Diandra sangat bahagia sampai saat ini bahkan dirinya terus melihat cincin yang melingkar di jari manisnya itu, terlihat sangat pas dan cantik baginya. Diandra bahkan tidak pernah mengira jika ternyata Abelano akan memberinya kejutan yang sangat luar biasa seperti itu, Diandra merasa sangat bersyukur dirinya merasa bahagia karena Tuhan telah menambah kebahagiaan nya saat ini.
"Bagus sayang? kamu suka?" tanya Abelano yang kini sedang duduk di samping Diandra dan mengerjakan pekerjaan kantornya.
"Bagus banget aku suka, kamu tau banget selera aku mas sukanya kan cincin mata satu seperti ini simple" jelas Diandra.
"Iya dong sayang, apapun yang kamu suka kan aku tau" jelas Abelano.
"Harganya Ndak mahal banget kan Mas?" tanya Diandra.
"Enggak kok" ujar Abelano.
Astaga naga bisa-bisanya Diandra menanyakan hal seperti itu, jika di tanya mahal atau ga ya pasti lah mana mungkin Abelano memberikan cincin kualitas yang kurang baik untuk Diandra? apalagi ini cincin couple dirinya juga memakai yang versi polos tanpa mata dan ya ada ukiran inisial nama mereka di belakang cincinnya.
Diandra tipe orang yang tidak begitu suka dengan barang yang terlalu mahal, Padahal Abelano selalu ingin yang terbaik bagi tunangannya itu, karena itulah diam dan berbohong akan lebih baik dari pada Diandra akan marah karena Abelano terlalu boros dengan belanjanya.
"Mas mau Didi buatin minum?" tawar Diandra.
"Boleh sayang, mau aku terserah aja mau apa" jelas Abelano.
"Oke Mas," balas Diandra.
kekasihnya memang banyak lembur karena hal itu sebenarnya dirinya tidak membuatkan kopi karena Abelano ada masalah dengan lambungnya, dirinya tidak bisa asal-asalan dalam membuatkan kopi karena takut jika nantinya ada hal yang membuat Abelano kenapa-kenapa.
"Ini Mas" ucap Diandra setelah selesai memberikan minuman untuk kekasihnya.
"Sayang, bobok aja dulu nggak papa aku belum selesai ini" jelas Abelano.
"Enggak, aku mau temenin Mas" ucap Diandra.
"Ya udah, rebahan di sofa panjang aja biar kalau ngantuk nanti ketiduran mas pindah ke ranjang nanti" jelas Abelano.
Diandra mengangguk, memang dirinya tidak begitu mengantuk tetapi terkadang dirinya tiba-tiba tanpa sadar langsung ketiduran, tidak paham lagi dengan apa yang terjadi padanya itu.
Abelano menghubungi rekan kerjanya, memang mereka sudah terbiasa dengan kinerja Abelano yang malam seperti ini, tidak ada waktu di siang hari karena Abelano sibuk untuk kuliah, walaupun terlihat bermain-main tapi dirinya sangat serius dalam mengerjakan segala tugas dan bahkan dia selalu mendapat nilai yang bagus, bukan karena dia siapa tapi karena memang dia orang yang cerdas dan mampu menjawab maupun menjelaskan ketika dosen memintanya menjelaskan di depan kelas.
"Pengembangan bukannya di fokuskan pada tekhnologi terbaru? kenapa ? perusahaan lawan mulai mengembangkan hal itu lagi?" tanya Abelano.
dirinya terlihat emosi karena memang rencana yang sudah dia rancang ada orang yang membocorkan hingga perusahaan itu sudah mempublikasikan inovasi barunya, karena Abelano kesal kini pada akhirnya dirinya segera menutup telepon dan mulai mengerjakan rencana pengembangan itu dengan ditambahkan fitur terbaru melebihi apa yang sudah dia rencanakan sebelumnya, entah rasanya membuat kepala Abelano rasanya pusing tapi dirinya yang bertanggung jawab atas proyek ini dia tidak pernah gagal dia ingin memenangkan proyek ini sebagai hasil dari kinerjanya lagi.
"Kenapa Mas? " tanya Diandra.
"Nggak papa sayang, balik bobok lagi ya maaf ganggu kamu?" tanya Abelano.
"Engga Mas, kalau ada apa-apa cerita ya kan aku juga sering cerita sama kamu kalau ada hal yang terjadi sama aku" ujar Diandra.
"Masalah kerjaan, ada orang yang membocorkan pekerjaan yang sudah aku lakukan beberapa Minggu belakangan ini hingga pada akhirnya aku harus menambah inovasi lagi karena memang kita harus lebih unggul dari perusahaan lawan" ucap Abelano.
Diandra mengangguk pasti sangat sulit bagi Abelano tapi disini dirinya tidak bisa melakukan apapun selain memberikan semangat bagi kekasihnya agar tidak pernah lelah dalam menjalankan tanggung jawab yang sudah di embannya.
Diandra melihat jam yang kini sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dirinya merasa jika sudah cukup kekasihnya harus istirahat, berpikir dalam kondisi pikiran yang sedang kacau juga tidak akan memberikan hasil yang maksimal, bisa saja nantinya malahan Abelano harus bekerja dua kali karena dirinya yang tidak puas dengan apa yang dia kerjakan saat ini.
"Mas, istirahat dulu yuk? ini udah malam banget loh besok kan kita masuk sore paginya bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan ini lagi" jelas Diandra.
"Tapi sayang? rasanya aku bahkan tidak bisa tidur jika hal ini masih belum mendapatkan jawaban, aku harus segera menyelesaikan tugas ini" jelas Abelano.
"Sayang, kerja keras itu perlu, tapi kamu juga harus ingat kamu juga harus jaga kesehatan, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa" ucap Diandra yang kini mendekati Abelano.
Abelano menatap wajah Diandra yang sayu, Diandra sudah mengantuk dan dia juga merasakan kepalanya yang mulai pening, malam seperti ini dirinya mendapat kabar buruk hingga berpikir saja rasanya tidak sanggup, ini semua karena penghianat yang bahkan ada di dalam divisinya, orang lain selain papanya dan orang di divisinya tidak ada yang tau tentang rencana ini. Papanya tidak akan membocorkan pada musuh dan hal yang harus Abelano khawatirkan adalah tim nya yang kini kesetiaan mulai goyah karena mendapat iming iming uang dari perusahaan musuh.
"Maaf ya Mas egois, Mas tau kamu khawatir dengan keadaan Mas" ucap Abelano memeluk Diandra.
Ya Tuhan rasanya sesak beberapa Minggu mengerjakan semua ini dan hasilnya sia-sia karena ada seseorang yang dengan tega membocorkan informasi tentang kerja keras yang telah dia lakukan selama ini.
"Istirahat ya?" ucap Diandra dengan mata yang berkaca-kaca.
Diandra takut jika kekasihnya sakit, sudah cukup Diandra tidak mau lagi kehilangan orang yang benar-benar dia sayangi dengan sepenuh hatinya, rasanya pasti akan sangat menyakitkan.
"Ayo istirahat, Mas bereskan laptop dan beberapa dokumen ini dulu" ujar Abelano dan langsung diangguki oleh Diandra.
Jika bukan karena dia tidak tega melihat Diandra yang seperti ini pasti dia akan lembur dan bahkan sama sekali tidak ingin istirahat jika belum mendapatkan ide mengenai inovasi terbaru yang akan segera perusahaan release.
"udah, yuk" ajak Diandra memeluk Abelano.
Tubuh Abelano memang terasa tidak tenang, jantungnya pun masih berdebar tidak teratur ini memang pertanda jika Abelano masih menahan amarahnya, Abelano sangat marah dengan orang yang bahkan tidak bisa dipercaya seperti itu. Sejak awal dia selalu menegaskan dalam tim nya jika dia sangat menjunjung tinggi kesetiaan jika ada orang yang berkhianat maka sampai kapanpun akan segera Abelano singkirkan karena perubahan tidak membutuhkan orang yang seperti itu.
"Sayang, tarik nafas buang jangan memendam emosi seperti ini aku hanya nggak mau kamu sakit" jelas Diandra dia berusaha menenangkan kekasihnya.
Abelano tiba-tiba memeluknya, dia menangis di pelukan Diandra. Rasanya dia tidak tahan lagi, setidaknya dia bisa mengungkapkan segala yang dia rasakan kepada tunangannya ini.
"Aku kecewa sayang, beberapa Minggu aku mengerjakan hal ini dan tiba-tiba malam ini mendapat kabar jika perusahaan lawan bahkan sudah release produk dan bahkan sama persis dengan apa yang aku buat, padahal seharusnya tidak bisa karena yang tau hanya papa dan satu tim divisi, aku sangat tidak suka dengan penghianat seperti itu" ujar Abelano.
"Kamu jangan pikirkan itu dulu ya sayang? lebih baik kamu pikirin apa yang sedang kamu berusaha perbaiki setelah segalanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang kamu inginkan maka setelah itu barulah kamu menyelidiki segala hal mengenai tim divisi kamu karena kebocoran informasi seperti itu pasti dari internal perusahaan, untuk saat ini lebih baik kamu komunikasi dengan papa ya jangan dengan mereka terlebih dahulu, karena kita tidak tau siapa yang berkhianat di balik mereka yang selalu berjanji dengan kesetiaan mereka" jelas Diandra.
Abelano mengangguk, dia paham dengan apa yang dikatakan oleh Diandra lebih baik kini pikirannya fokus dengan apa yang terjadi saat ini, dirinya tidak boleh terlalu banyak pikiran karena hal itu pasti akan membuat Abelano kurang semangat dalam mengerjakan tanggungannya.
"Udah, waktunya istirahat agar besok bisa berpikir jernih Mas, kamu semangat ya? Didi nggak bisa bantu apa-apa selain memberikan semangat, doa dan selalu ada di samping kamu" ucap Diandra lalu mengecup sekilas bibir Abelano.
"itu sudah lebih dari cukup sayang, terima kasih sudah mau menemani aku dalam suka dan duka" ujar Abelano dan langsung mencium bibir Diandra dengan penuh kelembutan.
"udah, istirahat yuk" ajak Diandra.
Abelano mengangguk, mereka langsung naik keatas tempat tidur dan saling berpelukan untuk memberikan ketenangan jiwa dan raganya.
"selamat malam sayang" bisik Diandra dan mengeratkan pelukannya pada Abelano.
"Selamat malam juga sayangku" balas Abelano.
Malam yang penuh kejutan dan kemarahan tapi Abelano mampu melewati semua itu dengan baik karena ada Diandra di sampingnya, jika tidak maka dia pasti akan segera mengadakan pertemuan walaupun waktunya tengah malam seperti ini, dirinya akan mencari tau siapa yang berkhianat dalam divisinya.
Bersama Diandra dirinya mampu untuk mengontrol emosinya, umurnya semakin bertambah dan dia juga harus bisa mengendalikan emosi, karena sejatinya calon pemimpin adalah orang yang tetap bisa tenang dalam menghadapi segala hal yang terjadi, dia selalu berpikir tentang apa yang harus dia lakukan tanpa membuat kegaduhan.
***
Pagi harinya Abichandra dan Eto kini sedang berjalan di kawasan pertanian yang Keluarga Diandra miliki. Abichandra sangat takjub dirinya kini bisa tau jika Eto bukan orang biasa, dirinya mampu mengusung pertanian modern yang bahkan sangat membuat hasil panen melimpah dengan hasil kualitas terbaik seperti ini.
"Seharusnya perusahaan ku juga harus bisa ekspor hasil panen seperti ini, semua hasilnya terlihat sangat bagus dan segar" jelas Abichandra.
"Syukurlah segalanya sudah berjalan lebih baik dari sebelumnya, awal memulai memang terasa susah tapi makin kesini makin mendapatkan banyak manfaat dan bisa mengajarkan warga yang lain untuk bisa bertani seperti ini juga" ujar Eto.
Mereka memang menginap disini, Puspa juga sudah menyiapkan kamar untuk mereka, walaupun tidak sebagus di hotel tapi setidaknya mereka merasa nyaman untuk tinggal, masalah udara yang sangat segar tidak bisa lagi di gagu gugat karena memang tempat tinggal mereka yang berada di pedesaan Jogja segalanya terasa seperti jaman dulu, belum banyak rumah dengan model modern mereka kebanyakan dengan rumah joglo dan Limasan sebagai mana umumnya rumah di sini.
"Terima kasih ya, malahan kami merepotkan sekali" ujar Abichandra.
"Aku yang terima kasih, kalian mau tinggal di tempat kami yang sangat sederhana" ujar Eto.
"Aku pikir joglo depan itu yang nantinya akan di sulap untuk acara resepsi pernikahan Diandra dan Abelano, karena memang hidup di Jawa juga harus mematuhi apa yang ada di sini juga kan? soalnya kalau di Jakarta ya biasa saja gitu" jelas Abichandra.
"Iya memang karena adat, percaya atau ga percaya kita juga harus ikutin itu takutnya juga ada hal yang tidak diinginkan terjadi nantinya" jelas Eto.
"Kamu memang dari jepang ya? udah lama pindah disini?" tanya Abichandra.
"Pengorbanan cinta yang membawaku sampai sini, ah terkesan sangat lebay tapi memang begitu adanya, dulu mendapatkan restu dari ayah Puspa sangat susah, namanya anak bungsu dan pastinya dirinya sangat dekat dengan ayahnya nah karena aku orang Jepang, ayah tidak mau jika anaknya sampai tinggal di sana, makanya waktu itu juga ayah menolak karena memang aku serius ya udah di kasih Syarat intinya ga boleh tinggal di Jepang kalau udah menikah" cerita Eto.
"Memang kalau udah cinta ya bagaimana lagi, rasanya kalau liat segala hal pengorbanan di masa lalu kita rasanya juga tidak ingin mempersulit anak kita dalam memperjuangkan orang yang dia suka, makanya ketika melihat Abelano mengatakan dia akan serius dengan Diandra aku langsung mulai memikirkan nya, Abelano sopan dan baik yang pasti dia bertanggung jawab apalagi Diandra juga menyukai Abelano, setelah itu aku dan Puspa memutuskan Jika merestui Abelano dan Diandra" jelas Eto.
Abichandra mengangguk, anaknya memang pekerja keras dan bertanggung jawab dengan segala hal yang dia kerjakan, tugas perusahaan saja dikerjakan dengan baik apalagi tugas menjaga dan membahagiakan orang yang di sayangnya? pasti dirinya akan melakukan segala hal itu dengan baik.
"terima kasih sudah percaya dengan Abelano, saya sebagai papanya juga menjamin bahwa Diandra akan bahagia dengan Abelano, karena anak saya tidak pernah main-main dalam masalah cinta, dirinya juga sangat susah dalam jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta langsung ingin segera di sahkan seperti ini" ujar Abichandra.
Eto dan Abichandra sudah mulai akrab dan begitu pula dengan Puspa dan Abigail yang kini sedang memasak di rumah, walaupun awalnya sangat canggung tetapi kini mereka bahkan bisa lebih akrab dari sebelumnya, segalanya lebih mudah apalagi Puspa maupun Eto orang yang sangat mudah bergaul dan ramah, kedatangan keluarga Abelano juga sangat dinanti oleh mereka.
Semoga apa yang sudah direncanakan oleh kedua orang tua ini bisa terlaksana dengan sangat baik, mereka dengan semaksimal mungkin akan membantu segalanya yang berkaitan dengan pernikahan mereka yang akan segera dilangsungkan tiga bulan lagi.
bersambung