Bertahan Sulit Pergi Sakit

1061 Words
Di sebuah kamar hotel berbintang yang minim cahaya, Arjuna mengambil gelas kristal yang ada di atas meja, dengan senyuman tipis pemuda tampan itu menyesap perlahan wine yang berada di tangannya, ia berdiri di depan jendela besar menyaksikan pemandangan kota yang bergemerlap. Suara hentakan sepatu melangkah mengisi ruangan yang hening itu. "Juna, elu yakin bakal ninggalin Jesicca?" Suara Kevin memecah keheningan. Kevin adalah sahabat sekaligus asisten Arjuna yang sangat setia. "Hmmm!" sahut Arjuna acuh, ia masih begitu asik menyaksikan pemandangan di luar hotel. "Besok, atur pertemuanku lagi dengan Selina!" lanjutnya. Kevin yang saat ini berdiri di belakang Arjuna merasa terheran, "Maksudnya ... elu mau ketemu Selina lagi?" Arjuna membalikan badan dan bertanya dengan tatapan tajam, "Apa perkataanku kurang jelas?" "He,he,he," kekeh Kevin. "Gue tebak, elu mau Selina jadi alat buat manas-manasin Jesicca lagi, kan?" "Jangan banyak tanya, pokoknya besok jam makan siang, aku ingin ketemu dia." Arjuna berlalu melangkahkan kaki meninggalkan Kevin dalam kebingungan. *** Di kediaman Ani, dua wanita berbeda generasi itu masih berada di ruang tamu yang sederhana. Bergelut dengan pikiran masing-masing. "Kalau kamu masih peduli sama ibu, harusnya kamu bakal menuruti permintaanku," kata Ani ketus. Selina yang tadinya melamun memikirkan cara mendapatkan uang lebih banyak tersentak kaget mendengar ucapan Ani. Ia menghela napas berat dan mengambil remot di atas meja untuk mematikan televisi. "Ya, Bu. Selin akan usahakan." Dengan perasaan kesal gadis itu beranjak dari duduknya, ia mendorong kursi roda menuju kamar Ani, "Ibu istirahat dulu, nanti aku coba nyari pembantu buat ngerawat ibu." Penuh ketelatenan dan kesabaran Selina membantu Ani berpindah dari kursi roda ke kasurnya. "Apa hari ini Romy gak hubungin kamu?" tanya Ani penasaran. "Pagi tadi sempat kirim WA, katanya hari ini mulai skripsi. Ibu doain Romy berhasil skripsinya dan bisa cepet diwisuda, ya!" jawab Selina sumringah. "Aamiin, makasih ya, Sell. Kamu sudah mau biayain kuliah Romy dan merawat ibu sampai sekarang." Ani membelai lembut pipi Selina. "Sama-sama, Bu. aku udah anggap Anda ibuku sendiri, jadi gak perlu sungkan." Selina tersenyum manis dan menyelimuti tubuh wanita yang sudah mulai menua itu. Sebelum meninggalkan kamar, Selina mematikan lampu dan menutup pintu perlahan. Dia melangkahkan kaki menuju kamar mandi, berniat membersihkan diri. Setelah menanggalkan semua pakaiannya, Selina mulai mengambil segayung air dan membasuh mukanya, ia menggosok bibirnya berulang kali. "Pria sialan, bisa-bisanya seenak jidat menciumku," keluh Selina dalam hati. "Aku dan Romy aja yang udah pacaran bertahun-tahun gak pernah ciuman bibir." Walau ia terlihat kesal, nyatanya setiap ia memejamkan mata, wajah tampan Arjuna seolah terpatri di otaknya. Ia yang kesal dengan pikirannya sendiri langsung mengguyur puncak kepala dengan segayung air dingin. "Ya Allah, aku gak boleh baper. Cintaku hanya Romy gak ada yang lain," keluh Selina. Ia mulai mempercepat mandinya. Seusai mandi dan berganti baju, tidak lupa ia menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, dalam bentangan sajadah merah ia berdoa memohon kemudahan setiap apa yang ia lalui, bahkan bulir kristal bening itu mulai berjatuhan membasahi pipi, "Maafkan hamba, Ya Allah. Sejujurnya aku gak mau bekerja seperti ini, tapi bagi aku yang hanya lulusan SMA ini gak mungkin dapat pekerjaan bagus dengan gaji besar selain bekerja sebagai gadis sewaan. Aku janji Ya Allah, gak akan memberikan kesucianku pada siapapun selain pada suamiku kelak. Lindungi selalu hambaMu ini. Aamiin." Setelah menyelesaikan ibadah, ia melipat mukena dan sajadah kemudian bersiap tidur. Namun dering ponsel yang masih berada di tasnya berbunyi nyaring. Sesegera mungkin Selina mengambil benda pipih tersebut. "Romy?! tumben dia nelfon malam-malam begini," batin Selina yang menatap layar ponsel. Ia menggeser icon telepon berwarna hijau mengangkat panggilan, "Assalamualaikum, Romy." "Kamu ini gimana sih, Sell? Kok belum transfer uang untuk bayar kos-kosan?!" bentak Romy dari sambungan telepon. Selina begitu kecewa mendengar perkataan kekasihnya, ia yang berharap dapat kata manis dan sekedar ucapan rindu dari Romy justru mendapatkan omelan. Ia menghela napas panjang dan langsung menjawab, "Maaf. Tadi aku sibuk banget." "Aku tadi pagi udah WA, harusnya langsung kamu transfer dong." Lagi-lagi suara ketus itu membuat Selina semakin lelah. "Iya, sebentar lagi aku transfer." Gadis cantik berambut panjang itu langsung mematikan panggilan telepon secara sepihak dan membuka aplikasi M. Banking. Melihat saldo rekeningnya yang hanya berisi Satu Jutaan, Selina kembali menghela napas. "Bayar kos lima ratus ribu, biaya makan sebulan lima ratus, belum lagi bayar wisuda, bayar perawat buat Ibu, biaya makan dan lain-lain. Ya ampun, menyala otakku!" Dengan berat hati Selina mengirimkan uang ke rekening Romy, saat ia ingin merebahkan tubuhnya. Dering ponsel kembali berbunyi, tanpa ragu ia mengangkat panggilan telepon. "Apa lagi, Rom?" tanya Selina kesal. "Kenapa cuma lima ratus? biaya makanku gimana?" Suara bentakan Romy kembali mengganggu pendengaran Selina. "Itu dulu, kurangnya besok!" sahut Selina enteng. "Ngapain nunggu besok? Ibu bilang kamu kerja selalu pulang larut malam, pasti banyak uang dong," cecar Romy. "Ada banyak hal yang gak bisa kuceritakan di telfon. Kenapa juga sekarang kamu jarang pulang? Biasanya tiga Minggu sekali pulang," kata Selina tegas. "Kamu kan tau, aku lagi sibuk skripsi," jawab Romy. "Ya sudah, di sini aku juga berjuang kok. Kamu jangan marah-marah mulu seolah aku gak usaha bantuin kesulitan kamu. Kita berjuang dengan cara masing-masing, jadi ... supaya hubungan kita tetap baik, mending kita sibuk dengan urusan kita sendiri," ujar Selina kemudian mematikan panggilan telepon secara sepihak. Gadis cantik berambut panjang itu meletakkan ponselnya ke nakas dan bersiap tidur. "Apa aku kurang sabar menghadapi ujian ini? aku merasa bertahan sakit, pergi pun sulit," monolog Selina murung. *** Di pagi yang cerah, Selina sudah sampai di kantor jam delapan. Dengan langkah tergesa ia segera memasuki ruangan bos-nya. Karena tadi pagi ia menerima pesan chat untuk segera menghadap bos-nya. Tok,tok,tok! Gadis itu mengetuk pintu sebelum masuk, ia melangkahkan kakinya menuju meja kerja bos. "Pagi, Bu. Ada urusan penting apa ya, sepagi ini saya dipanggil ke sini?" "Duduklah Sell," jawab Miranda—Bos Selina—Wanita cantik berambut pendek berwarna coklat menatap tajam ke arah Selina. Aura mencekam seketika menyelimuti ruangan kerja ini. Selina menuruti dan duduk di depannya. Ia memainkan jemarinya di bawah meja, rasa khawatir mulai mengusik hatinya. "Wajah Bu Miranda serius banget, jangan-jangan dia tahu kejadian semalam dan mau memecatku," batinnya ketar-ketir. "Semalam kamu ke hotel Horison?" tanya Miranda bernada dingin. Selina mengangguk perlahan, bahkan ia tidak berani menatap wajah bos cantiknya. Sepersekian detik, Miranda mengeluarkan amplop coklat di atas meja, tepat di depan Selina. "Apa ini, Bu?" tanya Selina bernada rendah. "Buka saja!" jawab Miranda. Tangannya seketika mendadak berkeringat dingin, jemarinya pun sedikit gemetar mengambil amplop coklat tersebut. Matanya membola sempurna melihat isi dalam amplop.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD