"I—ini ..." Selina masih tak percaya melihat isi di dalam amplop. Tumpukan uang lembaran berwarna merah memenuhi amplop berwarna coklat.
"Iya, klien yang menyewamu semalam mentransfer uang tip untukmu ke rekening perusahaan. Sepertinya dia puas dengan kerjamu," kata Miranda tersenyum tipis.
"Tapi, ini banyak banget, Bu!" kata Selina yang masih tak percaya.
Dengan rasa penasaran, Miranda mendekati wajah Selina, "Kamu yakin gak melakukan hal yang dilarang perusahaan, kan?" bisiknya.
"Tentu saja nggak, Bu," bantah Selina tegas.
"Aku pun penasaran apa yang kau lakukan sampai dapat uang tip sebanyak itu." Miranda kembali duduk di kursi kerjanya, kedua tangan menyilang di depan d**a.
Selina hanya terdiam, pikirannya melayang pada kejadian semalam, "Ternyata Tuan Juna beneran kasih uang kerugian sepuluh juta rupiah," batinnya.
"Sell, Selina?! kok malah melamun?" pertanyaan Miranda menyadarkan Selina.
"Ehm ... sebenarnya semalam kita cuman bikin kesepakatan saja. Mungkin dia puas dengan hasil kerjaku, sehingga dapat uang tip sebanyak ini," jawab Selina tersenyum lebar.
"Ingat Selina! perusahaan kita dilindungi hukum, perusahaan yang bersih, bukan ajang transaksi jual beli kehormatan untuk memuaskan hasrat p****************g," kata Miranda tegas. "Jika sampai terbukti ada transaksi kotor, aku pun gak bisa membantumu terjerat proses hukum." Miranda berdiri dari tempat duduknya.
"Bu Miranda tenang saja, saya pasti menjalankan tugas sesuai prosedur perusahaan," sahut Selina mantap,"Jika gak ada yang dibicarakan lagi, saya undur diri, Bu." Selina pun beranjak dari tempat duduknya.
"Bagus ... Owh ya, klienmu semalem juga ingin bertemu lagi denganmu nanti jam makan siang." Perkataan Miranda membuat Selina membelalakkan matanya lebar.
"Hari ini Tuan Arjuna meminta bertemu lagi?" tanya Selina memastikan.
"Ya, segeralah bersiap-siap!" Miranda mengibaskan tangannya ke arah Selina, seolah mengusirnya dari ruang kerja.
"Baik, Bu. Terima kasih!"
***
Di sebuah cafe bernuansa outdoor seorang wanita berpenampilan seksi sedang berbincang dengan sahabatnya. Terlihat sekali wajah masam dengan bibir cemberut penuh kekesalan.
"Sudahlah Jess, gue yakin kalau Juna cuma mau manasin elu doang. Dia tu cinta banget sama elu, gak mungkin juga bakal ninggalin elu. Ingat gak waktu elu dirawat di rumah sakit, Juna semalaman jagain elu dan rela ninggalin tugas kantornya," ujar Siska —Sahabat Jesicca—
Jessica mengaduk-aduk smoothies stroberi yang ada di depannya. Sejenak berpikir dan membenarkan semua kata Siska, "Iya juga ya. Cuman gue ngerasa kesalahan gue kali ini sangat berat, sampai Juna nyewa cewek panggilan buat manasin gue."
"Alah ... cewek panggilan ini, biar gue yang beresin dia. Elu fokus aja sama Juna," sahut Siska tersenyum menyeringai. "Lagian elu sih, ngapain juga selingkuh, kurang apa Juna? Dia tampan, mapan, kaya dan bergelimang harta," sungutnya melanjutkan.
"Bener sih, mapan dan tampan, cuman ...." ucapan Jesicca terhenti. Ia sedikit ragu menceritakan kegundahannya pada Siska.
"Cuman apa?" tanya Siska terheran.
Jesica mendekati telinga Siska dan berbisik, "Dia sepertinya gak bisa berdiri, bahkan kabar yang beredar statusku cuman buat nutupin penyakitnya itu."
"Apa?!" Siska membolakan mata lebar. Suara kerasnya membuat para pengunjung lain menatapnya seolah terganggu dan tidak suka.
Jessica menutup mulut Siska dengan kasar, "Mulut lu berisik banget sih!"
"Sorry, gue kaget banget soalnya," sahut Siska tersenyum kuda.
"Dua tahun pacaran, dia sama sekali gak pernah nyentuh gue, cium paling banter cuman di pipi. Sepertinya dia beneran gak suka sama cewek deh. Makanya gue selingkuh sama Alex," pungkas Jesica. Ia menyeruput minuman berwarna pink itu perlahan.
"Masak sih? Cowok segagah Juna hombreng." Siska yang masih tidak percaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Zaman sekarang Sis, gak heran sih kalau beneran," kata Jesicca murung. "Cuman anehnya semalam Juna nyium bibir tu cewek, dan seperti menikmati, ah ... gue jadi makin overthinking," lanjutnya mengacak rambut frustasi.
"Emang elu gak pernah ngerayu Juna?" tanya Siska setengah berbisik.
"Pernah, katanya risih terlalu berdekatan. Alhasil gue malah diusir!"jawab Jesicca kesal.
Siska menepuk jidatnya sendiri, "Alamak, kalau beneran hombreng ngapain elu masih berharap ke dia. Masalah ciuman bibir semalam, aku yakin dia cuma mau bales dendam ke elu."
Keduanya masih begitu asik mengobrol, sampai tidak menyadari jika Arjuna dan Selina juga sudah berada di restoran yang sama. Mereka berdua memilih tempat duduk di ujung dekat taman dengan pemandangan air mancur di sebelahnya.
Selina kali ini berdandan seadanya menggenakan kemeja putih dan celana jeans berwarna biru, rambutnya terurai panjang dengan riasan wajah tipis membuat dia terlihat cantik alami.
Arjuna yang terkenal sangat dingin pada wanita manapun, berbeda dengan kali ini dia bisa tersenyum manis pada Selina, "Duduklah!"
Tak menunggu lama, Selina duduk saling berhadapan dengan Juna. Selina membalas senyuman tipis. Sejenak, suasana menjadi sedikit canggung, hingga Juna memberanikan diri bertanya, "Kamu mau pesen apa?"
"Samakan sama pesenan Tuan aja!" jawab Selina.
"Jangan memanggilku Tuan, sama sekali gak enak didenger!" seru Arjuna kesal.
"Terus saya harus manggil, apa? Bapak? Mister, atau Mas?" cerocos Selina yang tak kalah kesal.
Arjuna membuang napas berat, "Terserah elu aja!"
Selina mengambil amplop coklat di dalam tas dan meletakkan di atas meja, kemudian menggeser tepat di depan Arjuna. "Permintaan saya semalam jangan dianggap serius, Tuan. Uang tip ini terlalu banyak untuk saya."
Pemuda tampan itu tersenyum simpul, "Kenapa? Bukannya semalam kau yang minta ganti rugi sepuluh juta?"
"Setelah saya pikir-pikir, ini tidak benar," keluh Selina menundukkan wajah, sejenak kemudian Ia mulai beranjak dari duduknya, "Sebaiknya Anda cari gadis sewaan lain saja, yang bisa diperlakukan seenak Tuan. Saya bukan gadis panggilan!"
Arjuna menarik lengan Selina dengan kuat hingga gadis cantik berambut panjang itu jatuh tepat di pangkuannya. "Urusan kita belum selesai, kenapa mau kabur?"
Selina langsung mendorong kuat d**a bidang Arjuna dan beranjak kembali berdiri, tetapi lengan Arjuna yang kekar begitu kuat menahan tubuh Selina supaya tetap di pangkuannya.
"Tuan, di sini banyak orang, saya malu!" tolak Selina mencoba melepaskan diri.
"Aku akan melepaskanmu, tapi ada syaratnya!" kata Arjuna tegas.
Selina yang sangat risih jadi pusat perhatian banyak pengunjung lain, mencoba terus mengelak, "Lepaskan saya! kita bisa bicara baik-baik tanpa berpangkuan seperti ini."
"Apa kau tak punya telinga?" tanya Arjuna bernada dingin. "Aku akan melepaskanmu, asal kau menyetujui syaratnya."
"Apa syaratnya?" tanya Selina dengan wajah kesal.
"Menikahlah denganku!"