Arjuna mengungkung tubuh Selina yang masih terpaku di depan pintu. Gadis berambut panjang itu mengerjapkan kedua matanya berulang.
"Ka-kau ... mau apa?" tanya Selina terbata.
"Aku sudah menyewamu, apapun yang kulakukan ... bebas!" bisik Arjuna bernada dingin, bahkan gadis itu mampu merasakan embusan napas hangat beraroma mint.
Selina tersenyum tipis, ia mendorong d**a pria itu perlahan untuk menjauhinya, "Sepertinya Anda salah sangka. Di aplikasi, Tuan Kevin menyewa saya untuk menemani makan malam, bukan menemani pria lain di tempat tidur."
"Kevin ...!" Arjuna menaikkan sebelah alisnya. "Dia cuma asistenku. Aku yang menyuruhnya boking kamu," lanjutnya melonggarkan dasi yang masih terkalung di leher.
"Apapun itu, bukan alasan Anda meminta saya melakukan hal aneh-aneh," sentak Selina.
Arjuna menarik lengan Selina dan mencengkram erat. "Aku gak peduli semua ocehanmu. Sekarang ... lakukan tugasmu!" lanjutnya setengah berbisik.
"Memangnya, apa tugas saya?" tanya Selina memberanikan diri.
Pemuda itu tersenyum menyeringai, ia berbisik lembut di telinga Selina. "Tentu saja membuatku puas."
Selina membelalakkan mata lebar, ia mencoba berpindah posisi menjauhi Arjuna, "Saya bisa menemani makan malam, menemani bercerita atau hal positif lain, selain memuaskan Tuan di ranjang."
Arjuna melangkahkan kaki perlahan mendekati Selina, semakin gadis itu mudur justru membuat pria itu terus mendekati. Sorot matanya tajam, membuat Selina sedikit ketakutan.
"Aku sudah membayarmu, kau tidak bisa seenaknya menolak," kata Arjuna tegas.
"Anda salah paham, Tuan. Kalau sampai Tuan melanggar peraturan perusahaan, Anda bisa dituntut dan dipidanakan," sahut Selina.
Arjuna mencebikkan bibir, "Kau pikir mudah menuntutku?!"
Selina memutar otak dan merayu Arjuna supaya melepaskannya malam ini. Ia mencoba membenarkan dasi yang tidak simetris, "Tuan Tampan, aku punya ide. Gimana kalau kita main kartu saja?"
Arjuna yang seolah mendapat kesempatan langsung menarik pinggang ramping Selina merapat ke tubuhnya. "Main kartu? kalau aku menang, kau mau menuruti perintahku?!"
"Boleh ... tapi, apa Tuan yakin bisa mengalahkan saya?" tantang Selina percaya diri.
Arjuna tersenyum simpul, ia berbisik ke telinga Selina dengan lirih, "Ketika kau kalah ... hadiah istimewa apa yang akan kau berikan?!"
"Tentu saja membuat Tuan puas," jawab Selina dengan senyuman menggoda, "Tapi ... jika aku yang menang, Anda harus melepaskan saya dari sini."
Gadis cantik itu mengencangkan dasi di leher Arjuna hingga nyaris mencekiknya. Ia yang merasa tertantang membelai rambut panjang Selina perlahan, "Kau cukup menarik."
Selina dengan senyuman lebar menyibakkan rambutnya. "Jangan panggil aku Selina jika tidak bisa memuaskan klien!"
Arjuna berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya. Sementara Selina duduk dengan anggun di sofa, pandangan gadis itu terarah pada kaca besar yang ada di depannya. Seolah membayangkan sesuatu yang sulit dipahami, rasa takut, tertantang, dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang dalam situasi ini.
Selang beberapa menit, pintu kamar diketuk. Kevin memberikan sekotak kartu permainan pada Arjuna. Pemuda tampan itu melemparkan kartu di atas meja, membuat Selina yang tadinya melamun tersentak kaget.
"Kau yang mulai!" kata Arjuna bernada dingin.
Selina segera mengambil kartu, jari jemari lentiknya begitu lincah mengacak kartu-kartu itu.
Sementara menunggu, Arjuna menuangkan anggur merah ke dalam dua gelas kristal bergundi. Mendengar suara wine dituang, dua mata bening Selina langsung terarah pada objek tersebut.
"Tuan, saya tidak minum alkohol," cetus Selina.
"Kau lupa? jika kalah dari permainan ini, kau harus menuruti semua perintahku." Arjuna membawa dua gelas berisi wine mendekati dan duduk di sebelah Selina.
Selina menghela napas panjang, matanya memicing tajam. Jemarinya yang lentik dengan lincah terus mengacak kartu. "Sepertinya Anda gak punya kesempatan menang dariku," ucapnya dengan nada mengejek, bibir merah merona itu sedikit tertarik membentuk seringai kemenangan.
Arjuna hanya tersenyum tipis dengan sorot mata tenang dan penuh perhitungan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, mengamati Selina dengan seksama. "Jangan terlalu yakin. Permainan baru saja dimulai."
Selina berhenti mengacak kartu dan meletakkan tumpukan kartu di atas meja. Ia membagikan kartu dengan gerakan cepat dan terampil, masing-masing tujuh lembar untuk dirinya dan Arjuna. Setelah memastikan kartu tersusun rapi di tangan, Selina mengangkat dagu menantang Arjuna. "Oke, mari kita lihat siapa yang akan memenangkan permainan ini."
Arjuna mengangguk, mengambil kartu pertama dari tumpukan dan meletakkannya di tengah meja. Sebuah kartu As berwarna merah. "Aku mulai dengan As Hati."
Selina tersenyum sinis. "As Hati? Itu bukan kartu yang kuat, Tuan Juna!" Ia membalas dengan meletakkan kartu Raja Hati. "Raja mengalahkan As."
Arjuna tidak menyerah begitu saja. Ia meletakkan kartu Queen Hati. "Queen lebih berkuasa dari Raja."
Selina mendengus. Ia membalas dengan kartu Jack Hati. "Jack lebih licik dari Queen.
Permainan berlanjut dengan sengit. Selina dan Arjuna saling beradu strategi, mencoba menjebak satu sama lain dengan kartu-kartu yang mereka miliki. Selina bermain dengan agresif dan penuh percaya diri, sementara Arjuna bermain dengan tenang dan hati-hati.
Beberapa saat kemudian, Selina mulai merasa tertekan. Arjuna selalu memiliki jawaban untuk setiap kartunya. Ia merasa seperti sedang bermain melawan seseorang yang bisa membaca pikirannya.
"Aku keluarkan angka 10 Hati!" seru Selina, sedikit frustrasi.
Arjuna tersenyum tipis. "Sayangnya, aku punya angka 9 Hati," balasnya, meletakkan kartu tersebut di atas meja.
Selina menggeram pelan. Ia menyadari bahwa ia hanya memiliki satu kartu Hati yang tersisa, yaitu angka 2. Kartu yang sangat lemah. Ia tahu, jika ia mengeluarkan kartu itu, Arjuna pasti akan memenangkan putaran ini.
Arjuna menatap Selina dengan tatapan penuh kemenangan. "Giliranmu, Selina. Apa kau punya kartu Hati yang lebih kuat?"
Selina terdiam. Ia menatap kartu angka 2 Hati di tangannya dengan tatapan benci. Ia merasa terjebak. "Aku tidak suka bermain dengan orang yang bisa membaca pikiranku." Ia bangkit dari kursi.
Arjuna tersenyum penuh kemenangan, dan menarik lengan Selina untuk duduk kembali, Selina yang terkejut jatuh di pangkuan Arjuna. "Akui saja kekalahanmu Selina," bisiknya. "Yang menang menjadi raja dan yang kalah takluk pada rajanya!" lanjutnya mendekatkan bibir ke wajah cantik Selina.
***
Sementara itu, di luar kamar hotel Kevin masih setia menunggu berjaga di depan pintu. Pemuda itu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan dengan senyuman simpul ia mulai berhitung, "Satu, dua, ti ...!"
Sesuai prediksinya seorang wanita cantik berpenampilan seksi keluar dari pintu lift berlari kecil menghampiri Kevin.
"Keviiiiinnnnnn!" serunya bernada kesal. "Di mana Juna?" lanjutnya berteriak.
"Bukannya kalian sudah putus? untuk apa mencari Juna," sahut Kevin bernada dingin.
"Bulshit!" Gadis berpenampilan seksi itu mendorong tubuh Kevin kuat hingga terhempas ke pintu.
"Kau gila, Jess!" cibir Kevin kesal.
"Juna pasti ada di dalam, 'kan? Sama siapa dia di dalam?" bentak gadis bernama Jessica yang tidak lain adalah mantan pacar Arjuna.
Kevin menyilangkan kedua tangannya di d**a, "Bersama siapa pun Juna, bukan urusanmu lagi."
Jessica mengulurkan tangannya, "Mana kartu akses kamar ini?!"
"Pulang saja, percuma juga kamu di sini. Juna sudah menemukan yang lebih baik darimu," usir Kevin disertai senyuman simpul.
Jessica yang kesal menunjuk tepat di depan muka Kevin, "Beraninya kau!"
"Pulang saja, dari pada nanti kau cemburu," seloroh Kevin.
"Berikan kartu aksesnya, Kevin!" bentak Jesicca dengan wajah merah padam.
Tanpa perlawanan Kevin memberikan kartu akses pada Jesicca.
Brak!
Pintu kamar hotel dibuka kasar oleh Jesicca, kedua matanya membulat sempurna melihat pemandangan di depannya.
"Juna!"