Sah

1150 Words
"Maaf, saya lancang. Tapi ... mempelainya belum ditutup kerudung. Setahu saya, setiap ijab kabul ada kerudung putih yang menutupi kepala mempelai," ucap seorang pria yang ikut hadir di sana. "Ya Allah, kenapa aku bisa lupa. Padahal sudah kusiapkan di kamar. Sebentar ya, Pak, saya ambilkan dulu kerudungnya." Ratna menepuk jidatnya sendiri. Lalu beranjak dan menuju ke kamar. "Iya, saya tunggu. Maaf, tadi saya juga tidak menyadarinya," sahut penghulu. Ciara mengehela napas panjang. Sempat kecewa karena dalam khayalannya Rifky yang berteriak. "Dia di London dan hilang kabar sejak bulan lalu. Mana mungkin hadir di sini," batin Ciara. Tak lama kemudian, Ratna datang sambil membawa kerudung putih panjang. Lalu menutupkannya di atas kepala Rendra dan Ciara. Setelah itu, ia duduk di tempat semula. "Kita ulangi ya, Mas," kata penghulu. Rendra mengangguk dan mengulurkan tangan. Penghulu menjabatnya dan ijab kabul kembali dilangsungkan. "Saya nikahkan engkau Karendra Mahardika Bin Angga Mahardika dengan Ciara Maharani Binti Dion Syahputra dengan mas kawin lima puluh gram emas dibayar tunai." "Saya terima nikahnya Ciara Maharani Binti Dion Syahputra dengan mas kawin lima puluh gram emas dibayar tunai." "Bagaimana, Saksi, sah?" "Sah!" Teriakan para saksi beriringan dengan tetesan air mata Ciara. Hirap sudah asa untuk hidup bersama Rifky. Lelaki impiannya tak datang dan tetap Rendra yang menikahinya. "Ara, Sayang," panggil Rendra. Ciara mendongak dan mendapati tangan Rendra terulur dihadapannya. Lalu Ciara meraih dan menciumnya. "Kak Rendra, suamiku," batin Ciara ketika bibirnya menempel pada punggung tangan Rendra. Sebelum Ciara mendongak, Rendra menunduk dan meraih tengkuk istrinya. Lantas mencium puncak kepalanya dan melafazkan doa. "Allahumma inni as 'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." Ciara mengerjap cepat, menahan buliran bening yang kali ini menggenang lebih banyak. Doa yang Rendra ucapkan menelusup ke dalam relung hati. Menghadirkan rasa haru yang bercampur pilu. "Kenapa menangis?" Rendra bertanya sembari meraih dagu Ciara. "Aku ... terharu," jawab Ciara dengan pelan. "Syukurlah kalau ini air mata bahagia. Semoga ke depannya, hadirku bisa membuat bibir ini senantiasa tersenyum." Rendra menyeka air mata Ciara dengan lembut. Ciara tak menanggapi. Ia bergelut dengan perasaan yang tiba-tiba bergejolak. Usapan Rendra di kulit wajah, yang kemudian berakhir di sudut bibir, menghadirkan rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuh. Mengapa? Ada apa dengan dirinya? Tanpa dipinta, bibirnya mengulum senyum. Manik mata pula menatap bayangan diri yang terpantul dalam netra suami. Ciara tak kuasa mengakhirinya, alhasil mereka beradu pandang dalam waktu lama. Netra Rendra, seolah menyimpan sembrani yang menarik Ciara untuk menyelam lebih dalam lagi. Siapa sejatinya lelaki itu? "Sayang, kemarikan tanganmu. Biar kulingkarkan cincin ini di jarimu." Sontak, Ciara membuang pandangan. Seakan tersadar dari kesalahan yang amat fatal. Dengan gugup, Ciara menyodorkan tangannya dan membiarkan sang suami memasangkan cincin pernikahan. "Ini adalah bukti cintaku, Sayang. Selama aku tidak ada, biarlah ia yang menemani setiap detikmu," ucap Rendra. Ciara makin salah tingkah. Hatinya berdebar, jantung pula berdetak melebihi batas normal. Tak ingin terlarut dalam kegugupan, Ciara berniat menarik tangannya. Namun, belum sempat ia melakukannya, Rendra terlebih dahulu mengecup cincin yang yang baru saja dipasang. Seakan ada aliran listrik yang menyengat, ketika benda lembut itu mendarat di kulitnya. "Mengapa rasanya makin seperti ini?" batin Ciara. Detik berikutnya, Rendra melepaskan genggaman. Kemudian mengikuti penghulu melantunkan doa dan salawat. Setelah itu, mereka berdua meminta restu pada orang tua. Ciara menghampiri Ratna, sedangkan Rendra menghampiri Maria. "Mama." Ciara berbisik sambil menjatuhkan tubuhnya di pelukan sang ibu, membasahi bahu dengan tetesan air mata. "Jangan menangis, Nak. Ini adalah pilihan yang terbaik. Lupakan masa lalu dan masa kelam. Rendra mencintaimu, dia pasti bisa membahagiakan kamu. Belajarlah mencintainya agar pernikahan ini indah. Doa Mama selalu menyertaimu, Nak," ucap Ratna juga dengan bisikan. Setelah cukup lama saling memeluk, Ciara menghampiri Dion yang baru saja duduk di sebelah Ratna. Tanpa banyak kata, ia merangkul ayahnya dengan erat. "Jangan menangis, Nak. Allah yang Maha Tahu apa yang baik untuk kita. Percayalah, musibah dan pernikahan ini adalah jalan untuk meraih masa depan. Belajarlah melupakan kenangan, cintai suami, dan dekatkan diri kepada Allah. Niscaya bahagia akan selalu menyertaimu, Nak." Dion memberikan nasihat sembari pungusap-usap punggung Ciara. "Iya, Pa." Ciara menjawab singkat. Usai meminta restu pada orang tuanya, Ciara menghampiri mertua. Kepada mereka, Ciara melakukan hal yang sama. Pada saat yang bersamaan, Rendra mendekati Ratna dan Dion. "Terima kasih sudah memilih Ciara sebagai pendamping hidupmu. Dia masih trauma, tolong maafkanlah bila ada sikap yang membuatmu kecewa. Papa percaya padamu, Nak, tolong jaga dia baik-baik, ya," kata Dion, ketika Rendra memeluknya. "Pasti saya lakukan, Pa. Saya sangat mencintainya." "Terima kasih, Nak." "Saya yang lebih berterima kasih, Pa. Menikah dengan Ciara adalah anugerah terindah dalam hidup saya," jawab Rendra. Lalu ia beralih pada ibu mertuanya. "Nak, Mama titip Ciara, ya. Dia masih remaja, tolong maklumi bila sifatnya kekanak-kanakan," ucap Ratna saat Rendra menyalaminya. "Iya, Ma. Saya tidak akan mempermasalahkan hal itu. Tolong doakan juga ya, Ma, semoga Ara bisa mencintai saya. Semoga rumah tangga kami senantiasa lancar dan bahagia." "Amin. Doa Mama selalu menyertai kalian. Rendra, sedikit-banyak Ciara masih trauma. Dengan sikap lembut dan manis, Mama yakin hatinya akan luluh. Percayalah, suatu saat nanti dia pasti mencintaimu," ujar Ratna. "Saya pasti bersikap lembut padanya, Ma. Saya juga ... tidak akan memaksa. Saya tahu pernikahan dalam keadaan hamil itu kurang sah, jadi saya akan menahan diri sampai Ara melahirkan." Rendra tersenyum. "Kamu benar-benar lelaki yang sempurna. Ciara sangat beruntung mendapatkan suami seperti kamu." Ratna memuji sembari menepuk bahu Rendra. Lelaki itu menunduk dan menyembunyikan senyuman yang kian mengembang. _____________ Gemerlap lampu kristal, menggantung di antara kain renda yang menghiasi teras rumah Ciara. Meja makan putih dan panjang tertata rapi, lengkap dengan kursi-kursi yang dibungkus kain renda. Aneka hidangan tersaji, lengkap dengan minumannya. Dalam setiap meja, terdapat vas bunga dan lilin-lilin kecil yang menambah kesan keindahan. Rangkaian bunga tersebar di setiap sudutnya, melukiskan romansa yang tak ada habisnya. Dekorasi istimewa yang membuat para tamu berdecak kagum kala menatapnya. "Dekorasi yang sangat indah, aku sampai kesulitan mengedipkan mata. Serasi sekali dengan mempelainya yang cantik dan tampan." "Pernikahan yang sangat menguntungkan. Keduanya berasal dari keluarga kaya. Dari sini, mereka bisa mendongkrak bisnis masing-masing." "Orang tuanya berkawan, anaknya pun berjodoh. Benar-benar kehidupan yang indah. Mereka adalah mempelai yang sangat beruntung." Tanggapan dari beberapa tamu undangan setelah tiba di lokasi pernikahan. Di antara banyaknya orang yang berkomentar, ada wanita cantik yang baru saja datang. Lenggak-lenggoknya mengundang banyak pasang mata. Pasalnya, ia mengenakan gaun ketat yang belahannya mencapai paha. Seolah sengaja memamirkan kaki mulus nan jenjang miliknya. Wanita itu berhenti di depan foto Rendra dan Ciara. Matanya memicing dan tangannya dilipat di d**a. Bibirnya terkatup rapat. Gurat kesal terlihat jelas kendati bermekap tebal. "Itu Tuan Rendra dan Nona Ciara, cantik dan tampan. Mereka benar-benar cocok." Wanita itu menoleh seketika, kala mendengar tamu memuji mempelai. Api cemburu mulai membara, membakar hati dan mengubahnya menjadi emosi. Tanpa pikir panjang, ia mendekat dan membentak. "Mereka tidak cocok! Apa kamu buta menilai dia cantik, hah? Lihat baik-baik, dia itu jelek, tidak pantas bersanding dengan Rendra!" Wanita itu bicara dengan pelototan tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD