Bab 8

2006 Words
Hari ini kedua orang tuanya berangkat ke Jogja sesuai dengan rencana, keluarga Diandra juga sudah tau maksud kedatangan keluarga Abelano kesana, mereka benar-benar menyambut baik apa yang menjadi tujuan keluarga Abelano ke sini. Sebenarnya keluarga Diandra agak merasa insecure karena setelah di telusuri memang keluarga Abelano bukan keluarga yang biasa saja, mereka bahkan sering di liput majalah bisnis karena memang perusahaan nya yang berkembang pesat dan banyak mendapatkan proyek serta apresiasi dari pemerintah. Perusahaan tersebut terus berusaha ikut serta dalam membangun negeri karena hal itulah mereka mendapatkan penghargaan dari pemerintah atas segala hal yang telah mereka lakukan untuk pengembangan negeri tersebut. keluarga mereka akan menyambut mereka dengan baik karena memang mereka juga berusaha dengan baik bahkan sampai ke Jogja demi melamar anaknya ini, Eto merasa jika memang Abelano mampu menjaga Diandra dengan baik, dirinya terlahir dari keluarga kaya dan bahkan sama sekali tidak pernah merasakan susah tapi dia mampu menerima segala kesederhanaan disini, Abelano tumbuh di besarkan dengan baik oleh kedua orang tuanya. "Yah, sebenarnya ada apa?" tanya Bagus yang kini baru pulang sekolah. "Keluarga Mas Abelano mau kesini, mau lamar mbak Dian" jelas Eto. "Oalah, Mbak Dian Ndak pulang Yah?" tanya Bagus. "Ndak, soale mbak kamu kan juga lagi kuliah" balasnya. Eto kini menunggu, Persiapan makanan dan lain-lain masih dipersiapkan, dirinya juga tidak menyiapkan makanan kota tapi benar-benar makanan khas di Jogja agar orang tua Abelano paham dengan segala keadaan di desa kecil seperti ini. "Yah, tolong bantu angkatin kompor" ucap Puspa. "Iya Bu, bentar ayah bantu" balas Eto. Eto orang Jepang asli dan kini bahkan sudah sangat fasih berbahasa Jawa, dirinya sangat senang berada di sini dan rasanya dia ingin selamanya berada di tanah air Indonesia ini, banyak hal perjuangan dan segalanya yang dia lakukan untuk Puspa dan dia juga telah memilih untuk tinggal di sini. Sementara itu, keluarga Abelano datang dengan membawakan seserahan. Sebelum mereka datang karena adat setiap daerah berbeda jadinya Abichandra dan Abigail tanya masalah adat dengan sangat mendetail mereka tidak mau jika lamaran mereka tidak sesuai dengan adat yang ada di sini, karena itu dirinya kini sudah menyiapkan segal yang mereka butuhkan sesuai dengan adat yang mereka pegang. Mereka orang yang bisa dibilang sangat kaya raya tapi sama sekali tidak memandang pasangan anaknya dari keluarga seperti apa, mereka hanya menerima jika anaknya ingin karena mereka tau hidup bersama dengan orang yang tidak di sukai hanya akan membuat tertekan dan sama sekali tidak membuat mereka bahagia, sejak awal Abichandra sudah membebaskan anaknya mengenai pasangan yang akan dinikahinya. "Ma, semoga ini memang keputusan yang terbaik untuk anak kita" ujar Abichandra. Abelano anak satu-satunya, mereka hanya ingin membahagiakan anak mereka sesuai dengan apa yang anaknya inginkan, Abelano benar-benar mencintai Diandra dan menjaga Diandra dengan baik, sejak awal hubungan mereka sudah Abichandra ketahui melalui orang yang memang di utus untuk menjaga Abelano, dirinya mendapatkan segala laporan tentang hal itu. "Mama juga Pa, kita orang tua hanya bisa mengusahakan yang terbaik untuk anak kita, karena Mama tau Abelano memang merasa tenang dan bahagia bersama Diandra karena hal itulah Mama mengusahakan segalanya sesuai dengan Abelano mau" ucap Abigail. Abichandra mengangguk, mendapatkan Abelano tidak semudah yang dikira oleh orang lain, semuanya penuh dengan perjuangan dari istrinya yang bahkan merelakan segalanya bahkan ketika hamil Abelano juga istrinya sering sakit dan dulu Abelano lahir prematur. Abelano dari awal lahir dengan prematur dalam kandungannya pun banyak terjadi masalah yang selalu saja membuat Abigail masuk kedalam rumah sakit, setelah Abelano lahir Abichandra benar-benar melarang Abigail untuk hamil lagi karena dia ketakutan jika akan terjadi hal seperti dulu lagi. "Papa bahagia, semoga ini merupakan suatu hal yang benar dan tidak ada penyesalan di akhir" ucap Abichandra. "Iya Pa, kita berdoa yang terbaik untuk anak kita" ujar Abigail. Mereka sudah sampai di Jogja dan kini langsung menuju kerumah keluarga Diandra, semoga segalanya akan dipermudah oleh Tuhan. *** Diandra kini bersama dengan Abelano, dirinya makan siang setelah selesai kuliah. Diandra dan Abelano hanya selisih berapa jam saja selesai kuliahnya sehingga dia memutuskan untuk menunggu Diandra. "Mas, Mama udah sampai sana katanya" ucap Diandra yang mendapatkan pesan dari Abigail. "Udah sampai sayang? semoga lancar segalanya" ucap Abelano. "Aamiin, semoga segalanya di lancarkan" ujar Diandra. Abelano mengangguk, seharusnya mereka bisa kesana tapi apa daya kuliah juga penting dan kini kerjaan di perusahaan juga sangat sibuk, bahkan dia rasanya tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat, bersama Diandra seperti ini sudah bagaikan hiburan baginya. "Mas nanti nginep apa Ndak?" tanya Diandra. "Iya, di rumah kan ga ada mama papa" jelas Abelano. "Mas ada kerjaan di kantor?" pertanyaan Diandra langsung diangguki oleh Abelano. siang ini mereka memutuskan untuk makan seafood bakar saja, sudah lama mereka tidak makan disana karena kesibukan mereka. "Sayang, tolong ambilin topi di belakang agak silau ini" ujar Abelano. "Iya Mas, bentar ya" ucap Diandra langsung mengambilkan apa yang memang kekasihnya butuhkan. sebenarnya mereka sangat jarang makan seafood yang lokasinya dekat pantai seperti ini, di samping lokasinya yang jauh terkadang juga tempatnya sangat ramai dan kalau mendadak sangat jarang akan mendapatkan tempat. "Udah reservasi kan Mas?" tanya Diandra. Hari ini Diandra yang lebih cerewet dari pada Abelano, jujur saja melihat Abelano diam seperti ini membuat Diandra takut entah apa yang ada didalam pikiran kekasihnya sehingga dirinya seolah-olah mendiamkan dirinya. "Mas, kamu kok diam terus aku salah?" tanya Diandra. "Enggak kok" jawab Abelano. "ih pakai 'Kok' kayak ga ikhlas ih" rewel Diandra. Abelano kini mulai terdiam dan dia diam-diam semakin bahagia di dalam hatinya, Abelano berhasil mendiamkan Diandra yang bahkan biasanya anak itu lebih pendiam dari dirinya. "enggak sayang" jawab Abelano. "Ih padahal aku ga salah apa apa" ujar Diandra. "Iya sayang, ga salah kok santai aja" jawab Abelano santai. walaupun Abelano memintanya untuk santai tetapi yang ada di dalam hatinya adalah kebalikannya, Diandra sama sekali tidak santai dia takut jika tiba tiba Abelano tidak cinta padanya, dia sangat takut jika hal itu terjadi padahal kini kedua orang tua Abelano sedang ada di Jogja untuk melamar dirinya. "Mas nyesel mau tunangan sama aku?" tanya Diandra. "ngomong apa sayang?" tanya Abelano. "Tapi mas keliatan nggak bahagia" ujar Diandra. "Mas kan lagi fokus nyetir sayang, kamu tau sendiri jalan kesini ga bagus" jelas Abelano. Diandra terdiam kini overthinking dan segala kesalahpahaman ini membuatnya cek Cok dengan kekasihnya, padahal seharusnya ini merupakan hal yang biasa tapi entah kenapa Diandra nggak suka jika Abelano menjadi diam karena hal itu akan membuat dirinya kesepian tanpa Abelano yang banyak bicara mengenai dirinya yang suka teledor dan melakukan segala macam hal yang membuat Abelano marah. "Jangan diam sayang, ayo turun maaf ya kalau kamu merasa aku cuek tapi emang kan jalannya sempit sayang" jelas Abelano. "Aku kira kamu marah" ucap Diandra masih sedih. "enggak marah kok" jawab Abelano dan langsung mendekatkan dirinya dan mengecup kening Diandra. kekasihnya yang begitu perasa dan sering merasa overthinking sendiri memang tidak baik jika dia biarkan seperti ini, bisa saja nanti kekasih nya akan semakin kepikiran dan membuat kesehatan nya menurun, Abelano paling tidak suka jika melihat kekasihnya sakit, dia tidak tahan dan bahkan jika bisa dia sendiri yang ingin menggantikan rasa sakit yang dirasakan oleh kekasihnya itu. "Udah nggak usah dipikirin kan kita mau makan disini, udah jam tiga sayang bahkan lebih Mas mau lihat sunset nanti makanya mas reservasi tempat duduk yang kamu suka" jelas Abelano. Diandra menangis, memang terlihat sangat lebay tapi apa bisa dikata? dirinya menyayangi Abelano sangat dalam bahkan memikirkan Abelano tidak mencintainya saja sudah cukup membuatnya sengsara. "Jangan nangis, Maafin mas" bisik Abelano dia mengusap air mata yang jatuh di pelupuk mata Diandra. "Mas, nggak boleh ninggalin aku" bisik Diandra di pelukan Abelano. "Iya sayang" bisik Abelano. Mana mungkin Abelano meninggalkan Diandra di saat hati dan pikirannya pun isinya Diandra semua, Abelano benar-benar menyayangi Diandra dengan setulus hatinya dia berjanji untuk selalu menjaga janjinya selalu bersama dengan Diandra. "Udah yuk, kita masuk ya?" ajak Abelano. "iya, kita masuk Mas Didi mau yang seperti biasanya ya?" pinta Diandra. "Iya sayangku, Mas tau dan udah Mas pesankan makanya mas pengen masuk udah lapar" jelas Abelano. "Hihi, iya Mas maaf ya Didi udah rewel" ujar Diandra. "Nggak papa sayang, kalau gitu malahan Mas jadi tau kalau kamu sangat menyayangi Mas" ucap Abelano. Diandra mengangguk memang dia sangat menyayangi Abelano, walaupun dengan awal yang terpaksa dan merasa tertekan dengan segala hal sikap posessive yang dimiliki oleh Abelano tapi semakin hari dirinya semakin terpukau dengan segala sikap yang dimiliki oleh Abelano, laki-laki yang sangat bertanggung jawab dan bahkan segala sikap posessive yang dia miliki untuk Diandra demi kebaikan wanita itu sendiri. Abelano kini turun dari mobil sedangkan Diandra memperbaiki penampilan nya terlebih dahulu setidaknya matanya tidak terlalu sembab dan masih pantas untuk berjalan di samping Abelano, jujur saja setiap dirinya bersama Abelano rasa insecure itu ada apalagi banyak orang yang juga menyukai Abelano tetapi karena Abelano yang selalu ingin bersama dirinya perlahan rasa percaya diri itu muncul dan kini dia sudah merasa biasa saja mau ada orang yang membicarakan jika mereka berdua tidak cocok pun dia sama sekali tidak masalah karena hubungan mereka tidak butuh pengakuan dari orang lain. "Udah kan?" tanya Abelano. Diandra mengangguk, dirinya langsung menggandeng tangan Abelano dan mereka langsung masuk kedalam resto dan menempati meja yang sudah mereka pesan. "Sayang, mau tambah itu kepiting saus asam manis" ujar Diandra. "Tambah itu ya mbak" ucap Abelano. "Baik tuan, tolong di tunggu pesananya untuk makanan yang sudah dipesan sebelumnya sebentar lagi akan dihidangkan" jelas pelayan tersebut. "Baik, makasih mbak" ucap Abelano. setelah pelayan itu undur diri kini akhirnya Diandra bisa kembali manja bersama dengan Abelano, tumben sekali memang sangat jarang jika Diandra manja seperti ini bahkan bisa dikatakan jika bisa di hitung jari. "Sayang kenapa? seneng banget kita tunangan?" tanya Abelano. "Iya, seneng banget" ucap Diandra "emangnya kamu nggak seneng?" "Seneng sayang, bahkan rasanya ga bisa berkata-kata intinya bahagia banget" jelas Abelano. Mata Diandra semakin berbinar, memang benar terlihat jika Abelano bahagia bahkan dirinya kini semakin perhatian dan semakin manis dengan Diandra, sifat posessive nya juga berkurang dan dia tidak begitu berlebihan bila terjadi suatu hal, Abelano hanya akan memberikan nasehat dan jika Diandra kembali berulah maka Abelano lah yang akan memberikan pelajaran pada Diandra. "Aku bahagia sayang" ucap Abelano sangat lembut. "Makasih ya Mas" ucap Diandra. Diandra akan lebih baik lagi kedepannya, dia tau terkadang dia sangat sering membangkang dari apa yang dikatakan oleh Abelano, padahal hal itu memang yang terbaik bagi Diandra mungkin memang Diandra belum benar-benar paham di usianya seperti ini dia masih labil karena terkadang terpengaruh dari teman nya. "Aku yang seharusnya berterima kasih sayang" jelas Abelano. Tuhan sungguh baik, dia mengirimkan Abelano dengan segala kelebihan dan kekurangan kepada dirinya yang bahkan tidak ada apa apanya seperti ini. Diandra sangat bersyukur dan dia tidak akan menyiakan kesempatan ini apalagi kini hubungannya dengan Abelano semakin dekat karena mereka sudah bertunangan. "Kira-kira mama dan papa disana bagaimana ya sayang?" tanya Diandra. "Aku pengennya sih kita segera menikah, aku udah bilang sama Mama dan papa untuk sekalian menanyakan pernikahan, tunangan terlalu lama juga nggak baik karena lebih baik di segerakan untuk menikah" jelas Abelano. "Aku juga siap Mas, tapi kamu tau sendiri kadang aku masih labil aku harap mas nggak akan pernah bosan buat dampingi Didi untuk menjadi istri yang lebih baik lagi ya?" ucap Diandra. "Kita berusaha ya sayang, semoga Tuhan mempermudah jalan kita menuju kebahagiaan segala hal yang melibatkan Tuhan di dalamnya pasti akan mendapatkan titik temu yang terbaik nantinya, Mas juga bukan orang baik tapi mas akan terus berusaha melakukan Tugas mas sesuai dengan kewajiban Mas" jelas Abelano. Diandra mengangguk, dirinya kini merasa bahagia setelah mendengar banyak hal dari Abelano, mungkin dirinya sendiri yang terlalu perasa karena hal itulah dia yang nangis sendiri karena pikirannya sendiri. Makanan yang mereka pesan kini sudah datang, Abelano selalu mengutamakan Diandra terlebih dahulu sepertinya ketika mengupas kepiting untuk Diandra maka dia yang akan melakukannya terlebih dahulu sebelum dia memakan bagianyaa, segala perhatian kecil seperti ini membuat Diandra semakin terasa spesial, dirinya bagaikan wanita yang dijadikan ratu oleh kekasihnya semoga hal ini akan terjadi selamanya seperti dengan janji yang telah Abelano katakan padanya. Janji bukan hanyalah sekedar ucapan, karena janji merupakan utang dan kita harus bisa sebaik mungkin untuk mewujudkan apa yang sudah kita janjikan sebelumnya. bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD