Brak!
Malam yang seharusnya menjadi malam yang panas untuk Arjuna dan Selina harus terganggu oleh kehadiran sang mantan pacar. Bibir keduanya yang hampir bertautan pun merenggang seirama dengan tubuh yang saling menjauh.
"Juna! w************n mana yang menemanimu malam ini?!" Jesica dengan muka merah padam menghampiri kedua pasangan mesra yang duduk di sofa sudut ruangan.
Selina berusaha melepaskan kedua tangannya yang terkalung di leher Arjuna. Namun, sebelum itu terjadi bisikan mesra dari pria tampan itu membuat Selina mengurungkan niatnya, "Jika kau berhasil membuatnya cemburu dan pergi dari sini. Aku akan melepaskanmu!"
Seketika wajah cantik Selina berbinar, "Benarkah, Tuan?"
Arjuna mengangguk mantap seraya mengeratkan pelukan di pinggang Selina yang masih duduk di pangkuannya. "Dia mantan pacarku, dan aku sudah bosan dengan dia. Jika kau berhasil mengusirnya, aku beri bonus tambahan."
Serasa mendapatkan angin segar, Selina tersenyum lebar. Ia pun beranjak dari pangkuan Arjuna. "Lepaskan pelukanmu, Tuan. Biarkan aku mengusir wanita tak tau diri itu."
Dengan senyuman tipis, Arjuna duduk bersandar di sofa menyaksikan kedua wanita yang sedang memperebutkan dia.
"Dasar w************n. Pergi dari sini!" bentak Jesicca menunjuk arah pintu keluar.
Selina menyilangkan kedua tangannya di d**a disertai senyuman simpul, "Kau yang murahan! bisa-bisanya datang seenak jidat dan menganggu keseruan kami."
"Beraninya kau mengataiku murahan!" Gadis berpenampilan seksi itu mengulurkan tangan kanannya tepat terarah ke pipi Selina, sebelum tamparan itu berhasil mendarat di pipi Selina, ia berhasil menangkap pergelangan tangan Jesicca dengan kuat.
"Kalau bukan murahan disebut, apa?" sentak Selina.
"Kau yang murahan, Juna itu pacarku! Pergi dari sini, sebelum kau menyesal telah berurusan denganku!" ancaman Jesicca sama sekali tak membuat Selina takut, justru ia semakin berani melawannya.
"Kau sengaja mengatai dirimu sendiri?" Selina tersenyum smrik, "Kau yang seharusnya pergi. Karena kau hanya, Mann-tan paa-car!"lanjutnya dengan nada mengejek.
Jesicca yang tersulut emosi mendorong Selina, "Kurang ajar kau!"
"Jangan banyak bicara, Nona. Silakan keluar dari sini!" Selina menarik lengan Jesicca untuk keluar kamar hotel.
Wanita berpenampilan seksi itu mendorong Selina dan menghampiri Arjuna. Dengan rengekan manja ia berkata, "Juna! Sebenarnya siapa wanita itu? usir dia dari sini dan biar aku jelaskan semuanya padamu."
"Mau menjelaskan apa lagi? semua sudah jelas ... kamu di jalananmu dan aku di jalanku," jawab Arjuna santai.
Jesicca mencoba duduk di samping Arjuna dan berusaha merayu, ia membelai pipinya dengan lembut. "Sayang, aku tahu kamu marah. Kita bisa bicarakan baik-baik."
Arjuna menangkis tangan Jesicca dengan kasar dan berjalan menghampiri Selina. Tanpa pikir panjang, pemuda tampan itu langsung melumat habis bibir Selina dengan tiba-tiba, hingga kedua mata gadis berparas cantik itu membola sempurna. Ingin menolak, tetapi inilah perannya untuk mengusir Jesicca dari tempat ini.
Isi kepala Jesicca seolah mendidih menyaksikan ciuman panas mereka tepat di depan mata. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan cepat untuk menghentikan Arjuna. Cekatan dan sigap, ia menarik lengan kekar mantan kekasihnya sehingga ciuman mereka berdua berhasil terlerai.
Selina yang hampir kehabisan napas mencoba mengambil oksigen dalam-dalam, "Dasar pria b******k, mengambil kesempatan dalam situasi laknat ini. Bahkan dia hampir membunuhku," batinnya.
Sementara Jesicca mulai menangis terisak-isak di hadapan Arjuna. "Juna, jangan menghukumku begini!"
"Pergi!" kata Arjuna bernada dingin. "Atau kau ingin menyaksikan kemesraan kami yang lebih intim?"
Demi mengusir Jesicca, Arjuna pun memeluk pinggang Selina dari samping dengan erat. "Dia wanita yang akan menggantikan posisimu, mulai sekarang ... kita putus hubungan!"
"Stop Juna! Jangan seperti ini, dengarkan penjelasanku." Jessica melepaskan tangan Arjuna dari pinggang Selina, dan beralih memeluk tubuh tegap Arjuna dengan erat.
"Apa yang kamu lihat malam itu, tidak seperti yang kamu bayangkan. Pria itu hanya temanku yang kebetulan ketemu dan kami ngobrol bareng," jelas Jesicca.
"Beneran hanya ngobrol? Yang aku lihat, kalian sangat mesra," sangkal Arjuna kesal. Ia melepaskan pelukan Jesicca dengan kasar.
"Kamu hanya cemburu buta, Juna!" rengek Jesicca.
Sepersekian menit keduanya terdiam, Selina pun hanya membisu. Ia teringat dengan peran yang harus dimainkan, sesegera mungkin gadis berambut panjang itu menarik lengan Jesicca dan mendorongnya berjalan keluar. "Pergi dari sini! Jangan ganggu kami."
"Wanita jalang sialan, lepaskan tanganku!" elak Jesicca mencoba melerai cengkraman tangan Selina. Namun, usahanya sia-sia. Hingga ia terlempar keluar kamar tanpa perlawanan.
Brak!
Selina menutup pintu kamar dengan kasar, setelahnya ia membersihkan kedua tangannya. "Biang masalah sudah terselesaikan."
Arjuna tersenyum tipis melihat tingkah Selina, ia berjalan menghampiri berdiri tepat di belakangnya dan berbisik lembut di telinga, "Kau berhasil mengusirnya."
Selina tersentak kaget, ia berbalik badan menghadap Arjuna, "Sesuai janjimu. Kau harus melepaskanku!"
Arjuna mengangguk lemah, "Baiklah. Kau boleh pergi."
Selina melompat kegirangan, "Benarkah, Tuan? terima kasih."
Gadis cantik berambut panjang itu mengambil tasnya yang ada di sofa dan beranjak keluar. Namun, ia teringat sesuatu dan kembali melangkahkan kaki menghampiri Arjuna.
"Apa lagi?" tanya Arjuna heran.
"Kau tadi mencium bibirku. Itu kerugian bagiku," sungut Selina kesal.
Arjuna menaikkan satu alis seraya melipat dua lengan di d**a, "Terus?"
"Tentu saja Tuan harus membayar kerugian itu." Selina mengulurkan tangan kanannya meminta imbalan.
"Kau mau berapa?" tanya Arjuna bernada dingin.
Gadis cantik itu meletakkan telunjuknya di kening seolah berpikir, "Sepuluh juta!"
Arjuna mencebikkan bibir dan mentoyor kening Selina , "Ciuman bibir saja sepuluh juta. Kau mau merampokku?"
Selina yang kesal berkacak pinggang, "Masalahnya itu ciuman pertamaku!"
"Ha,ha,ha," tawa renyah pemuda tampan itu mengisi penuh ruangan.
"Kok tertawa? kau menghinaku?!" sungut Selina.
"Kau ini sedang ngelawak atau apa?" Arjuna menunjuk tepat di d**a Selina. "Gadis sewaan sepertimu jangan berlagak suci," lanjutnya sedikit menghina.
"Saya memang sewaan, tetapi masalah harga diri tetap menjadi prioritas utama. Saya anggap itu hutang." Selina yang emosi berlalu pergi dan menutup pintu dengan kencang.
***
Di jalan yang masih ramai tepatnya di depan hotel, Selina mengeluarkan ponsel dan memesan ojek melalui aplikasi. Tidak menunggu waktu lama, seorang pengemudi motor mengenakan jaket dan helm hijau berhenti tepat di depan Selina. "Mbak Selina?" tanyanya.
"Iya, sesuai aplikasi ya, Bang." Selina langsung membonceng motor menuju ke rumah.
Sekitar dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana, Selina turun perlahan mengembalikan helm pada tukang ojek. "Makasih, ya Bang!"
"Sama-sama, Mbak. Jangan lupa bintang lima ya!" kata tukang ojek sebelum pergi.
Selina membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali, berjalan melewati halaman yang sempit penuh dengan bunga dan tanaman hias dan melangkah menuju ke dalam rumah.
Suara pintu utama dibuka perlahan, dengan langkah lesu gadis cantik itu masuk ke dalam. Di ruang tamu, seorang wanita berusia sekitar 50 tahun duduk di kursi roda nampak menunggunya. "Kok tumben pulangnya sampai larut malam?"
Selina berusaha menyembunyikan rasa lelah, kesal dan kecewanya dengan tersenyum tipis. "Biasa, Bu. Ada tugas tambahan dari Bos."
"Owh," sahut Ani. Dia adalah ibu dari Romy kekasihnya Selina.
"Ibu udah makan?" Selina menghampiri Ani dan duduk di sofa bersebelahan dengannya.
"Makan apaan?" jawab Ani ketus, "Cuma telur ceplok dan kecap buat makan seharian, ibu bosen makan itu terus atau jangan-jangan kamu yang udah bosen ngerawat ibu?" tanyanya dengan nada memelas.
"Bukannya gitu, Bu. Selin janji kalau udah resmi menikah dengan Romy, aku akan berhenti kerja dan full seharian ngerawat ibu," bujuk Selina. Ia menggenggam erat tangan Ani.
Ani hanya menghela napas panjang, ia berkata dengan nada kesal, "Mending kamu cariin pembantu untuk Ibu, biar kamu bisa fokus cari uang untuk kebutuhan kita."
"Pembantu?" kata Selina murung.
"Ya, pembantu yang bisa merawatku dengan baik," sungut Ani kesal.
"Ta—tapi, Bu!" sela Selina terbata.
"Kalian berdua memang sudah gak sayang sama ibu, mending kirim aku ke panti jompo saja," keluh Ani terisak.
"Biaya hidup dan biaya kuliah saja udah bikin aku kuwalahan, ini malah minta pembantu. Nasib, nasib...," batin Selina dalam hati.