Kawin Kontrak

1054 Words
"Hah, Menikah?!" Selina tercengang dengan mata melebar, "Anda tidak perlu bertanggungjawab sejauh ini karena telah mencium saya." "Kegeeran sekali kau!" Arjuna mendorong Selina dari pangkuan, gadis itu pun kembali terduduk di kursinya. Selina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Lantas?! Untuk apa Tuan menikahi aku?" "Kau kan gadis sewaan yang menjual jasa, cuman nikah kontrak doang, bisa 'kan?" tanya Arjuna serius. "Nikah kontrak ...?" Sejenak Selina berpikir. Ia mempertimbangkan segala untung ruginya melakukan tindakan ini. "Hanya setahun saja!" lanjut Arjuna bernada dingin. Namun, tatapan mata tajam penuh harap membuat Selina semakin bingung menjawab. "Tapi, Tuan. Sepertinya kegiatan seperti ini melanggar peraturan perusahaan," ujar Selina serius. "Terserah kau mau atau tidak, yang jelas jika kau setuju. Kau butuh uang ratusan juta pun, akan aku penuhi. Bisa dipastikan penghasilanmu bakal lebih besar dari tempat kerjamu sekarang." Tawaran dari Arjuna seolah begitu menggiurkan di benak Selina. Gadis cantik berambut panjang itu kembali berpikir dalam hati, "Jika aku menerima tawaran ini, risiko yang aku hadapi tentu sangat banyak, seperti Ibu dan Romy, pasti tidak akan rela membiarkan aku menerima job ini." Saat Selina masih sibuk memikirkan tawaran itu secara matang, beberapa pelayan datang membawa pesanan di meja, sedangkan Arjuna sibuk dengan ponselnya. Sesaat mereka berpikir dengan pikiran masing-masing, hingga perkataan Arjuna kembali mencairkan suasana, "Aku kasih kamu waktu seminggu untuk memikirkan tawaranku. Jika gak mau, aku bisa cari gadis sewaan yang lain." "Baiklah, saya akan memikirkannya dulu," sahut Selina tersenyum manis. Arjuna membalas senyuman, ia mengeluarkan kartu nama dari saku jasnya, dan menyodorkan tepat di hadapan Selina, "Hubungi aku jika kau setuju!" Selina mengambil kartu berukuran kecil berwarna emas itu kemudian memasukkan ke dalam tas. "Baiklah, saya akan menghubungi Anda secepatnya." Beberapa hidangan kafe sudah tersedia di meja makan, Arjuna pun mempersilakan Selina menikmati hidangan. Pemuda tampan mengenakan jas kantoran itu menyodorkan sepiring Tuna Steak tepat ke hadapan Selina. Gadis itu sama sekali belum pernah memakan hidangan kelas atas seperti ini, ia sedikit ragu untuk memakannya. Dengan senyuman tipis, ia berkata, "Apa di sini gak ada mie ayam atau bakso gitu?" Arjuna tersenyum tipis, "Ini kafe Sell ... bukannya klienmu kalangan Borjuis? Mereka hanya mengajakmu makan bakso dan mie ayam?" Ledekan Arjuna berhasil membuat Selina kesal, ia hanya diam tak membalas perkataan. Memang tidak bisa dipungkiri, walaupun rata-rata klien Selina dari kalangan Borjuis, mereka jarang sekali mengajak makan. Arjuna menggeser kursi bersebelahan dengan Selina, pemuda tampan itu membantu Selina memotong Tuna Steak menjadi beberapa potongan kecil supaya mudah dinikmati, "Nah ... Makanlah!" Gadis cantik itu terheran, ia tidak pernah diperlakukan seperti ini selama pacaran dengan Romy. "Padahal kita baru kenal kemarin, tetapi perlakuannya kali ini begitu baik ke aku, apakah dia tulus? Atau ini cara merayuku supaya mau menikah kontrak dengannya?" batin Selina penuh tanya. "Kenapa bengong? Kau mau disuapi juga?" Suara datar Arjuna nyaris dingin terdengar menyebalkan di benak Selina. Selina mengibaskan kedua tangan berulang, "Enggak-enggak! Aku bisa makan sendiri." Keduanya mulai menikmati hidangan, saking enaknya Selina tidak menyadari jika makan belepotan saus di sudut bibirnya, Arjuna yang menyaksikan itu langsung sigap membersihkan menggunakan tisu. Diperlakukan sangat baik, oleh kliennya membuat pipi gadis cantik itu memerah. Arjuna menyadari jika Selina sudah salah tingkah olehnya, pemuda itu pun berbisik ke telinga, "Kenapa pipimu merah? Jangan-jangan kau mulai menyukaiku, ya?" "Uhuk,uhuk,uhuk!" Selina terkejut hingga terbatuk. "Jangan GeEr yah!" sanggah Selina. Sementara itu, Jesicca dan Siska masih sibuk mengobrol mulai menyadari keberadaan Arjuna dan Selina. "Jess ... itu Juna, 'kan?" Siska menunjuk ke arah Arjuna berada. Jesicca yang penasaran langsung menajamkan pandangan. "Hah ... mana?!" "Dia bareng sama cewek, apa dia gadis sewaan itu, Jess?" tanya Siska antusias. "Sialan! Itu cewek yang semalam, aku harus buat perhitungan sama dia." Jessica beranjak dari duduknya. Langkah cepat penuh emosi Jesicca menghampiri Arjuna dan Selina berada. Tanpa pikir panjang wanita berpenampilan seksi itu menyiramkan minuman tepat di puncak kepala Selina. Byuur! "Dasar wanita sialan! Bisa-bisanya kau masih menganggu Arjuna," bentak Jesicca. Selina tersentak kaget, wajahnya penuh dengan minuman matcha latte. "Aaaa!" Arjuna geram melihat tingkah Jesicca, dengan kasar ia mendorong tubuh wanita itu menjauhi Selina. "Jessica! Jangan kurang ajar." "Juna, dia sudah menganggu kamu. Aku hanya ingin memberi dia pelajaran," elak Jesicca membela diri. Selina sibuk membersihkan rambut dan tubuhnya yang basah dan kotor, tiba-tiba lengannya ditarik oleh Siska menuju ujung taman bersebelahan dengan air mancur. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Selina. Gadis itu hanya meringis kesakitan membelai pipi bekas tamparan. "Ssstt ..." desisnya. "w************n! gak seharusnya elu menganggu hubungan Jesicca dan Juna." bentakan Siska membuat Selina naik pitam. Penuh keberanian Selina membalas tamparan Siska. "Kau yang sialan!" "b******k! Kau berani menamparku?!" bentak Siska tak terima. "Kau duluan yang mulai, tentu saja aku hanya membalas tamparanmu," sahut Selina dengan senyuman menyeringai. Saat Siska ingin membalas tamparan, lengannya ditahan Selina dan dicengkeram kuat. "Aku gak ada urusan sama Anda, sebaiknya jangan mencari masalah denganku!" Arjuna hendak menolong Selina, tetapi ditahan Jesicca yang memeluk erat tubuhnya. "Juna, jangan menghukumku begini. Aku gak mau putus sama kamu." "Lepaskan aku, Jess! Kita sudah gak punya hubungan lagi," elak Arjuna berusaha melepaskan tangan Jesicca dari pinggangnya. "Enggak, aku gak mau pisah sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, Juna. Gak peduli siapa wanita itu, yang jelas kamu hanya milikku!" Jessica semakin mengeratkan pelukannya. Arjuna yang sangat kesal, mendorong kuat tubuh Jesicca hingga tersungkur ke lantai. "Kau sendiri yang memaksaku berbuat begini." Jesicca merintih kesakitan dan Arjuna pun mengabaikan dan meninggalkannya dalam kesakitan yang tak berujung. "Juna ... jangan tinggalin aku!" teriak Jesicca dengan nada manja. Arjuna menghampiri Selina, menarik dan menyingkirkan Siska dari hadapannya. "Jangan ikut campur urusan kami, Sis. Jika kau nekat, maka keluargamu akan diblacklist dari lingkaran bisnis keluarga Wijaya." Mendengar perkataan Arjuna, nyali Siska seketika menciut, dia mulai pergi dan meninggalkan Arjuna dan Selina di ujung taman. Arjuna melepaskan jasnya dan memakaikan ke tubuh Selina. "Maaf, gara-gara aku, kamu jadi begini." "Aku mau pulang saja," sahut Selina lirih. Gadis cantik itu memeluk tubuhnya sendiri yang basah dan kotor. Ia merasa malu, karena kemeja putihnya penuh dengan warna hijau dari matcha latte. "Biar aku obati lukamu dulu, baru kuantarkan pulang," sambung Arjuna. Pemuda tampan itu memeluk bahu Selina dan membawanya keluar kafe dan masuk ke mobilnya. Sementara itu, Siksa menghampiri Jesicca dan membantunya kembali berdiri. Saat bersamaan mereka berdua melihat kemesraan Arjuna dan Selina yang lewat tepat di depan mereka. "Aaargh ... dasar w************n!" teriak Jesicca dengan muka merah padam. "Aku pastikan hidupmu hancur."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD