Detik-detik Pernikahan

1263 Words
Sentuhan lembut di bahu, menyadarkan Ciara dari lamunan. Menarik kembali kesadaran yang sempat mengambang. Dengan gemetaran, ia menoleh dan menatap ibunya. Sekian detik tetap bergeming, kendati sang ibu tersenyum dan menatap lekat. "Ciara, kamu setuju 'kan, Nak?" tanya Ratna. Lidah Ciara masih kelu. Berat rasanya menjawab iya, tetapi tak mungkin juga menjawab tidak. "Ciara." Ratna kembali memanggil. "Aku ... setuju, Ma. Kapan pun, aku siap," jawab Ciara dengan nada yang tertahan. Dalam hati ia menjerit, meratapi takdir hidup yang amat pahit. Mimpi dan cintanya kandas, tinggal pernikahan hampa yang siap mendekap. Di tengah riuh berbincangan, ia merasa kosong dan tersisihkan. Ukiran tawa yang mereka punya, tak ada dalam dirinya. Cahaya hidup telah padam, seiring mahkota yang ternista. "Pada hakikatnya, hidupku sudah hancur sejak malam itu. Tak peduli seperti apa pernikahan ini, aku harus melakukannya. Kendati diri sendiri tak bahagia, tapi setidaknya anakku yang bahagia. Dengan menikah, dia akan punya ayah dan tidak terhina," batin Ciara. Perbincangan terus berlanjut dan sesekali diselingi gelak tawa. Ciara pun masih di sana, walau tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Dari hasil pembahasan, pernikahan akan dilangsungkan di rumah Ciara. Dekor, undangan, dan lain sebagainya akan dipersiapkan mulai lusa. Termasuk fitting gaun dan foto pre wedding. Usai membahas persiapan pernikahan, mereka membahas perihal bisnis. Lagi-lagi Ciara hanya menjadi pendengar. Hal itu terus berlanjut, hingga jarum jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Tepat saat itu, Rendra dan orang tuanya pamit pulang. Lantas Ciara bergegas ke kamar dan merenungi nasibnya yang malang. ____________ Detik waktu terus berdetak. Menit, jam, hari, dan minggu terus berlalu. Perlahan tapi pasti, waktu mengantar Ciara pada hari yang tak pernah dinanti, yakni hari pernikahan. Undangan sudah disebar, dekorasi sudah dipasang, jamuan pun sudah disediakan sebagian. Esok, ia dan Rendra akan mengikat janji dengan kalimat suci. Setelah sidang dua kali, akhirnya ia mendapatkan izin untuk menikah. Malam ini adalah malam terakhirnya menyandang status lajang. Ciara menunduk dan menatap foto dirinya bersama Rifky. Ia usap dan ia dekap, sebelum dibuang jauh. Mulai besok ia menyandang status istri. Tidak etis bila menyimpan foto lelaki lain, walau sebenarnya bayang lelaki itu terpatri sempurna dalam hati. "Kak, aku masih berharap pada keajaiban. Aku ingin kamu pulang, paling lambat sedetik sebelum aku ijab kabul. Aku ingin kamu yang datang menikahiku," bisik Ciara dengan mata yang berkaca-kaca. Lambat laun, ia dekap foto itu dengan erat. Lalu memejam dan membayangkan sosok Rifky menjelma dalam nyata. Perasaan hangat yang pernah ia punya, menjalar dalam sanubari. Kendati sekadar ilusi, tetapi mampu menenangkan hati yang hampir mati. Sedalam itu cinta, securam itu luka. Dunia, betapa sangat kejam padanya. "Nak, Mama melakukan semua ini untukmu. Tak rela melihatmu terhina, Mama ingin kamu tumbuh seperti anak yang lainnya. Tolong, bantu Mama menguatkan hati." Ciara berbisik sambil mengusap perutnya yang terbungkus piyama. Pada saat yang sama, di tempat yang berbeda. Seorang lelaki berdiri di balkon kamar sembari bertumpu pada terali. Matanya menatap lampu-lampu kota yang berpendar di kejauhan. Amat elok, laksana pantulan bintang yang menghiasi langit tinggi. Namun, bukan keindahan kota yang membuat bibirnya mengulum senyum, melainkan sketsa wajah yang senantiasa menari dalam ruang rindu. Ciara Maharani, gadis remaja yang sedari dulu bertahta di hatinya. Walau dulu tak ada keberanian untuk mengejar, tetapi kini gadis itu dalam genggaman. Menikah dengan Ciara adalah satu hal yang tak pernah ia bayangkan. Tak berani bermimpi tinggi karena gadis itu terlampau istimewa baginya. Namun, takdir Tuhan siapa yang tahu. Dengan serangkaian kejadian, akhirnya ia berhasil menggiring Ciara ke pelaminan. Jika tak ada campur tangan Tuhan, mana bisa ia melakukannya? "Tak peduli sebesar apa perasaanmu untuk Rifky, Ara. Aku akan berusaha keras memenangkan hatimu. Pernikahan ini, tak kubiarkan sia-sia. Aku akan membuatmu bahagia ... dengan perasaanmu yang baru," ucap Rendra pada angin yang menerpa wajahnya. Kemudian ia menunduk, menatap beberapa insan yang berlalu lalang di halaman rumahnya. Mereka sibuk mempersiapkan seserahan untuk esok hari. Usai mengamati mereka, Rendra berpaling dan beranjak menuju kamar. Sebelum beristirahat, ia terlebih dahulu melihat kotak kaca yang berisi perhiasan. Kalung, gelang, anting, dan cincin. Total keseluruhan mencapai 50 gram, itulah yang akan dijadikan mahar untuk Ciara. "Semoga kamu menyukainya, Ara." Rendra berkata sambil mengusap-usap tutupnya Setelah cukup lama bermonolog, Rendra melangkah menaiki ranjang dan berbaring di sana. Ia tak langsung tidur, melainkan menatap langit-langit kamar sambil membayangkan esok hari. Pikiran Rendra terus berkelana, menjelajah imajinasi sampai rasa kantuk menghampiri. _________________ Paras wajah ayu menawan, molek bak boneka berjalan. Postur tubuh yang ideal dibungkus gaun putih panjang dengan taburan permata. Rambut hitam nan panjang bersembunyi di balik kerudung putih berenda. Ujungnya menjuntai dan nyaris menyentuh lutut. Ditata sedemikian rupa dan dipadukan dengan rangkaian bunga melati. Sangat cantik. Terlebih lagi ada mahkota kecil yang menjadi sentuhan terakhir. Dengan hiasan permata warna biru safir, tampak serasi dengan bola matanya yang dipasang lensa warna senada. Cukup lama Ciara mengamati pantulan dirinya di cermin. Sosok yang terlihat, seolah bukan dirinya. Amat cantik, laksana putri yang baru turun dari singgasana. Namun, tak ada gurat ceria di wajahnya, justru mata sayu dan raut lesu. "Bagaimana, Mbak?" tanya MUA. "Bagus." Ciara menjawab singkat. "Kalau ada yang kurang pas, biar saya benahi." "Tidak." Ciara menggeleng. "Yang kurang pas hatiku, kamu tidak akan bisa membenahinya," sambungnya dalam hati. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk dari luar. Ternyata Ratna yang memanggil. Katanya, Rendra beserta keluarganya sudah tiba. Ciara mengehela napas panjang, lalu melangkah keluar dan menemui ibunya. Sang MUA membantunya dari belakang. "Wah, cantik sekali anak mama." Ratna memuji sembari merangkul anaknya. "Iya, Ma." "Sayang." Ratna melepaskan pelukan dan menggenggam kedua bahu Ciara. "Ada apa, Ma?" tanya Ciara. "Kamu ... masih nggak siap ya, Nak?" Ratna sedikit terbata. "Siap atau tidak, aku harus memilih siap, Ma. Dia makin membesar dan ... Kak Rifky tidak pulang." Ciara menjawab sambil mengusap perutnya. "Rendra lelaki yang baik, pasti kamu bisa jatuh cinta padanya, Nak," kata Ratna. "Semoga saja, Ma. Ya sudah, ayo turun," ajak Ciara, sengaja mengalihkan topik perbincangan. Ratna tak menolak, turut turun dan membimbing Ciara hingga ke lantai bawah. Usai menuruni anak tangga, mereka langsung bergabung di ruang tengah. Ciara menyapa Rendra dan mertuanya. Lantas duduk dan menanti keajaiban yang mungkin saja datang. "Cantik," gumam Rendra tepat di dekat Ciara. "Terima kasih." Ciara menunduk dan menangkan detak jantung yang tiba-tiba tak karuan. Saat ini, jarum jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Kedua mempelai akan melakukan ijab kabul. Setelah itu melangsungkan resepsi bersama saudara dan kerabat dekat. Sedangkan nanti malam, pesta besar yang sesungguhnya akan digelar. Kolega bisnis, teman dekat, rekan, bawahan, tetangga, semua diundang demi menyaksikan hari bahagia. Tak lama kemudian, penghulu datang dan duduk di depan meja kecil. Dion menyambutnya dan menyuruh minum terlebih dahulu. Melihat sosok penghulu, batin Ciara makin menjerit. Peluang asa tak seberapa, nyaris tak ada keajaiban untuk mempertemukannya dengan Rifky Antoni. "Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh." Penghulu mulai mengucap salam. "Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarrakatuh," jawab mereka serempak. Lantas suasana kembali hening karena masing-masing diam dan menunggu penghulu bicara "Syukur alhamdulillah, kita masih diberi nikmat sehat, sehingga dapat hadir dalam acara ini. Kehadhirat Allah Swt. putra-putri kita dapat melangkah dan memulai ibadah panjang. Semoga pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir. Senantiasa sakinah mawaddah warahmah, hingga akhir hayat nanti. Mari ucapkan basmallah bersama-sama, sebelum melangsungkan ijab kabul." Penghulu dan yang lainnya mengucap basmallah dan shalawat. Kemudian, penghulu menjabat tangan Dion karena pria itu memilih wakil dalam menikahkan anaknya. Setelah itu, ia dipersilakan undur diri dan penghulu mulai menjabat tangan Rendra. "Sudah siap?" tanya penghulu. "Siap, Pak." Rendra menjawab tegas. "Aku benar-benar menikah," batin Ciara dengan mata yang terpejam. "Saya nikahkan engkau Karendra Mahardika Bin Angga Mahardika degan Ciara Maharani Binti___" "Tunggu!" teriak seseorang dengan lantang. Ciara membuka mata seketika. Jantungnya berdetak cepat, seolah meloncat dari tempatnya. Mungkinkah keajaiban itu benar-benar datang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD