Embusan hangat yang menyembur di area wajah, menyadarkan Ciara dari lenanya. Perlahan ia membuka mata, kemudian mengerjap kala mendapati objek asing berada tepat di hadapannya. Ciara tersentak dan hendak mengambil jarak, tetapi niatnya urung karena pinggangnya didekap erat.
"Jangan pergi," bisik lelaki berparas tampan dengan mata yang terpejam.
Ciara kesulitan menelan ludah. Posisi yang amat rapat, memancing rasa panas yang lantas mengacaukan benaknya. Niat hati ingin menunduk, tetapi ada dorongan kuat yang memaksanya tetap mendongak. Alhasil, ia memandangi rahang berbulu tipis yang amat serasi dengan hidung mancung.
Manik beningnya terus bergerak, meneliti setiap inci wajah Rendra, tanpa terkecuali. Lalu tatapannya berhenti lama di sudut bibir, tipis dan menarik. Lantas ingatannya kembali pada malam sial. Dengan posisi yang serupa, bersama makhluk yang berjenis sama, ia diperlakukan hina dan kehilangan segalanya.
Tubuh Ciara bergetar, seiring buliran bening yang lolos dari sudut netranya. Rasa trauma kembali mengimpit, memudarkan tawa yang belum sempat singgah.
Nyaris saja Ciara tenggelam dalam kenangan buruk. Beruntung Rendra mendekap kepalanya dan menarik kesadarannya.
Dekapan hangat membuat Ciara jauh lebih tenang. Apalagi saat suara Rendra mengalun merdu di telinganya. Entah sejak kapan lelaki itu terjaga.
"Apa kamu sedang ketakutan?"
"Ti ... tidak," jawab Ciara dengan gugup.
Saat ini, pipinya merah merona. Bagaimana tidak, wajahnya bersentuhan langsung dengan d**a Rendra. Ahh, mengapa pula lelaki itu tak mengenakan baju?
"Tidak semua lelaki sama, Sayang. Jika dulu ada yang membuatmu ketakutan, aku hadir dengan ketenangan. Walaupun aku juga lelaki, tapi menyakitimu adalah pantangan bagiku. Baik fisik maupun hati, semua akan kujaga," ujar Rendra, seolah mengerti dengan jalan pikiran Ciara.
"Maaf, aku ... tidak bermaksud___"
"Aku mengerti," pungkas Rendra. Lantas ia mengusap-usap rambut Ciara dengan lembut.
"Aku ... aku ... susah nafas." Ciara berkata sambil melepaskan lengan Rendra. Lantas beringsut mundur dan menciptakan jarak yang cukup lebar.
Rendra tersenyum, kemudian bangkit dari tidurnya, "tidurlah jika masih lelah, aku akan ke kamar mandi."
Ciara mengangguk dan menatap punggung suaminya yang mulai menjauh. Sebenarnya, bukan gambaran yang buruk. Postur tubuhnya nyaris sempurna, wajah pula rupawan dan tampak lebih muda dari umurnya. Namun, hati Ciara tak goyah. Tambatannya masih tetap Rifky Antoni. Begitulah cinta, terkadang tak bergantung pada rupa dan harta.
Ciara menghela napas panjang dan bangkit dari tidurnya. Ia menunduk dan menatap gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya. Lambat laun ia mengingat kejadian semalam. Dirinya duduk di balkon sambil menangis. Lantas tak ingat lagi apa yang terjadi. Mungkinkah ia tertidur dan Rendra yang membawanya ke kamar?
"Sebenarnya aku sangat beruntung mendapatkan kamu, Kak. Tapi ... kenapa hatiku masih begini," gumam Ciara.
______________
Dua minggu telah berlalu, sejak Ciara dan Rendra menikah. Empat hari setelah sah, Rendra mulai pergi ke kantor, tetapi pulang sebelum senja. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ia bawa pulang dan lembur di rumah. Kendati kehadirannya belum tentu ditunggu, tetapi Rendra selalu tepat waktu.
Sejauh ini, hubungannya dengan Ciara cukup baik. Ciara kerap tersenyum kala bersamanya, meski belum menunjukkan tanda cinta. Rendra pun tetap sabar. Tak mengeluh, apalagi berputus asa, justru bersikap manis layaknya pasangan yang saling cinta.
Tak terkecuali pagi ini. Dengan mesra ia menggandeng tangan Ciara dan mengajaknya menuju meja makan. Bergabung dengan mertua yang sudah terlebih dahulu tiba di sana.
"Selamat pagi, Pa. Selamat pagi, Ma," sapa Rendra dengan ramah.
"Selamat pagi, Nak. Ayo duduk."
Rendra tersenyum dan duduk di samping Dion, sedangkan Ciara duduk di samping Ratna. Kemudian, mereka mengisi piring masing-masing. Lalu berdoa dan mulai menyantap sarapan.
Untuk beberapa saat, hanya kunyahan dan denting sendok yang terdengar. Namun tak lama kemudian, Ratna membuka suara.
"Ara, Rendra." Ratna memanggil sambil menatap kedua anaknya.
"Iya, Ma," jawab Rendra dan Ciara hampir bersamaan.
"Kalian masih ingat, 'kan, dengan proyek baru yang dibicaran Mas Dion kemarin?" tanya Ratna.
"Ingat, Ma, kenapa?" Ciara balik bertanya.
"Lokasinya cukup jauh, dan lagi ... proyeknya lumayan besar, pasti membutuhkan waktu lama. Pekerjaan di sini juga padat, banyak kerjasama yang harus ditangani. Jika membawa orang kantor, takutnya nanti malah keteteran," terang Ratna di sela-sela kunyahannya.
"Lantas?" tanya Ciara. Ia belum mengerti dengan maksud ibunya.
"Rencananya ... Mama yang akan menemani papamu ke sana. Tidak apa-apa, 'kan, kalau nanti Mama tinggal?" Ratna menatap Ciara.
"Mama mau ikut Papa? Kenapa?" Gurat kecewa mulai terpancar jelas di wajah Ciara.
"Tempatnya jauh, Sayang. Kasihan kalau Papa sendirian di sana. Tidak lama kok, paling sekitar sebulan," ujar Ratna.
"Sebulan itu lama," gerutu Ciara dengan bibir yang manyun.
Dion mengembuskan napas kasar, "Nak, ini proyek besar, sayang kalau dilepaskan. Lagi pula 'kan ada Rendra, ada Bibi juga. Kamu nggak sendirian, Ara."
"Tapi___"
"Sayang." Rendra menggenggam tangan Ciara. "Tenang, pasti baik-baik saja," sambungnya.
"Mmm, baiklah, Kak." Ciara bergumam sambil menunduk.
"Terima kasih ya, Ndra. Selama kami nggak ada, tolong jaga Ciara," pinta Ratna.
"Pasti, Ma." Rendra mengangguk dan menjawab tegas.
Ciara mengaduk-aduk makanannya. Kendati masih banyak, tetapi tak ada keinginan untuk melahap. Membayangkan kehidupannya satu bulan ke depan, sudah membuat perutnya kenyang. Meskipun ada pelayan, tetapi tidak ada ibunya. Mau tidak mau, kepada Rendra-lah ia akan bergantung.
Usai makan, Dion dan Rendra beranjak dari duduknya. Mereka menenteng tas dan berangkat ke kantor masing-masing. Sebelum pergi, Rendra mencium puncak kepala Ciara. Sekilas, tetapi cukup membekas. Debar jantung yang ditinggalkan, tak mereda meski sosoknya telah menghilang di balik pintu.
"Mama beneran pergi?" tanya Ciara ketika mereka tinggal berdua saja.
"Iya, Nak. Kasihan Papa kalau Mama tidak ikut." Ratna beralih ke samping Ciara dan mengusap-usap lengannya. "Kamu jangan sedih begini dong. Bukan sekali-dua kali 'kan Papa dan Mama ke luar kota untuk bisnis?"
"Iya, sih, tapi ... kali ini beda, Ma."
"Apanya yang beda?" tanya Ratna dengan kening yang mengernyit.
"Aku nggak enak kalau berdua saja sama Kak Rendra. Aku___"
"Kamu masih mencintai Rifky?" tebak Ratna.
Ciara menunduk dan mengatupkan bibir. Ratna paham dan kemudian merangkul tubuh anaknya. Dengan penuh kasih ia usap-usap rambutnya yang tergerai panjang.
"Nak, Mama tahu cinta itu rumit. Tapi ... apa tidak bisa, sedikit saja belajar mencintai Rendra. Lihatlah sikapnya, dia amat tulus denganmu. Bahkan, ia sangat menerima bayimu. Masihkah hatimu tidak terketuk, Ara?" Ratna terus bicara, meskipun Ciara tak jua menjawab.
"Aku___"
"Sungguh keberuntungan yang tak terkira bisa menikah dengan Rendra. Meski umurnya sudah dewasa, tapi dia tampan dan mapan. Selain itu, sikapnya lembut dan bertanggung jawab. Jangan disia-siakan, dia adalah gambaran lelaki yang sempurna. Jangankan orang lain, Rifky pun belum tentu bisa bersikap demikian," pungkas Ratna dengan panjang lebar.
"Aku___"
"Percaya sama Mama. Cintai dia, kelak hidupmu akan bahagia." Lagi-lagi Ratna memotong ucapan Ciara.
"Aku ... akan berusaha, Ma." Ciara bicara pelan.
Sesungguhnya, bukan kalimat itu yang hendak dilontarkan. Namun, mendengar nasihat ibunya tentang Rendra, ia mengurungkan niat untuk berbagi beban.
"Nah, itu bagus, Nak. Mama ikut senang kalau kamu berhasil mencintai dia."
"Sudahlah. Cukup aku dan Tuhan saja yang tahu," batin Ciara bak orang berputus asa.