmu. Tapi ... melihat reaksimu yang seperti ini, aku jadi curiga. Jangan-jangan ... ucapanku tadi ada benarnya." Evalina menyahut sambil melipat tangan di d**a.
"Cukup, Ev." Rendra turut beranjak. "Sudah berulang kali kubilang, jangan mengusikku! Aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi soal hati tidak bisa dipaksakan. Aku lebih senang kalau hubungan kita tetap teman, tolong mengertilah," sambungnya.
"Ya, ya, ya, aku mengerti. Tapi, Ndra, apa yang kamu lihat dari dia. Kalaupun tidak menikah denganku, setidaknya carilah wanita yang benar-benar pantas," ucap Evalina yang lantas membuat Ciara naik pitam.
"Jadi menurutmu aku tidak pantas?"
"Kurasa kamu sudah tahu apa jawabannya," jawab Evalina, sengaja membuat Ciara kesal.
"Boleh saja kamu berpendapat demikian, tapi ada satu hal yang harus kamu ingat. Apa pun penilaianmu, itu tidak ada artinya bagi Kak Rendra. Dalam hidupnya, kamu itu nggak penting. Jadi ... sudah pasti ucapanmu serupa angin lalu." Ciara berkata dengan nada sinis.
Entah mengapa ia seberani itu. Tak rela harga dirinya diusik atau mungkin ada alasan lain yang berhubungan dengan hati.
"Kamu___"
"Ev, cukup!" pungkas Rendra dengan bentakan. "Dia calon istriku, tak kubiarkan siapa pun menyakitinya, termasuk ditimu."
"Ndra___"
"Sorry, Ev." Rendra beralih menatap Ciara. "Ara, ayo pulang."
Ciara tersenyum dan mengiakan ajakan Rendra. Lantas mereka mengayunkan kaki dan hendak pergi. Namun, baru selangkah saja mereka berjalan, tiba-tiba Evalina menahan lengan Rendra.
"Rendra, tunggu!" teriak Evalina.
"Apa lagi? Aku tidak punya banyak waktu, Ev," jawab Rendra.
"Aku yang lebih dulu mengenalmu, aku pula yang lebih tulus mencintaimu. Kenapa kamu malah seperti ini, Ndra? Kurang apa aku?"
"Ada banyak alasan yang membuatku tidak bisa menerimamu. Aku yakin kamu paham akan hal itu, Ev," terang Rendra.
"Tapi, Ndra, aku___"
"Maaf, Ev, aku harus pergi." Rendra melepaskan genggaman Evalina dan kembali melanjutkan langkahnya
Evalina bergeming di tempat. Sudah tak ada sempat untuk menahan Rendra. Alhasil, ia sekadar menatap punggung mereka dengan nanar. Perlahan, sudut bibirnya membentuk senyuman licik. Entah rencana apa yang disusun dalam otaknya.
Sementara itu, Ciara dan Rendra bergegas menuju mobil. Ciara langsung masuk, tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Ara, maaf ya. Aku tidak tahu kalau ada Evalina di sana. Aku pikir mencari tempat indah, tapi ... malah kacau. Jangan didengar ya, apa yang dia katakan, dari dulu mulutnya memang pedas. Yang aku cintai hanya kamu, Ara. Tidak peduli ada berapa banyak wanita, dalam hatiku hanya ada namamu," ucap Rendra dengan panjang lebar.
"Iya." Ciara menjawab singkat.
Rendra menghela napas panjang, lantas mengembuskanya perlahan. Ia tak bisa meraba apa yang dirasakan Ciara. Sekilas seperti orang cemburu, sekilas pula masa-bodoh. Ahh, betap sulit memahami hatinya.
__________
Bulan purnama menggantung indah di angkasa. Cahaya jingganya mewarnai mega-mega yang berarak di sekitar. Bintang pula bertaburan, turut menghiasi angkasa raya yang membentang. Angin berembus pelan, menelusup ke dalam kamar yang jendelanya terbuka lebar. Sayang, sang empunya tak memedulikan. Lebih memilih mematung daripada menikmati keindahan malam.
Ciara Maharani, remaja malang yang nyaris melepaskan masa lajang. Kini, gadis itu sedang menatap bayangannya di cermin. Dengan sapuan mekap dan balutan gaun merah maroon, parasnya tampak elok menawan. Namun, tak ada sedikit pun senyuman yang terukir di bibirnya. Senantiasa mengatup rapat.
Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dari luar. Ternyata bibi pelayan yang datang. Ia memberitahu Ciara bahwa Rendra dan orang tuanya sudah tiba. Malam ini, mereka sengaja datang untuk membahas pesta pernikahan.
Berkali-kali Ciara memejam dan mengambil napas dalam-dalam. Berharap sebagian bebannya menguar dan hatinya lebih tenang. Setelah cukup lama menenangkan diri, Ciara melangkah keluar. Dengan perlahan ia berjalan menuju ruang tamu. Menemui calon suami dan calon mertua.
"Selamat malam, Om, Tante." Ciara menyapa sambil menyalami orang tua Rendra—Angga dan Maria.
"Selamat malam, Nak. Cantik sekali." Maria menepuk pipi Ciara dengan pelan.
"Terima kasih, Tante."
"Harusnya jangan om dan tante, Nak. Panggil mama dan papa saja, toh sebentar lagi kita menjadi keluarga," timpal Angga.
Semua yang ada di sana menanggapinya dengan antusias, kecuali Ciara. Ia sekadar tersenyum sekilas, lalu duduk di sebelah ibunya.
"Yon, sebelum kita berbincang banyak. Mari kita bahas dulu perihal pernikahan. Rendra dan Ciara sudah siap, alangkah baiknya bila dilangsungkan dalam waktu dekat," kata Angga.
"Aku sangat setuju. Dengan kondisi yang seperti ini, aku pun tak ingin mengulur-ulur waktu," jawab Dion.
"Tapi, Mas, Ciara 'kan belum cukup umur. Masih kurang satu tahun. Apa bisa diurus dalam waktu cepat?" tanya Ratna dengan sedikit cemas.
"Soal itu, biar saya yang membantu mengurusnya, Tante. Mmm ... Mama," sahut Rendra.
"Itu bagus. Nanti Papa juga akan turut membantu." Dion beralih menatap Angga. "Lalu ... kapan rencanamu?"
"Bagaimana kalau akhir bulan ini, jadi ... tiga minggu dari sekarang."
Jawaban Angga membuat Ciara tersentak. Tiga minggu adalah waktu yang singkat. Tidak akan cukup untuk menata hati yang masih terserak.
Lantas Ciara melirik Rendra, lelaki itu mengukir senyum yang amat lebar. Seolah tak ada beban, justru binar kebahagiaan yang terpancarkan.
"Kak Rendra, secepat inikah aku memasrahkan hidupku padamu?" batin Ciara.
Ia menggigit bibir kala membayangkan kehidupan rumah tangga yang hampa. Tanpa rasa dan pasti menyimpan luka. Ahh, menikah. Pilihan terbaik di antara pilihan yang buruk.