Pagi hari sekali pukul empat pagi Abelano sudah terbangun dari tidurnya, bahkan Diandra masih asik terlelap dalam tidurnya. Bisa dikatakan tidur Abelano antara lelap dan tidak karena dia bersama dengan Diandra yang membuat nyaman tetapi juga pikirannya ada pada kerjaan.
Abelano mengecup kening Diandra sebelum dirinya mulai mengerjakan kerjaannya di ruang tamu, dia juga membuat Teh karena untuk menaikkan mood nya pagi ini, dia merasa Lebih tenang setelah istirahat beberapa jam dan setelah itu dia langsung kembali memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan nya yang belum di selesaikan, walaupun dia masih kesal tetapi setidaknya pagi hari yang tenang ini dia gunakan untuk memulai pekerjaan yang lebih baik.
"Astaga, awas aja kalau udah ketemu siapa yang berkhianat bakalan aku langsung pecat dia" monolog Abelano yang kini menghidupkan laptopnya.
Abelano paling tidak suka dengan pengkhianat maka dari itu dirinya selalu saja merasa kesal tiap ada hal yang mengganggu emosi hati dan pikiran nya itu, orang yang bahkan bisa mengkhianati perusahaan yang bahkan sebagai tumpuan untuk hidupnya, seharusnya mereka sadar di sana di gaji dengan jumlah yang besar untuk setia saja bahkan masih diragukan.
Setia itu hanya untuk orang yang berkelas karena orang seperti itu tidak levelnya, kesetiaan mereka hanya dihargai dengan sejumlah uang dan hal itu membuat Abelano merasa muak.
Memikirkan hal itu membuat kesal dan akhirnya dirinya kini langsung menyesap teh hangat yang dibuatnya lalu segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, Abelano yakin dirinya bisa sukses dengan pengembangan dan inovasi yang kini dia kerjakan, walaupun secara mendadak tapi Abelano mampu melakukannya, dia terbiasa di tempa dengan berbagai cobaan hal seperti ini seharusnya tidak membuatnya terkejut dan malahan akan menjadi suatu hal yang membangkitkan semangatnya agar bisa lebih maju lagi dalam menghadapi segala hal yang terjadi kedepannya.
Abelano tau hidup itu berat, dirinya walaupun dari keluarga kaya juga banyak mengalami cobaan dan dia juga harus bekerja keras agar papanya percaya bahwa dirinya mampu untuk menjadi penerus dari usaha papanya ini.
Banyak hal yang tidak pernah orang lain tau, mereka hanya mikir segala kesuksesan yang Abelano dapatkan adalah dengan bantuan orang tuanya, padahal segala hal itu adalah jerih payahnya sendiri, kedua orang tuanya sama sekali tidak pernah berlaku curang karena dirinya juga sangat menyukai kejujuran dalam melakukan apapun.
***
Pukul setengah tujuh pagi Diandra baru bangun dari tidurnya, dia melihat ranjang sebelahnya yang sudah kosong dan dia langsung berpikir bahwa memang kekasihnya sedang mengerjakan pekerjaan yang belum di selesaikan malam tadi.
Diandra langsung mencuci muka dan menggosok giginya, Diandra segera keluar dari kamar untuk melihat Abelano yang terlihat berkutat dengan laptop dan dokumen di tangannya, Abelano terlihat sangat serius bahkan satu meja pun banyak terdapat lembaran dokumen yang memenuhinya.
"Pagi Mas" sapa Diandra langsung mengecup bibir Abelano sekilas.
"Pagi sayang," jawab Abelano langsung meletakkan dokumennya di sebelah nya dan langsung memeluk Diandra.
Abelano rasanya lelah tapi melihat Diandra tersenyum seperti ini rasanya segala hal yang membuat kepalanya pusing pun sirna, Abelano orang yang selalu saja senang melihat pacarnya yang terbangun dengan bahagia seperti itu, setidaknya dengan begitu Abelano merasa jika dia berhasil membahagiakan Diandra ketika bersama dengan dirinya.
"Bobok nya nyenyak?" tanya Abelano mengusap kepala Diandra.
"Nyenyak, aku mau masak mas mau makan apa?" tanya Diandra.
"Masakin yang seger-seger sayang, abis hujan jadinya agak dingin" jelas Abelano.
"Sayur asem? sambel tempe ayam goreng? seperti itu?" tanya Diandra.
"Boleh sayang, aku juga suka ya udah kamu masak dulu aku mau ngerjain ini lagi ya?" ucap Abelano dan langsung diangguki Diandra.
"Semangat sayang" bisik Diandra dan mencuri ciuman di pipi Abelano.
"Ih lagi pengen atau gimana? kok nyosor terus" goda Abelano.
"Ih ya udah kalau ga mau, awas ya kalau kamu cium aku" kesal Diandra.
"Hahaha aku paksa sayang" Abelano terasa sangat puas pagi-pagi seperti ini menggoda kekasihnya.
Abelano senang melihat kemerahan di pipi Diandra, rasanya dia sangat puas sekali dan rasanya ingin menggoda nya terus tetapi apa daya, Diandra suka marah kalau dirinya terus menggoda Diandra dari pada buat mood Diandra buyar lebih baik menahannya karena itu lebih baik dari pada memaksakan diri.
"Mau teh lagi ngga Mas?" teriak Diandra yang berada di dapur.
"Engga usah sayang, air putih aja" jawab Abelano.
Tak menunggu lama kini Diandra langsung membawakan air putih dan memberikannya kepada Abelano, dirinya hanya bisa berdoa semoga pekerjaan Abelano segera bisa selesai dengan baik karena memang hal itulah yang diinginkan oleh Diandra, melihat Abelano pusing seperti itu sama saja membuat dirinya ikutan pusing.
"Mas aku tinggal masak" ujar Diandra.
"Iya sayang" balas Abelano.
Diandra masak makanan sesuai dengan apa yang di inginkan oleh Abelano, dirinya senang karena kekasihnya selalu saja mengapresiasi setiap masakan yang dia buat, entah enak atau nggak tapi Abelano selalu memakan nya dan bahkan selalu habis, dalam hal seperti ini memang Diandra masih dalam tahap belajar, Abelano selalu maklum akan apa yang dialami oleh Diandra.
Abelano yakin jika Diandra akan jadi koki terbaik yang dia sukai makanannya, terbukti memang awal ketika Abelano ingin dibuatkan makanan rasanya belum maksimal tapi karena sudah terbiasa masak dan dia percaya diri kini akhirnya masakan Diandra sangat pas di lidah Abelano, dirinya senang dengan segala macam masakan yang di buat oleh Diandra untuknya.
***
masakan sudah jadi, Eto dan Abichandra pun kini sudah pulang dari sawah kini waktunya untuk sarapan bersama, hanya ada mereka berlima karena memang Bagus saat ini sedang libur karena sekolahnya sedang digunakan untuk lomba karena itulah siswa asli sana di liburkan untuk hari ini.
"Ini adek Diandra ya? udah kelas berapa?" tanya Abichandra.
"kelas 2 SMA om" jawab Bagus.
"Sebentar lagi mau Lulus, niat mau kuliah dimana nanti?" tanya Abichandra.
"Niatnya di Jogja aja om, kalau keterima" ujar Bagus.
Bagus ingin meneruskan pertanian ayahnya, dia juga ingin kuliah jurusan pertanian karena memang dirinya sangat ingin meneruskan dan mengembangkan segala potensi yang ada di desanya, terlebih ayahnya juga sangat senang dengan pertanian seperti ini. awalnya Bagus merasa jika petani biasa saja tapi setelah kini dia tau bahwa apa yang dilakukan ayahnya sangat luar biasa, dirinya semakin tertarik dan ingin mempelajari segalanya dengan lebih benar sesuai dengan kebenarannya.
Bagus juga ingin selalu dekat dengan orang tuanya, Mbak nya sudah jauh dengan keluarga dan dia tidak ingin lagi meninggalkan kedua orang tuanya, Bagus ingin disini dan meneruskan segalanya yang sudah di mulai oleh ayahnya.
"nggak papa Deket sama orang tua" jelas Abigail.
Bagus tersenyum, keluarga ini sama-sama sopan, baik Diandra maupun Bagus mereka diajarkan sopan santun yang baik dari kedua orang tuanya.
"Nanti balik ke Jakarta sore ini?" tanya Puspa.
"Iya, soalnya papanya Ano besok juga harus kerja" jelas Abigail.
memang berbeda sekali bekerja menjadi petani dan bos di perusahaan, waktunya memang sangat berbeda jika Eto bisa di rumah dan selalu bersama keluarga berbeda dengan Abichandra yang harus datang ke kantor setiap harinya.
Memang mereka bekerja di dua bidang yang berbeda tetapi percayalah segalanya yang mereka lakukan adalah hal yang terbaik karena mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi orang lain karena hal itulah mereka juga bagikan pahlawan yang mampu membantu orang lain dalam menghidupi keluarga dengan layak.
"Nanti aku ada beberapa oleh-oleh, nanti siang udah sampai ke rumah kok tadi bibi nya Dian yang beliin di kota" jelas Puspa.
"Ya ampun repot-repot, makasih banyak ya Pus" ujar Abigail.
"Ndak kerepotan kok, makasih banyak ya nitip Diandra di sana ya" pesan Puspa.
"Kami akan menjaga Diandra seperti anak kami sendiri" ujar Abichandra menambahkan.
Mereka kini sudah lebih dekat, bahkan menjadi calon besan semoga saja segala hal yang direncanakan agar segera terwujud dengan sangat baik, setidaknya itu yang mereka harapkan.
"yuk mari sarapan dulu" ujar Eto.
Mereka sarapan bersama, hidup di desa membuat Abigail dan Abichandra merasa lebih nyaman dan tenang, tetapi untuk saat ini dirinya tidak bisa karena memang banyak tanggung jawab yang diemban oleh Abichandra apalagi usahanya semuanya berpusat di Jakarta, mungkin bisa saja nanti ketika mereka sudah tua dan gantian Abelano yang memegang perusahaan mereka bisa hidup di Bali, Jogja atau di Jawa barat dengan suasana tenang dan asri seperti yang mereka mau.
***
Diandra mengusap keringat di dahinya, dirinya sudah menyelesaikan memasak sarapan untuk mereka berdua, Diandra langsung memanggil Abelano, setidak nya laki-laki itu sarapan terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya, Diandra tidak suka jika Abelano terlalu melewatkan sarapan seperti itu.
"Ayo sarapan dulu Mas, aku dah masak loh" ujar Diandra.
"Iya sayang, bentar aku save dulu abis itu nyusul ke meja makan" jelas Abelano.
"Didi tunggu" ujar Diandra dan diangguki oleh Abelano.
Diandra bersiap dia mengambilkan Nasi dan menunggu Abelano untuk kesana, laki-laki itu bisa sangat betah berada di balik laptop jika dirinya harus mengerjakan deadline pekerjaan seperti ini, jika tidak Diandra memaksa mungkin laki-laki itu akan makan setelah semua pekerjaan yang dimilikinya selesai.
"Mas, ayo Didi lapar" rengek Diandra ketika melihat kekasihnya mendekat.
"Iya sayang, ayo" ujar Abelano yang duduk di kursi.
Diandra langsung mengambilkan lauk untuk Abelano sebelum dirinya mengambilkan lauk untuk dirinya sendiri, makan bersama seperti ini membuat Diandra merasa bahagia karena memang dia sangat senang jika ada Abelano di sisinya.
"Mas, nanti kamu pulang?" tanya Diandra.
"Iya sayang, Papa pulang aku mau Konsultasi mengenai ide baru penambahan ini sih kamu disini aja atau mau nginep di rumah?" tanya Abelano.
"Aku disini aja Mas, nanti kamu tapi kabarin ya aku sekarang kalau sendirian suka ga seneng" ujar Diandra.
"Hilih bilang aja kalau kamu seneng ada aku kan" ujar Abelano.
Diandra malu, memang benar dia sudah terbiasa dengan Abelano yang selalu menemani dirinya jika tidak rasanya seolah olah akan berbeda sekali, karena hal itulah kini dia sering merasa kesepian jika kekasihnya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Abelano pun kini masih belum menyelesaikan pekerjaan nya, niatnya sebelum berangkat kuliah akan segera di selesaikan semua dan nanti malam tinggal konsultasi dengan papanya, Abelano bertanggung jawab dengan proyek ini dan dirinya tidak mau sampai Perusahaan gagal dan merugi karena proyek ini tidak dia dapatkan.
proyek pengembangan dengan nilai yang fantastis, mereka akan bekerja sama dengan perusahaan luar negeri jika memang akhirnya dia yang kepilih, tapi perusahaan saingannya sudah mempresentasikan apa yang dia miliki dan semua itu hasil curian sama seperti yang Abelano buat, karena hal itu sebelum besok dia presentasi maka dirinya pula yang harus turun tangan sendiri, akan meminta saran dari papanya untum menyempurnakan segala rencana yang akan dia kerjakan di proyek ini.
"Semangat terus ya sayang" ujar Diandra.
"Makasih sayangku, semoga besok aku berhasil ya? Semoga Tuhan tau mana yang benar-benar berusaha dengan baik lah yang di berikan kesempatan untuk berkembang lebih baik dari pada orang yang hanya bisa mencuri segala kesempatan padahal hal itu sudah dikerjakan dengan baik, malahan demi uang sampai tega seperti itu" ucap Abelano.
"Mas sabar, cobaan dari Tuhan malahan dengan begini mas jadi tau siapa yang benar-benar tim dan penghianat jadinya orang seperti itu tidak akan bertahan lama di Perusahaan karena mas mengetahui segalanya lebih cepat" jelas Diandra.
Memang benar yang dikatakan oleh Diandra, ini suatu petunjuk dari Tuhan jika Abelano tidak bisa dengan mudah mempercayai orang lain yang belum tentu juga bisa kita percaya, walaupun satu tim tapi buktinya ada orang yang bahkan tidak setia dan demi uang mereka melakukan hal yang merugikan perusahaan seperti itu.
"Aku diam dulu aja sayang, setelah ini semua berjalan lancar maka aku akan mencari tau siapa dalang di balik dari segala hal yang terjadi seperti ini, Aku bahkan sampai tidak mau tau jika hal ini akan terulang kembali, hal-hal ini hanya akan membuat perusahaan merugi jika terlalu lama dibiarkan begitu saja" ucap Abelano.
Diandra mendukung setiap keputusan yang diambil oleh Abelano, dirinya tau jika semua itu adalah yang terbaik bagi Abelano dan perusahaan, semoga apa yang direncanakan oleh kekasihnya berjalan lancar tanpa ada halangan apapun karena memang terkadang suatu maksud baik ada aja cobaan yang menghalangi.
"Masakannya gimana mas?" tanya Diandra dia hanya ingin mencairkan suasana agar Abelano tidak membahas masalah kantor terus menerus.
"enak sayang, kamu makin pinter masak" jelas Abelano.
Diandra merasa senang karena Abelano memuji masakannya, dia tau dia tidak jago tapi dia terus berusaha untuk melakukan yang terbaik agar segalanya bisa lebih enak nantinya jika mereka sudah berkeluarga, ketika mereka menikah Diandra ingin selalu masak untuk suaminya, karena dia selalu ingat jika masakan istri harus lah makanan yang selalu suami ingat dan rindukan karena makanan yang di buat istri yang akan membuat suami jatuh cinta padanya.
bersambung