Tak Ada yang Mengerti

1160 Words
Usai berbincang dengan ibunya, Ciara kembali ke kamar dengan hati yang tak menentu. Memikirkan saran yang perlahan menjadi beban. Mencintai Rendra, sebuah hal yang terlampau sulit untuk dijalani, karena hatinya sudah terkunci untuk lelaki lain. Sembari menahan sesak, Ciara menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Memeluk guling dan menenggelamkan wajah di sana. Dalam hidungan detik, guling itu telah basah oleh air mata. "Kenapa Mama nggak mau mengerti?" ratap Ciara. Terselip rasa sesal di dalam benaknya. Menikah dengan Rendra, ternyata tak semudah bayangan. Hidup berdampingan dengan lelaki yang tak dicintai, laksana mengikat diri dalam sangkar. Menyesakkan. Dalam balutan rasa sakit, Ciara menyeka air matanya dengan lengan. Lantas mendongak dan menatap foto pernikahan yang diletakkan di atas meja. "Memang benar aku yang memilih pernikahan ini, tapi ... apalagi yang bisa kupilih selain menikah? Kak Rendra, apa aku salah bila punya niat lain?" gumam Ciara dengan pelan. Setelah cukup lama terpaku, Ciara bangkit dan mencari ponselnya. Lalu menghubungi sahabat dekatnya, Nayla. Satu kali panggilan tak ada jawaban, begitu pun di panggilan kedua dan ketiga. Ciara sempat kesal, tetapi tak menyerah. Ia terus menghubungi karena saat ini sedang butuh tempat untuk berbagi. "Hallo, assalamu'alaikum, Ra," sapa Nayla setelah sambungan telepon terhubung. "Waalaikumsalam, Nay." Ciara menjawab sambil mengulum senyum. "Ada apa?" "Aku ... mau cerita dikit," jawab Ciara. "Cerita apa?" "Soal Kak Rendra. Kamu tahu 'kan aku nggak cinta sama dia, aku___" "Ra, kamu dan Kak Rendra itu sudah nikah, jangan katakan nggak cinta. Mungkin ... sekarang memang belum, tapi suatu saat nanti pasti bisa. Jangan terbelenggu dengan masa lalu, nikmati saja masa depan yang sudah ada," potong Nayla. Ciara mengigit bibir, "jadi ... menurutmu aku harus mencintai dia?" "Tentu saja." "Kalau aku nggak bisa?" Bukannya jawaban, justru perbincangan riuh yang masuk pendengaran. Ciara mengernyit dan menebak-nebak apa sedang Nayla lakukan. "Kamu ... sibuk ya, Nay?" tanya Ciara setelah jeda beberapa detik. "Nay!" panggil Ciara dengan intonasi yang lebih tinggi. "Hmm, sorry ya, Ra. Aku ... lagi di kampus. Ini sedang bahas tugas sama teman-teman. Dikumpulin pagi ini, mana sebagian belum kelar lagi. Maaf ya, nggak apa-apa 'kan kalau disambung nanti," ujar Nayla dengan panjang lebar. "Iya, nggak apa-apa." "Sorry banget ya, Ra." "Iya." Ciara memutus sambungan telepon tanpa mengucap salam. "Nayla sekarang menjadi mahasiswi, pasti sibuk banget dia," ucap Ciara diiringi senyuman hambar. Kata tugas yang Nayla lontarkan, seakan mengingatkannya pada asa yang telah kandas. ___________ Sang surya mulai condong ke arah barat. Sinarnya meredup dan kehangatannya pun memudar. Namun, tak menjadi kendala bagi anak manusia. Mereka tetap beraktivitas, berpacu dengan waktu, dan berlomba dengan kerasnya dunia. Tak terkecuali Dion dan Ratna. Seiring matahari yang makin bergulir, mereka justru bersiap-siap ke luar kota. Dua koper sudah dimasukkan ke bagasi. Tinggal tas ransel yang masih terus dijejali bermacam lembaran. Bibi pelayan pun turut membantu, menata alat mandi yang akan dibawa majikannya. Pada saat mereka sedang sibuk, wanita muda berparas ayu datang mendekat. Tanpa mengucap sepatah kata, ia duduk di kursi, di dekat garasi. Matanya menatap datar ke depan. Tubuhnya bergeming, walau semilir angin terus menerpa. "Ara, kamu sudah siap, Nak?" tanya Ratna. "Sudah." Ciara menjawab singkat, tanpa menoleh. Sebenarnya, ia sangat suntuk dan malas keluar. Namun, persediaan s**u di rumah sudah habis. Biasanya Ratna yang membeli, dan kini wanita itu hendak pergi. Awalnya Ciara akan meminta tolong pada Rendra, tetapi Ratna melarangnya, justru menyuruh Ciara pergi bersama. Karena malas berdebat, Ciara mengiakan saran ibunya. Ia berangkat bersama mereka dan nanti berhenti di kantor Rendra. Lantas belanja bersama setelah Rendra menyelesaikan pekerjaannya. "Ara, jangan murung terus. Ayo senyum. Papa sudah rindu lho dengan senyuman kamu." Dion duduk di samping Ciara dan mengusap rambutnya. Ciara tak menyahut. Sekadar tersenyum sekilas dan tampak nyata kalau terpaksa. Dion mengusap wajahnya, tahu betul bagaimana perasaan Ciara. Sebagai seorang ayah, ia pun sangat menyesali musibah itu. Andai saja ada pilihan, ia rela menebus malam itu dengan nyawanya. Biarlah ia mati, asal Ciara hidup bahagia tanpa nista. "Jangan jadikan masa lalu sebagai belenggu, tapi jadikanlah pelajaran untuk masa depan. Kita memang tak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa memperbaiki masa depan. Papa tahu, kejadian itu menyisakan trauma yang dalam. Papa___" "Menjadikan pelajaran? Memang kesalahan apa yang kulakukan, Pa? Aku tidak berpakaian terbuka, tidak bertingkah genit, juga tidak mengganggu Reno. Meskipun dia mencintaiku, tapi apa itu salahku? Apa aku bisa mengendalikan perasaan orang lain?" Ciara menatap ayahnya dengan lekat. "Adella melakukan itu karena iri dan cemburu. Lantas, apa aku harus bodoh, agar tak berprestasi dan tak ada lelaki yang mencintai. Apa harus seperti itu, Pa?" Dion tak menjawab, tetapi langsung memeluk Ciara dengan erat. Anak gadisnya mulai menangis dan ia berusaha menenangkannya. "Maaf, Nak, bukan begitu maksud Papa. Papa ingin kamu kembali ceria. Senantiasa semangat dalam menjalani hari-hari. Papa tahu kamu kehilangan segala hal yang berharga, tapi ... sekarang pun ada hal berharga yang kamu miliki. Rendra," terang Dion. "Aku tidak mencintainya, Pa. Papa juga tahu 'kan apa alasanku menikah dengannya," bisik Ciara. "Papa tahu, Nak. Tapi ... Papa lihat kalian serasi. Rendra amat menyayangimu. Jadi, tak ada salahnya untuk belajar mencintainya," ujar Dion. "Pa." Ciara bergumam pelan sambil melepaskan pelukan. Tak menduga bila ayahnya pun menyarankan hal serupa. "Mama sangat setuju. Lebih baik mencintai Rendra yang sudah pasti, daripada mengharap Rifky yang belum tentu baik." Ratna menimpali sambil berjalan mendekat. "Kak Rifky sangat baik, Ma," sahut Ciara dengan cepat. "Lalu kenapa hilang kabar?" Ciara menunduk. Ia tak menemukan jawaban untuk membela. Kenyataannya Rifky memang hilang kabar, dan tidak menutup kemungkinan karena berpaling pada cinta lain. "Ara, bukannya Mama dan Papa tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi, kita tidak bisa menilai sesuatu hanya dengan hati, turutkan juga logika. Jika kamu terus-menerus mengharapkan Rifky, bukankah itu sama saja dengan menyiksa diri? Kita tidak tahu di mana dia dan bagaimana keadaannya. Sedangkan Rendra, dia sudah nyata jadi suamimu, nyata mencintaimu, dan nyata menerima keadaanmu. Mama hanya ingin kamu bahagia dengan pernikahan ini." Ratna merangkul Ciara dan merapikan rambutnya yang berantakan. "Ya sudahlah, sulit untuk dijelaskan. Cukup kusimpan sendiri apa yang kurasakan," jawab Ciara dalam hatinya. Tak lama kemudian, ia beranjak dan mengajak orang tuanya berangkat. Ciara tak ingin berlama-lama membahas tentang Rendra, karena orang tuanya pun tak mengerti tentangnya. Sepanjang perjalanan, Ciara hanya diam. Sekadar memandang keluar dan menatap deretan gedung dari balik kaca. Dion dan Ratna pun tak mengusik, mereka memberikan ruang untuk Ciara menenangkan diri. Hanya sesekali saja mereka melirik, sembari memanjatkan doa agar cinta segera ada. Kepergiaannya ke luar kota, semoga tidak sia-sia. Empat puluh menit kemudian, Dion menghentikan mobilnya di halaman kantor. Lantas mengajak anak-istrinya turun. "Ini adalah kantor cabang milik Mahardika, Rendra yang bertanggung jawab penuh atas kantor ini," ucap Dion, sebelum mereka masuk. "Oh," sahut Ciara, amat-sangat singkat. "Ayo masuk, suamimu ada di dalam," ajak Dion, tanpa peduli meski Ciara memasang raut kesal. Mereka terus melangkah dan akhirnya tiba di ambang pintu. Salah seorang karyawan datang menghampiri. Menyapa dan menyambut dengan ramah. Namun, Ciara masih tak acuh. Perhatiannya justru tertuju pada objek lain, yakni lelaki dan wanita yang ada di depan sana. Apa yang mereka lakukan membuat mata Ciara memanas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD