EVELYN kembali menganga saat melihat sebuah helikopter tengah parkir di depan matanya. Entah sudah berapa kali Evelyn terkejut dengan perlakuan Louis. Lelaki itu selalu punya cara untuk membuatnya terkesan.
Louis menoleh ke arah Evelyn dan terkekeh saat menyadari kalau gadis itu masih terpesona dengan helikopter miliknya. Tadi selama di perjalanan, Evelyn tak lagi berbicara setelah mendengar kalau Louis membalas ciuman Hilary. Louis harus menahan rasa senangnya di sepanjang perjalanan ketika melihat Evelyn cemburu seperti tadi.
"Apa kau akan diam saja disana?" tanya Louis pada Evelyn.
Evelyn tersentak dan menoleh ke arah Louis sambil menatapnya kagum, "Aku tak tahu kalau kau benar-benar sekaya ini," ucap Evelyn serius yang membuat Louis terkekeh geli.
Ia menarik tangan Evelyn dan mereka berdua masuk ke dalam helikopter. Di dalam helikopter, Evelyn kembali terkagum-kagum dengan interiornya yang sungguh luar biasa mewah untuk Evelyn sendiri.
Hidupnya selama ini begitu sederhana dan tak pernah menyentuh kemewahan sama sekali. Sampai seorang Louis Green datang ke hidupnya dan menunjukan pada Evelyn hal-hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Louis mencubit hidung Evelyn pelan dan tertawa gemas, "Entah kenapa situasi ini terasa lucu. Kau terpesona dengan kekayaanku, dan aku terpesona padamu," ucap Louis sambil memandangi Evelyn dari samping.
Evelyn meringis sambil memegangi hidungnya dan menatapi Louis, "Kita mau kemana sebenarnya?" tanya Evelyn mengalihakan topik. Well sebenarnya ia juga sangat penasaran dengan tingkah Louis ini. Untuk apa coba membawa helikopter?
Louis menggedikan bahunya dan memakai earplugnya tanpa mengubris ucapan Evelyn. Ia memberikan gadis itu sepasang earplug juga lalu Louis langsung mencari posisi nyaman untuk tidur.
Evelyn mendengus karena pertanyaannya sama sekali tak di jawab, ia memakai earplug itu dan memandangi Louis yang tengah memejamkan mata dari samping.
Laki-laki itu begitu sempurna. Semua bagian wajah serta tubuhnya begitu cocok untuknya. Alisnya tebal alami, hidunya mancung dan bibirnya tidak terlalu tipis, namun cocok sekali di wajahnya.
Evelyn menggerutu saat mengingat Louis baru saja mencium Hilary dengan bibir itu. Sial. Ia jadi teringat lagi dan kesal lagi pada Louis. Padahal rasa kesalnya tadi sempat hilang ketika masuk ke helikopter ini.
Evelyn menghela napas dan ikut memejamkan mata. Ia lelah dengan pergulatan batinnya sendiri.
*****
Louis menggengam tangan Evelyn dengan erat dan menuntun gadis itu berjalan. Mereka berdua sudah sampai di tempat yang Louis bilang spesial tadi, dan saat ini Louis tengah menuntun Evelyn untuk berjalan karena kedua mata wanita itu tengah di tutupi oleh kain.
Louis sengaja menutup mata Evelyn agar gadis itu kembali terpesona dengan semua yang Louis lakukan untuknya. Ia berjalan pelan dan membuka ikatan pada mata Evelyn saat mereka sudah sampai.
Evelyn mengerjapkan matanya beberapa kali sesaat setelah ikatan itu terbuka. Dan setelah beberapa detik, ia kembali mendapatkan penglihatannya.
Ia membelak terpana saat menyadari kalau mereka tengah berada di pantai yang sangat cantik. Langit yang mendung pun mendukung suasana romantis yang Louis ciptakan untuk Evelyn.
Louis tersenyum saat melihat Evelyn yang terdiam di tempatnya. Louis sengaja mengajaknya kesini saat menjelang sore agar mereka berdua bisa melihat sunset bersama.
"Apa kau suka pantai ini?" tanya Louis pada Evelyn.
Evelyn mengangguk senang, "Ya aku suka sekali. Apa kita akan bermain disini?" tanya Evelyn penasaran.
Louis ikut tersenyum ketika melihat senyuman Evelyn, "Tentu. Kita akan berjalan-jalan sambil menunggu sunset," jelas Louis yang membuat Evelyn mengangguk-angguk.
Louis menggamit tangan Evelyn sehingga tangan mereka berdua bertautan. Evelyn melepaskan flatshoesnya dan memutuskan untuk berjalan telanjang kaki di pantai, sedangkan Louis ikut-ikutan melepaskan sepatunya agar bisa merasakan pasir bersama-sama dengan Evelyn.
Mereka berdua berjalan sambil membahas tentang hal-hal yang mungkin akan terjadi kedepannya. Dan tentu saja Louis senang, rasanya ia sedang berbulan madu dengan Evelyn meski mereka belum menikah.
Waktu berjalan dengan cepat dan mataharipun akhirnya memutuskan untuk tenggelam agar posisinya dapat di gantikan oleh bulan.
Louis mengajak Evelyn untuk duduk di tengah pantai untuk menyaksikan matahari kembali ke tempatnya.
Evelyn terpana saat matahari itu perlahan turun sebelum akhirnya hilang dengan sempurna. Ia menoleh dan menatap ke arah Louis sambil tersenyum.
"Aku senang kita berada disini," ucap Evelyn.
Louis mengangguk dan langsung mengecup cepat bibir Evelyn, "Aku senang berada disini bersamamu, tanpa mu pemandangan ini sama sekali tak bermakna," ucap Louis puitis yang membuat Evelyn tersipu malu.
Evelyn memalingkan wajahnya dan mengedarkan pandangannya sejenak sebelum menatap Louis, "Mengapa tak ada seorang pun disini?" tanya Evelyn penasaran.
"Tentu saja tidak ada, karena aku sudah menyewa tempat ini," ucap Louis enteng yang membuat Evelyn terbelak.
"Kau menyewanya? Untuk apa?" tanya Evelyn terkejut.
Louis tersenyum simpul dan pergi meninggalkan Evelyn. Evelyn bingung dengan tingkah Louis yang tiba-tiba berlari menjauhinya. Ia akhirnya memutuskan untuk menunggu Louis saja dibanding ikut mengejar lelaki itu, karena mungkin saja Louis sedang kebelet pipis.
Evelyn memeluk lututnya sambil memandangi pasir-pasir yang tengah di dudukinya. Langit sudah mulai menggelap, dan sebenarnya Louis sudah pergi cukup lama. Evelyn takut tentu saja. Apa mungkin lelaki itu pergi meninggalkan Evelyn?
Suara musik yang berasal dari gitar mengagetkan Evelyn yang tengah melamun. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Louis tengah memainkan Gitar itu sambil tersenyum ke arahnya.
Evelyn menutup mulutnya secara refleks. Entah sudah berapa kali ia terkejut dengan tingkah Louis. Ia sama sekali tak menyangka kalau Louis akan mengabulkan permintaannya.
Louis menarik napas panjang sebelum kemudian bernyanyi. Evelyn terpaku di tempatnya sambil memandangi lelaki itu.
I found a love for me
Darling, just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes you're holding mine
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight.
(Ed Sheeran-Perfect)
Evelyn merasa napasnya kembali tercekat saat mendengar Louis menyelesaikan nyanyiannya. Matanya panas dan semua air matanya sudah berkumpul jadi satu. Ia sama sekali tak pernah membayangkan lamaran yang lebih romantis daripada ini.
Louis ... lelaki ini mau memenuhi keinginannya. Lelaki ini mau mewujudkan mimpi Evelyn. Astaga Tuhan, ia sangat bahagia saat ini.
Evelyn bangkit dari posisi duduknya dan menatap Louis terharu. Air matanya menetes ketika ia berkedip, membasahi kedua sisi pipinya.
Louis meletakan gitarnya di pasir itu dan berjalan ke arah Evelyn. Saat ia sudah berada di depan Evelyn, lelaki itu berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Louis membuka kotak itu dan menatap ke arah Evelyn serius.
"Evelyn Clarista. Aku tahu takdir kita sedikit aneh. Di hari waktu kau menabrakku di restoran, kau sudah membawa sebagian hatiku yang melekat pada dirimu. Aku tak pernah menyukai seseorang sebelum aku bertemu padamu. Aku mungkin memang bukan lelaki yang sempurna. Apa lagi mengingat kalau aku sudah menikah dengan orang lain. Tapi terimakasih karena sudah mau menikah denganku meski terpaksa. Terimakasih sudah mau menandatangani kontrak itu dan memulai sebuah lembaran baru denganku. Terimakasih karena sudah menabrakku di resotran waktu itu. Terimakasih karena sering membuatku tersenyum belakangan ini," ucap Louis dengan tulus.
"Evelyn Clarista, will you marry me?" sambung Louis lagi.
Evelyn kembali meneteskan air matanya saat mendengar lamaran Louis. Benteng pertahanan yang ia buat sudah runtuh sejak beberapa hari yang lalu. Evelyn tak bisa menahan dirinya, ia tak bisa menolak fakta bahwa ia juga mencintai Louis.
Lelaki itu juga sudah merebut hatinya sejak awal. Sejak awal, Evelyn memang sudah jatuh cinta pada Louis. Hanya saja hati kecilnya menolak ketika tahu Louis sudah memiliki istri.
Evelyn mengangguk, "Yes. I will," ucap Evelyn dengan suara serak.
Louis tersenyum dan langsung bangkit dari posisinya, ia memasangkan cincin itu ke jari Evelyn dan menarik gadis itu ke pelukannya.
"Terimakasih atas segalanya," bisik Louis di telinga Evelyn.
Evelyn mengangguk dan membalas pelukan Louis erat, "Terimakasih juga untukmu, yang sudah mencintaiku, yang sudah membiayai pengobatan mamaku, terimakasih Louis."
Louis terkekeh dan mengangguk. Ia tak bisa lagi mendeskripsikan perasaannya kali ini. Yang pasti ia ingin waktu berhenti sampai disini saja.
Mereka berdua menghabiskan sisa malam di pantai sebelum akhirnya kembali ke apartment.
*****