Tepat pukul 11.00 malam, Rendra pergi meninggalkan sebagian tamu yang belum beranjak. Sedari tadi ia tak melihat bayangan sang istri. Sebenarnya cukup khawatir, tetapi masih ada relasi penting yang harus ia temui. Kini setelah berhasil pergi, ia menapaki anak tangga dengan tergesa. Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Ia terus mempercepat langkah, hingga tiba di depan kamar.
Rendra memutar handle pintu dengan pelan, lantas membukanya lebar-lebar. Rendra mengernyitkan kening karena tak mendapati sosok Ciara di sana. Ke mana gerangan?
Rendra menatap setiap jengkal ruangan, dan pandangannya tertuju pada high hells yang ada di dekat sofa.
"Ara sudah masuk kamar, tapi ... ke mana dia?" gumam Rendra.
Ia menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Lantas menajamkan pendengaran, tetapi tak menangkap gemiricik air di dalam sana. Lalu ia menatap pintu yang menuju ke balkon, sedikit terbuka. Mungkinkah Ciara ada di sana?
Rendra menutup pintu kamar, sebelum melangkah ke balkon. Ia juga melepaskan jas dan menggulung lengan kemeja. Sembari berjalan, ia mengusap keringat yang membasahi wajahnya.
"Ara, Sayang, kamu di mana?" panggil Rendra ketika tiba di pintu balkon.
Ia menoleh ke sana kemari dan mendapati istrinya sedang bersandar di terali. Kepalanya menunduk, sebagian rambut menjuntai menutupi wajah. Tangannya terkulai lemah, menyatu dengan lantai yang sedingin salju.
"Sayang, kamu sedang apa?" Rendra bertanya sambil berjalan mendekat.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Rendra berjongkok di depan Ciara. Dengan pelan ia raih dagunya dan tampak jelas bahwa mata sang istri menutup rapat.
"Kamu ... kenapa tidur di sini?" batin Rendra.
Cukup lama Rendra menilik wajah Ciara, menikmati aura damai yang tersirat dari embusan napasnya. Lambat laun ia tersenyum, kala mengingat kenyataan bahwa 'bidadari tak bersayap' itu telah sah menjadi miliknya. Namun, senyuman itu tak bertahan lama. Rendra menautkan alis saat melihat pipi Ciara yang mengkilap.
Perlahan Rendra mengusapnya, dan ia sadar bahwa pipi itu sedang sembap. Dalam sorotan lampu yang tak benderang, juga polesan mekap yang amat tebal, sekilas terlihat normal. Namun, Rendra sangat jeli. Ia paham, bahwa beberapa waktu lalu ada air mata yang mengalir di sana.
"Seburuk itukah menikah denganku, Ara?" bisik Rendra.
Jujur, hatinya sedikit ngilu, tetapi ia tak mau menyalahkan Ciara. Pasalnya, ia sendiri yang menawarkan pernikahan. Berharap Ciara akan luluh dengan perasaannya. Sedari dulu hingga detik ini, hanya Ciara-lah yang mampu menggetarkan hatinya. Saban hari ia memanjatkan doa, semoga cintanya tak layu sebelum mekar.
"Aku tak pandai merangkai aksara, apalagi puisi atau diksi. Aku juga tak pandai bersikap romantis layaknya tokoh utama dalam novel cinta. Tapi ... aku punya rasa yang lebih dalam dari cinta. Tulusnya rasa ini, jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan, Ara," ucap Rendra diiringi kecupan mesra di kening Ciara.
Kendati kecupan itu cukup lama, tetapi Ciara tak lantas terjaga. Mungkin, alam lena terlalu indah dari kehidupan nyata, sehingga ia betah berkelana di dalamnya.
Ciara tetap terlelap, bahkan sampai Rendra menggendong dan membaringkannya di ranjang. Juga ketika Rendra melepaskan sanggulnya, ia masih bergeming.
"Selamat malam, Sayang. Tidurlah dengan tenang dan bermimpilah yang indah. Semoga dengan itu, hatimu tenang dan perlahan menerima kehadiranku." Rendra membelai rambut Ciara dengan mesra, lantas mencium pipinya sangat lama.
Setelah melakukan itu, Rendra melepaskan kemeja dan mengganti celana dengan boxer. Lantas berbaring di samping Ciara dan menutupkan selimut di tubuh keduanya.
Awalnya, Rendra telentang dan menatap langit-langit kamar. Namun, aroma wangi yang menguar dari tubuh Ciara amat menggoda. Entah parfume jenis apa yang ia, sangat ampuh meruntuhkan pertahanan Rendra.
Dengan hati-hati, ia lingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Ia dekap erat hingga tak tersisa jarak. Lalu ia membenamkan wajah di antara pundak dan rambut. Menghirup aroma cinta sembari memejamkan mata. Rendra terbuai. Hantaran tidur malam ini, merajai ribuan malam yang pernah ia lalui.
__________
Asap mengepul dari celah bibir yang sedikit terbuka. Berbaur dengan udara yang terus berembus tanpa tahu waktu. Mata sayu itu memicing, menatap hamparan langit yang bertabur bintang. Entah di bagian mana, sang pemilik rindu bernaung di bawahnya. Satu hal yang pasti, mereka masih berpijak di bumi yang sama, juga berlindung di bawah langit yang sama.
Sekali lagi, bibir itu mengepulkan asap. Kali ini diselingi bisikan yang menyebut nama seorang gadis. Kendati berusaha keras ia lupakan, tetapi kenyataannya, gadis itu makin setia menghuni ruang rindu.
"Arrgghh!" Lelaki itu mendengus kesal sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Sejak selumbari, bayangan kenangan kerap melintas dalam ingatan. Memaksanya mengingat memori lama yang telah terbingkai rapi dalam sudut hati. Entah apa yang akan dilakukannya setelah ini. Ia merasa kesulitan memahami perasaannya sendiri. Dalam satu masa, ia memiliki rasa yang berbeda pada orang yang sama, yakni rasa benci yang sepadan dengan rasa cinta.
"Ini adalah keputusan yang terbaik, tapi kenapa hatiku malah tidak baik?" Lelaki itu mengacak-acak rambutnya. "Sial, beraninya dia membuatku sekacau ini," sambungnya.
Kemudian, ia membuang puntung rokok dan kembali menyulut yang baru. Detik ini, ia butuh sesuatu untuk meringankan bebannya.
Lelaki itu melangkah dan berdiri di sudut balkon. Menatap padat kota yang tampak jelas di bawah sana. Walau jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tetapi jalan raya masih sangat ramai. Kota yang ia pijak, memang nyaris tak pernah tidur.
"Hari-hariku tak pernah sendirian, tapi ... mengapa aku merasa sepi? Sampai kapan aku seperti ini?" Lelaki itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Terlalu larut dalam renungan, ia sampai tak sadar dengan kehadiran gadis berparas cantik nan molek. Bahkan, sampai gadis itu berdiri di sampingnya pun, ia masih terlena dengan pikirannya sendiri.
"Sayang, kamu sedang apa?"
Alunan suara yang diiringi sentuhan, membuat lelaki itu terjaga dari lamunan. Lantas ia menoleh dan menatap bibir ranum yang mengulum senyum.
"Kok, nggak tidur?"
"Kamu nggak ada, mana bisa aku tidur," jawab sang gadis dengan nada manja.
Lelaki itu tersenyum meski sedikit terpaksa, "aku gerah, jadi keluar dan mencari angin."
"Aku temani, ya."
"Tidak usah, kita masuk saja. Udara di sini sangat dingin, nanti kamu masuk angin." Lelaki itu menjawab sambil mengusap bahu gadisnya yang terbuka.
"Kalau dingin tinggal minta peluk sama kamu."
"Jangan nakal, udah hampir pagi," sahut lelaki itu diiringi cubitan pelan di pipi.
Kemudian, mereka berdua kembali masuk ke kamar. Berbaring di ranjang dan menutup tubuh dengan selimut yang sama. Di bawah sinar lampu yang remang-remang, lelaki itu menatap wajah cantik yang tidur di lengannya. Posisi yang amat mesra. Namun, rasa nyeri perlahan mengimpit relung hati. Menyesakkan rongga napas dan membuat matanya memanas.
"Sebenarnya ... kami tak ada beda. Tapi ... mengapa aku sangat mempermasalahkannya?" batinnya dengan tangan yang mengepal.
Ia merasa marah dengan keadaan yang menyudutkan, juga dengan ego yang terlampau tinggi.