1. Salah Meja
Aku selalu tahu bagaimana caranya terlihat sempurna.
Gaun hitam sederhana dengan potongan bersih, rambut disanggul rendah tanpa helaian liar, riasan wajah yang natural, cukup menegaskan bahwa aku adalah Levina Leon. Perempuan yang tidak boleh salah. Perempuan yang ibunya banggakan di setiap pertemuan, di hadapan siapapun.
"Iya, Mami. Iya!" Aku menegaskan pada sambungan telepon sambil berjalan terburu di pelataran restoran mewah yang ramai. "Aku sudah sampai juga ini di restorannya," kataku memberi tahu.
"Pinter anak Mami."
Aku memutar bola mata jengah dengan perkataannya. Itu pujian yang memuakkan.
"Tapi Mami janji ini yang terakhir, Mi. Aku nggak mau lakuin kencan ini lagi. Lagi pula, hidupku aman saja bahkan tanpa pasangan," kataku lelah. Lelah dengan semua aturan yang berlaku dari mami. Ibuku itu berkuasa atas hidup anak-anaknya, termasuk urusan pasangan.
Aku tidak ingin jadi seperti kakakku yang hidup menderita usai menikah dengan pria pilihan Mami yang berakhir diselingkuhi.
"Iya Mami janji ini yang terakhir. Asal kamu sama dia jadian, dan janji sampe ke pertunangan, Sayang."
Aku membuang napas lelah. Selalu begitu. Entah apapun permintaanku, selalu berakhir dengan sesuatu yang membuatnya mengeratkan tali yang mengikat leherku. Sial.
"Terserah." Pada akhirnya satu kata pasrah itu selalu menjadi hal yang aku lontarkan padanya, pada sosok yang melahirkan dan membesarkan aku dengan jeratan aturan yang mengekang.
"Meja nomor sembilan ya, Sayang. Mami tutup teleponnya ya. Selamat berkencan. Bawakan Mami calon mantu ya, Sayang. Muaaah, see u."
Rasaku ingin muntah hanya mendengar apa yang mami katakan. Aku muak, muak dengan kata manis yang meluncur mulus dari mulutnya, berkata semua atas nama cinta seorang ibu, yang ingin anak-anaknya bahagia. Persetan dengan latar belakang sempurna jika pada akhirnya hidupmu dikendalikan iblis berwujud seorang ibu.
Asal tahu saja, ibuku mengancam akan melukai keponakan cantikku yang masih mungil jika aku tidak menurut untuk kencan buta kali ini. Sepanjang hidupku, sejak menginjak usia remaja hingga kini dewasa tak pernah sekalipun terlibat asmara dengan seorang pria. Aku terlalu fokus pada buku, pada deretan huruf yang disebut teori, dan dari semua itu aku mendapatkan gelarku. Ah, lupakan tentang itu.
Aku melihat nomor meja yang ibuku katakan, no 9 bukan? Dengan langkah mantap aku menghampiri meja itu. Ada seorang pria di sana, mengenakan kacamata hitam. Cih! Jika ingin bergaya harusnya di luar sana, kenapa pula pakai kacamata hitam di dalam ruangan? Apa matanya bintitan?
"Permisi. Aku boleh duduk di sini, kan?" kataku dan menarik kursi berhadapan dengannya.
Aku tidak bisa melihat reaksinya karena dia datar dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang cukup tinggi juga.
"Langsung saja. Aku terpaksa melakukan ini meski aku tidak menginginkannya. Jadi tidak usah pura-pura sok peduli dan serius. Tapi aku ingin ini menjadi kencan terakhir, dan kita menjadi pasangan," kataku tanpa memberi kesempatan untuknya bicara.
Aku memperhatikan rahangnya yang ngeras, sepetinya dia kesal.
"Oke. Kamu diam, kamu setuju menjalin hubungan pura-pura ini." Aku mengambil keputusan tanpa peduli dengan pendapatnya.
Dia melepas kacamatanya yang membuat mataku nyaris keluar dari tempatnya. Sial. Pria itu!
Dia menyeringai. Seringai menyebalkan yang membuat aku teringat akan masa lalu. Masa kelam yang penuh dendam.
"Wah. Kau ternyata masih saja sama ya, Lev." Dia menyindir tajam, menatapku dengan tatapan elangnya.
Sial. Kenapa harus pria ini? Tidak. Ini pasti salah, tidak mungkin mami menjodohkan aku dengan pria ini.
"Kamu ... Bagaimana kamu ...." Aku kehilangan kata, menatap pria itu tak percaya.
Tapi pria itu membalikkan nomor di atas meja yang ternyata nomor enam. Sial. Dia memainkannya?
Seringai di wajahnya kian lebar ketika aku hanya diam saja, mencerna kesalahpahaman ini.
"Kau salah meja, Nona Levina Leon dari keluarga Leon Wilder. Teman kencanmu di sana." Dia menunjuk kursi di belakangku, ada seorang pria yang duduk membelakangiku saat ini.
Aku hanya bisa membuka mulut, kehilangan kata-kata sekaligus merasa malu atas pengakuanku tadi. Kencan terakhir? Oh, pria di depanku pasti akan mengejekku habis-habisan.
Rasanya memalukan sekali. Tapi tunggu, Elard William ya. Hm, sebuah ide terlintas di benak.
Aku duduk dengan angkuh, mengangkat daguku dan membalas tatapannya.
"Kamu ... Apa yang kamu lakukan di sini?" Rasanya terlalu pahit berpura-pura bicara dengannya. Tapi aku harus melakukan ini.
Elard menyandarkan punggung ke kursi, melipat kedua tangan di d**a, membalas tatapanku tak kalah angkuhnya. Dia masih tetap saja sama seperti lima tahun lalu.
"Pertanyaan yang bodoh, Nona Lev. Ini tempat umum, dan masih jam makan siang, orang-orang datang ke sini untuk makan, termasuk aku," jawabnya santai. Seringainya masih membingkai wajah tampannya yang putih dengan kumis tipis di bibirnya.
Aku menghela napas. Di depannya, mau seangkuh apapun aku, mau setinggi apapun gelar dan latarku, aku akan selalu kalah. Hingga akhirnya, aku menghembuskan napas dan menyandarkan punggung ke kursi. Elard tampak mengernyit.
"Kenapa kau?"
Aku tidak menjawabnya, tidak pula menanggapi sebab di kepalaku berputar bagaimana caranya menggagalkan kencan ini yang katanya terakhir tapi aku tidak percaya. Bagaimana caranya agar bisa menjaga keponakanku dari aturan yang mengikat itu. Aku tidak ingin anak kecil itu bernasib sepertiku, seperti ibunya yang memutuskan mengakhiri hidupnya karena muak dengan tekanan.
"Hei, Lev?"
Aku mengangkat pandangan acuh pada pria itu.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk. Entah, di depannya aku bisa bersikap sesuka hatiku walaupun aku tahu ada sejarah kelam di antara kami.
"Kalau kau baik aja, sana pergi. Aku ada janji," katanya mengusirku.
Aku mendelik tidak terima. Tapi melihat wajahnya yang datar, aku rasa percuma saja diam di sini.
"Udah sana pergi. Teman kencanmu menunggu tuh." Dagunya menyentak ke depan, ke arah belakangku di mana pria yang diatur kencan oleh ibuku berada.
Menarik napas enggan, tapi daripada keponakanku menjadi korban, cukup akulah yang menderita atas permainan aturan ibuku. Cukup aku dan dua kakakku, jangan ada yang lain.
Berdiri dari duduk, Elard hanya diam saja, tidak peduli. Yah, aku tahu, dia pun ada rasa benci saat bertemu denganku. Dibandingkan aku, dialah yang mendapat banyak kerugian secara mental dan juga materi.
"Enyah sana. Kau membuat aku muak," katanya dengan ekspresi jijik.
Aku kembali membuang napas. Ada rasa enggan untuk pergi. Tapi, jika aku terus di sini, masalah baru akan timbul.
"Apa yang kau tunggu? Pergi sana!" Elard kembali mengusirku tegas.
"Aku ---"
"Percayalah Levina Leon, aku tidak pernah memilih untuk bertemu dengan putri dari orang yang menghancurkan hidupku, dan keluargaku. Jadi pergilah, sebelum aku meminta penjaga untuk menyeret mu. Silakan pilih."
Aku terpaku. Padahal niatku bicara baik-baik, tahu bawa dulu itu adalah kesalahpahaman. Tapi ... Ya, sudahlah.
Aku berdiri dari dudukku, masih menatapnya yang membuang muka. Wajahnya tampak merah, kentara sekali dia menahan diri untuk tidak meledak. Tapi penolakan dari Elard itu membuat aku sadar, bahwa aku tidaklah sempurna. Aku tiba-tiba merasa begitu nyata, bisa melakukan apa yang aku mau tapi hanya di dekatnya.
"Baiklah. Mari kita bermain."
Kakiku berhenti beberapa langkah dari meja Elard. Netraku menangkap siluet yang tidak asing. Seketika wajahku mengeras. Kenapa dia di sini? Ah! Aku mendesah sinis.
"Dia selalu punya cara, ribuan cara untuk mengekang. b******k!"