Berkawan Sunyi

1076 Words
Wanita yang tak lain adalah Evalina Alexandra, terus mengumpat dan mencela Ciara. Sedetik pun tak memberi sempat pada lawan bicaranya untuk menyahut. Perasaan yang bertepuk sebelah tangan, memancing kebencian yang amat dalam. "Kamu nggak waras ya, Mbak! Kenal juga enggak, tapi marah-marah nggak jelas. Udah geser ya, otaknya!" bentak wanita yang berhadapan dengan Evalina. Namun bukannya diam, Evalina justru makin menjadi. Ia butuh pelampiasan untuk meredam rasa kesal. "Aku cuma nyadarin kamu, dia itu nggak sebanding dengan Rendra. Jadi, berhenti memuji!" kata Evalina masih dengan nada tinggi "Sudah, jangan diladenin. Mungkin ... dia cinta, tapi nggak ditanggapi. Jadi, ngenes sampai nggak punya akal sehat," timpal tamu lain. Evalina naik pitam. Tanpa pikir panjang, ia melayangkan tangannya dan hendak menampar wanita di hadapannya. Namun, tindakannya dihentikan oleh seseorang. Dengan tangan kekarnya, ia menangkap lengan Evalina. "Lepas!" bentak Evalina dengan kilatan tajam. "Ikut aku." Lelaki itu menarik tangan Evalina dan mengajaknya pergi. Evalina memberontak, tetapi lelaki itu enggan melepaskan genggaman. Terus melangkah dan membawa Evelina keluar. Ia berhenti di dekat pintu masuk. Di sana ada bangku panjang, di bawah pinang merah. Lantas lelaki itu duduk dan memaksa Evalina untuk mengikutinya. "Untuk apa membawaku ke sini?" tanya Evalina masih dengan nada sinis. Tangannya dilipat di d**a dan matanya menatap lurus ke depan. Seolah tak ada orang di sampingnya. "Biar kamu nggak marah-marah terus," jawab lelaki yang tak lain adalah Arsen—sahabat Rendra. "Aku itu___" "Kamu model, banyak paparazi yang memburu berita tentangmu. Kamu mau, namamu viral karena membuat kerusuhan di acara pernikahan," pungkas Arsen. Evalina mengembuskan napas kasar. Ucapan Arsen memang benar, tetapi ia sungguh emosi. Masih tak rela bila Rendra menikah dengan Ciara. Evalina menoleh dan menatap Arsen. Dalam keremangan, wajah lelaki itu terlihat tampan dan berkharisma. Namun, tak sedikit pun mengetuk pintu hatinya. Pesona Rendra tak jua terganti, mulai dari SMA hingga saat ini. "Kenapa sih harus gadis itu, dia masih kecil, apa menariknya? Kalau emang nggak bisa nerima aku, harusnya cari wanita lain yang lebih sempurna. Dengan begitu, aku bisa sadar diri dan berhenti mengharapkannya," gerutu Evalina. Hubungannya dengan Arsen memang akrab, karena lelaki itu bersikap terbuka padanya. Tidak seperti Rendra yang seakan sengaja membentangkan jarak. "Bagi Rendra, dia yang terbaik. Kamu tahu 'kan, apa yang membuat Rendra enggan menerimamu?" Arsen menoleh sekilas, kemudian mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. "Aku tahu. Tapi ... apa kamu yakin dia sebaik itu? Dari informasi yang kudapatkan, dia baru lulus SMA, sedangkan Rendra sudah kepala tiga. Kamu percaya, dia menikah dengan Rendra karena cinta?" "Maksudmu?" Arsen bertanya sembari mengepulkan asap rokoknya. "Bisa jadi 'kan dia hanya mengincar harta, atau kalau nggak gitu ... hamil duluan. Lantas menjebak Rendra dan memaksanya bertanggung jawab," jawab Evalina. "Jangan membuat praduga yang tidak masuk logika. Ciara itu anak orang kaya, sepadan dengan Rendra. Jadi, mana mungkin menikah karena harta. Kalau soal hamil duluan ... Rendra tidak sebodoh itu, Ev. Aku yakin kamu pun tahu." Arsen menatap Evalina dengan lekat. "Tapi ini sangat mendadak. Bukankah___" "Ev, kita kenal benar bagaimana sifat Rendra. Menurutmu apa hal aneh, kalau dia memilih pacaran setelah menikah?" Lagi-lagi Arsen memungkas ucapan Evalina. Evalina tak menjawab, sekadar membuang pandangan dan menatap orang yang berlalu-lalang di kejauhan. Ia menyesal telah datang ke acara ini. Niat hati ingin mempermalukan Ciara, tetapi justru dirinya yang kembali terbuang karena rasa. Usai menenangkan emosi, Evalina beranjak dari duduknya. Ia hendak pergi dan mencari pelarian untuk meringankan beban. Namun, baru saja ia melangkah, Arsen kembali menarik tangannya. "Aku mau pulang," kata Evalina. "Aku tidak percaya," sahut Arsen. Lalu ia pun turut beranjak. Evalina tertawa sumbang, "Arsen, kamu tidak perlu khawatir lagi. Aku sudah bosan dengan tempat ini. Jadi, aku akan pergi." Evalina berusaha melepaskan genggaman Arsen. "Kamu akan pergi, tapi tidak pulang. Aku benar, 'kan?" tanya Arsen, tanpa melepaskan tangannya. "Lantas apa masalahnya? Yang penting aku tidak membuat onar di sini, kamu tidak perlu ikut campur lagi, Arsen." "Evalina, aku akan menemanimu." Arsen berucap sembari melangkah lebih dekat. "A ... apa maksudmu?" tanya Evalina dengan gugup. Arsen tak menjawab, hanya tersenyum lebar sambil menaikkan kedua alisnya. Sebuah ekspresi yang menjebak Evalina dalam teka-teki. Pada saat yang sama, Rendra dan Ciara masih menebar tawa di antara orang-orang yang memberikan selamat. Sesekali berbincang, juga bercanda. Ciara bersikap ceria, seolah pernikahan itu adalah hal terindah dalam hidupnya. Luka dan pilu, ia simpan rapat dan cukup dirinya yang tahu. "Selamat ya, Ra, kamu cantik banget malam ini," puji Nayla, ketika mereka bersua. Malam ini, Ciara memang menjelma bak seorang ratu. Dalam balutan gaun putih panjang, rambutnya digulung rapi dengan hiasan mahkota di atasnya. Mekap tebal, halus dan natural, menyulap wajahnya menjadi sketsa yang tiada cela. "Terima kasih, kamu pun nggak kalah cantik, Nay," jawab Ciara. "Baru datang, ya?" "Udah dari tadi, cuma ... kamu masih sibuk sama rekannya Kak Rendra. Jadi, aku minum dulu." Nayla menjawab sambil tersenyum lebar. "Iya, tadi pada ngajak ngobrol." "Baik-baik ya, Ra. Aku seneng kalau lihat kamu tersenyum kayak gini." Nayla memeluk Ciara dengan erat. "Terima kasih ya, Nay, aku ... baik-baik aja, Kok," sahut Ciara. Tak lama kemudian, Rendra menghampiri dan memberitahukan bahwa ada rombongan investor yang baru saja datang. Mereka ingin bertemu dengan Ciara. Nayla terpaksa undur diri dan membiarkan Ciara menyambut tamu-tamunya. Ciara berdiri di sisi Rendra dan menyalami mereka satu-persatu. Lantas mengangguk sopan kala Rendra memperkenalkannya. Senyum pula senantiasa ia ukir, saat mendengar ucapan selamat dan juga pujian. Cukup lama mereka berbincang. Dari obrolan ringan sampai ke dunia bisnis. Ciara mulai bosan dibuatnya karena tidak paham dengan hal itu. Selagi Rendra sibuk dengan perbincangan yang makin serius, Ciara melangkah pergi dan menjauhi para tamu. Ia masuk rumah dan kemudian menuju ke kamarnya. Ciara duduk di balkon kamar. Menatap ke bawah lewat celah-celah terali. Orang-orang masih berkumpul, bercanda dan tertawa dengan riang. Seakan tak ada segurat duka yang menyapa, berbeda jauh dengan dirinya. Lantas Ciara menunduk, menatap gaun yang masih membalut tubuhnya. Setetes air mata lolos tanpa dipinta. Setelah berpura-pura tertawa, kini ia kembali meratapi luka. Dalam keremangan, Ciara mendekap perutnya. Memejam, guna menepis bayangan kelam yang tiba-tiba muncul dalam ingatan. "Ya Allah, aku sudah menikah dengan Kak Rendra. Seperti apa kehidupanku nanti," ratap Ciara dalam kesendirian. Ia menyandarkan tubuhnya di terali. Membiarkan angin menerpa lengannya yang terbuka. Tak peduli seberapa dingin suhu yang mendekap, baginya masih lebih baik dari dingin hati yang nyaris mati. "Papa, Mama," gumamnya dengan air mata yang makin berderai. Cukup lama Ciara bergeming di tempatnya. Sekadar isak tangis yang terdengar samar-samar. Tak seorang pun yang menyadari keberadaannya. Bahkan, sampai rasa kantuk menghampiri, ia masih tetap berkawan sunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD