16. Sleeping with you in my arms

809 Words
  EVELYN tengah berbaring di ranjang bersama Louis di sampingnya. Sudah beberapa hari ini Louis selalu menginap disini. Dan setelah Evelyn hitung-hitung, ia sudah menginap disini sejak kejadian Hilary menciumnya. Evelyn memperhatikan wajah Louis yang tengah tertidur itu sambil tersenyum. Tangan kecilnya memegang rahang Louis dan mengusapnya pelan. Namun beberapa detik kemudian, Louis tiba-tiba memegangi tangan Evelyn sampai-sampai gadis itu hampir berteriak karena terkejut. "Kau tidak tidur?" ucap Evelyn terkejut. Louis membuka matanya dan memiringkan posisi tubuhnya hingga ia menatap wanita cantik di sampingnya ini, "Kau tidak tahu ya bagaimana sulitnya aku tidur kalau berada di sampingmu? Bagaimana sulitnya menekan hasratku setiap kali kau ada disisiku?" ucap Louis sensual sambil mengelus pipi Evelyn. Evelyn merasa pipinya panas ketika menyadari ada nada sensual di perkataan Louis. Ia menatapi lelaki itu dengan lekat dan bertanya, "Mengapa kau tak pulang kerumahmu? Apa karena kau takut akan jatuh cinta pada Hilary? Karena dia pandai berciuman?" tanya Evelyn dengan nada sedikit ketus. Louis terkekeh dan mengecup bibir Evelyn lama. Evelyn membelakkan matanya terkejut, entah sudah berapa kali Louis menciumnya tanpa izin, dan selama itu Evelyn selalu terkejut dan tak terbiasa. Louis melepaskan kecupannya dan mengelus rambut Evelyn, "Apa kau cemburu?" tanyanya lagi meski sudah mengetahui jawabannya. Entah kenapa ia ingin mendengar sendiri dari mulut Evelyn kalau gadis itu cemburu. Evelyn menggeleng meski hatinya menolak, "Tentu saja tidak. Aku kan masih belum jadi istrimu," ucap Evelyn. Louis tertawa lagi mendengarnya, memang perkataan Evelyn benar, mereka baru akan menikah besok, jadi Evelyn memang belum menjadi istri Louis saat ini. "Kau tak perlu menutupinya, aku sudah tahu," ucap Louis yang membuat Evelyn salah tingkah. "Apa maksudmu? Sudah kubilang aku tak cemburu," elak Evelyn lagi. Louis tersenyum dan mendekati Evelyn, ia memeluk tubuh mungil itu dengan erat dan mengecup kening Evelyn berkali-kali. "Aku tak pernah membalas ciumannya," bisik Louis pelan. Evelyn tersentak dan mendongakkan kepalanya. Ia menatapi Louis dengan pandangan berbinar-binar karena memang Evelyn senang mendengarnya. Ia senang mengetahui Louis tak membalas ciuman Hilary. "Benarkah?" ucap Evelyn dengan nada tinggi. Louis tertawa lagi melihat Evelyn yang sangat mudah dibaca, "Iya, aku tak pernah membalas ciumannya karena aku hanya ingin menciummu," ucap Louis serius sambil memandangi bibir Evelyn. Evelyn mengigit bibir bawahnya pelan ketika mendengar ucapan Louis. Entah kenapa ia jadi ingin mencium Louis sekarang. Lelaki itu selalu terlihat sexy dalam situasi apapun, dan sebenarnya itu cukup menyulitkan Evelyn. Louis menatapi gadis di depannya ini sambil mengelus pipinya pelan, ia berniat untuk tidur sesegera mungkin dan kembali menekan hasratnya, namun yang terjadi selanjutnya sama sekali tak pernah Louis bayangkan. Evelyn mendongak dan mencium bibir Louis dengan perlahan. Ciuman itu terkesan pelan, namun penuh keyakinan. Louis bisa merasakan bibir hangat itu mulai masuk dan menyatu dengan bibirnya. Evelyn memejamkan matanya dan memeluk tubuh Louis dengan erat. Ia tak pandai berciuman sama sekali. Namun entah kenapa ia sangat ingin mencium Louis sekarang. Louis bisa merasakan sensasi aneh yang muncul setiap kali ia berada di dekat Evelyn. Ia tersenyum dan membalas ciuman wanita itu dengan lembut. Ia memeluk pinggang Evelyn erat sehingga tak ada jarak di antara mereka berdua. Mereka berciuman cukup lama, sampai akhirnya Evelyn melepaskan ciumannya karena kehabisan napas. Ia senang Louis tak berbuat hal yang lebih jauh padanya, karena memang Evelyn meminta Louis untuk tidak menyentuhnya sebelum mereka menikah. Louis tersenyum dan menatapi Evelyn penuh arti, "Kau nakal sekali." Evelyn tertawa pelan, "Aku tak nakal, tapi bibirmu itu terlihat sangat menarik," ucap Evelyn sambil menyentuh bibir Louis. Louis menaikkan sebelah alisnya dan mencium kening Evelyn lagi. "Tidurlah dan berhenti mengangguku. Kau membuatku tersiksa kalau terus-terusan menyentuh bagian yang tak seharusnya kau sentuh," ringis Louis sambil melirik ke bagian bawah tubuhnya. Evelyn terkesiap ketika menyadari kalau kakinya sedaritadi memeluk bagian tubuh bawah Louis. Ia sama sekali tak sadar sehabis ciuman tadi. Dengan cepat, Evelyn memindahkan kakinya dan berbalik memunggungi Louis karena ia malu. Sedangkan Louis kembali menarik Evelyn ke dalam pelukannya sebelum berujar. "Selamat malam, calon istriku," ucapnya sebelum tertidur.   *****   Seorang lelaki eksekutif muda tengah mengendarai mobilnya sambil bersenandung riang. Ia senang karena akhirnya terbebas dari semua pelajaran-pelajaran yang membebaninya selama ini. Claudio. Ia baru saja menyelesaikan semua urusannya dalam belajar, dan beberapa hari lagi ia akan mulai bekerja di perusahaan milik Papanya. Well, tentu saja pangkat yang ia terima sangat pantas jika di bandingkan dengan kerja kerasnya untuk mempelajari semua hal tentang bisnis belakangan ini. Karena selama belajar itu, Claudio juga menyadari satu hal yang sangat penting dan tak pernah ia ketahui sebelumnya. Ia baru sadar bagaimana pentingnya seorang Evelyn Clarista dalam hidupnya. Claudio merasa kosong belakangan ini karena Evelyn tak pernah menghubunginya lagi. Ia tahu Evelyn memang tak ingin menganggunya bekerja. Tapi entah kenapa hati kecilnya berharap kalau gadis itu akan menghubunginya meskipun hanya sebentar. Claudio menghela napas pelan, ia akan menemui Evelyn sesaat setelah ia mulai bekerja. Karena banyak hal yang harus ia urus dulu, dan setelah itu barulah ia akan menemui Evelyn dan menyatakan perasaannya.   *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD